8

1342 Kata
KEYFA Aku bingung, entah harus bersyukur atau tidak, harus senang atau tidak. Semua yang terjadi hari ini benar-benar seperti mimpi—entah mimpi buruk atau mimpi baik. Tapi satu hal yang aku ingat hari ini, Mama menangis ketika melihat laki-laki yang sudah memberinya satu orang anak tiba-tiba datang dikawal polisi. Dan aku? Aku hanya bisa terpaku tanpa tahu perasaan apa yang lebih mendominasi hati ini ketika melihat sosok lelaki yang Mama bilang ayah kandungku itu muncul. Aku ragu untuk menyapa, untuk tersenyum, bahkan untuk memberikan sebuah pelukan kerinduan. Karena aku tidak mengenalnya. Sama sekali tidak mengenalnya. Dia hanya orang asing bagiku. Orang asing yang sayangnya harus aku terima bahwa dia berstatus sebagai ayah kandungku. Wisnu benar-benar membuktikan ucapannya, kekuatan seperti apa yang ia miliki sampai bisa menemukan keberadaan lelaki kurus setengah baya itu. Awalnya aku mengira dia hanya sekadar bercanda, tapi setelah melihat foto yang ia kirim beberapa waktu itu, hatiku bergetar. Ayahku seorang penjahat. Lalu hari ini, tepat saat aku hendak melepas masa lajang. Ia datang mengenakan pakaian batik seragam keluarga, melepaskan baju tahanan yang biasa melekat pada tubuhnya. Tanpa berbicara banyak, dia duduk di sebelah penghulu. Kehadirannya hari ini untuk menjadi wali nikahku. Aku berusaha untuk tidak menangis, tapi sungguh pertahanan berlapis yang sudah kupersiapkan dari semalam runtuh begitu saja ketika melihatnya. Lalu, kepalaku menoleh ke arah Mama yang duduk di sebelahku, Mama pun ikut meneteskan air mata walaupun langsung diseka dan tersenyum kaku padaku. “Saudara Wisnu ... maaf, tulisannya mengabur. Mata saya sudah tidak sehat.” Kepalaku semakin merunduk dalam, bahuku terguncang seiring dengan bongkahan air mata yang kemudian mengalir. Melihat tubuh ringkih dia, bibirnya yang gemetar mengulas senyum getir, dia tampak malu pada semua orang yang hadir. Aku belum pernah ada di titik terendah seperti ini. Papa Arbi mendekati dia, memberikan kacamata yang biasa dipakai. Lalu, tersenyum tulus. Papa sempat melirik ke arahku, dia tersenyum sambil mengangguk, seolah meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Betapa bersyukurnya aku memiliki ayah sambung seperti Papa. “Saudara Wisnu Regan Nugraha, saya nikahkan engkau dengan anak kandung saya Keyfani Priyanka binti Faruq Hilmawan dengan maskawin berupa emas seratus gram dan uang tunai senilai dua puluh dua juta dua ratus dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai.” “Saya terima nikahnya Keyfani Priyanka binti Faruq Hilmawan dengan maskawin berupa emas seratus gram dan uang tunai senilai dua puluh dua juta dua ratus dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai.” “Bagaimana, saksi?” “Sah.” Begitu kedua saksi menyatakan ijab kabul tersebut sah, otot-otot di perutku yang semula kaku kini kembali bisa bernapas. Perasaan lega datang begitu saja padahal ini hanyalah sebuah awal dari keterpaksaan aku menikah dengan Wisnu. Rasanya menyesakkan. Entah, aku tidak bisa mengungkapkannya lewat diksi. Ayah kandungku hanya bisa hadir ketika akad saja, setelah itu polisi kembali membawanya pergi. Desas-desus cibiran orang kian ramai memasuki telingaku. Apalagi para tamu yang datang menyaksikan akad nikahku dan Wisnu hari ini. Mereka menilaiku, menjadikanku bahan untuk gibah. Aku tahu, aku anak dari seorang narapidana. Setelah proses adat dilaksanakan siang hari tadi, selanjutnya adalah gelaran resepsi pernikahan yang digelar di gedung yang sama seperti acara ijab kabul pagi ini. Bedanya, tamu yang hadir malam ini akan bertambah, relasi-relasi kedua keluarga turut menjadi bagian dari acara ini. Langkahku yang hendak memasuki ruang ganti pengantin terhenti begitu telingaku menangkap sayup-sayup obrolan dari dalam pintu yang tidak tertutup rapat. “Kamu gila, Wisnu!” Kalimat pertama yang aku dengar. Aku meneguk ludah dengan kepayahan, kakiku semakin bergerak mendekat ke pintu ruangan untuk lebih jelas mendengarkan percakapan itu. “Kamu mempermalukan Mami dan Papi. Kamu enggak dengar banyak orang yang ngomongin ayahnya Keyfa. Penilaian mereka tentang narapidana jelas negatif, Wisnu. Kalau saja Mami tahu dari awal kalau ayahnya Keyfa penjahat, Mami tidak akan segan-segan membatalkan pernikahan ini.” Jantungku rasanya dilempari ribuan batu hingga mengundang rasa sesak yang tiada henti. Sabar, Keyfa. Ini adalah konsekuensi yang harus kamu tanggung. Ya, aku hanya bisa memberi semangat untuk diriku sendiri. Aku belum mendengar Wisnu berbicara untuk menanggapi ucapan Tante Viona. “Bagaimana kalau citra perusahaan rusak gara-gara mereka tahu besan Papi seorang penjahat? Bagaimana jika pesaingnya memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkan perusahaan Papi?” “Cukup, Mi. Aku akan menanggung risiko dari pilihanku ini. Mami dan Papi tidak perlu ikut campur.” Hanya itu yang Wisnu katakan, sebelum aku mendengar derap kakinya menuju pintu, aku bergegas pergi dan bersembunyi. Pura-pura tidak mendengar apa pun hari ini adalah pilihan yang paling tepat. *** Pernikahanku dan Wisnu dianggap sah di mata hukum dan agama. Banyak tamu yang datang pada saat resepsi untuk mengucapkan selamat dan memberi kado pernikahan. Aku dipaksa tersenyum bahagia sepanjang acara dari akad sampai resepsi. Belum lagi, kebaya dan gaun resepsi yang super ribet harus kupakai. Dan kakiku pegal akibat memakai stilletto sepanjang hari. Saat aku uring-uringan, aku melihat Wisnu masih setia mengumbar senyum. Dia benar-benar totalitas dalam berakting. Seluruh susunan acara selesai, aku dan Wisnu langsung diantar ke apartemen Wisnu. Kami sepakat langsung menginap di apartemen daripada check in hotel. “Astagaaa, capek banget gue!” Aku langsung rebahan di sofa walaupun badan sudah lengket dan gaun resepsi masih menempel ketat di badan. Stilletto yang aku lepas sembarangan di depan pintu apartemen Wisnu. “Key, lo tahu letak rak sepatu, kan?” Yeah, Wisnu pasti ngomel. “Berisik, Nu. Lo juga gak tahu gimana susahnya gue buat berdiri pake stiletto yang lancip itu. Pegel, Nu.” Lelaki yang tadi pagi resmi menjadi suamiku itu berdiri di depanku, memasang wajah sangar sambil menenteng stilletto yang kupakai resepsi tadi. Lalu aku terbayang ekspresi wajahnya tadi pagi sebelum mengucap ijab kabul. Tangan Wisnu bergetar, wajahnya tegang dan pucat. Tapi dia berhasil menyelesaikan tugasnya, ia menjawab ijab yang disampaikan ayah kandungku dalam satu tarikan napas. “Keyfa!” Aku terkesiap saat telunjuk Wisnu menyentil dahiku. Lamunanku tentang acara pernikahan yang diwarnai isak tangis hari ini buyar. “Simpan ini ke rak sepatu!” Aku mencebik. “Itu, kan, udah lo pegang, kenapa gak lo simpen sekalian?” “Ini punya lo!” Dia melotot. “Membantu orang salah satu sifat terpuji kok, Nu.” Wisnu mendecih sambil mendelik tajam. Ia berputar balik menuju rak sepatu dan menyimpan stilletto itu di antara sepatu-sepatu miliknya. Melihat Wisnu, aku kembali mengingat kalimat-kalimat menyakitkan dari ibunya. “Nu, nyokap lo nambah berisik sekarang. Kayaknya dia makin gak suka karena bapak kandung gue seorang napi.” Wisnu menoleh ke belakang sebelum meluncur ke dapur setelah melepas jas yang dipakainya lalu ia sampirkan di atas bahu. “Kuatin hati lo buat setahun ini, ya. Setelah kontrak habis, kan, lo pasti bakal jarang ketemu sama dia.” Aku tersenyum miris. Menertawakan diri sendiri. “Gue baru sadar kalau gue ini bego. Mau-maunya nikah terus cerai lagi. Gue jadi pihak yang dirugikan. Karena persepsi orang lain tentang janda itu gak semuanya positif.” “Ya udah, gak usah cerai. Gampang.” Aku menatapnya horor, sementara dia memasang raut jenaka. “Are you kidding me?” “Lo bilang takut jadi janda.” “Siapa yang bilang takut?” sungutku. “Cuma lagi mikir aja siapa tahu jodoh gue yang sebenernya itu datang tahun ini, tapi gue udah terlanjur nikah sama lo.” Wisnu tertawa mengejek sambil terus berjalan menuju dapur. Sementara aku mendengkus sambil mengarahkan sebuah tinjuan tangan padanya dari jauh. Dua gelas air putih dibawa oleh Wisnu. Satu gelas ia minum, sedangkan gelas yang lain ia berikan padaku. “Thanks,” cicitku. Wisnu mengangguk pelan, lalu duduk di bagian sofa yang masih kosong, di sebelahku. “Gue ingat pesan nyokap lo tadi, ‘Jadi istri yang baik, kalau bisa itu celana kurang bahannya dibuang aja beli rok atau dress yang banyak’ Sumpah, itu pesan paling anti-mainstream yang pernah gue denger, Nu.” Wisnu terkekeh, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Besok beli, ya, Key,” katanya tiba-tiba. “Beli apaan?” “Dress.” “Buat apa?” Aku semakin bingung. “Jangan bilang sekarang lo pro ke nyokap lo juga.” “Buat lo. Masa buat gue,” balasnya diiringi kekehan kecil. “Gue gak bisa pake dress, nanti makin kelihatan,” imbuhnya sambil mengerlingkan matanya. Alisku sontak mengernyit. Ucapannya cukup ambigu untuk dicerna. “Apanya yang kelihatan?” tanyaku waswas. “Kasih tahu gak, ya? Mau lihat langsung gak?” “Mana?” Wajah jenaka Wisnu semakin tidak terbendung. Ia mengulum bibirnya untuk menahan tawa. Wajahnya berubah semu merah, dan matanya menyipit tipis. “Apaan, sih, Nu?” Aku menggeplak tangannya. Wisnu berdeham. Ia menandaskan sisa air putih dalam gelasnya. “Kalau mau lihat nanti malam tidur sama gue.” “Ogah!!!” tolakku. Namun Wisnu bereaksi cepat. Ia bergerak maju. Aku sontak mundur hingga punggungku menabrak sandaran kursi saat Wisnu mencondongkan badannya ke arahku. “Siapa juga yang mau tidur sama lo. Lo cuma bikin kasur gue sempit aja nanti,” katanya sinis. Matanya menjajah seluruh bagian tubuhku, sampai membuatku harus menyilangkan kedua tangan karena sikap tak senonohnya itu. “Emang gue mau sekamar sama lo? Kagak!” Aku bangkit berdiri, menggenggam ujung gaun merah yang pakai. Aku berjalan cepat menuju kamar. Wisnu itu patut diwaspadai. Kata Mas Dipo, Wisnu ini mantan PK—bahkan kalau otaknya lagi miring, dia masih mengunjungi kelab malam. Cuma akhir-akhir ini, kakak iparku itu menyadari bahwa sahabat karibnya sudah mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN