Mereka sudah berdiri di balkon, meski udara dingin menusuk, keindahan pemandangan kota dari atas sana mengalahkan dinginnya udara. Sedangkan Isabel memilih berbaring di kamarnya karena merasa lelah. “Aar, kau belum jawab, kenapa kau bisa kemari?” Lisa masih penasaran mengapa tiba-tiba saja Aaric berdiri di depan pintu flatnya tadi. “Astaga, kau masih membahas soal itu,” Aaric tertawa. Lisa kesal lalu memukul pundak Aaric. “Kalau kau tak mau memberi tahu, aku akan cari sendiri!” ucap Lisa dengan ketus. “Lakukan saja!” balas Aaric tak gentar. “Kau sangat menyebalkan,” Lisa membuang muka. “Kenapa hidupmu begitu rumit, Lisa?” Aaric tersenyum pada Lisa. Lisa tak menggubris. Kemudian dengan refleks Aaric mengusap rambut Lisa bagian atas dan mengacak-acaknya. Benar kata Norman, mereka mem

