Kartu 8

1170 Kata
“Apa kau masih berhubungan dengan pemuda lulusan terbaik itu?” tanya Isabel tiba-tiba. “Oh maksud Bibi, Aaric?” “Ya, dia,” “Terakhir kali kami bicara sebulan lalu. Jika berjalan sesuai rencana, hari ini ia pindah dari Ramsau,” “Dia pindah ke mana?” “Ke München,” Isabel melirik lembar formulir LMU, yang masih dipegang Lisa. Lisa yang menyadari hal itu lantas melipat formulirnya dan memasukannya ke dalam map. “Itu sebabnya kau pilih Universitas itu untuk melanjutkan pendidikan?” tanya Isabel. “Tidak, aku hanya ingin mencobanya saja,” “Apa pemuda itu juga mengambil kuliah di LMU?” tanya Isabel. Lisa mengangguk. “Kau menyukainya?” tanya Isabel lebih personal. “Kami berteman, Bibi,” jawab Lisa. “Kau pasti sangat kesepian saat dia pergi,” ucap Isabel, ia meratapi nasib dirinya yang juga kesepian semenjak suaminya meninggalkannya. “Sudah lah, Bibi, kita tak perlu membahas ini. Bibi mencariku? Ada apa?” “Ah ya, ayahmu memanggilmu di ruang kerjanya!” kata Isabel. “Baiklah aku ke sana,” jawab Lisa. Sedetik kemudian ia beranjak dari bangkunya. *** Orang-orang hilir mudik dengan sibuknya di jalan utama kota München. Suasana sangat ramai, apa lagi ini puncak musim panas. Beberapa wisatawan pun tampak memadati beberapa titik di pusat kota. Aaric hanya terdiam mengamati pemandangan, mobil trem dan bus kota melintas tak kenal henti di kota ini. München adalah salah satu kota besar di Jerman, dan tentu termasuk salah satu kota dengan modernitas tinggi, namun demikian tetap menyimpan unsur-unsur budaya Bavaria yang kental, di sini juga salah satu kota pelajar, karena berdiri beberapa sekolah tinggi dan Universitas yang menjadi destinasi para pelajar di penjuru Jerman dan Eropa. München merupakan ibu kota negara bagian Bayern, yang menjadi mimpi orang-orang untuk mengadu peruntungan, dan menjadi salah satu kota dengan biaya hidup termahal. “Kau suka Aaric?” tanya Sabine. “Ya, aku baru pertama kali melihat hilir mudik orang dan kendaraan sepadat ini, Ma,” komentarnya. “Kau lihat air mancur yang di sana, tempat itu bernama Karlplatz Straus!” Sabine menjelaskan seolah-olah dia adalah tour guidenya. Aaric langsung fokus pada sebuah tugu dengan air mancur, yang dipenuhi orang-orang yang tengah beristirahat. “Bagimana kau tahu semua itu, Sayang?” tanya Uli tiba-tiba. “Itu pusat perbelanjaan, Sayang. Aku pernah membacanya di salah satu majalah, tak menyangka kita pindah ke kota ini. Ah... aku sudah tidak sabar menikmati akhir pekan pertama kita di kota ini,” “Huft... pantas saja, kukira kau pernah ke sana,” komentar Uli. Setelah itu mobil berbelok ke bagian lain, pusat kota. Di kanan dan kiri jalan para pejalan kaki tampak lalu lalang dengan sangat tertib, begitu juga pada jalur sepeda, cukup padat. Pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan Ramsau. Seketika Aaric jadi teringat kampung halamannya, perkebunan yang menghampar, peternakan yang luas, aliran sungai yang sangat jernih, dan deretan hutan pinus yang mengajukan mata. “Kau memikirkan apa, Sayang?” tanya Sabine. “Tidak ada,” jawab Aaric. Mereka kembali menikmati pemandangan kota sebelum mereka tiba di rumah yang akan mereka tinggal di kota ini. Mobil menyusuri jalanan kota, kemudian berbelok ke sebuah jalan utama, di kanan dan kiri jalan dipadati dengan berbagai bangunan bergaya abad pertengahan. Aaric kemudian menoleh ke sebelah kiri, ada beberapa anak muda memakai tas punggung dan membawa buku-buku tebal di tangannya. Sebagian lagi ada yang sedang mengayuh sepeda. “Ini LMU!” ucap Uli dengan mantap. “Sungguh?” “Ya, kau mau kita berhenti dulu di sini, untuk melihat-lihat?” “Nanti saja, kapan-kapan aku akan ke sini, sekalian mengumpulkan informasi untuk pendaftaran tahun ajaran baru,” kata Aaric. “Aaric kau akan bangga menjadi bagian dari Universitas ini! Aku pernah bermimpi masuk ke sini ketika muda, namun sayang diriku mungkin tidak sepintar yang aku bayangkan. So, untuk menebus penyesalan ibumu ini, kau harus berhasil menginjakkan kakimu dan belajar di sana ya!” ucap Sabine berapi-api. Sambil menepuk pundak Aaric. Aaric hanya tersenyum. Uli berbelok ke jalan yang relatif lebih sepi dari jalan utama tadi, rumah-rumah mulai tampak di sepanjang jalan, ada sebuah Mini market dan Bäckerei (Toko roti) di ujung jalan, sepanjang jalan tanaman perdu menghiasi kanan-kiri jalan dan membuat teduh. Tepat tiga rumah dari belokan, Uli menghentikan mobil. Di sana sudah lebih dulu sampai mobil box pengangkut barang-barang yang di sewa Uli saat mereka pindah. Uli turun dari mobil kemudian menyapa para kurir pindahan. Yang tengah duduk santai menunggu mereka di bawah pohon Oak. “Guten Tag (selamat siang!)” kata Uli. “Guten,” jawab mereka. Ada sekitar 4 orang pekerja yang disewa Uli untuk jasa pengangkutan barang, “Kita bisa mulai memindahkan barang ya!” perintah Uli pada para pengangkut barang bayaran tersebut. “Baik, Pak!” Setelah menerima perintah, mereka pun segera membuka pintu belakang mobil untuk mengeluarkan barang-barang di dalamnya. Tidak banyak yang di bawa keluarga Karte dari Ramsau, karena sebagian besar memang bukan barang-barang mereka, barang-barang turun temurun yang sudah ada di rumah itu, jauh sebelum mereka dilahirkan. Sebelum pindah Sabine sudah membeli beberapa perabotan dan perlengkapan dapur dari salah satu toko perkakas di kota, kebetulan sedang ada diskon musim panas, jadi, beberapa item seperti bangku taman dan kursi malas favoritnya dibandrol dengan harga yang miring. Rumah itu mereka beli dari biaya tunjangan pindah Uli dan bonus-bonus yang mereka kumpulkan selama ini, Sabine juga memiliki beberapa ribu Euro tabungan di banknya dari penghasilannya sebagai penulis naskah theater ketika di Ramsau. Sebelum pindah ke München, teman-teman satu profesi Sabine menyempatkan mengadakan acara farewell di rumahnya beberapa minggu sebelum pindah, dan satu di antara mereka ternyata mengelola semacam perusahaan publishing di sini, nanti rencananya jika sudah selesai bebenah rumah baru, ia berniat melamar ke perusahaan milik kenalannya tersebut. Aaric menempati kamar paling atas, semacam loteng dengan jendela yang langsung menghadap ke jalan raya di depan rumahnya. Rumah itu terdiri dari tiga lantai, dan lantai yang paling atas itu lebih mirip atap rumah, tempat favorit Aaric. Semua dindingnya bercat warna putih, favorit Sabine, sedangkan bagian dapur, sengaja Sabine memilih motif kayu pada lantainya agar terkesan hangat. Harga tanah dan sebuah rumah di sini cukup mahal, mereka sengaja mengambil kavling di dalam kota München agar mudah akses ke mana pun, dan yang paling penting lagi mudah menjangkau transportasi umum. Mereka bisa menggunakan semacam transportasi umum bernama U-Bahn (kereta bawah tanah) untuk ke pusat kota. Ada dua buah mobil terparkir di garasi, mobil berjenis city car kecil dengan dua buah kursi pada bagian depan dan belakang, dengan kapasitas penumpang dan supir untuk empat orang berwarna silver, milik keluarganya yang sering dipakai oleh Sabine, dan satu lagi hampir bisa dikatakan semacam mobil Jip, adalah mobil dinas Uli. Sedangkan untuk Aaric ia masih senang menggunakan sepedanya, atau naik transportasi umum. Kebetulan dari rumahnya ke Uni (singkatan Universitas), hanya berjarak dua stasiun kereta bawah tanah. Itu jika Aaric masuk LMU. Ia belum mendaftar, ia masih tengah sibuk mengisi aplikasi. Masih ada serangkaian tes lagi, mengingat jurusan yang akan dibidiknya itu cukup diminati dan terkenal sulit. Tapi entah mengapa Aaric merasa yakin ia bisa masuk Uni bergengsi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN