10

1633 Kata
KEYFA Selama tidur, aku dibuntuti rasa takut dan kekhawatiran. Tidur di kamar lelaki yang berani-beraninya menciumku, dan melanggar penjanjian yang sudah disepakati itu rasanya ingin menyelam sambil minum air. Lelaki itu belum pernah merasakan tonjokan ala Chris John dariku. Dan aku takut, takut jika Wisnu melakukan hal yang lebih daripada sekadar ciuman. Ya, aku tahu jika sah-sah saja melakukan kewajiban sebagai suami istri, tetapi masalahnya ... ah, sudahlah, ini hanya untuk sementara waktu. Tidak untuk selamanya. Walaupun setelah berpisah nanti, aku mungkin akan menyesali perbuatanku yang dengan sangat mudah mempermainkan pernikahan. Aku pun sudah bisa membayangkan seusai perceraian nanti statusku menjadi janda. Tak masalah, setiap orang punya jodohnya masing-masing, kan? Jodoh yang akan menerima semua kekurangan dan masa lalu kita tanpa adanya protes yang berlebihan. Semalam, setelah Wisnu berhasil membuatku terpaku, aku langsung lari ke kamar mandi untuk menghindarinya. Entah berapa lama aku berdiri di depan cermin wastafel untuk meredam jantungku yang bergemuruh, darahku yang sialnya berdesir panas. Magis apa yang Wisnu taburkan sampai pikiranku tidak bisa berhenti memutar reka ulang adegan ciuman itu. Sial! Tapi itu belum masuk kategori ciuman, kan? Dia yang sembarangan menciumku. Cuma nempel sebentar, seharusnya tidak berarti apa-apa. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Tapi nyatanya aku masih kepikiran sampai pagi ini. Semalam pun, setelah aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Wisnu membungkus dirinya dengan selimut dan tidur di lantai. Ia bisa tidur nyenyak sampai mendengkur halus. Seharusnya aku pun melakukan hal yang sama karena badan yang terasa remuk dan kondisi tubuh capek. Tapi aku terjaga. Jam aku pagi aku baru bisa memejamkan mata, dan imbasnya aku bangun kesiangan. “Good morning!” Aku terlonjak saat melihat Wisnu sudah duduk di meja makan. Mataku memutar ke seluruh bagian apartemen. Pintu kamar yang semalam dipakai mertuaku sudah terbuka, ke mana mereka? “Mami dan Papi udah pulang. Mami masakin nasi goreng sama telor mata sapi karena gak ada bahan makanan yang bisa dimasak. Ayo sarapan, Key!” Seakan tahu dengan apa yang sedang kupikirkan, Wisnu menjawab pertanyaan yang kubicarakan dalam hati. Netraku bergerak ke arahnya, seperti biasa Wisnu selalu santai ketika berpakaian. Kaus oblong putih tanpa lengan dan celana pendek yang panjangnya satu jengkal di atas lutut. Kakinya yang menyusup di bawah meja mengentak-entak kecil dan mulutnya mengunyah makanan dengan teratur. Gila nih orang! Dia bisa sesantai itu. “Oh, iya, ART mulai kerja hari ini. Dia cuma sampai sore kerjanya dan enggak stay di sini. Udah gue hubungi, sekalian belanja sebelum ke sini.” Berusaha menyingkirkan perasaan canggung ini, pelan-pelan aku ikut duduk di sebelahnya. Mengambil gelas dan menuangkan air putih, berusaha untuk tak acuh. “Key?” “Hm.” “Soal semalam....” “Gak usah dibahas, Nu. Gue tahu lo cuma kebawa situasi,” jawabku, seolah-olah aku tidak peduli dengan kejadian semalam. “Enggak.” Jawabannya membuatku yang hendak menyendok nasi goreng pun terhenti. Aku menunggu jawaban Wisnu selanjutnya. “Gue melakukan itu secara sadar. Dan gue minta maaf, bukan maksud gue melanggar perjanjian kita.” “Nyatanya lo melanggarnya, Kampret!” sungutku. Baru sehari menjadi istrinya tapi dia sudah berhasil membuatku sebal dan waswas. Seorang player memang tidak akan bisa berubah secepat Power Rangers mengganti kostum. Wisnu malah terbahak sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Aku yakin, bagi dia yang semalam itu tidak ada artinya. Mengingat track record dia dengan banyak perempuan. Padahal aku yang belum bisa melupakan kejadian semalam. Kasihan sekali kamu, Keyfa. “Papi ngasih tiket honeymoon ke Bali buat seminggu.” Kegiatan mengunyahku terhenti. Aku memicingkan mata sejenak sebelum mengarahkan bola mataku untuk melihat Wisnu yang sejak tadi berusaha aku abaikan. Wisnu menunjukkan dua tiket pesawat padaku. “Mana ada ceritanya honeymoon,” ketusku. “Liburan aja, Key,” balasnya. “Libur lo masih seminggu lagi, kan?” “Iya. Emang kapan jadwalnya?” Iya, sih. Bisa saja momentum ini dipakai liburan. Kapan lagi coba dapat tiket pesawat gratis dari mertua. “Besok.” “Ya udah, berangkat,” putusku. “Yang lain ikut kok. Mereka juga mau liburan sampai tahun baru. Jadi, kita liburan bareng.” “Mereka siapa?” tanyaku bingung. “Keluarga Dipo, Erfan, sama Fahmi. Minus Galih dan Anwar yang istrinya sama-sama lagi hamil.” “What? Mbak Rina ikut?” “Iya.” “Kok bisa?” “Udah direncanain, Key. Cuma sehari sebelum nikah, Papi tanya mau honeymoon ke mana. Ya gue jawab, mau ke Bali bareng anak-anak yang lain. Terus tiketnya dibayarin.” Aku menepuk jidat. Tidak terbayang situasi di sana akan seperti apa. Ah, tidak apa-apa, yang penting liburan. “Tapi hari ini kita ngapain?” tanyaku mengubah topik, daripada pusing memikirkan holiday bareng. “Di kamar aja gimana?” Mulai nih. Mulai. Ekspresi nakalnya, kerlingan mata jahilnya. Ingin kucolok matanya dengan garpu. “Gue colok, ya, Nu!” Aku mengarahkan ujung garpu yang runcing ke arahnya. Wisnu terbahak-bahak, merayakan kemenangannya yang berhasil menggodaku pagi-pagi. “Diem deh, Nu. Makan tuh nasgornya!” “Iya, iya.” Wisnu mengatur napasnya. Ia meneguk satu gelas air putih sampai tandas. “Ini, kan, Minggu, sahabat gue juga pada libur. Gue ada jadwal futsal nih hari ini sama mereka, mau ikut gak? Ikut aja, daripada lo bosen di sini. Para istri juga suka ikut kok.” “Gak mau, ah.” Lebih parahnya lagi akan ada todongan pertanyaan soal first night. Sahabat-sahabat Wisnu juga terkenal jahil, dan omongannya itu kadang ambigu. Mas Dipo juga jadi ketularan mereka. “Ayolah. Ikut aja.” Ampun nih laki! “Nanti di sana ngapain aja?” “Nonton para suami tanding dong.” “Selain itu?” Wisnu menggerakkan matanya ke atas, seolah berpikir dan mungkin saja membayangkan. “Biasanya cewek-cewek suka banget ngobrolin makeup, atau outfit gitu. Ikut, ya?” “Ya udah, tapi gue mandi dulu.” Aku menyimpan garpu dan sendok di piring yang sudah kosong. Porsi sarapanku memang sedikit, hanya setengah centong. bukan Karena aku rakus makan secepat itu. Kuambil air putih sampai satu gelas penuh dan meminumnya sampai habis. “Oke. Gue tunggu.” “Emang lo udah mandi?” tanyaku sambil berdiri. “Udah. Makanya, Keyfa, Subuh itu bangun bukan ngorok terus. Udah ngorok, mangap lagi. Lo lagi mikirin apa, sih, sampai tidur juga mangap gitu?” Aku mendelik sebal. “Berisik, Wisnu!” “Lo gak mikirin kecupan gue semalam, kan?” “Sinting! Ya, enggaklah!” “Bohong, ah. Terus kenapa pipi lo merah?” Dia menunjuk-nunjuk pipiku. Untuk menghindarinya. Aku melangkah lebar menuju kamar. “Enggak merah!” “Merah. Coba tengok sini!” “Enggak mau!!!” “Ngomong-ngomong, Key. Semalam itu terlalu sebentar!” “Berisik!!!” teriakku sambil membanting pintu. Tenang, Key. Atur napas. Tarik, embuskan. Tarik, embuskan. Cepat-cepat aku berdiri di depan cermin untuk melihat kondisi wajahku. Sial! Wajahku memang merona. “Key?” Aku terlonjak saat Wisnu mengetuk pintu. Aku dengan cepat berlari ke arah pintu untuk menguncinya. “Jam setengah delapan berangkatnya. Mandinya jangan lama-lama!” “Iya. Udah sana, ah!” “Key?” “Apa lagi?” “Enggak jadi. Cuma mau bilang lo gak usah banting pintu. Biaya perbaikan mahal.” Aku menggeram sebal. Kuabaikan Wisnu, memilih untuk membersihkan badan. *** Keakraban terjalin sangat kental saat aku melihat teman-teman Wisnu di lapangan futsal. Hebat! Mereka bersahabat lebih dari satu dekade dan masih sangat terjalin sampai mereka nikah dan punya anak. Hebatnya lagi, anak-anak mereka ini meneruskan tongkat estafet persahabatan orang tuanya. Lihat, anaknya Mbak Rina yang hari ini ikut dan anaknya Mas Erfan. Mereka bermain bareng meskipun usianya berbeda. “Gimana, Key?” “Apanya, Mbak?” tanyaku bingung. Mbak Rina saling tengok dengan istrinya Mas Galih dan Mas Erfan, mereka seperti menahan senyum. “Semalam, ngapain aja kamu sama Wisnu?” “Kalau malam, ya, tidur dong, Mbak.” Mulai gak beres nih obrolan. “Pengantar tidurnya apa, Key?” Aku mengerutkan kening. “Mbak, kenapa, sih, wajib banget nanya-nanya soal begituan ke pengantin baru? Itu privasi, Mbak.” Mbak Rina tertawa, pun dengan Nana dan Mbak Ghina. “Tapi Wisnu baik, kan?” “Baik, sih, baik, Mbak. Otaknya yang agak sakit. Omes mulu,” keluhku. “Omesnya sama kamu, kan, gak pa-pa. Wong istri sendiri.” Aku mencebik. “Eh, Mbak Rina sama Mbak Ghina besok mau ikut ke Bali?” “Ikut dong. Biar bisa lihat kamu mesra-mesraan sama Wisnu.” Mbak Rina sengaja betul. Baiklah, kali ini aku akan melayaninya. “Masa iya kita mau indehoy diintip. Kan, gak asyik, Mbak. Kita jadi gak bisa menikmatinya. Mbak juga masa mau lihat punya Wisnu, dan suami-suami Mbak lihat punyaku. Emang ikhlas?” “Astagfirullah, Key!” jerit Mbak Rina heboh. “Kamu emang udah diracuni Wisnu, Key!” sahut Mbak Ghina. “Lagian kalian ini kayak enggak pernah ngerasain jadi pengantin baru aja.” Sebisa mungkin aku harus terlihat natural. “Sayang banget aku enggak bisa ikut,” cicit Nana. Dari tadi ia hanya senyum-senyum kalem. Istrinya Mas Galih nih, katanya paling muda di antara istri teman-teman Wisnu yang lain. Masih anak kuliahan, wajahnya imut-imut. Mbak Ghina yang duduk di sebelah Nana, langsung merangkul ibu hamil itu. “Nanti kita agendakan lagi kalau kamu udah lahiran, ya?” Nana mengangguk. Katanya kalau trimester pertama, paling aman untuk tidak melakukan perjalanan jauh. “Jadi wacana liburan bareng tuh sebenarnya udah lama. Bahkan sebelum Galih nikah dulu. Cuma karena ada problem ini-itu jadinya di cancel. Sekarang juga hampir gagal lagi karena istrinya Anwar sudah mau melahirkan, dan Galih gak bisa cuti kerja ditambah kehamilan Nana yang masih di trimester awal. Tapi akhirnya terlaksana biarpun personel gak lengkap,” Mbak Ghina menjelaskan. “Tenang aja, Key. Biarpun satu vila, tapi beda kamar.” “Iya, gak usah panik takut kedengeran kalau malam, Key.” “Mbak Rina! Berisik, ih.” Tuh, kan, ingat lagi kejadian semalam. Kenapa, sih, kayak ditempel pakai lem di otak? Susah banget buat mengenyahkannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN