Bab 11

1199 Kata
“Kamu yakin dengan semua ini, Arrow?” tanya seorang laki-laki dengan perawakan tinggi. Dia mengenakan jaket hitam bertulisan ‘NO SITE IS SAFE. THE EYES ARE EVERYWHERE’. Arrow yang sibuk mengetik di komputernya menghentikan ketikannya seraya tersenyum. Dia melihat ke arah lawan bicaranya. “Sangat yakin. Aku adalah tipe orang yang tidak akan menghancurkan lawan langsung. Terkadang, yang diperlukan adalah pencerahan ke arah yang benar,” jawab Arrow dengan santai. Lawan bicaranya menunjukkan wajah tidak senang, seakan menilai itu bukanlah ide yang baik. “Tapi kamu sendiri tahu bahwasanya kamu dalam posisi yang berbahaya. Selama Azhar belum didesak menyingkirkanmu, hanya selama itu kamu aman,” tegur lawan bicaranya. Arrow tersenyum, menganggukkan kepala. “Ah soal itu aku tentu setuju sekali, BB. Aku sadar waktuku terbatas kok,” balas Arrow dengan sunggingan senyum di wajahnya, “hanya saja, aku masih cukup yakin semua bisa diputar. Terkadang, cara menang tidak harus dengan kita memenangkan pertarungan. Kita berperang. People can lose battles but win wars,” lanjut Arrow lagi. Orang yang dipanggil BB itu menggelengkan kepalanya. “Kamu sudah putus asa kah, Arrow?” komentarnya dengan nada pertanyaan. Arrow tertawa, seakan membantah namun menyetujui pula kalimat itu. Dia tidak langsung memberikan jawabannya. “Entahlah,” komentar Arrow seraya menekan tombol di kanan laptop miliknya, “tolong panggilkan Tim Omega ke ruangan.” Arrow menatap ke arah BB seraya melepas tombol tadi, “Kita akan gunakan informasi ini untuk membalik situasi dengan mereka.” “Tunggu, jangan bilang kamu-” Arrow menyela kalimat BB, “memanfaatkan Azhar untuk menghabisi ketua organisasi mereka di daerah Indonesia? Tentu saja. Kita hanya punya satu kesempatan untuk membuat situasi ini berubah ke favor kita. Segila-gilanya Azhar, lebih b*****t si Zakh ini. Aku rasa setidaknya situasi kita di sini lebih baik dengan Zakh tersingkir.” “Tidak mengubah fakta organisasi akan tetap memburumu, Arrow,” komentar BB lagi. “Tentu, tapi setidaknya akan membuat mereka lebih sulit mengawasiku. Azhar membenciku karena aku tidak setuju dengan ikut organisasi, tapi sekarang, aku tahu hatinya melunak,” lanjut Arrow. BB menatap Arrow dengan horor, menyadari sebetapa mengerikan teman kuliahnya ini. “Kamu tidak ragu memanipulasi orang sekitarmu untuk kepentinganmu, Arrow. Aku menjadi takut, menyadari bahwa bisa saja, kamu telah memanfaatkanku sebagai b***k,” komentar BB lagi. Arrow tersenyum. “Semisal sekalipun iya, apakah kamu akan keluar? Aku pernah menawarkan baik-baik kan kala menawarkanmu pekerjaan di masa resesi berat dulu?” tanya Arrow balik. BB menyipitkan matanya, menyadari implikasi kalimat Arrow dulu. “Aku menyadari sepenuhnya bahwasanya aku mengambil keputusan ini dengan segala konsekuensinya. Itu ‘kan?” tanya BB. Arrow tersenyum. “Dan aku bilang, konsekuensinya bisa lebih buruk dari kematian,” lanjut Arrow. “Kamu melawan organisasi tingkat dunia, tanpa sokongan organisasi tingkat dunia lain,” komentar BB lagi. Arrow hanya tersenyum, tidak membenarkan. “Kamu melakukan apapun untuk bisa memberi makan keluargamu waktu itu, dan aku ingat matamu yang sumringah kala aku menawarkan pekerjaan ini kepadamu. Kita sama-sama tahu, ada simbiosis mutualisme di sini,” komentar Arrow, “dan begitu pula dengan semua anggota tim ini,” lanjutnya seraya melihat ke arah pintu yang terbuka. “Masuk.” “Ah, seorang Azhar mendengarkan musuh bebuyutannya sendiri. Mungkin kita kasih salam dulu, teman-teman,” komentar Arrow seraya menatap ke arah tim Omega. “Halo Kak Azhar!” “Apa kabar, Azhar?” “Bagaimana kehidupan, Azhar?” “Cie sudah ada doi baru.” Arrow tersenyum melihat reaksi anak buahnya. Dia tahu, tidak semua akan berjalan persis sesuai harapan, namun dia punya target untuk memastikan kepala Zakh hilang sebelum Fath tersingkirkan. “Bagaimana rencananya?” tanya Azhar lagi. “Oh, sebenarnya semua akan kami urus. Kami hanya perlu kamu membantu cuci tangan dari pemberitaan. Maksudku, aku akan menurunkan tim elit dan keberpihakanmu akan sangat menentukan operasi ini.” “Kapan kamu akan melaksanakannya?” tanya Azhar. “Setelah kamu berangkat ke Malaysia. Aku ingin membuat sesuatu yang spektakuler, jadi aku akan perlu bantuanmu mengalihkan perhatian aparat dari detil kasus kematian dia. Kalau bisa, semisterius mungkin,” jawab Arrow tanpa menjelaskan detil rencananya. “Aku tidak tahu apa yang ada di benakmu, Arrow, tapi aku merasa idemu gila jika kamu sampai perlu aku mencuci tanganmu,” komentar Azhar datar. “Organisasi adalah tempat yang gila, Azhar. Jika kamu berhati-hati dan berlepas dengan baik, aku rasa kamu akan mendapatkan posisi Zakh setelahnya,” balas Arrow santai. BB tampak menyorot tajam kalimat itu. “Cuci tangan jenis apa yang diperlukan?” tanya Azhar lagi. “Di saat aku membasmi Zakh, aku ingin orang melihat kematian Zakh hanya bunuh diri. Maka dari itu, aku perlu orang-orangmu di kepolisian dan otopsi untuk memberikan hasil rekayasa itu.” “Apa idemu, Arrow?” tanya Azhar serius. “Sebut saja tengah malam televisi menyala tiba-tiba, dan kamu tahu kelanjutannya,” jawab Arrow. Azhar tidak menjawab. “Ini demi Citra, Azhar,” komentar Arrow lagi, datar. BB bergidik mendengar kalimat itu. Arrow benar-benar memainkan Azhar kali ini. Dia benar-benar memanipulasi nafsu Azhar pada Citra di titik yang tidak bisa dibayangkan oleh orang biasa. “Baiklah. Aku akan bantu. Aku hubungi Lionheart.” Sinyal terputus dan Arrow tersenyum puas. “Sepertinya tidak hanya Azhar dan Zakh yang bergerak,” komentar BB kala melihat hasil sadapannya. Arrow melihat ke data yang BB berikan. “Huh, bagaimana orang-orang laknat itu tahu rencana penerbangan AET? Ah sial. Kita harus cuci mereka,” komentar Arrow seraya memahami rekaman itu. “Kita harus bergerak sekarang, Arrow,” komentar BB lagi. Arrow menganggukkan kepalanya. “Tenang, kita akan hentikan mereka sebelum semuanya dimulai. Aku nelpon sebentar,” komentar Arrow seraya menekan beberapa nomor. “Halo Kariem, apa kabar?” tanya Arrow santai. “Eh, Arrow! Baik dong. Ada apa nelpon malam-malam?” tanya laki-laki di seberang dengan nada terkejut. “Kamu di rumah ‘kan?” tanya Arrow. “Kenapa?” tanya Kariem. “Ada beberapa mobil dengan plat berikut mencurigakan. Kabarin ke kantor polisi dekat rumahmu bisa?” “Ini informasi akurat gak? Dikira nanti aku sebar berita bohong lho.” “Minta nomor kepala kepolisian di daerah ini,” ucap Arrow lagi. “Oke. Aku kirim nomornya dan aku kabarin dia ya kalau ada orang penting mau ngehubungin dia.” “Ya, dengan siapa saya berbicara?” “Arrow, CEO AXS. Bapak tahu saya ‘kan? Kode khusus saya AX kalau bapak lupa. Mohon ke ruang pribadi bapak sebelum menjawab,” ucap Arrow kepada polisi itu. “Ah ya, Tuan AX. Ada apa yang bisa saya bantu?” tanya polisi itu lagi setelah beberapa lama. “Ada beberapa orang membawa dinamit dan tanaman ke bandara. Beberapa anak buah sudah dihasut dengan uang besar dan mereka sudah masuk dalam area bandara. Jika bapak tidak hentikan mereka, besok akan ada pesawat jatuh di laut Natuna, lagi. Saya akan bayar 10 milyar jika berhasil. Jika gagal, bapak bisa lihat nama keluarga besar bapak beserta diri bapak di pemakaman terdekat.” “Siap Pak. Bapak akan dengar dari kami secepatnya.” “Gila. Kamu malah menekan kepala kepolisian. Kamu bisa dituduh teror lho,” komentar BB setelah Arrow menutup telepon. Arrow tersenyum. “Itulah gunanya kalau kamu orang penting negara ini. Ingat, negara kita hukum tumpul ke atas. Ora duit ora jalan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN