Aaric duduk di salah satu bangku dari empat buah bangku yang ada di meja itu. Ia mengambil posisi di sebelah Lisa. Beberapa detik suasana begitu beku, seperti es yang menutupi jalanan saat musim dingin. “Ah ya, hari ini aku yang traktir! Kalian pilih saja menunya,” ucap Lisa sangat manis, memecah kebekuan. “Maafkan kejadian tempo hari di perpustakaan, mungkin kau merasa terganggu oleh kami,” ucap Aaric pada Norman. “Sudah lupakan saja, bahkan aku pun tidak mengingatnya,” respon Norman. Ternyata ia tak sekaku yang tampak di permukaan. Seperti kebanyakan kutu buku. “Kau sering ke perpustakaan?” tanya Aaric. “Mungkin sebagian besar waktu jeda aku habiskan di sana,” “Wow, keren sekali. Pasti pengetahuanmu sangat luas,” komentar Lisa. “Tidak seperti itu juga,” jawab Norman merendah. “K

