“Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan G-A-8-9-2 tujuan-”
Suara pengumuman membangunkan Azhar dari tidurnya. Dia masih membenci fakta pesawatnya delay. Kalau saja perusahaan sudah cukup uang untuk jet pribadi dan akan memberi pundi uang tambahan dengan adanya jet, akan dia beli. Sepertinya masih sedikit jauh mimpi itu, dan jet pribadi sendiri adalah liability, bukan asset, yang membuatnya ragu.
Liability adalah semua yang menjadi beban dalam keuangan, sementara asset yang menghasilkan uang. Pesawat jet adalah sebuah luxury, dan merupakan liability karena membebani finansial perusahaan dengan pengadaan dan perawatan yang tidak murah. Mereka yang membaca buku Kiyosaki mungkin sangat menyukai konsep asset vs liability ini.
“Harusnya aku bawa Kaynara. Setidaknya, wanita itu membuat diriku merasa lebih nyaman dengan kehadirannya,” keluh Azhar seraya melihat ke arah jam penerbangan. Pesawatnya ditunda. Maskapai pelat merah pun bisa delay, dan ini lumayan lama karena ada masalah cuaca di daerah penerbangan sebelumnya. Setidaknya, itu yang dikatakan Arrow sejam yang lalu.
“Delay Bad Weather,” keluh Azhar membaca lagi papan pengumuman itu. Dia tidak suka jenis delay ini, karena bersifat alam dan tidak ada jaminan kapan siapnya. Dia pun meminum secangkir kopi yang dia ambil dari mesin seduh kopi terdekat di VVIP room of executive lounge bandara ibukota itu.
“Apalah gunanya terus mengeluh,” komentar Azhar seraya menyisip kopi itu. Dia melihat ke kursi kosong di hadapannya, dan semakin berharap Kaynara ada bersamanya. Kaynara mulai berusaha penuh di perusahaannya sendiri, ingin menjadi CEO wanita ternama sepertinya adalah impian besar wanita 26 tahun itu.
“Kamu terus mengejar mimpimu, sementara aku yang dipuncak ini ingin meraihmu. Susah sekali untuk membuatmu sadar isi hatiku,” keluh Azhar. Kalau tidak Kaynara, setidaknya si k*****t Arrow bisa menghibur kebosanannya sekarang. Pria menyebalkan itu tidak kehabisan akal untuk membuat Azhar ingin menyumpah serapah mantan CKO-nya yang sekarang sibuk dengan perusahaannya sendiri.
Suara lagu Menghapus Jejakmu membuat Azhar sadar ada yang menelponnya. Dia mengambil ponsel itu dan mengkerutkan dahinya melihat nama yang tertulis di layar. Si b*****t langsung menelpon begitu terpintas sekilas di benaknya. Dia mengangkat telepon itu.
“Ada apa, Arrow?” tanya Azhar dingin. Antik apa lagi yang akan dikeluarkan berandalan itu.
“Aih, salam dulu Mas. Assalamu’alaikum!” jawab Arrow santai. Azhar memutar bola matanya, jengah dengan sikap Arrow.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Azhar jengah. Dia tidak suka dengan antik yang dilakukan Arrow, sedikitpun.
“Aku punya kabar menarik lho!” ucap Arrow seraya menahan berita menarik itu. Azhar kesal dengan sikap rahasia-rahasiaan yang dilakukan oleh Arrow.
“Apa? Cepat dan jangan buang waktuku,” bentak Azhar.
“Ih. Gak sabaran banget. Kamu sudah dengar proyek untuk pembuatan sistem pelacakan baru? BIN perlu upgrade dari sistem yang ada,” balas Arrow. Azhar tampak berpikir, kenapa Arrow seenaknya berbicara hal penting tanpa membaca situasi.
“Aku baru dengar. Bisa kirim detailnya?” tanya Azhar.
“Bisa,” jawab Arrow dengan nada serius, “seperti biasa, rahasia negara.”
“Dengan telepon umum?” tanyaku menyindir.
“Percakapan ini terenkripsi, jika kamu belum menyadarinya,” jawab Arrow menyindir balik. Azhar melihat ke ponselnya. Benar, ada tanda enkripsi khusus yang mereka buat untuk komunikasi internal di EduTech. Azhar harus mengakui b*****h yang menjadi rival barunya ini sangat jeli. Lebih tajam dari yang dia tunjukkan.
“Tapi, ada yang bisa mendengar di sisiku,” komentar Azhar lagi.
“Ah, aku tahu kamu tidak sebodoh itu. Lihat saja posisimu sekarang. Apa perlu aku tunjukkan dengan prototipe sistem tak bernama milikku nih?” tanya Arrow. Azhar menutup telepon itu. Dia tidak tertarik mendengar Arrow ceramah panjang lebar sistem prototipe kebanggaannya. Kebanyakan nonton Fast and Furious tidak sehat untuk Arrow.
“Cih, seakan bisa menciptakan Mata Dewa,” komentar Azhar kepada dirinya sendiri. Seorang pelayan masuk ke ruangannya, memberikan dia kabar bahwasanya pesawatnya baru saja mendarat di bandara itu. Sepertinya dia tidak memperhatikan kala Arrow mengganggunya tadi.
“Pesawat Tuan telah mendarat. Tuan bisa masuk sekitar dua puluh menit lagi,” pesan pelayan itu. Azhar menganggukkan kepalanya. Dia tahu dia mendapatkan akses untuk masuk pertama dalam pesawat. Belum lagi, statusnya sebagai anggota platinum dari maskapai, ditambah jaringannya, tentu membuat penerbangan itu sepenuhnya memberikan kelas bisnis hanya kepada dia.
“Terima kasih atas informasinya,” komentar Azhar. Pelayan itu lalu izin keluar dari ruangannya. Azhar menghembuskan nafas berat, melihat sebuah pesan dari seseorang yang penting untuk perusahaannya. Pesan yang membuat dia menaikkan sebelah alisnya.
Dia mengetikkan beberapa nomor di ponsel miliknya. Dering telepon segera mengikuti begitu tombol panggil ditekan.
“Yang benar! Kalau sampai bisnis divisi Lionheart bobol, aku pastikan kamu jadi tumbalnya! Bersihkan tanpa jejak! Aku tidak ingin kecolongan ini terhubung sedikitpun ke perusahaan!” bentak Azhar kepada seseorang di saluran seberang. Azhar mencoba mendengarkan penjelasan dari lawan bicaranya, namun amarahnya membuat dia harus menghembuskan nafas berat beberapa kali supaya tidak berteriak murka lagi ke pemimpin divisi khususnya itu. Beberapa kali dia harus meminta kepastian, hingga kepala divisinya itu akhirnya mampu membuat dia yakin.
“Jika sedikit saja ada keterkaitan dengan AET, kamu tahu akibatnya. Kerjakan sebaik mungkin!” perintah Azhar sebelum menutup panggilan itu. Sungguh sial, kenapa orang-orang berdasi itu sok-sokan mencoba mencari kesempatan berlagak jago di depan publik saat mood dia jelek seperti ini? Apa karena sebentar lagi pemilu lalu mereka tiba-tiba sok jago? b******k mereka!
“Cih, apa perlu aku harus bicara pada mereka? Sepertinya mereka tahu juga apa yang mereka lakukan. Awas saja mereka terlalu sok berlagak sampai menyentuhku,” ketus Azhar seraya melihat beberapa nomor di daftar teleponnya. Kalau bukan karena kepentingan kekuasaan, dia sudah musnahkan orang-orang b******k itu. Arrow bahkan sangat senang jika itu terjadi.
Azhar menutup matanya, menghembuskan nafas berat. Seorang pelayan datang ke ruangan itu lagi.
“Tuan bisa naik sekarang,” ucap pelayan itu. Azhar menganggukkan kepalanya dan dia membawa barang-barang miliknya, yaitu sebuah bagasi kecil dan sebuah tas ransel di punggungnya. Pelayan itu mengarahkan Azhar ke tempat parkir pesawat, melewati garbarata, atau dikenal sebagai belalai atau tangga belalai, yang sering terlihat di berbagai bandara. Dia tahu banyak orang melihat dia masuk terlebih dahulu ke dalam pesawat, tapi dia tidak memperdulikan.
“Selamat datang Tuan Azhar. Semoga Anda senang dengan penerbangan ini,” sapa salah satu pramugari kala Azhar masuk ke dalam pesawat itu. Azhar melirik sekilas penampilan pramugari itu, dan dia langsung tahu siapa pramugari yang menyapanya. Dia hanya menganggukkan kepala.
“Terima kasih banyak,” ucap Azhar sekenanya. Dia pun mengambil kursi yang telah direservasikan untuk dirinya, setelah meletakkan barang bawaannya ke bagian atas kabin.
“Untuk makanannya akan kami sajikan kala kita telah mengudara, Tuan,” pesan pramugari itu kepada Azhar. Azhar menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih. Saya rasa pesanan saya sudah jelas ya,” balas Azhar. Pramugari itu menganggukkan kepalanya sebelum kembali melaksanakan tugasnya. Penumpang lain mulai masuk ke dalam pesawat A320Neo keluaran Airbus itu. Azhar hanya melihat satu per satu penumpang yang lewat sekilas, dan ada satu yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis dengan gamis berwarna serba pink yang menjulur panjang. Dia berjalan di antara kerumunan manusia yang masuk ke dalam pesawat menuju kursi mereka masing-masing. Azhar menatap pelan, mencoba jeli dengan tiket yang dibawa oleh gadis itu.
Matanya tidak bisa menangkap nomor kursi gadis itu. Azhar menghembuskan nafas kecewa. Sepertinya dia harus bersabar dan menunggu situasi. Sebuah telepon masuk ke ponselnya. Ah, dia belum mematikan benda itu.
Nama Arrow tercetak jelas di ponselnya. Dengan memutar bola mata malas, Azhar mengangkat telepon itu. Dia mendengar suara catur yang sengaja dikeraskan hentakannya oleh Arrow.
“Catur?” tanya Azhar. Arrow sepertinya mendengar suara Azhar, dan memberikan jawabannya.
“Pion Soul masih kamu pegang kan?” tanya Arrow yang membuat Azhar terkejut. Bagaimana tidak, Arrow menanyakan itu tanpa alasan secara tiba-tiba tentu membuatnya terkejut. Dia memasukkan tangannya ke saku kanan dan mengambil pion putih milik Soul.
“Iya. Kenapa tiba-tiba?” tanya Azhar heran. Entah kenapa, dia tidak bisa marah dengan Arrow kalau membahas pion ini. Selain itu, Arrow cukup menjengkelkan.
“Tidak apa-apa, hanya kebetulan menemukan pion putih pemberian Soul kepadaku dulu,” komentar Arrow. Azhar tersenyum tipis.
“Bukankah lucu jika kita sama-sama memegang warna putih, sementara kita sendiri sekarang berakhir di sisi yang berbeda?” tanya Azhar seraya melihat kembali ke keramaian manusia. Arrow tertawa hambar.
“Kamu mengakuinya? Sekarang, siapa yang meniti jalan hitam?” tanya Arrow lagi. Azhar tersenyum sinis.
“Oh tentu saja, hitam putihnya relatif, Arrow,” jawab Azhar seraya memperhatikan gadis yang dia belum ketahui namanya itu.