“Kalau dulu bilangnya pesawat itu buang uang, eh emang beli,” sindir Arrow kala mereka tiba di bandara. Saat ini, Arrow, Azhar, Citra, dan beberapa petinggi penting dari Azhar EduTech akan pergi dalam perjalanan penting ke Malaysia. Mereka akan bertemu dengan Perdana Menteri saat ini, untuk membicarakan terkait kerja sama dengan pemerintahan secara resmi. Jika berhasil, maka aliran dana akan mengalir dengan sangat besar ke Azhar.
“Aku sudah ngobrol dengan Pak Perdana Menteri, semoga lancar,” komentar Arrow lagi di depan pintu masuk pesawat. Azhar menyorot tajam ke arah Arrow.
“Tenang, it’ll work in your favor, trust me,” ucap Arrow lagi sebelum Azhar menaiki pesawat. Seluruh staff dari Azhar EduTech telah naik, dan hanya Azhar dan Citra yang belum. Azhar menyipitkan matanya, seakan menyangsikan kalimat Arrow.
“If you’re that worried, you’ll dead already. Remember the news last night?” tanya Arrow dengan sinis. Azhar menghembuskan nafa berat, Arrow ada poin masuk akal di sana.
“Kalau begitu aku balik dulu. Semoga sukses,” ucap Arrow lagi yang pergi meninggalkan Azhar dan Citra. Entah kenapa, Citra tahu dia berada dalam masalah besar setelah ini. Namun, dia tidak punya pilihan. Mereka pun menaiki pesawat.
“Selamat pagi Tuan Azhar,” sapa sang pilot kepada Azhar.
“Pagi,” balas Azhar datar.
Citra hanya mengekor di belakang laki-laki berperawakan tinggi itu. Azhar memerintahkan Citra ke ruang pribadinya dalam pesawat itu. Sementara itu, semua anggota penting dari AET, kecuali mereka yang berhubungan dengan Shadowblade, telah hadir dalam ruang rapat di pesawat itu. Azhar memasuki ruang rapat, menghapuskan desas-desus yang berlangsung di kalangan para petinggi. Termasuk di sana sekretaris pribadi Azhar.
“Baiklah, kita mulai rapatnya. Ada beberapa informasi intelijen perusahaan yang perlu kita pertimbangkan untuk kelancaran negosiasi kita,” komentar Azhar. Semua petinggi menganggukkan kepala mereka.
Citra tidak tahu apakah dia pantas untuk takjub dengan semua yang dilihatnya sekarang. Laki-laki yang dulunya adalah suami kakaknya sendiri itu sangat minimalis namun indah dalam mendesain tempat pribadinya di pesawat ini. Pada akhirnya, dia hanya berdecak kagum melihat yang dia saksikan.
Bagaimanapun kagumnya dia, Citra sadar dia perlu waspada. Dia tahu Azhar punya alasan tertentu hingga mau membuang tenaga untuk membawanya ke pesawat perusahaan. Sebenci Citra mengakuinya, dia yakin apa yang Azhar incar itu adalah dirinya, lagi.
Citra bersimpuh, menyerah dengan takdir yang mengejeknya. Kemarin, dia telah menumpahkan tangis seharian kala Azhar menghilang, dengan sedikit rasa syukur di tengahnya. Harga dirinya sudah tidak ada, diobrak-abrik oleh iblis laknat berbalut CEO perusahaan penting di negerinya sendiri.
Azhar bahkan mengunci modal komunikasi baginya. Ponsel miliknya diambil oleh Azhar. Dia tidak punya satupun cara untuk berkomunikasi dengan siapapun. Dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri, dengan kesunyian yang membuat dirinya tersakiti ini.
Pesawat itu lepas landas, mengejutkan Citra. Dia pernah naik pesawat, namun tidak pernah semewah ini, dan selalu menggunakan seat-belt sebelum lepas landas. Hanya kali ini dia tidak memakainya, dan akibatnya dia terjatuh oleh kemiringan yang tercipta dari gerakan pesawat.
“Ah iya, biasanya akan disuruh memakai sabuk pengaman dulu,” komentar Citra pelan. Dia melihat ke arah kursi di ruangan itu. Ada dua buah kursi. Selain itu, ada satu kasur kecil yang dilengkapi dengan dua sabuk pengaman.
“Apa yang Kak Azhar pikirkan kala mendesain ruangan ini?” celetuk Citra. Dia berdiri dari efek jatuh mulai penerbangan tadi. Ada sebotol wine di meja dekat dua kursi yang dia lihat tadi. Citra hanya bisa menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak terkejut.
“Astaghfirullah, Kak Azhar,” gumamnya. Dia tidak menyangka Azhar memiliki barang haram itu. Namun, Citra rasa dia harus membiasakan diri dengan berbagai kejutan terkait kakak iparnya itu. Citra tahu, dia tidak benar-benar kenal Azhar sebelum semua ini dimulai. Dia hanya kenal Azhar setiap kali Kak Halima berkunjung, dan itu sangat jarang. Interaksi mereka minimal. Dia hanya berasumsi Kak Azhar itu baik dan bersahabat, setidaknya dari yang Kak Halima ceritakan kepadanya.
“Dari yang Kak Halima ceritakan,” gumam Citra. Seakan ada yang ganjil, Citra mencoba memposisikan dirinya ke salah satu kursi dan mengeratkan sabuk pengaman. Botol wine tepat di hadapannya.
Citra mencoba merenungkan cerita-cerita yang kakaknya berikan dulu. Dia menutup matanya, mencoba menghayati setiap pertemuan dengan kakaknya yang sangat sedikit pasca dia mulai masuk ke pesantren. Liburan yang hanya diberikan setiap akhir semester dan hari raya untuk bertemu dengan keluarganya.
“Bagaimana sekolah di pesantren, Cit?” tanya Halima. Citra tersenyum.
“Lancar Kak, Alhamdulillah. Kakak sendiri bagaimana?” tanya Citra dengan girang.
“Bahagia kok. Kakak senang dengan kehidupan kakak sekarang,” jawab Halima. Citra melihat aneh ke saudarinya itu.
“Kok kek gitu jawabnya kak?” tanya Citra heran.
“Eh? Ah ya, Alhamdulillah bahagia dong, masa nggak,” jawab Halima diikuti dengan tawa. Namun, Citra tidak memahami tawa itu sebenarnya pahit.
Dia ingat pertemuan itu, kala pertemuan pertama setelah pernikahan. Dia tidak bisa hadir karena pernikahan terjadi kala dia mulai aktif di pesantren.
“Kalimat itu... senyuman kakak... ada sesuatu yang sebenarnya Kak Halima sembunyikan,” ucap Citra pelan. Dia merasa, dia mulai mendekati kebenaran tentang kakaknya dan kehidupan yang selama ini kakaknya jalani. Namun, berbeda dengan Citra yang dinodai oleh Azhar, Halima tidak punya alasan untuk bisa bersedih, secara Azhar adalah sah baginya.
“Apa yang membuat kakak seperti itu? Kak Azhar dengan Kak Halima terlihat akrab dan langgeng... bahkan pemberitaan sering tidak lepas terkait hal ini pula,” pikir Citra. Dia merasa janggal dengan hal itu, namun dia ragu jika Kak Azhar berlaku kejam kepada kakaknya jauh sebelum membunuhnya. Setidaknya, tiga tahun lalu memang Kak Azhar yang melamar, bukan Kak Halima.
“Apa yang sebenarnya aku tidak tahu, Kak Halima?” gumam Citra pelan. Satu titik air jatuh dari matanya. Dia perlu jawaban. Citra menatap ke benda haram yang tersaji di depannya.
“Kenapa Kak Azhar punya ini di ruang pribadinya?” pikir Citra lagi. Dia memutuskan untuk tidak menyentuh benda itu. Ada seseorang mengetuk pintu ruangan.
“Permisi Tuan Azhar, menu makan anda dan Nyonya Citra telah siap,” suara seorang pelayan terdengar dari luar. Citra pun menyadari ada lubang khusus untuk menerima makanan di pintu itu dan membukanya.
“Saya terima ya,” ucap Citra seraya membuka tempat makan itu. Pelayan itu memberikan makanan melalui lubang pintu kepada Citra yang membawanya ke meja di dalam. Meja dimana wine masih tenang berdiri di atasnya.
Azhar tahu menu makanan favoritnya, setidaknya itu yang bisa Citra simpulkan. Laki-laki itu tahu banyak tentang dirinya namun dia tidak tahu apa-apa tentang lelaki itu.
Citra melirik ke makanan yang tersaji di meja. Perutnya berbunyi, mengingat Azhar merampas kesempatannya untuk sarapan tadi pagi. Apakah sebaiknya dia mengambil menu yang disajikan untuk dirinya dan Azhar?
“Buka pintunya.” Suara itu memutus seluruh kebimbangan Citra, dan dia menyadari dia dalam masalah besar.