Aaric berteriak kencang ketika namanya tercantum di papan pengumuman online dari website resmi Universitas. Ia termasuk salah satu calon mahasiswa yang berhasil menempuh ujian saringan masuk jurusan kedokteran. Dan yang lebih membuat tercengang Aaric memperoleh hasil sempurna dan namanya pun tertera diperingkat paling atas, dalam daftar nama-nama mahasiswa yang diterima. “Ma!!!” teriak Aaric. Ia tak pernah bertingkah histeris semacam ini sebelumnya. “Ada apa?” Sabine buru-buru mendatangi kamar Aaric. “Lihat ini? Besok aku akan ke Uni untuk melihat hasilnya secara langsung sekaligus mengurus-urus administrasi,” “Selamat, Sayang!” Sabine memeluk Aaric dengan hangat dan penuh rasa bangga. Bebera kali pula ia menengok layar laptop yang masih terbuka. “Aku tidak percaya ini, aku akan seger

