Tiba-tiba suara handphone berbunyi, ada sebuah panggilan. Ternyata Kevin.
“Aar, kau pasti sekarang sedang sibuk membereskan rumah, bukan?” kata Kevin dengan nada humoris yang tak pernah berubah sejak dulu. Terdengar suara tawa renyah di ujung sana.
“Hai, Kev, kabarmu baik?” balas Aaric.
“Sangat baik, kawan! Kau apa kabar?”
“Baik,”
“Aku hanya ingin memberi kabar, kalau aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kursus barista seperti saranmu dulu, kau ingat? mungkin tahun depan saja aku mengambil kelas di Uni,”
“Keputusan yang baik! Tapi kenapa kau tiba-tiba memutuskan ini? Bukankah kau sangat tidak suka meneruskan kedai milik ayahmu itu?” tanya Aaric sambil tersenyum.
“Ya, tiba-tiba saja ayahku mendapatkan investor untuk membuka cabang lain di Ramsau, jadi aku harus memegang salah satu kedai miliknya,”
“Kedengarannya hebat! Semoga sukses,”
“Tapi Aar, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,”
“Tentang apa?”
“Kenapa kau bisa yakin bahwa aku cocok memilih menjadi barista?”
“Ah, itu aku hanya menebak, Kev. Karena aku lihat kau punya masa depan di sana,”
“Tapi serius, Aar. Rencana ini tidak pernah aku bayangkan sama sekali. Di luar itu, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Ya, tanyakan lah!”
“Apakah kau mempelajari ilmu cenayang atau sebagainya?” tanya Kevin di luar perkiraan.
“Kau bicara apa, Kev? Omong kosong macam apa ini,” Aaric tersentum.
“Aku sudah beberapa kali memergokimu seperti bisa memprediksi sesuatu dengan tepat,”
“Hah, kau bercanda, kawan?”
“Tapi kau tidak mempelajari ilmu Cenayang?”
“Jangan konyol,”
“Oke..oke... Tapi mungkin kapan-kapan kau bisa memberiku banyak saran kan?”
“Ya, tentu saja,”
“Baiklah, teman, nanti kapan-kapan aku sambung lagi, kalau kau punya waktu, main lah ke sini. Ramsau tetap milikmu!”
“Baik lah, kau baik-baik di sana ya,”
Telefon ditutup.
tiba-tiba Sabine masuk membawa sekotak besar barang-barang, dengan tulisan “Milik Aaric" di bagian depan kardus.
“Kau sedang berbicara dengan seseorang?” tanya Sabine. Ia merasa takut menggangu.
“Barusan itu Kevin, Ma,” jawab Aaric. Kemudian melangkah ke arah Sabine untuk membantu membawakan barang.
“Oh, aku sangat merindukan Americano di kedai Maxi,” komentar Sabine.
“Aku juga,”
“Baiklah, Sayang, kalau kau sudah selesai merapikan barang-barangmu, turunlah ke bawah, kita makan bersama! Karena setelah ini ayahmu harus kembali bekerja,” kata Sabine. Uli memang belum memiliki jadwal kerja yang tetap sejak kepindahannya ke München, kadang harus berpatroli malam, kadang berada di kantor sepanjang hari, Uli masih dalam masa penyesuaian.
Aaric mulai membuka kardus yang dibawakan Sabine ke kamarnya, tidak ada yang istimewa, hanya dua buah papan seluncur yang dapat di bongkar pasang, hiasan meja belajar, dan buku-buku tentang sains. Juga ada sebungkus kecil bibit tanaman pemberian George sebelum mereka berpisah. Tiba-tiba ia kembali teringat saat perpisahan yang mengharukan dengan George.
“Opa, aku pikir kau harus ikut kami!” ucap Aaric matanya berkaca-kaca.
“Tidak, Nak. Aku harus menjaga perkebunan dan peternakan ini,” jawab George mantap.
“Tapi, Opa, kau bisa membayar orang untuk mengurusi perkebunan dan peternakan di Ramsau ini, sementara kau tinggal bersama kami!” Aaric membujuk kakeknya, layaknya ketika ia kecil dulu membujuk George agar mau memberikan sebatang coklat yang mati-matian dilarang oleh Sabine. Karena khawatir dengan gigi Aaric.
“Tidak, Nak, keputusanku sudah bulat. Ah ya, tunggulah sebentar di sini,” George pergi sebentar ke sebuah rumah kecil di pinggir perkebunan, tempat ia biasa menyimpan perkakas dan pupuk.
“Ambil lah ini,” George kembali dengan membawa sebuah amplop kecil terbuat dari kertas.
“Apa ini, Opa?” tanya Aaric.
“Ini benih tanaman, kau bisa tanam ini di rumahmu, dan rawatlah, anggap tanaman ini adalah aku!” kata George.
“Opa...” Aaric lantas memeluk George dan menangis sejadi-jadinya.
***
Lisa pergi ke ruang kerja ayahnya, setelah ia menyimpan map berisi formulir aplikasi Uni dan alat tulis di kamarnya. Ruangan itu terletak di ujung lorong tak begitu jauh dari dapur, namun agak menjorok dan terisolasi.
Jika tidak pergi ke kantor, Philip biasa menghabiskan waktu seharian di ruang kerjanya, Philip itu seorang pengusaha, ia punya beberapa cabang toko retail kecil yang tersebar di seantero Bavaria. Sejak istrinya meninggal, ia memutuskan untuk menjadi pengusaha. Awalnya dia bekerja di sebuah agen periklanan terkenal.
“Ayah memanggilku?” tanya Lisa, setelah Philip mempersilakannya masuk.
“Duduklah, Nak,” jawab Philip dari balik bangku besarnya.
Lisa mengambil posisi tepat di depannya. Suara jarum jam terdengar begitu jelas di tempat kerja Philip yang sangat hening. Buku-buku berbagai gendre menghiasi rak besar yang sengaja diletakkan Philip di ruang kerjanya, lebih mirip perpustakaan.
“Ayah mau membicarakan apa?” tanya Lisa. Biasanya jika ia sudah diundang ke ruang kerjanya pasti ada sesuatu yang sangat penting.
“Kau sudah memutuskan akan melanjutkan ke Uni mana?”
“Sudah, Ayah,” jawab Lisa.
“Baguslah,” jawab Philip.
“Ada sesuatu yang penting, Ayah?” tanya Lisa, ia sudah kenal betul siapa Philips.
“Aku sudah menyediakan sebuah Wohnung (semacam apartemen) untuk kau tinggali bersama Isabel. Aku pun akan tinggal di sana jika kebetulan ada urusan bisnis,”
“Baiklah, Ayah,” jawab Lisa. Tanpa perlu bertanya lebih lanjut. Kemudian berniat meninggalkan ruang kerja ayahnya.
“Mau ke mana? Aku belum selesai,” ucap Philip.
Mendengar itu Lisa kembali berdiri di posisinya.
“Kau tahu siapa dirimu?” tanya Philip sangat serius. Lisa terkesiap mendengar pertanyaan Sang Ayah.
Lisa mengangguk.
“Bagus, kau tahu siapa musuhmu?” tanya Philip lagi.
Lisa kembali mengangguk.
“Pergunakan kemampuanmu dengan bijak! Kau dilahirkan dengan anugerah, yang mungkin tidak bisa kau bayangkan sebesar apa itu,” ucap Philip.
“Baik, Ayah,”
“Dan soal anak laki-laki itu,” Philip seketika terdiam.
“Bekerja sama lah dengannya, kelak kalian akan saling membutuhkan satu sama lain,”
“Apa yang akan terjadi Ayah?” jawab Lisa tak mengerti.
“Nanti kau akan tahu, sekarang kau boleh pergi,”
Lisa pun pergi meninggalkan ruang kerja Philip. Sementara itu, Philip kembali duduk di sofa besarnya, menghadap ke jendela. Beberapa saat kemudian ia kembali beranjak, lalu mengambil sebuah buku yang cukup tebal. Di atasnya tertulis sebuah judul “Bangsa Rein”.
***
Aaric beserta orang tuanya sudah berada di meja makan. Karena hari ini sangat sibuk, Sabine hanya memasak pasta ayam dengan krim kental.
“Besok agendamu apa, Aar?” tanya Uli.
“Aku akan menyerahkan lembar aplikasi LMU lewat pendaftaran online, setelah itu mungkin akan sedikit berjalan-jalan sekitar rumah,” jawab Aaric.
“Ide yang bagus,” respon Uli.
“Dan kau, Sayang?” kini giliran Sabine yang ditanya.
“Aku belum tahu, mungkin masih akan merapikan sedikit barang-barang di gudang, dan mengecek perabotan apa yang belum kita punya,” jawab Sabine.
“Apa kau sudah mengenal sesorang di sini?” tanya Uli, matanya melirik ke arah Aaric. Aaric menggeleng.
“Aku lihat ada anak seusiamu di ujung blok, mungkin kau tertarik menjalin pertemanan dengannya?” kata Sabine tiba-tiba.
“Jangan khawatirkan aku, Ma. Aku bisa mengurus diriku sendiri, “ respon Aaric.