Aaric menatap ke jalan di depan rumahnya dari dalam kamar, seketika pandangannya pun tertuju pada rumah gadis yang kehilangan kucing tadi. Lampunya masih menyala, ciri yang tinggal di sana masih terjaga. Aaric tidak penasaran dengan gadis itu, yang membuatnya penasaran adalah kucing dengan ras persia yang dimilikinya. Entah mengapa Aaric merasa risih dengan kucing itu, padahal itu hanya hewan peliharaan biasa. Apalagi ketika tiba-tiba kucing itu menatap dengan tajam ke arahnya, ia seperti bukan seekor kucing. Bisa jadi juga ini berhubungan dengan alerginya terhadap bulu binatang, jadi Aaric selalu pasang ancang-ancang tanda bahaya jika didekati hewan berbulu. Ia meraih sebuah buku tebal yang tersimpan di atas mejanya, sebuah buku cerita fiksi mengenai superhero. Aaric memang kerap membaca

