Bab 10

1611 Kata
“Selamat datang tuan Azhar,” sapa para pelayan kala dia tiba di rumah mewahnya. Azhar menganggukkan kepalanya. Ponsel miliknya berbunyi, dan ada satu nama yang membuat dia mengernyit. “Ada apa lagi?” gumam laki-laki itu, seakan tidak senang nama itu sampai muncul. Kenapa divisi Lionheart selalu memulai masalah di saat tidak diperlukan. “Azhar di sini,” ucapnya mengangkat telepon. “Permisi Tuan Azhar, saya melaporkan transaksi sukses. Untuk detilnya saya kirim lewat email,” ucap lawan bicaranya, sang kepala divisi Lionheart. “Ah, terima kasih, Ray,” komentar Azhar datar sebelum menutup telepon. Dia memutuskan untuk memeriksa email miliknya nanti. Azhar tampak merenungkan sesuatu. “Ada yang mengganjal kepala tuan?” tanya kepala pembantu. Azhar menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, hanya merenungkan kalimat Arrow kepada saya saja,” jawab Azhar. Dia pun masuk ke dalam rumah. Langkah kaki Azhar membuat seluruh pelayan yang berada dalam rumah memberikan penghormatannya. Mereka semua tahu, pembangkangan sedikitpun kepada tuan mereka bisa berakhir dengan diri mereka berada di salah satu rumah bordil, atau menjadi b***k manusia. Bagi mereka, ini adalah pilihan paling terhormat, dan sebuah kehormatan untuk bisa bekerja di rumah ini. Seorang pelayan mendampingi Azhar di sisi kanannya. Dia adalah orang yang mendapatkan kehormatan secara struktural memimpin para pelayan di rumah ini. Dia yang berusaha memastikan semua pelayan bekerja dengan sempurna. “Tuan Azhar, tadi salah satu dari mereka berkunjung ke rumah anda. Saya dengan berat hati menginformasikan bahwasanya anda sedang dalam urusan bisnis,” ucap pelayan itu. Azhar terkejut mendengarnya, dan langsung menghentakkan Sebastian ke dinding terdekat. Para pelayan di sekitar mereka terkejut, namun tidak satupun berani membalas perlakuan sang CEO di atas kertas daripada Azhar Edutech. “Kenapa kau tidak menelponku, Sebastian!?” Nada itu tinggi, bahkan semua pelayan tahu Azhar sangat marah. Tangan Azhar membuat Sebastian kesulitan bernafas, namun dia berusaha menyusun patah katanya. “Saya ... menelpon ... tuan,” ucapnya terpatah-patah. Azhar mengurangi kerasnya cengkraman tangannya. Dia mengambil ponselnya dan memperhatikan lebih teliti. Ada sepuluh telepon yang ditolak tanpa sepengetahuan dirinya. Azhar menghempaskan ponselnya dengan murka. “Arrow b*****t! k*****t itu mengendalikan ponselku dari jarak jauh!” maki Azhar. Dia sangat marah, dan dia meninju dinding persis di samping Sebastian. Hanya berjarak satu senti dari telinga kiri Sebastian tangan kanan Azhar mendarat. Suasana terus mencekam. Azhar menghembuskan nafas berat, menurunkan seluruh amarah yang dia rasakan. Dia tidak percaya Arrow bisa melakukan hal seperti ini kepadanya. Dia mengepal tangannya. “Aku harus segera menghubungi orang itu,” gumam Azhar. Sebastian lalu memberikan sebuah kertas kepada Azhar. Azhar mengambil kertas itu. “Sebaiknya kamu bilang dari awal ada pesan seperti ini lain kali, Sebastian,” tegur Azhar. Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya. “Siap, Tuan Azhar.” Azhar hanya berdehem sebelum berjalan menuju kamarnya seraya membuka kertas misterius itu. Dia tahu, isi kertasnya hanya bisa dipahami oleh orang tertentu, dan orang tertentu itu adalah mereka yang terlibat di dalam konspirasi. Azhar berhenti tepat sebelum memasuki kamar. Dia tampak gusar dengan pesan yang telah dia dekripsi dengan cepat itu. Dia batal memasuki kamarnya dan segera berlari kembali mobilnya, membuat para pelayan terkejut. Azhar memerintahkan mereka segera membuka pagar dan dia pun berangkat ke sebuah tempat. Laki-laki berusia 50 tahunan itu tersenyum sumringah kala Azhar tiba ke hadapannya. Sementara bagi Azhar, dia hanya tersenyum dongkol melihat seorang k*****t yang dia tidak ingin sama sekali berurusan. Namun, sepertinya organisasi tidak ingin dia tenang selamanya. “Akhirnya kamu datang, Azhar.” Azhar hanya tersenyum melihat laki-laki itu. “Maaf atas keterlambatan saya, Tuan Zakh.” “Aku ada keperluan mendesak terkait kehadiranmu di sini. Ada seseorang yang ingin segera aku singkirkan,” komentar laki-laki yang disapa Tuan Zakh itu. Azhar langsung waspada, namun wajahnya tetap memperlihatkan hormat. Dia berharap bukan Arrow, karena dia masih perlu k*****t itu untuk keselamatannya di Malaysia nanti. “Fath. Sholihin Fath. Kamu tahu kan siapa yang ku maksud?” tanya Zakh kepada Azhar. Azhar tidak perlu berpikir dua kali untuk menyadari Fath yang dimaksud oleh laki-laki itu. “Saya tahu, Tuan Zakh,” jawab Azhar dengan datar. Ya, guru dan seniornya sendiri, serta salah satu klien penting perusahaannya saat ini. Sholihin Fath. “Dia mulai mengganggu operasi kita. Kamu tahu keributan razia dadakan itu? Dia yang menyetirnya. Selain itu, dia juga mengganggu operasi bisnisku di Sulawesi dan Maluku,” komentar Zakh. Situasinya jelas serius, dan Azhar tahu Fath adalah lawan yang tidak mudah. “Dengan cara apa Tuan ingin saya singkirkan sampah ini?” tanya Azhar seperti biasanya. Dia harus menanggalkan serpihan hormat yang masih dia punya pada senior itu. Dia tidak punya pilihan. “Hilangkan seperti yang lainnya. Kalau bisa, buat semuanya serupa dengan sebuah kecelakaan,” jawab Zakh dengan senyuman sinisnya. Bagi Zakh, hanya ada satu kata untuk yang mengganggu operasi bisnisnya yang menggurita: f*****g die, worm! Azhar menganggukkan kepalanya. Dia harus mulai menyusun rencana. “Waktumu dua bulan dari sekarang. Aku rasa itu cukup?” tanya Zakh. Azhar menganggukkan kepalanya. Biasanya dia hanya punya satu bulan, namun itu hanya orang-orang kecil yang bodoh dan tidak tahu apa yang mereka lawan. Namun ini adalah Sholihin Fath, laki-laki yang terkenal dalam dunia bisnis properti. Bukan lawan remeh-temeh. “Oh ya, Citra itu ternyata cantik juga. Aku ingin menjadikan dia hadiah untuk para petinggi. Kita bisa dapat bonus dan naik jabatan dengan dia, Azhar,” komentar Zakh dengan santai. Azhar menahan diri untuk tidak menerjang dan menghabisi atasannya yang meremehkan Citra-nya seenak udel. “Maksud Tuan?” tanya Azhar hati-hati. Dia sudah tahu jawabannya. Lagipula, dia telah mengorbankan Halima begitu saja dulu. Namun dengan Citra, dia tidak ingin melepaskan gadis kesayangannya itu. “Kamu tahu maksudku, Azhar,” jawab Zakh dengan senyuman sinis. Azhar menganggukkan kepalanya. “Kapan Tuan berencana ingin melakukannya?” tanya Azhar lagi. Zakh tertawa. “Setelah Fath mati,” jawab Zakh dengan seringainya. “Siap Tuan,” jawab Azhar. Racun menyelip di antara kesiapan yang ditunjukkan Azhar. Dia tidak akan memberikan Citra pada para petinggi begitu saja. Citra adalah miliknya, dan hanya miliknya saja. Azhar pun pamit. “k*****t itu!” ketus Azhar dalam perjalanan pulang. Dia tahu organisasi mungkin saja menyadapnya, namun persetan! Dia tidak akan menyerahkan Citra. Satu telepon masuk ke ponselnya. Azhar melihat nama Arrow di sana. Dengan gusar, Azhar menerima ponsel itu. “Apa maumu, b*****t?” tanya Azhar dengan nada murka. Arrow terkekeh, seakan biasa saja melihat perubahan perlakuan Azhar yang biasanya lebih sopan. “Setelah menemui mereka? Oh tenang, aku sudah mengamankan ponselmu dari organisasimu sendiri. Isn’t that nice of me?” tanya Arrow dengan santainya. Azhar tidak menerima kalimat itu mentah-mentah. Dia tahu sejauh ini Arrow ada dalam daftar kuning organisasi, dan jelas Arrow menentang organisasi yang dia ikuti. “Untuk apa? Tidak ada untungnya melindungiku di sini. Ini teritorialku,” komentar Azhar kesal. Arrow terkekeh sebelum memberikan jawabannya. “Sepertinya kamu benar bermasalah dengan organisasi ya. Perkara apa kalau aku boleh tahu?” tanya Arrow dengan santainya. “Urus saja urusanmu sendiri! Kepo banget, b*****t!” maki Azhar. Arrow tertawa, seakan mendapatkan jawaban dari Azhar. “Beri aku nama, dan kita buat sebuah kesepakatan. Bagaimana? Aku tahu siapa orang atasanmu, lagipula dia hadir di hadapan kita kala pertama menawarkan dulu,” komentar Arrow dingin. Sebuah tawaran yang Azhar tidak ingin ambil. Buat apa menyingkirkan Zakh? Apakah itu akan membuat Citra aman? Atau, hanya membuat Citra semakin dalam bahaya? “Apa keuntunganku membuat kesepakatan denganmu? Yang ada, aku melihat kepalaku ditembak oleh organisasi,” balas Azhar ketus. “Pikirkan dengan tenang dulu, Azhar. Waktumu hanya sampai kamu membunuh Fath. Selain itu, apakah kamu tahu kenapa dia bahkan membuat target Fath tidak atas nama organisasi?” tanya Arrow dengan santai. Sorotan Azhar menjadi tajam, merekam ulang ingatan percakapannya dengan Zakh. “Darimana kamu tahu semua itu?” tanya Azhar tajam. “Seluruh jaringan Zakh sudah ku sabotase,” jawab Arrow dengan santai, “maaf, kami sabotase,” lanjutnya dengan penekanan pada kata kami. Azhar menyadari, Arrow tidak berbicara sebagai dirinya yang CEO. Ini berbicara sebagai seseorang yang beroperasi untuk kepentingan orang lain. “Kamu tidak sendirian, kan, Arrow?” tanya Azhar hati-hati. “Iya. Ada BB yang melakukan pekerjaan itu untukku. Kamu tahu aku kan gak punya kesabaran untuk peretasan. Sederhananya, aku punya tim untuk melawan Zakh, dan aku hanya akan melakukannya jika kamu bersedia membantuku,” jawab Arrow dengan santainya. “Baiklah. Aku mendengarkan kali ini. Selama kamu berani menjamin keamanan Citra dari tangan Zakh laknat itu, aku akan mengambil risikonya.” “Selamat datang kembali, Tuan,” sapa para pelayan kala Azhar tiba. Azhar hanya menganggukkan kepala sebelum dia bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan beristirahat. Dia sudah tidak punya waktu untuk bermain, namun dia ingat sesuatu. “Sebastian. Beritahukan Citra besok dia akan aku bawa ke Malaysia,” komentar Azhar sebelum dia masuk kamar. Kepala pelayan itu menganggukkan kepalanya. “Baik Tuan,” ucap Sebastian kepada Azhar. Azhar pun masuk ke kamarnya. Dia tahu dia bisa memberitahukan Citra lewat penghubung kamar mereka, namun dia ingin berfokus untuk besok. Ada banyak pekerjaan menunggunya secara bersamaan. Azhar menyempatkan untuk membuka televisi, dan melihat berita penangkapan sekomplotan orang yang masuk secara ilegal ke bandara untuk menyelindupkan ledakan dan barang haram. “Kami mendapatkan sebuah informasi ada penyelundupan lewat jalur udara untuk barang-barang terlarang ini. Maka dari itu, kami bergerak cepat untuk memblokade bandara dan menangkap para pelaku yang terlibat dalam operasi ini...” Azhar menyadari bahwasanya itu bandara dimana pesawat miliknya sedang parkir. Apakah dinamit diarahkan ke pesawatnya. Pesan dari Arrow menjawab firasatnya. “Penerbanganmu sudah aman, Azhar. Consider doing your end of bargain, ASAP. I cannot move without your confirmation.” Azhar tersenyum membaca pesan itu. Rival sialannya itu selangkah di depannya. Azhar mengetikkan nomor seseorang. “Lionheart, you have a special mission.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN