11

1740 Kata
WISNU “Lih, oper sini!” Gue berteriak di tengah cucuran keringat yang membasahi seluruh wajah. Galih mengoper bolanya, gue kontrol menggunakan d**a sebelum gue dribbling, meliuk-liuk di antara kerumunan lawan. Satu tendangan ke arah gawang ... tepat sasaran. “Goolllll....” Kehebatan seorang Wisnu sebagai striker tidak pernah padam dari SMA, biarpun pas SMA gue sering dijadikan cadangan karena sahabat gue, Raka, lebih jago dalam menyerang dan membobol gawang lawan. Sayang kebersamaan gue sama sahabat gue yang satu itu harus terkendala akibat konflik internal antara Galih dan Raka. Imbasnya, gue sama yang lain jarang berkomunikasi dengan Raka. Selesai membuat gol keempat, dan berhasil memenangkan pertandingan. Gue melipir ke pinggir lapangan. Duduk di bangku kayu yang memanjang, mengambil handuk untuk mengelap keringat. Lalu, gue ambil botol air mineral dalam kardus yang Erfan bawa untuk stok minum. “Gila, empat gol cuma diciptakan Wisnu. Gacor amat permainan lo, Nu.” Erfan duduk di sebelah gue, menepuk-nepuk bahu gue. “Gue lagi minum, Anjing!” maki gue. Gue hampir keselek. Dia mengganggu kesejukkan tenggorokan gue. “Gacorlah. Kan, habis dapat full service semalam,” timpal Galih, duduk berselonjor di lantai. Gue cuma mendengkus. Padahal mereka gak tahu, kalau semalam itu gue hampir membelot dari kontrak nikah. Hal tersebut menjadikan Keyfa agak canggung tadi pagi. Untungnya gue bisa memanipulasi keadaan, sebisa mungkin gue menghilangkan kecanggungan dia dengan cara meledek dan menggodanya. Dan itu cukup berhasil. Keyfa si Macan Betina kembali ke habitatnya. “Mas, duluan!” “Mas, gue juga balik.” “Iya, hati-hati lo semua.” Gue melambaikan tangan. Mereka adalah karyawan bokap yang menjadi lawan tanding gue dan kawan-kawan hari ini. “Besok kita berangkat ke airport bareng, kan?” tanya Erfan sambil merebahkan badannya di lantai lapangan. “Gue nunggu di airport,” sahut Dipo. “Gue juga,” timpal gue. Obrolan soal holiday bareng besok hampir saja menjadi bahan yang menarik sebelum si Kutu Kupret Galih memprotesnya. “Benci gue sama lo semua!” “Kenapa, woi?” Erfan meninju lengan Galih. “Maksudnya apa ngambil jadwal liburan bareng pas si Curut satu ini nikah? Gue, kan, jadi gak bisa ikut. Lo pada, sih, enak, kerja gak pake aturan. Nah, gue … gue gak bisa asal minta cuti. Kerjaan gue, kan, menyehatkan kehidupan bangsa.” Dia mencerocos, ekspresinya sok sedihnya bikin gue pengin nimpuk pakai bola. “Ya udah, nanti liburan bareng lagi. Gitu aja kok repot,” dumel Erfan. “Tapi, kan, gue gak bisa lihat Wisnu....” “Apa lo?” Sontak saja gue langsung melempar botol air mineral yang sudah kosong sebelum Galih menyelesaikan omongannya. Tepat mengenai kepalanya. “Kagak!” Dia tertawa. Gue mendengkus. Lebih dari satu dekade bersahabat sama curut-curut ini, gue sampai hafal apa yang sedang mereka pikirkan. Otak-otak mereka nih gak pernah berubah dari zaman ngorek upil pake jari telunjuk. “Nanti gue live i********: biar lo pada puas. Biar gue masuk akun gosip.” Dan curut-curut ini mengejek gue dengan tawa yang terbahak-bahak. “Gue balik duluan!” Gue bangkit berdiri. “Bau pengantin baru masih pekat, nih!” “Sindir terus!!!” sungut gue. Mereka kembali terpingkal-pingkal. Gue memilih tak acuh dan keluar dari lapangan. “Udah selesai?” Keyfa menyambut gue dengan pertanyaan bernada hangat. Duh, bini kontrak gue tumben manis. “Udah. Langsung pulang yuk, Bu Nani udah sampai di apartemen.” Keyfa mengangguk. Lantas mengambil tasnya, dan beranjak dari kursi. “Aku pulang duluan, ya?” “Iya, hati-hati,” balas Mbak Rina. “Iya, deh, yang pengantin baru. Maunya cepet pulang terus.” Ghina adalah pengejek nomor wahid di antara istri teman-teman gue yang lain. “Pepet terus sampai positif,” timpal Mbak Rina. Gue layangkan bogem di udara untuk Rina dan Ghina. Terkecuali Nana yang cuma senyum-senyum. Ngomong-ngomong soal Bu Nani, dia asisten rumah tangga yang akan bekerja di apartemen gue. Gue kenal Bu Nani dari SMA, karena Bu Nani adalah asisten yang kerja di rumah orang tua gue. Bu Nani juga orang yang berjasa mengurus gue dan Gibran, di saat bokap sibuk kerja, dan nyokap sibuk arisan. Dulu, suaminya juga bekerja sebagai supir pribadi bokap, tapi dia memilih pulang kampung dan tinggal dengan anak sulungnya yang sudah menikah. Sementara Bu Nani stay di Jakarta dengan anak bungsunya. Dua tahun lalu, Bu Nani mengundurkan diri karena suaminya meninggal. Dia dan anak bungsunya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Satu tahun kemudian, anak sulungnya, Ibnu beserta istrinya pindah ke paviliun orang tua gue. Istrinya bekerja menggantikan Bu Nani, dan Ibnu menjadi supir pribadi di rumah. Gue sempat tanya pekerjaan Bu Nani setelah berhenti dari rumah orang tua gue, Ibnu bilang hanya berjualan makanan di depan rumah. Gue coba kontak beliau lagi, gue tanya apa beliau masih sanggup kerja sama gue. Beliau bilang sanggup, tapi tunggu anak bungsunya selesai UN SMP. Kemarin sore, Bu Nani sampai di Jakarta memboyong anak bungsunya dan tinggal di paviliun orang tua gue. Anak bungsunya otomatis melanjutkan sekolah ke tingkat SMA di Jakarta juga. Sampai di unit apartemen, gue lihat Bu Nani sedang berdiri sambil bersandar di pintu. Di sisi kanannya terdapat dua kantong plastik besar berisi kebutuhan dapur gue dan Keyfa. “Mas Wisnu!” “Bu Nani, apa kabar?” Gue gak sungkan buat peluk Bu Nani. “Sehat, Bu?” “Alhamdulillah, sehat, Mas.” Gue seneng banget akhirnya ketemu dia lagi. Karena kemarin gak sempat ketemu. Maklum, gue, kan, kemarin jadi raja di pelaminan. “Ibu, kenapa enggak masuk? Kan, udah aku kasih tahu sandinya.” Bu Nani menggeleng seraya tersenyum hangat. “Masa Ibu masuk sementara pemiliknya sedang keluar.” “Loh, ya, enggak pa-pa, Bu. Ibu, kan, sudah aku anggap keluarga sendiri.” Bu Nani bersikeras tetap menggelengkan kepalanya. “Biarpun begitu, Ibu takut ada barang-barang Mas Wisnu yang hilang. Nanti disangka Ibu yang ambil.” “Ibu ini, selalu begitu.” Gue tersenyum pada Bu Nani. “Oh, iya, Bu. Ini Keyfa, istriku. Key, ini Bu Nani. Dulunya Bu Nani kerja di rumah Papi-Mami.” “Keyfa, Bu.” Keyfa mengajak Bu Nani bersalaman. “Oalah, cantik toh, Mas.” Mata Bi Nani berbinar menatap Keyfa. “Natural sekali dandanannya. Tidak seperti mantan pacar Mas Wisnu yang sudah-sudah.” Gue melotot kaget. Siapa sangka Bu Nani akan membongkar masa lalu gue di depan Keyfa. “Jangan dibongkar, Bu. Nanti Keyfa ngambek.” Mendengar namanya disebut, Keyfa langsung mendelik protes. “Duh, Gusti Allah. Maafkan Ibu, Mbak.” Bu Nani menelungkupkan kedua tangannya, dengan ekspresi menyesal. “Gak pa-pa, Bu. Sebelum dikasih tahu juga aku udah feeling kok. Wajah-wajah kayak Wisnu ini pasti playboy cap jenggot,” celetuk Keyfa, dan kampretnya bikin gue mati kutu. Keyfa menekan password apartemen, dan menyelonong masuk duluan. “Sayang, jangan marah dong!” seru gue. “Sayang, sayang, muke lu peyang!” sahutnya gak kalah kencang. Bu Nani tertawa mendengar gue dan Keyfa berselisih. “Biasa, Bu. Lagi ingin dimanja,” celetuk gue, bercanda. “Mas Wisnu nih, enggak berubah dari dulu. Guyon terus.” Bu Nani kembali tertawa geli. “Ayo, masuk, Bu. Belanjaannya biar aku yang bawa.” “Terima kasih.” Bu Nani melangkah masuk duluan, gue mengekor di belakangnya sambil membawa barang belanjaan. “Tadi dianterin siapa, Bu, ke sini?” Gue menaruh dua kantong belanjaan yang cukup berat itu di pantry. “Dianterin Ibnu. Soalnya dia sekalian nganterin ibu Mas Wisnu belanja,” jawab Bu Nani. “Mami tuh gak berubah, Bu. Masih doyan belanja.” “Gak pa-pa, Mas. Baju-baju yang tidak terpakainya suka dikasih ke Ibu,” kekehnya. Gue ikut ketawa. “Ibu duduk dulu. Pasti pegel berdiri terus dari tadi.” Bu Nani mengangguk, lantas duduk di sofa. “Ibu istirahat dulu lima menit, ya, baru nanti masak.” “Siap. Udah kangen banget sama masakan Bu Nani.” Bu Nani tertawa kecil. “Mau menu apa hari ini, Mas?” “Apa saja. Yang penting enak.” “Siap. Ibu buatkan menu spesial buat Mas Wisnu dan Mbak Key.” Gue mengangguk, excited. “Aku mau mandi dulu, Bu.” “Siap, Mas.” Sebelum masuk ke kamar gue, gue lebih dulu masuk ke kamar Keyfa, ada hal penting yang harus gue bicarakan dengannya. “Astagaaa! Ngapain lo di situ?” Gue sontak berbalik badan. Gila! Entah gue harus bersyukur atau enggak sekarang. Keyfa hampir melepaskan kaus yang dipakainya saat gue masuk tanpa mengetuk pintu. Seketika gue sadar, kalau masuk kamarnya juga melanggar penjanjian. “Kalau mau masuk ketok pintu dulu, ingat sama perjanjian!” gerutu Keyfa. “Udah belum?” “Udah.” Gue berbalik lagi. Keyfa gak jadi ganti baju, padahal bisa tuh gue intip sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. “Sori, gue, kan, gak tahu kalau lo mau ganti baju.” Gue duduk di tepi ranjang. “Udah cepetan lo mau ngapain? Badan lo tuh masih bau keringat jangan sampai bawa virus ke kamar,” cerocosnya, bertolak pinggang di depan gue sambil menatap gue sangar. “Key, lo tahu, kan, Bu Nani tinggal di paviliun rumah gue?” “Iya, terus?” “Lo tahu juga, kan, kalau misalnya dia bisa aja ngasih tahu nyokap kalau kita gak tidur bareng?” Keyfa melongo. “Terus gimana dong?” tanyanya, mulai panik. Gue nahan senyum melihat wajah paniknya. Padahal gue sudah kasih tahu Bu Nani kalau gue dan Keyfa enggak sekamar. Tentu alasannya bukan karena kami nikah kontrak, tapi karena Keyfa belum siap gue sentuh. Dan sebagai salah satu anak kesayangan Bu Nani, dia percaya sama gue. “Tenang aja, kita akting seperti biasa di depan dia. Lo juga jangan keseringan masuk kamar ini kalau ada Bu Nani. Gue juga udah ngelarang dia buat beresin kamar.” “Oke.” “Oke, Istri. Suami lo mau mandi dulu.” Gue menepuk kepalanya pelan, tiga kali tepukan. “Lo gak niat mau mandiin gue?” “Lumpuh dulu lo baru gue mandiin!” sungutnya tepat di depan wajah gue. Sontak gue menjauhkan kepala gue, menjaga jarak sebelum sesuatu hal yang diinginkan terjadi. “Astagfirullah, doa lo gak baik, Key. Kita, kan, belum berkembang biak,” goda gue. “Lo kata gue sapi yang bisa berkembang biak!!” “Loh, manusia juga berkembang biak, Key!” “Ya, ya, terserah. Udah selesai, kan, Nu? Keluar sana!” Dia menarik lengan gue, mendorong gue sampai keluar dari kamar. Mata gue melotot begitu melihat kunci kamar menggantung di bagian luar. Tanpa ragu gue kunci pintunya, dan ambil kuncinya. Setelah itu gue masuk kamar buat mandi. *****                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN