9

1773 Kata
WISNU Gue sebetulnya enggak ngerasa aneh ada cewek malam-malam di apartemen gue. Saat gue lagi nakal-nakalnya, gue sering bawa cewek ke sini. Bikin mereka nginap dan enggak bisa pulang. Tapi seperti yang pernah gue bilang, kebiasaan itu perlahan gue tinggalkan. Gue mungkin sedang berada di titik paling rendah, gue jenuh sama kebiasaan gue, gue pengin nyari sesuatu yang baru tapi gue belum menemukan itu. Dan hari ini, sesuatu yang gue anggap baru akhirnya hadir. Status gue baru, cuy. Gue seorang suami sekarang. Status di KTP gue jadi kawin. Tiap kali gue ingat, gue ketawa. Bagi gue yang kerjaannya hura-hura dan sama sekali gak memikirkan sebuah komitmen, status baru gue menjadi satu hal yang lucu. Gue merasa geli sendiri setiap kali mengingatnya. Pernikahan ini hanya kontrak di atas kertas. Gue dan Keyfa sama-sama sepakat untuk tidak pakai hati dalam menjalankannya. Kami harus mentaati setiap poin perjanjian yang sudah disepakati. Dan lihat, gue tetap tidur sendiri biarpun sudah ada cewek yang statusnya sebagai istri sah gue. Gue beranjak dari kasur untuk mengambil ponsel di dalam tas. Gue melupakan benda canggih itu, beruntung Gibran menemukan ponsel gue tergeletak begitu saja di dalam kamar sebelum berangkat ke gedung tempat digelarnya akad nikah. w******p gue ramai sejak pagi, banjir ucapan selamat dari rekan-rekan kantor gue, teman kuliah gue, mantan-mantan perempuan gue kebanyakan kaget mendengar kabar gue nikah hari ini. Satu per satu gue buka pesan yang menurut gue penting, gue baca dan gue balas dengan ucapan terima kasih. Dahi gue mengernyit begitu menemukan nama grup baru, dan sialannya nama grup itu bikin gue mengumpat. Gue buka obrolannya yang masih sepi, dan gue lihat Galih yang mengubah nama grup seenak jidat. Sahabat b*****t! FORUM FIRST NIGHT WISNU Wisnu : Anjing! Setan! Iblis! Galih b*****t! Wisnu : Yaa Allah maafin hamba yang nyebutin najis mugholadoh sama calon penghuni neraka. Fahmi : Kendorin aja, Nu. Galih : Udah tegang, Fa. Gak bisa kendor lagi. Erfan : Ciee, akhirnya, Nu. Lo bisa tegang lagi. Wisnu : Serius kalo lo semua ada di depan gue sekarang, gue siram pake bensin. Erfan : jangan sadis sadis, brader! Kita cuma mau ngasih lo motivasi sama referensi gaya aja kok. Fahmi : Wisnu gak usah dikasih tutorial juga udah hatam sama macam-macam gaya yang enak. Anwar : Sori, gue telat. Wisnu : Gak usah ikut-ikutan masuk sini lo! Anwar : Gue kan mau streaming lo pecah telor, Nu. Dipo : Kakak ipar juga mau ikutan streaming ya, Nu? Wisnu : Iblis lo semua!!!! Galih : Baik, teman-teman. Karena anggota sudah kumpul semua. Wisnu : RAKA BELUM MASUK NIH, LIH!! Galih : Gue gak kenal dia! Fahmi : Hwahaha Galih : Baik, tanpa menunggu waktu lama. Karena kalau lama-lama gue takutnya Wisnu udah gak nahan pengin tanam saham. Mari kita buka forum ini dengan ucapan selamat berkembang biak, Wisnu. Anwar : Selamat berkembang biak, Wisnu. Dipo : Selamat berkembang biak, Wisnu. Erfan : Selamat berkembang biak, Wisnu. Fahmi : Selamat berkembang biak, Wisnu. Wisnu : Cuk! Cuk! Gue bunuh lo semua!!! Galih : Jadi, gaya apa yang cocok buat Wisnu? Erfan : Gaya kayang, Nu. Boleh dicoba tuh. Fahmi : Atau gak gaya roll depan roll belakang tuh. Anwar : b*****t! Gue ketawa ngakak diliatin anak istri. Wisnu : Semoga lo semua dikutuk jadi empedu. Bye!!!!!! Gue memilih meninggalkan ruang obrolan, grup dalam mode senyap selama setahun. Gue kembali beranjak dari kasur karena bosan, keluar kamar dan berharap Keyfa juga sedang di luar kamar. Ternyata benar. Gadis tomboi itu sedang menonton Netflix sambil nyemil, jangan lupakan gaya khasnya satu kaki ia angkat di atas sofa. “Selamat malam, Istri. Malam-malam ngapain duduk sendirian? Kan, bisa ngajakin suami buat duduk bareng. Lebih romantis loh, Key,” gue menyapa dia. Ia langsung tersedak dan bangkit berdiri dengan cepat. Segitu kagetnya dia melihat gue. Gue pegang kedua pundaknya, dan menyuruh dia kembali duduk. Gue ambilkan air putih untuk Keyfa yang masih batuk. “Wangi banget, sih, yang habis mandi. Bawaannya jadi pengin nyium terus.” Hidung gue sejak tadi mencium aroma lemon yang sangat pekat dari badan Keyfa. Wajahnya yang polos tanpa makeup sempat bikin gue tertegun. Namun, gue cepat-cepat mengenyahkan semua pikiran kotor gue. “Jaga jarak!” Dia mendorong bahu gue, padahal gue baru aja duduk di sebelahnya. Seanti itu dia sama gue. Tapi, sori. Bukan Wisnu namanya kalau langsung mengalah tanpa bikin lawan panas dingin. “Kayak truk gandeng aja harus jaga jarak. Lo gak usah takut sama gue, Key.” Gue ketawa mengejek. “Makanya jangan kelamaan jomlo biar gak takut sama cowok.” Keyfa mencebik. “Status jomlo gue bukan karena gak laku, tapi karena gue gak mau hati gue buka peluang disakiti sama cowok,” sangkalnya membela diri. Jadi yang bisa gue simpulkan setelah gue mengenal Keyfa, dia adalah gadis yang cuek. Bukan cuma dari segi penampilan tapi juga cuek soal asmara. “Kan, gak semua cowok menyakiti cewek, Key. Contohnya gue, lo enggak gue sakiti tapi lo gue nikahi langsung. No kredit-kredit.” Gue menepuk d**a, jumawa. “Nikah kontrak aja bangga,” cicitnya, membuang muka. Gue sendiri tersenyum kecut karena ucapannya. “Loh, kita, kan, sama-sama memiliki keuntungan dari pernikahan ini.” “Hm.” Balasannya bikin gue gak berkutik, dan hanya memperhatikan bahu Keyfa yang duduk membelakangi gue. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja sambil menyomot kacang mede lagi dan lagi. “Key?” “Apa?” “Mata lo bengkak, ya.” Reaksinya di luar dugaan gue. Keyfa langsung mengambil bantal kecil yang ada di sofa untuk menutupi mata bengkaknya. Gue tahu penyebabnya, tapi Keyfa sepertinya malu. “Lo baik-baik aja, kan, setelah ketemu bokap kandung lo?” Ia singkirkan bantal yang menutupi wajah, menyimpan bantal tersebut di atas paha sementara toples kacang yang masih sisa setengah lagi Keyfa taruh di atas meja. “Enggak,” cicitnya dengan tatapan kosong. “Perasaan gue gak sinkron, Nu. Satu sisi gue ngerasa senang karena bisa ketemu langsung sama bokap yang tadinya cuma bisa gue lihat di foto. Tapi sisi lainnya gue marah, Nu. Gue pengin nonjok dia.” Gue bergidik ngeri saat Keyfa meninju udara. “Sadis amat lo! Gue harus beneran jaga jarak, nih. Takutnya lo lampiasin ke gue.” Gue menggeser duduk hingga ke pojok sofa panjang ini. “Makasih, ya, Nu.” Dia tiba-tiba ngomong gitu, dan menatap gue untuk pertama kalinya. Tatapannya sendu. “Makasih buat apaan?” “Udah nyari bokap gue.” “Jangan ge-er dulu, gue nyari bokap lo biar pernikahan kita lancar.” Gue melontar senyum jemawa. Ya, Wisnu memang luar biasa. “Gue jadi pengin nonjok lo setelah denger jawaban lo tadi.” Ia menggertak. Gue ditimpuk pakai bantal. “Ampun, Key!” Bel apartemen yang berbunyi menghentikan aksi Keyfa yang terus memukul gue. Keyfa menyingkir dari atas gue dan kembali duduk dengan anteng. Sementara gue yang menjadi korbannya terasa sesak. Gue ambil napas beberapa kali sebelum beranjak untuk melihat siapa yang bertamu. Gue intip dulu sebelum membuka pintu. “Anjir! Nyokap sama bokap gue, Key!” seru gue tertahan. “Serius?” Keyfa langsung berlari menghampiri gue. “Ngapain mereka?” tanya Keyfa, panik. Gue juga sama paniknya dengan dia. “Key, tas lo!” “Tas gue apaan?” “Tas lo pindahin ke kamar gue! Siapa tahu mereka memeriksa kamar.” Keyfa ternganga. “Masa sampai─” “Key, cepetan.” Gue menariknya menuju kamar, gue angkut koper miliknya sementara dia mengambil gaun resepsi yang teronggok di lantai dengan tempat tidur. Setelah dirasa cukup aman, gue dan Keyfa balik ke pintu. Gue rangkul Keyfa, dan seperti biasa penolakan yang gue dapatkan. Ia bergerak tak nyaman, berusaha melepaskan diri dari gue. Tapi gue semakin erat merangkulnya. “Kita gak mungkin cuek-cuekan di depan mereka, Key. Plis, gini aja dulu biar mereka gak curiga.” Pergerakan Keyfa mulai memudar, namun badannya masih bereaksi tegang. Gue membuka pintu dan memasang senyum yang super lebar di depan nyokap dan bokap. “Sapa, Key!” bisik gue. “Halo, Mami, Papi!” Keyfa memberi salam, tersenyum super manis. “Ayo masuk, Mi, Pi!” ajaknya kemudian. Lagi-lagi ia berusaha melepaskan diri dari rangkulan gue, namun gue mempertahankannya. Dia melotot sangar ke gue. “Apa?” tanya gue tanpa suara. Keyfa mendengkus pelan. “Mami sama Papi ngapain ke sini? Ini, kan, udah malam,” protes gue. “Kami capek kalau harus balik ke rumah, sementara Papi ogah check in hotel. Ya udah, apartemen kamu yang paling deket. Kami boleh nginep di sini, kan?” “WHAT??!!!” Gue dan Keyfa kompak memekik kaget. “Kenapa kalian? Kok, kaget gitu?” Bokap justru terbahak-bahak melihat gue dan Keyfa yang sama-sama kaget. Gue tahu nih mereka sengaja menginap karena menyangka gue dan Keyfa bakal “belah duren” Begini amat, sih, kelakuan bokap-nyokap gue, kenapa mereka jadi mirip orang tua di sinetron yang merecoki malam pertama anaknya. “Tenang, kita gak akan mengganggu kok. Kamarmu kedap suara, kan, Nu?” Bokap mengedipkan matanya ke gue. Anjir! Gue berdeham, sementara Keyfa gak bisa berbuat banyak. Ia melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin melamun karena malam ini harus tidur sekamar sama gue. “Iya, iya. Aku izinkan Mami-Papi nginap. Tapi cuma malam ini doang.” “Siap!!!” Mereka tersenyum lebar dan langsung masuk kamar yang seharusnya ditempati Keyfa. Keyfa diam terus sejak kedatangan nyokap dan bokap gue. Ia cemberut. Melepaskan tangan gue di bahunya, berjalan terseok menuju kamar gue. “Key?” gue memanggilnya. “Punya selimut yang lain gak?” tanyanya datar. “Ada, ambil di lemari.” “Gue masih berdiri di belakang pintu, bersedekap sambil memperhatikan gerak-gerik Keyfa. Ia mengambil bed cover dan selimut dari dalam lemari. Lalu, dia mulai menggelar bed cover di lantai. “Key, tidur di ranjang.” “Lo pikir gue mau tidur sama lo?” “Gue yang tidur di bawah.” “Gak usah, gue aja,” ketusnya, mulai mengambil posisi tidur. Gue mengambil langkah lebar untuk menahan lengannya. Keyfa mendelik tajam ke gue, dan berusaha melepaskan cekalan tangan gue. “Gue bilang lo tidur di ranjang, biar gue yang di bawah.” “Gak usah! Mending—.” Dan gue benar-benar melakukannya. Gue menghentikan ucapannya dengan cara menempelkan bibir gue dengan bibirnya. Hanya tiga detik sebelum bogem Keyfa menghantam punggung gue. “Ngapain lo nyium gue, Wisnu!!!” Keyfa mencak-mencak sambil mengelap bibirnya seakan-akan takut kena penyakit menular. Selanjutnya dia berlari menuju kamar mandi. “Lo melanggar perjanjian kita, Wisnu!!!” Gue mengusap wajah. Berbaring di atas bed cover yang sudah Keyfa gelar tadi, dan menarik selimut hingga menutupi seluruh badan gue termasuk kepala. Gue harus tidur agar bisa melupakan kejadian tiga detik malam ini. Bukan salah gue. Salah Keyfa yang keras kepala. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN