Bab 9

1270 Kata
“Sudah sampai woi!” teriak Arrow mengganggu tidur Azhar. Dengan malas, Azhar membuka matanya. Mimpi yang dia lewati tadi adalah peristiwa di masa lampau. “Aku bangun,” komentar Azhar dengan malas. Mobil itu sudah berhenti di tempat tujuan mereka, salah satu restoran Jepang mahal di Bogor. Arrow mematikan mesin mobil, yang membuat Azhar dengan malas membuka pintu sisinya dan keluar dari mobil. Arrow menyusul kemudian. “Nggak terlalu ramai hari ini,” komentar Arrow. Mungkin bukan tidak terlalu ramai kalau dari kacamata Azhar, tapi mereka memilih waktu yang sepi. “Ayo,” komentar Arrow. Azhar hanya mengikuti. Dia belum sepenuhnya memegang pijakan atas realita. Arrow sudah memesan tempat untuk mereka, dan mereka pun segera ke meja mereka. Arrow juga memesan beberapa daging yang sudah sering mereka pesan. “Kamu masih hafal,” komentar Azhar datar saat mereka sudah duduk. Arrow melukiskan senyuman yang menurut Azhar merefleksikan kesombongan laki-laki akselerasi itu. “Tentu lah. Otak encer masa lupa,” balas Arrow sok bangga, “tapi pelupa soal hal kecil sih kalau nggak niat, hehe,” lanjutnya pelan. Azhar menghembuskan nafas berat. Bagi Azhar, bagaimana dia bisa bersikap bersahabat dengan seorang Arrow ini? “My treat today,” komentar Arrow lagi. Azhar menggelengkan kepala. “Tidak. Tidak ada acara treat. Ini bukan zaman kuliah lagi, Arrow,” balas Azhar dengan sorotan serius. Arrow tersenyum datar. “Bagaimana Citra?” tanya Arrow santai, mengalihkan topik. Namun, topik itu membuat Azhar sepenuhnya mengerjap ke dunia nyata. Seluruh sensornya langsung aktif, menyadari bahaya dari topik ini. “Baik-baik saja,” jawab Azhar tanpa ekspresi. Arrow berdiri dari kursinya. “Aku mau ambil matcha dulu,” balas Arrow, “nanti kita lanjutkan,” tambahnya. Azhar hanya menganggukkan kepalanya. “Titip.” “Oke!” Arrow pun pergi dari meja, meninggalkan Azhar untuk berpikir sejenak. Dia memikirkan apa yang direncanakan oleh Arrow dengan pembahasan tiba-tiba itu. Apalagi, ini area publik. Jika percakapan mereka terdengar oleh pengunjung lain, bisa bahaya bagi Azhar. Arrow kembali dengan dua gelas matcha. Dia lalu menyerahkan gelas milik Azhar kepada Azhar. “Kamu tidak meracuninya ‘kan?” tanya Azhar setengah bercanda. Arrow menggelengkan kepalanya. “Ngawur kamu. Lelucon zaman awal bisnis masih dibawa-bawa,” jawab Arrow diikuti dengan tawa. Azhar menyorot tajam, namun dia masih cukup yakin Arrow tidak meracuninya. Bagaimanapun, jika dia melayang, Arrow akan dia pastikan pergi bersamanya. “Kamu minum dulu,” komentar Azhar. Arrow tertawa, dia pun meminum sebagian kecil dari gelas Azhar. Tidak terjadi apapun. “Oke,” komentar Azhar dan dia pun meminum gelas itu. Arrow duduk di kursinya dan dia tertawa renyah. Secara tersirat, Azhar sadar Arrow sedang meledeknya. “Kalau mau, kamu ambil sendiri saja lagi,” komentar Arrow. Azhar menganggukkan kepalanya. Mungkin dia perlu sedikit lebih banyak memberi benefit of doubt kepada rivalnya ini. “Permisi, pesanan tuan-tuan,” suara seorang pelayan menyerahkan beberapa kotak kecil daging menghentikan percakapan mereka. “Terima kasih,” ucap Arrow. Pelayan itu pun mengonfirmasi pesanan dan Arrow menyatakan sudah semuanya. Azhar beranjak dari kursinya dan berjalan ke buffet untuk mengambil makanannya. Setelah mereka selesai makan, Azhar mengetuk meja dengan tangan kanannya. Arrow, menangkap isyarat yang dimaksud, langsung memulai percakapan. “Masih mau bahas Citra?” tanya Arrow tanpa basa-basi. Hanya gelengan kepala yang diberikan Azhar. Entah kenapa, Arrow memberikan anggukan paham. “Kalau begitu, apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Arrow dengan sorotan serius. “Kenapa tidak bersiap menyingkirkanku?” tanya Azhar, “you have plenty of opportunity tomorrow,” lanjutnya. Arrow tertawa. “You can consider me as a dangerous foe, but you let me drive and cooperate with you. We have our reasons. Bagaimanapun posisi kita sekarang, Azhar, ada hal-hal yang kita tetap bisa sepakati. Ada orang yang mengajarkan kepadaku, bahwasanya kita bisa memilih melihat semua yang kita tidak sukai dari orang itu, atau melihat semua yang kita sukai dari orang itu,” komentar Arrow. Azhar merenungi kalimat yang dilontarkan oleh Arrow. “Semisal soal visi. Aku tahu kamu dan aku punya ikatan yang saling berlawanan, tapi visi kita di awal dari memulai semua ini tetap sama, dan aku melihat itu untuk menyadarkan kita hanyalah bidak catur,” lanjut Arrow. “Bidak catur?” tanya Azhar hati-hati. Dia tahu pembahasan ini akan berbahaya, bisa berakhir nyawa mereka hilang jika ceroboh. “Oh, kamu tahu apa yang aku bicarakan, Azhar,” jawab Arrow dengan senyuman sinis. Arrow menghembuskan nafas berat. “Anggap saja kita tidak pernah membahas hal itu. Lagipula, kita sudah berada di titik dimana visi kita dapat dibilang ‘tercapai’,” komentar Arrow lagi. Dia mengutip tangannya saat mengucapkan ‘tercapai’. “Bukannya benar tercapai? Untuk apa konotasi itu?” tanya Azhar tajam. “Memajukan pendidikan Indonesia dengan kekuatan teknologi,” komentar Arrow mengutip visi mereka saat awal pendirian Azhar EduTech. Visi yang disepakati Azhar, Arrow, dan Kaynara kala bisnis itu didirikan. “Benar. Pendidikan Indonesia sudah maju sekarang, sudah diakui sebagai negara super. Kita sudah bisa bersaing dengan negara luar secara akademik,” komentar Azhar heran. Arrow tersenyum, seakan mengejek prestasi besar negeri yang membesarkannya. “Tapi, tidakkah kamu tahu diskusi-diskusi mahasiswa di berbagai kampus? Masih banyak orang yang terjebak dalam mengembangkan ilmu mereka. Masih banyak anak putus sekolah. Masih banyak yang hanya memegang SD maupun SMP. Pendidikan kita masih jauh dari merata,” komentar Arrow lagi. Azhar menggelengkan kepala. “Kita melakukan peran kita untuk mengubah masyarakat, tapi maaf, it’s hopeless to change people who don’t wish to change themselves. Gak ada gunanya mengubah orang bebal, Arrow,” komentar Azhar. Arrow menghela nafas berat. “Aku tidak melihat pencapaian kita di mata internasional sebagai sebuah pencapaian hebat. Kita masih banyak disparitas yang belum terselesaikan,” balas Arrow. Azhar menghela nafas berat. “Kalau kamu tanya aku, jawabanku sederhana: gak ada gunanya mencoba mengubah yang tidak mau berubah. Aku sudah lakukan semua yang aku bisa. Triliunan aku korbankan demi visi itu, tapi masih banyak yang menyia-nyiakan. Masih banyak orang kita yang sibuk menikmati diri mereka sementara dompet mereka tidak mendukung, dan mengubah orang t***l seperti mereka tidak berguna,” komentar Azhar tajam. Arrow tersenyum. “Ah, dengan semua yang kamu perbuat, sepertinya nalarmu masih jalan,” sindir Arrow. Azhar menyorot tajam. “Bisa ulangi?” tanya Azhar dengan nada ancaman. Arrow tersenyum. “Kamu mendengar jelas, tidak perlu,” jawab Arrow santai, “ah, waktunya kita pergi. Sudah jamnya,” lanjut Arrow dan dia pun berdiri. “Ayo, masih banyak urusan bisnis dengan klien masing-masing yang harus diselesaikan,” komentarnya dan mereka pun beranjak dari kursi mereka. Mereka membayar pesanan mereka dan beranjak pergi dari restoran. “Sudah pesan tiket?” tanya Arrow santai kala dia menyetir kembali. Azhar yang sedang melihat-lihat ponselnya langsung melirik ke arah Arrow. “Sudah. Kenapa? Mau cari dan rencanakan ‘kecelakaan’?” tanya Azhar dengan nada santai, namun kata ‘kecelakaan’ dan ‘rencanakan’ penuh dengan racun menyelip dari lidah Azhar. Arrow tersenyum, mata tetap tajam dengan jalan raya yang ramai. “Oh tidak. Justru aku bertugas untuk memastikan hal demikian tidak terjadi. Kalau memang kecelakaan, justru harus lepas dari tangan manusia,” jawab Arrow. Azhar mengernyitkan matanya ke arah Arrow. Dia seakan ingin tahu apa yang dimaksud oleh rekan kuliahnya dulu itu. “Maksudku, aku mencoba membantu mengamankanmu. Kamu tahu politik dan bisnis itu kejam, tapi tidak seanjing itu,” komentar Arrow lagi, “lagipula, better have you around than the whole country crumbles into chaos.” “Ah, dan kenapa aku harus yakin?” tanya Azhar datar. “Setidaknya, itu yang bisa aku katakan kepada Soul kala aku ke makamnya lagi. The dead stays dead, but their wishes must remain alive.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN