WISNU
Baru kali ini gue mikir keras sampai pusing. Kepala gue berat seperti tertimpa beban hidup yang sangat dahsyat. Gue berada di titik paling dilema dalam hidup gue. Seperti sedang berdiri dalam seutas tali di ketinggian 3600 kaki. Mau maju ataupun mundur, gue tetap bakal jatuh ke jurang.
Tidur gue gak nyaman, dan aktivitas malam gue terbatas. Selama seminggu ini gue dipaksa tidur di rumah, pulang kerja gue harus langsung pulang persis anak ingusan yang dicari nyokap kalau pulang telat, gue gak bisa nongkrong dulu bareng temen-temen atau sekadar mengunjungi kelab malam langganan gue. Dan lebih parahnya lagi, gue akan menikah.
Hebat! Seorang Wisnu Regan Nugraha akan menikah dan melanggar prinsipnya sendiri. Ya, meskipun pernikahan ini hanya sebuah kebohongan yang gue rancang. Intinya gue gak mau kehilangan saham, makanya gue harus menikah. Padahal gue gak pernah mau menikah setelah cewek yang gue cintai berkhianat. Gue pernah patah hati sepatah-patahnya sampai bikin gue gak mau berkomitmen serius dengan cewek. Cewek itu ribet. Titik.
Tiga minggu menjelang hari pernikahan. Gue dapat kabar dari mamanya Keyfa, kalau mendadak Keyfa ingin menikah dengan ayah kandungnya sebagai wali. Semua keluarga Keyfa syok mengingat tidak ada yang tahu keberadaan ayah kandungnya di mana. Nyokapnya bilang semua orang sudah berusaha membujuk Keyfa, bilang kalau tanpa ayah kandung pun masih ada wali hakim. Tapi Keyfa bersikukuh ingin berusaha mencari keberadaan ayah kandungnya.
Gue akhirnya langsung turun tangan dan memanfaatkan koneksi gue. Gue minta bantuan beberapa orang kepercayaan bokap, dan minta bantuan sama kedua sohib gue, Erfan dan Fahmi. Gue berharap dengan cara ini gue lebih cepat menemukan ayah kandung Keyfa.
Pekerjaan gue sebagai wakil direktur di perusahaan utama bokap, dan akhir-akhir ini, kerjaan gue numpuk apalagi menjelang pernikahan. Setelah menikah nanti gue bakal mengambil cuti untuk liburan, karena pastinya tidak akan acara honeymoon. Makanya, bokap minta gue menyelesaikan pekerjaan dulu. Dia tidak mau perusahaan keteteran karena gue lalai dari tugas.
“Serius amat calon big boss.”
Gue mengangkat kepala melihat Fahmi muncul dari balik pintu ruangan kerja gue. Gue berharap Fahmi membawa berita baik soal ayah kandung Keyfa, karena gadis tomboi itu sama berubah jadi murung setelah keinginannya belum bisa dipenuhi.
“Eh, Fa. Masuk.”
Gue membereskan dokumen yang baru saja selesai gue baca dan gue tandatangani. Lalu, melepas kacamata.
“Gaya lo! Sok sibuk kerja biar warisan lancar,” ledek Fahmi sambil duduk di kursi seberang meja kerja gue.
Gue tertawa. “Gimana? Lo bawa informasi apa?”
Soal bokap kandung Keyfa, gue dan Erfan udah coba nyari ke daerah Karawang sesuai dengan alamat yang mamanya Keyfa berikan. Tapi kata para tetangga di sana, Faruq Hilmawan udah lama pindah karena digusur pemilik kontrakan. Beruntunglah, ada satu tetangga yang mengetahui jika Faruq Hilmawan itu pindah lagi ke Jakarta, tepatnya ke daerah Tanjung Priok. Dan gue minta Fahmi untuk mencarinya.
“Gue udah coba nyari ke alamat yang lo kasih. Gak ada, Nu. Tetangganya juga gak ada yang tahu. Gue coba tanya sama ketua RT di sana, ternyata memang pernah ada yang namanya Faruq. Tapi dia penjudi dan pencuri.”
Gue terperangah. Dalam waktu sepersekian detik gue gak bisa mikir ataupun menanggapi ucapan Fahmi.
“Dia udah lama di penjara. Ketua RT-nya aja sampai lupa berapa tahun Faruq Hilmawan mendekam di penjara.”
“Serius lo, Fa?” Gue memijat dahi. Kalau beneran ayah kandung Keyfa seorang penjahat, bisa mati gue digantung bokap.
“Gue belum cek ke lapasnya.”
Ini kampret!
“Lo ada acara gak hari ini?”
“Gue mau survei lahan yang di Bekasi buat buka cabang kafe.”
“Ajib. Ya udah, biar gue aja yang ke lapasnya. Thanks, Fa. Lo emang paling bisa diandalkan kalau soal nyari info orang hilang.”
Fahmi tersenyum jemawa, ia lantas bangkit berdiri. “Siap. Gue balik dulu.”
Gue harus memastikan langsung apakah benar penjahat yang dimaksud itu ayah kandung Keyfa atau hanya ada kesalahan karena kesamaan nama. Gue berharap ini cuma kekeliruan.
*****
Gue sebetulnya malas buat pergi ke lapas. Gue pikir tempat itu angker dan gak cocok sama anak bangsawan kayak gue. Berhubung ini ada kaitannya sama pernikahan gue, gue akhirnya langsung turun tangan untuk menemui Faruq Hilmawan di penjara.
Gue menunggu kedatangan Faruq Hilmawan yang baru saja dijemput sipir. Mata gue celingukan ke kanan dan ke kiri. Lingkungan di sini cukup bersih dan kondusif.
Sontak gue berdiri saat seorang pria paruh baya hadir di hadapan gue memakai baju tahanan. Gue mengamati dari atas sampai bawah. Rambut sudah banyak yang putih, kulit wajah keriput, dagunya berjenggot, badan kurus kering, kulit dekil. Tapi yang bikin gue yakin kalau pria tua ini bokap kandung Keyfa adalah tatapan mata serta hidungnya yang mancung. Keyfa juga memiliki tatapan mata yang tegas dan hidung mancung.
“Kamu siapa?”
Gue menciut. Tapi berusaha tenang. Gue sebisa mungkin menghindari kontak mata dengannya. Gila! Tatapan dinginnya bikin gue merinding seakan-akan dia ingin membunuh gue.
“Saya Wisnu, Pak.”
“Saya gak kenal kamu,” jawabnya ketus.
Gue berusaha menyunggingkan senyum biarpun kaku. “Gak pa-pa kalau Pak Faruq gak kenal saya. Saya ke sini cuma mau memastikan, apa Bapak kenal sama anak di foto ini?”
Gue mengambil foto dari dalam saku jas kemeja yang gue pakai. Foto kiriman Tante Muthia, nyokapnya Keyfa. Di foto itu nyokapnya Keyfa sedang menggendong seorang anak perempuan cantik yang diberi nama Keyfani Priyanka. Gue berikan foto tersebut ke Pak Faruq.
Dia tercengang melihat foto itu dan langsung menatap gue penuh kecurigaan, ia berusaha menyelidiki gue lewat tatapannya.
“Kamu siapa sebenernya?” tanya dia dengan kedua bola mata yang melotot.
Lalu, matanya kembali menunduk, mengamati foto itu. Gue bisa lihat dia menarik napas dengan susah payah sampai satu tangannya memegangi d**a. Matanya yang semua dingin mendadak redup dan berkaca-kaca. Jadi, dia memang ayah kandung Keyfa. Gue melihat keyakinan itu begitu melihat raut kesedihannya saat menatap foto Keyfa waktu kecil.
“Saya Wisnu, Pak. Calon suami Keyfa. Anak Bapak.”
Faruq Hilmawan lagi-lagi membisu. Alisnya terus terangkat sambil memperhatikan gue dengan intens.
“Dari mana kamu tahu saya?”
“Dari mamanya Keyfa. Keyfa ingin Pak Faruq yang menjadi wali nikahnya. Makanya saya dibantu teman-teman saya untuk mencari Bapak.”
Pak Faruq mengamati foto jadul yang gue bawa. Tangannya meraba wajah kecil Keyfa di foto itu. Gue masih mengamati ekspresinya. Ia tersenyum getir, tatapannya nanar.
“Keyfa pasti cantik, ya, sekarang?”
Gue mengangguk. Dia memang cantik minus kelakuannya doang yang barbar.
“Saya malu pada anak saya. Sudah lama saya tidak ketemu dia, saya tidak berani muncul di hadapannya dalam kondisi seperti ini.”
Dia pasti menyesal karena perbuatannya. Gue sendiri sebetulnya ingin memaki dia. Mengapa dia memilih jalan yang salah, sampai akhirnya mendekam di penjara yang cuma bikin waktu dan kesempatan dia buat bertemu Keyfa itu semakin sempit.
“Tanggal 24 Desember nanti saya menikahi anak Bapak. Saya ingin Bapak hadir di acara tersebut dan jadi wali nikah Keyfa. Untuk izin dari sini biar saya yang urus. Saya juga sudah bicara sama pihak kepolisian.” Gue mengambil jeda sejenak. “Kalau mau, saya bisa mempertemukan Bapak dan Keyfa dulu sebelum hari H nanti.”
“Jangan!” potong Pak Faruq. “Saya malu bertemu Keyfa.”
Gue hargai keputusannya. Keyfa belum tentu bisa gue bujuk buat bertemu bokap kandungnya.
“Saya harap Pak Faruq bisa mempertimbangkannya. Saya pulang dulu.”
Pak Faruq mengangguk kecil, meski dalam keadaan ragu.
“Nak Wisnu?”
“Iya, Pak.”
“Boleh saya simpan fotonya?”
Gue mengulas senyum. “Boleh. Nanti saya izin sama mamanya Keyfa.”
Pak Faruq tersenyum lega.
“Saya pamit dulu, Pak. Bapak sehat-sehat, ya, di sini.” Gue bangkit berdiri. Saat hendak melangkah, Pak Faruq memanggil gue lagi.
“Tolong jaga Keyfa. Beri dia kebahagiaan, karena saya tidak bisa memberinya semua hal yang dia inginkan.”
Seperti terhipnotis, gue mengangguk dengan yakin.
“Saya akan berusaha, Pak.”
Anjir, kok gue jadi tersentuh begini.
*****
H-3 menjelang pernikahan, semua persiapan sudah sembilan puluh lima persen. Faruq Hilmawan bersedia menjadi wali nikah Keyfa, cuma yang gue takutkan adalah pandangan orang tua terhadap dia. Gue belum bilang apa-apa sama bokap dan nyokap gue.
Gue semakin gugup. Gak usah tanya gimana perasaan gue sekarang. Yang jelas gak sebaik pas gue jadi bujangan.
“Nu, lebih baik kamu pikirin lagi, deh.” Nyokap menepuk bahu gue saat gue tengah melamun di antara keramaian.
Jangan heran kenapa gue bilang rame, karena di rumah gue mulai dipasang tenda dan keluarga besar gue sudah mulai berdatangan untuk acara pengajian satu hari menjelang hari H pernikahan nanti. Mereka bersuka cita, merayakan kebebasan gue yang sebentar lagi akan terenggut oleh status pernikahan.
“Pikirin gimana, Mi?” Gue menyelonjorkan kedua kaki gue yang semula ditekuk.
“Itu si Keyfa, penampilannya gak ada anggun-anggunnya. Jangan-jangan dia transgender.”
Gue mengernyit. Bisa-bisanya nyokap ngomong begitu saat hari pernikahan gue sudah di depan mata, sementara beberapa bulan yang lalu dia gencar mengenalkan gue dengan anak dari teman-teman arisannya. Nyokap memang sudah berasumsi negatif cuma karena penampilan Keyfa yang agak tomboi. Dia agak takut kalau Keyfa gak bisa jadi istri yang baik.
“Mi, Keyfa cantik. Masa iya transgender.” Gue lebih baik nikah sama Keyfa daripada harus dijodohkan dengan anaknya teman nyokap yang belum tentu bisa kongkalikong sama gue.
“Jangan salah, Nu. Sekarang yang begitu lebih cantik dari cewek,” celetuk nyokap.
Gue menghela napas. “Mami tenang aja, Keyfa seratus persen perempuan tulen.”
“Emang udah kamu cek?”
Gue semakin mengernyit mendengar pertanyaan nyokap yang ambigu. Oh, atau mungkin, hanya otak gue aja yang gak beres dan mulai dikunjungi oleh setan porno.
“Cek apanya, Mi?” Gue nanya persis orang bego.
“Cek akta kelahiran sama KTP-nya. Memang kamu pikir apa?”
Damn! Gue rasa nyokap tahu kalau isi otak gue agak-agak binal.
“Aman, Mi. Keyfa dari lahir udah perempuan.”
“Mami masih setengah hati loh, Nu. Dia emang cantik tapi secara penampilan jomplang banget sama tunangannya Gibran.”
Tuh, kan, mulai dibanding-bandingkan dengan calon menantunya yang lain. Gue kadang risih sendiri mendengarnya.
“Ya jangan disamain sama pacarnya Gibran, Mi. Kerjaan pacar Gibran, kan, model. Sementara Keyfa itu kreatif TV, Mi.”
“Dan kamu gak laku di kalangan model, ya?”
What the hell?
Nyokap meragukan ketampanan gue. Sudah berapa banyak model yang terpikat sama gue cuma kembali lagi pada prinsip awal gue, gue mengencani perempuan tanpa status.
“Mami, don’t jugde a book by it’s cover. Belum tentu pacarnya Gibran hatinya lebih baik dari Keyfa,” sanggah gue. “Mami yang maksa aku buat cepet nikah. Hargai pilihanku, Mi. Toh, aku yang akan menjalankannya.”
Baik. Wisnu bisa menentang nyokap dengan cara yang cukup bijak.
“Oke, terserah kamu.”
Dan nyokap harus mengakui kekalahannya. Nyokap kembali ke rumah meninggalkan gue yang masih setia duduk di ubin lantai depan rumah, menyaksikan orang-orang yang sedang memasang tenda. Meratapi nasib gue. Buat dapat warisan pun gue harus dengan cara yang primitif banget.
*****