Sabine tengah menyiapkan sarapan. Setumpuk toast dengan isian daging asap untuk diberikan pada suaminya. Semalam tak lama setelah “tragedi” di rumah Christina, ia pulang ke rumah karena jadwalnya patroli sudah selesai. Wajahnya terlihat masih sangat letih dan mengantuk, tapi pagi ini ia harus sudah kembali bertugas. “Ini, Sayang! Mau kuambilkan secangkir teh?” tanya Sabine sambil menyerahkan sarapan Uli. “Terima kasih. Boleh, jika tidak merepotkan. Tolong tambahkan sedikit madu dalam tehnya juga ya!” pesan Uli. “Tak masalah. Aku sangat tahu seleramu,” jawab Sabine ia kembali bergegas menyiapkan teh. Aaric tampak sedang sibuk bermain dengan handphonenya. Percaya atau tidak, ia baru membaca pesan Christina yang dikirimkan kepadanya semalam, dan masih ada setumpuk pesan lainnya yang baru

