Dipinjamin Seneng Ditagih Ngilang
Bab 1 — Tiga Orang Aneh di Hari Pertama
--------------------------------------------
*** Pabrik plastik PT Sinar Jaya terlihat seperti penjara berasap bagi para pelamar kerja pagi itu. Puluhan orang berdiri antre sambil membawa map cokelat lusuh dan wajah penuh harapan.
Bima datang paling pagi.
Kemeja putihnya sudah basah kena keringat padahal jam masih menunjukkan pukul delapan.
“Semoga kali ini diterima...” gumamnya sambil melihat isi dompet.
Dua puluh tiga ribu.
Uang terakhirnya.
Di belakang antrean, seorang cowok kurus dengan rambut acak-acakan tiba-tiba nyolek bahunya.
“Bang, pinjem pulpen dong.”
Bima menoleh.
Cowok itu senyum lebar tanpa dosa.
“Buat isi formulir. Gue lupa bawa.”
“Eh... iya.” Bima langsung kasih.
“Nama gue Dian,” katanya santai sambil mulai menulis. “Kalau keterima, traktir kopi ya.”
Bima cuma ketawa kecil.
Belum juga pulpen kembali, tiba-tiba seorang pria tinggi menabrak antrean sambil ngos-ngosan.
“Anjir! Interview udah mulai belum?!”
Satpam melotot.
“Jangan lari-lari!”
Cowok itu berhenti tepat di samping Bima dan Dian.
Rambutnya rapi, tapi bajunya beda warna semua seperti berpakaian sambil merem.
“Masih aman,” kata Dian.
Cowok itu langsung lega.
“Syukur. Gue kira telat. Ban motor gue bocor tadi.”
“Nama?” tanya Bima ramah.
“Ario.”
Mereka lalu duduk berdampingan menunggu panggilan interview.
Awalnya canggung.
Lima menit kemudian malah ngobrol kayak kenal lama.
“Gue butuh kerja cepet,” kata Dian. “Utang gue banyak.”
“Kalau gue,” kata Ario, “butuh kerja buat modal nikah.”
Bima melongo.
“Lah emang udah punya cewek?”
“Belum.”
“Terus nikah sama siapa?”
“Kan modal dulu.”
Dian ketawa paling keras sampai dilihatin orang-orang.
Tak lama kemudian, nama mereka bertiga dipanggil bersamaan untuk tes masuk gudang produksi.
Tesnya kacau.
Dian salah pakai helm proyek bagian belakang.
Ario hampir menjatuhkan mesin troli.
Dan Bima terlalu gugup sampai salah menyebut tanggal lahir sendiri.
Anehnya...
seminggu kemudian mereka bertiga sama-sama diterima kerja.
Hari pertama masuk, mereka makan di warung depan pabrik.
Dian membuka dompet lalu terdiam.
“Waduh.”
“Kenapa?” tanya Bima.
“Dompet gue ketinggalan.”
Ario langsung menunjuk.
“BOHONG. Itu dompet ada di kantong lo.”
Dian mengambil dompet pelan-pelan.
“Oh iya ya.”
Bima malah ketawa dan membayari makan mereka.
Saat itulah semuanya dimulai.
Kebiasaan kecil...
yang nantinya bakal menghancurkan hidup Bima perlahan-lahan.
Awal Mula Dompet Bima Tidak Pernah Aman
Sudah dua minggu Bima bekerja di bagian gudang produksi.
Dan sudah dua minggu juga isi dompetnya terasa seperti korban bencana alam.
Penyebab utamanya duduk santai di sampingnya sambil makan gorengan gratis.
Dian.
“Bim,” kata Dian pelan.
Bima langsung curiga.
“Napa?”
“Pinjem dulu lima ribu.”
“Buat apa?”
“Kurang seribu beli kopi. Sisanya buat jaga-jaga masa depan.”
“Lima ribu kok masa depan?”
“Jangan remehin receh.”
Bima menghela napas lalu memberikan uangnya.
Ario yang melihat cuma geleng-geleng kepala.
“Lu tuh gampang banget dimanfaatin.”
“Ah nggak juga.”
“Dia minjem tiap hari.”
“Namanya juga teman.”
Dian langsung menunjuk dirinya sendiri bangga.
“Nah tuh. Persahabatan.”
“Tapi lu nggak pernah balikkin,” kata Ario.
Dian terdiam beberapa detik.
“Iya juga ya.”
Jam kerja dimulai.
Mereka bertiga sibuk mengangkat dus plastik di gudang belakang. Suasana panas, berisik, dan penuh teriakan mandor.
“WOI! YANG KERJA JANGAN KAYAK ZOMBIE!”
“SIAP PAK!”
Padahal yang jawab cuma Bima.
Siang harinya, Ario mendekati Bima sambil garuk kepala.
“Nanya serius nih.”
“Kenapa?”
“Lu ada duit dua puluh ribu?”
Bima berkedip.
“Katanya jangan gampang minjemin?”
“Iya. Makanya gue minjemnya sebulan sekali.”
“BUSET.”
Akhirnya Bima tetap memberi.
Sore hari sebelum pulang, Dian datang lagi.
“Bim.”
“Apalagi?”
“Pinjem dulu.”
“DIAN?!”
“Ini terakhir.”
Kalimat itu ternyata jadi kalimat paling sering diucapkan Dian selama beberapa bulan berikutnya.
Hari demi hari berlalu.
Dian makin kreatif mencari alasan pinjam uang.
“Bim, gue lapar.”
“Bim, kuota gue habis.”
“Bim, sandal gue putus sebelah.”
“Bim, gue pengen hidup lebih baik.”
Bahkan suatu malam—
“Bim, pinjem seratus ribu.”
“Buat apa lagi?!”
Dian menatap langit dengan serius.
“Investasi.”
“Investasi apa?”
“Top up game.”
Ario sampai batuk dengar jawaban itu.
Tapi yang paling aneh...
Bima nggak pernah benar-benar marah.
Karena entah kenapa, semenjak kenal Dian dan Ario...
hidupnya yang tadinya sepi mulai terasa ramai.
Walaupun dompetnya sekarat tiap akhir bulan.
Pabrik mulai terasa seperti rumah kedua buat mereka bertiga.
Masalahnya, rumah kedua itu dipenuhi suara mesin berisik, mandor galak, dan teman kerja absurd yang hobi bikin masalah.
Pagi itu Bima baru duduk di kantin ketika Dian muncul sambil senyum lebar.
Senyum yang sangat mencurigakan.
“Bim...”
“Nggak ada.”
“Lah gue belum ngomong.”
“Kalau muka lu begitu pasti mau minjem.”
Dian duduk pelan.
“Cuma dua ribu.”
“Buat?”
“Mau beli teh manis.”
“Kerja bawa bekel, tapi minuman beli?”
“Itu namanya keseimbangan hidup.”
Ario datang sambil membawa roti.
“Pinjem lagi?”
“Iya.”
“Berapa sekarang total utang lu ke Bima?”
Dian langsung menghitung pakai jari.
“Kayaknya... seratus ribuan.”
Bima hampir tersedak.
“HAH?!”
“Tenang. Gue orangnya tanggung jawab.”
“Kapan balikin?”
Dian mikir lama.
“Kalau rezeki lancar.”
“Itu jawaban dukun.”
Mereka bertiga tertawa.
Jam kerja dimulai seperti biasa sampai tiba-tiba suara keras terdengar dari area belakang gudang.
BRAK!
Semua karyawan menoleh.
Ternyata tumpukan kardus roboh seperti longsor mini.
Dan di tengah reruntuhan itu...
Ario berdiri sambil panik.
“Ini bukan salah gue!”
Mandor datang sambil urat leher keluar.
“ARIOOOOO!”
“Pak, kardusnya licin!”
“YANG LICIN OTAK KAMU!”
Satu gudang langsung ngakak.
Siang harinya mereka dihukum lembur karena kekacauan tadi.
Dian rebahan di atas kardus sambil mengeluh.
“Hidup berat ya.”
“Yang bikin berat tuh lu,” kata Ario.
“Tiap minggu ngutang.”
Dian menunjuk Bima.
“Tapi dia ikhlas.”
Bima yang lagi ngitung sisa uang mendadak diam.
Dompetnya tinggal tiga puluh ribu.
Padahal gajian masih seminggu lagi.
Belum bayar kontrakan.
Belum makan.
Belum bensin.
Belum lagi uang yang “dipinjam sementara” oleh Dian.
“Bim,” kata Ario pelan.
“Hm?”
“Lu pernah nolak orang nggak sih?”
Bima mikir sebentar.
“…Nggak enakan.”
Dian langsung mengangguk setuju.
“Nah itu yang gue suka dari dia.”
“Lu jangan bangga jadi benalu,” kata Ario.
Tiba-tiba HP Dian bunyi.
Dian melihat layar lalu wajahnya berubah pucat.
“Kenapa?” tanya Bima.
Dian perlahan berdiri.
“Itu...”
“Apaan?”
“Penagih utang pinjol gue.”
Bima dan Ario langsung menatap Dian bersamaan.
“PINJOL?!”
Dian panik mematikan layar HP-nya.
“Volume kalian kecilin napa?! Satu gudang denger itu!”
“Lu punya utang pinjol?!” kata Ario.
“Cuma sedikit.”
“Sedikit tuh berapa?”
Dian nyengir kaku.
“…Tiga aplikasi.”
“ITU BANYAK!”
Bima mulai khawatir.
“Emang lu pinjem buat apa?”
Dian batuk kecil.
“Awalnya buat kebutuhan hidup.”
“Terus?”
“Terus buat headset gaming.”
Ario tepok jidat keras.
“Ya Allah…”
HP Dian bunyi lagi.
Nomor tak dikenal.
Dian langsung gemeter.
“Angkat sana,” kata Ario.
“Gue takut.”
“Emang jatuh tempo kapan?”
“Hari ini.”
“Pantesan muka lu kayak mau sidang skripsi.”
Akhirnya Dian memberanikan diri mengangkat telepon.
Belum sempat ngomong—
“SAUDARA DIAN! ANDA MAU BAYAR HARI INI ATAU KAMI DATANG KE RUMAH?!”
Suara di speaker keras banget sampai karyawan sebelah ikut nengok.
Dian langsung menjauh panik.
“I-Iya pak! Nanti saya usahakan!”
Telepon ditutup.
Hening beberapa detik.
Ario melipat tangan.
“Total utang?”
Dian bicara pelan sekali.
“…Dua juta.”
“HAH?!”
Bima hampir jatuh dari kursi.
“Lu gila?! Gaji kita aja berapa!”
Dian buru-buru menjelaskan.
“Awalnya cuma lima ratus ribu! Tapi bunganya kayak kutukan!”
Ario mulai mondar-mandir.
“Kalau gagal bayar gimana?”
“Mereka ngancem dateng ke rumah.”
“Alamat kantor juga tahu?”
Dian diam.
Bima langsung lemas.
“Mampus…”
Benar saja.
Sore harinya saat jam pulang kerja…
dua pria berbadan besar datang ke depan pabrik.
Salah satu dari mereka memegang foto Dian.
“Mana yang namanya Dian?”
Semua karyawan langsung menoleh.
Dian refleks ngumpet di belakang Bima.
“Kenapa gue jadi tameng?!” bisik Bima panik.
“Lu mukanya baik…”
“INI BUKAN KELEBIHAN!”
Kedua pria itu mulai masuk area parkiran.
Ario langsung mengambil helm.
“Oke. Kita harus kabur.”
“Kenapa kita ikut kabur?!” kata Bima.
“Karena kalau mereka tahu kita temennya Dian, kita bakal diseret juga!”
“Itu logika dari mana?!”
“Pokoknya lari dulu!”
Tanpa aba-aba, Ario menarik Bima.
Dian ikut kabur paling depan.
Tiga orang itu langsung lari menembus parkiran pabrik sementara dua penagih utang mengejar dari belakang.
“WOI DIANNNN!”
“AKU JUGA KORBAN KEADAAN!” teriak Dian sambil lari terbirit-b***t.
*** Dan sejak hari itu…
masalah hidup mereka bertiga mulai naik level. Bersembunyi di sebuah warung pecel lele pinggir jalan sekitar dua kilometer dari pabrik.
Dian ngos-ngosan sampai hampir muntah.
“Gue… udah… nggak kuat…”
Ario masih tenang minum es teh.
“Lu yang punya masalah, lu yang paling lambat larinya.”
Bima sibuk melihat ke belakang memastikan tidak ada yang mengikuti.
“Aman nggak?”
“Kayaknya aman,” jawab Ario.
Dian langsung rebahan di bangku warung.
“Aku ingin pensiun dari kehidupan.”
Pemilik warung melotot.
“Kalau mau mati jangan di warung saya.”
Bima duduk pelan.
“Sekarang gimana, Dian?”
Dian menatap kosong ke langit malam.
“Jujur?”
“Ya.”
“Aku juga nggak tahu.”
Ario langsung menyenggol kepalanya.
PLAK.
“Aduh!”
“Lu pinjem duit tapi nggak punya rencana bayar?”
“Awalnya punya.”
“Terus?”
“Dipake dulu.”
“YA IYALAH DIPAKE!”
Makanan datang.
Tiga porsi pecel lele.
Dian langsung makan paling cepat.
Bima memperhatikan lalu bertanya pelan.
“Lu belum makan dari kapan?”
Dian diam sebentar.
“…Dari semalam.”
Ario yang tadinya kesal mendadak melunak sedikit.
“Kenapa nggak bilang?”
“Malu.”
“Terus pinjol nggak malu?”
“Itu beda konsep.”
Bima menghela napas lalu mengambil dompetnya.
Isinya tinggal dua lembar sepuluh ribuan.
Ia menyerahkan salah satunya ke Dian.
“Nih buat besok.”
Dian langsung terharu.
“Bim…”
“Tapi jangan pinjam lagi dulu.”
“Iya.”
“Serius.”
“Iya.”
“Beneran?”
Dian menunjuk langit.
“Demi apapun.”
Lima detik kemudian—
“Eh tapi boleh pinjem buat bensin nggak?”
“DIANNNN!”
Warung langsung penuh suara tawa.
Malam makin larut.
Mereka akhirnya memutuskan pulang ke kontrakan masing-masing.
Sebelum berpisah, Ario tiba-tiba bicara serius.
“Denger ya. Kalau ada masalah beginian lagi, jangan kabur sendiri.”
Dian mengangkat alis.
“Lu peduli sama gue?”
“Enggak. Gue cuma nggak mau ikut diteror.”
Bima tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak kerja di pabrik…
mereka merasa benar-benar jadi teman.
Walaupun persahabatan itu dibangun dari utang, lari dari penagih, dan pecel lele dua belas ribu.
Keesokan paginya suasana pabrik mendadak heboh.
Semua orang berkumpul di dekat papan pengumuman.
“Apaan tuh?” tanya Bima sambil masih ngantuk.
Ario menyipitkan mata membaca tulisan besar di papan.
“Lomba futsal antar divisi.”
Dian langsung semangat.
“HADIAH JUARA LIMA JUTA?!”
“Lu jangan liat hadiahnya doang,” kata Ario.
“Tentu gue lihat hadiahnya. Itu solusi ekonomi.”
Salah satu senior gudang menunjuk mereka bertiga.
“Eh kalian ikut tim gudang ya. Orangnya kurang.”
Bima langsung panik.
“Gue nggak bisa futsal.”
“Gampang,” kata Dian pede. “Yang penting niat.”
“Lu emang bisa?”
Dian diam sebentar.
“…Main eFootball bisa.”
Ario langsung ketawa.
Tapi karena dipaksa satu divisi, akhirnya mereka ikut latihan sore setelah kerja.
Dan hasilnya kacau total.
Bima takut kena bola.
Ario terlalu barbar sampai nendang sandal orang.
Sedangkan Dian…
lebih sering gaya daripada main.
“OPER WOI!” teriak Ario.
“Tenang, gue lagi baca permainan.”
“LU MALAH SELFIE?!”
Benar saja.
Saat pertandingan pertama dimulai tiga hari kemudian, tim gudang langsung jadi bahan hinaan satu pabrik.
Skor baru lima menit:
0 — 3.
Mandor sampai geleng-geleng kepala.
“Tim apaan itu…”
Dian berdiri di tengah lapangan sambil ngos-ngosan.
“Strategi kita apa?”
“Bertahan hidup,” jawab Bima.
Ario merebut bola lalu berlari sendirian.
“PINGGIRRR!”
BRAK!
Ia malah nabrak galon air mineral.
Penonton pecah ketawa.
Babak pertama selesai dengan skor memalukan.
0 — 5.
Saat istirahat, Dian tiba-tiba bicara serius.
“Kalau kita menang…”
“Mustahil,” potong Ario.
“Denger dulu.”
Dian menunjuk hadiah di banner.
“Lima juta dibagi bertiga…”
Bima mulai mikir.
“Lumayan ya…”
“NAH KAN!”
Ario menghela napas.
“Gue benci semangat kalian muncul cuma kalau ada duit.”
Babak kedua dimulai.
Ajaibnya…
mereka mulai main lebih rapi.
Bima ternyata jago jadi kiper.
Ario kuat di bertahan.
Dan Dian…
entah bagaimana berhasil mencetak gol setelah bola memantul dari mukanya.
“GOOOOL!”
Dian langsung selebrasi buka baju.
Wasit meniup peluit keras.
“KARTU KUNING!”
“Lah kenapa?!”
“Perutmu mengganggu konsentrasi penonton!”
Satu lapangan ngakak.
Meski akhirnya kalah 2 — 6…
tim gudang jadi pusat perhatian.
Dan sejak pertandingan itu, mereka bertiga mulai dikenal satu pabrik.
Bukan karena hebat.
Tapi karena paling rusuh.
Sejak pertandingan futsal itu, hidup mereka di pabrik nggak pernah tenang lagi.
Kalau lewat kantin, pasti ada yang teriak—
“WOI TIM BADUT DATENG!”
“Mana kiper takut bola?!”
“Gol pake muka mana gol pake muka?!”
Dian selalu membalas dengan bangga.
“Yang penting tercatat di sejarah!”
Ario langsung nyolek kepalanya.
“Sejarah memalukan.”
Sementara itu Bima mulai sadar satu hal penting…
temannya ternyata makin banyak ngutang.
Siang itu Dian datang sambil membawa mie cup.
“Bim.”
“Nggak.”
“Lah gue belum ngomong.”
“Feeling gue kuat.”
Dian duduk pelan.
“Pinjem lima belas ribu.”
“Buat apa lagi?”
“Bayar utang.”
Bima melongo.
“Utang siapa?”
“Warung depan.”
“Lu ngutang buat bayar utang?!”
“Itu namanya muter ekonomi.”
Ario sampai tepuk meja.
“Gobloknya udah sistematis.”
Meski mengeluh, Bima tetap memberi uang.
Dan seperti biasa…
Dian langsung bahagia lagi seolah tidak punya dosa finansial.
Sore harinya mereka lembur bongkar barang.
Gudang panas banget.
Semua orang lemas.
Mandor berdiri sambil teriak pakai toa.
“YANG NGOBROL SAYA POTONG GAJI!”
Semua langsung diam.
Lima detik kemudian—
Dian bisik ke Bima.
“Bim.”
“Apa lagi?”
“Pinjem seribu.”
“BUAT APA SEKARANG?!”
“Mau beli es.”
Ario hampir melempar kardus.
Tiba-tiba suara ribut terdengar dari depan gudang.
Dua karyawan berantem.
Masalahnya receh.
Satu nuduh sandal hilang, satu lagi nuduh maling makan siangnya.
Karyawan lain langsung heboh nonton.
“Pukul! Pukul!”
“Jangan dorong-dorong!”
Mandor panik sendiri.
Di tengah keributan itu, seorang pria gondrong memakai jaket hitam masuk ke area gudang.
Tatapannya keliling seperti mencari seseorang.
Bima nggak terlalu peduli.
Sampai pria itu berhenti tepat di depan Dian.
“Kau Dian?”
Senyum Dian langsung hilang.
“…Siapa ya?”
Pria itu mengeluarkan secarik kertas.
“Utang tiga ratus ribu. Sudah tiga bulan.”
Ario memejam mata.
“Anjir… lagi?”
Bima mulai lemas.
“Dian… lu ngutang di mana aja sih?”
Dian panik.
“Itu… cuma temen lama.”
Pria gondrong itu melangkah maju.
“Bayar sekarang.”
Dian langsung berlindung di belakang Bima refleks.
“Kenapa gue lagi?!” teriak Bima.
Karena terlalu panik, Dian malah menunjuk Ario.
“Itu temen gue bendahara!”
“WOI JANGAN LEMPAR GUE!”
Keributan baru pun dimulai di gudang.
Dan anehnya…
untuk pertama kali, Bima mulai merasa hidup bersama dua orang ini jauh lebih seru daripada membosankan.
Malam itu mereka bertiga duduk di kontrakan Ario.
Kontrakannya kecil.
Kipas bunyi “krek krek”.
Lampu kamar mandi berkedip kayak rumah horor.
Dan di tengah ruangan…
Dian sedang diinterogasi.
“Sekarang jujur,” kata Ario sambil melipat tangan. “Total utang lu berapa?”
Dian duduk bersila sambil mikir serius.
“Kalau dijumlah semua…”
“Cepet.”
“…Mungkin dua jutaan.”
“HAH?!”
Bima langsung shock.
“Bukannya kemarin pinjol aja dua juta?”
“Iya.”
“Berarti total?”
Dian ketawa kecil.
“…Empat jutaan.”
Ario berdiri.
“Gue pengen lempar orang.”
“Tenang dulu!”
“Tenang pala lu!”
Bima memijat kepala.
Gaji mereka sebulan bahkan nggak sampai cukup buat nutup semua itu.
“Lu pake duit sebanyak itu buat apa sih?” tanya Bima pelan.
Dian mulai menghitung pakai jari.
“Ya… makan.”
“Normal.”
“Top up game.”
“Tidak normal.”
“Beli sepatu.”
“Oke.”
“Traktir cewek.”
Bima dan Ario langsung menoleh bersamaan.
“CEWEK?”
Dian mendadak salah tingkah.
“Ya… dikit.”
Ario menyipitkan mata.
“Lu punya pacar?”
“Belum.”
“Terus?”
“Masih pendekatan.”
“Nama?”
Dian senyum malu-malu.
“Nisa.”
Bima langsung curiga.
“Dan cewek ini tahu lu miskin?”
Dian terdiam.
“…Belum.”
“Pantes lu bangkrut.”
Tiba-tiba HP Ario bunyi.
Ia melihat layar lalu wajahnya berubah panik.
“Waduh.”
“Kenapa lagi?” kata Bima capek.
“Motor gue ditarik leasing besok kalau nggak bayar cicilan.”
Kini gantian Dian ketawa.
“HAHA! Ternyata lu juga bermasalah!”
“GUE SERIUS!”
Bima menatap langit-langit kontrakan.
Satu punya utang pinjol.
Satu motor hampir disita.
Dan dirinya sendiri…
tabungan tinggal receh karena terlalu sering nolongin orang.
“Kayaknya hidup kita hancur ya,” gumam Bima.
Dian malah mengangguk santai.
“Tapi rame.”
Anehnya…
Bima nggak bisa menyangkal itu.
Walaupun hidup mereka berantakan, selalu ada hal bodoh yang bikin mereka ketawa.
Tiba-tiba perut Dian bunyi keras.
KRUUUKK.
Semua diam.
Dian nyengir.
“…Ada mie nggak?”
Ario langsung mengambil sandal.
“LU MAKAN MULU MASALAHNYA!”
Besok paginya Bima bangun dengan perasaan aneh.
Baru buka mata, HP-nya sudah bunyi tiga kali.
Pesan dari Dian.
Dian:
Bim pinjem dulu.
Bima langsung menutup mata lagi.
Lima menit kemudian pesan baru masuk.
Dian:
Serius penting.
Bima akhirnya membalas.
Bima:
Buat apa?
Jawaban Dian datang cepat.
Dian:
Sarapan.
Bima melempar HP ke kasur.
Di pabrik, suasana pagi jauh lebih ribut dari biasanya.
Ternyata ada inspeksi mendadak dari kantor pusat.
Semua divisi panik.
Mandor sampai pakai sepatu beda warna karena buru-buru.
“YANG GUDANG RAPIIIN BARANG! JANGAN ADA YANG NGANGGUR!”
Semua langsung pura-pura sibuk.
Termasuk Dian.
Walaupun yang dia lakukan cuma mindahin kardus dari kiri ke kanan.
Ario mendekat ke Bima sambil berbisik.
“Motor gue fix bakal ditarik kalau minggu ini nggak bayar.”
“Kurang berapa?”
“Delapan ratus ribu.”
Bima langsung lemas.
“Kenapa hidup kita isinya angka semua sih…”
Belum sempat lanjut ngobrol, seorang wanita berpakaian formal masuk ke gudang bersama rombongan kantor pusat.
Semua mendadak diam.
Wanita itu cantik, tegas, dan jalannya bikin satu gudang salah fokus.
Dian sampai berhenti angkat kardus.
“Wah…”
Ario menyenggolnya.
“Tutup mulut lu.”
Mandor langsung hormat berlebihan.
“Selamat datang, Bu!”
Wanita itu cuma mengangguk dingin sambil melihat sekitar.
Tatapannya berhenti di tumpukan kardus miring dekat Dian.
“Kenapa barangnya tidak disusun rapi?”
Dian refleks menjawab pede.
“Itu konsep industrial modern, Bu.”
Bima langsung menutup muka.
Ario hampir ketawa keras.
Wanita itu menatap Dian beberapa detik.
“Nama kamu?”
“…Dian.”
“Kamu lucu.”
Dian langsung salah tingkah.
“Terima kasih Bu, dari lahir emang begini.”
Satu gudang menahan tawa.
Setelah rombongan pergi, Dian masih bengong.
Bima menyikutnya.
“Kenapa?”
“Gue jatuh cinta.”
“Lu tiap minggu jatuh cinta.”
“Tapi yang ini vibes-nya beda.”
Ario ikut nimbrung.
“Itu orang kantor pusat. Gajinya mungkin sepuluh kali lipat kita.”
Dian tetap senyum percaya diri.
“Cinta nggak lihat status.”
“Tagihan lihat status,” jawab Ario cepat.
Mereka kembali kerja seperti biasa.
Tapi tanpa mereka sadar…
kedatangan wanita tadi bakal jadi awal masalah baru yang lebih besar buat hidup mereka bertiga.
Nama wanita dari kantor pusat itu akhirnya tersebar ke seluruh pabrik dalam waktu setengah hari.
Salsa.
Supervisor audit.
Umur dua puluh enam.
Galak.
Cantik.
Dan katanya pernah bikin satu divisi dibubarkan gara-gara ketahuan korupsi barang gudang.
“Wah cocok sama Dian,” kata Ario.
“Kenapa?” tanya Bima.
“Sama-sama bikin masalah.”
Dian yang lagi nyapu langsung nyolot.
“Fitnah.”
“Lu baru kemarin ngutang buat beli kopi.”
“Itu kebutuhan emosional.”
Siang harinya gudang mendadak tegang karena Salsa datang lagi sendirian sambil membawa clipboard.
Semua pura-pura kerja lebih rajin.
Bahkan Ario yang biasanya malas sampai angkat kardus dua sekaligus.
Salsa berhenti tepat di depan mereka bertiga.
“Kalian satu tim?”
“Iya Bu,” jawab Bima sopan.
Salsa melihat catatan.
“Bima, Ario, Dian…”
Tatapannya berhenti ke Dian.
“Kamu yang kemarin bilang industrial modern?”
Dian langsung senyum lebar.
“Iya Bu.”
“Itu alasan paling ngawur yang pernah saya dengar.”
Bima menahan ketawa sampai batuk.
Tiba-tiba Salsa menunjuk sudut gudang.
“Itu kenapa bocor?”
Semua menoleh.
Air dari atap netes tepat ke tumpukan kardus.
Mandor langsung panik.
“WADUH!”
Belum sempat ada yang bergerak—
BRUK!
Tumpukan kardus ambruk lagi.
Dan yang paling sial…
jatuh tepat ke arah Salsa.
“BU!”
Refleks Bima menarik tangan Salsa menjauh.
Tapi karena terlalu panik…
mereka malah jatuh bareng.
Satu gudang langsung hening.
Bima membeku.
Salsa juga diam.
Posisi mereka terlalu dekat.
Dian langsung bisik ke Ario.
“Anjir… sinetron banget.”
Ario mengangguk.
“Background music tinggal masuk.”
Bima buru-buru berdiri.
“Maaf Bu! Saya nggak sengaja!”
Salsa ikut berdiri sambil membersihkan bajunya.
Anehnya…
dia malah ketawa kecil.
“Untung refleks kamu cepat.”
Bima bengong.
Karena sejak tadi semua orang takut sama Salsa…
tapi ternyata dia bisa senyum juga.
Dian langsung maju sok akrab.
“Bu Salsa nggak apa-apa?”
“Tidak.”
“Kalau trauma bisa cerita ke saya.”
“Kenapa ke kamu?”
“Saya pendengar yang baik.”
Ario langsung narik kerah Dian ke belakang.
“Dia juga pengutang yang baik Bu.”
“WOI!”
Salsa tertawa kecil lagi sebelum pergi.
Dan sejak kejadian itu…
satu gudang mulai menggoda Bima habis-habisan.
“Wih Bima!”
“Hero gudang!”
“Cinta lokasi!”
Bima cuma bisa malu sambil ngejar Dian yang sudah kabur bawa makan siangnya.
Sejak kejadian “menyelamatkan” Salsa, hidup Bima di pabrik berubah drastis.
Baru masuk gerbang—
“EH HERO DATENG!”
“BODYGUARD BUCIN!”
“CIE BIMA!”
Bima sampai malu sendiri.
“Anjir… gue cuma narik tangan doang.”
Dian langsung merangkul bahunya.
“Begitulah cinta dimulai.”
“Lu jangan sotoy.”
Ario ikut nimbrung.
“Minimal sekarang hidup lu ada perkembangan. Biasanya cuma jadi ATM berjalan.”
“Gue bukan ATM.”
“Kalau Dian liat lu beda cerita.”
Benar saja.
Lima menit kemudian Dian langsung buka mulut.
“Bim pinjem dua puluh ribu.”
“NAH KAN!”
Dian ketawa tanpa rasa bersalah.
Pagi itu mereka mendapat tugas merapikan gudang lama di belakang pabrik.
Gudangnya jarang dipakai.
Berdebu.
Gelap.
Dan isinya barang-barang aneh.
“Kenapa ada manekin di sini?” tanya Bima merinding.
Ario membuka kardus lain.
“Anjir ada mesin karaoke rusak.”
Dian malah menemukan kipas angin jadul.
“Wah bisa dijual.”
“JANGAN NYURI BARANG PABRIK!” kata Bima.
Saat mereka sibuk bersih-bersih, Dian tiba-tiba menemukan sebuah tas hitam di balik rak.
“Eh.”
“Apa tuh?” tanya Ario.
Dian membuka resleting pelan.
Lalu mereka bertiga langsung diam.
Isi tas itu…
uang.
Banyak banget.
Ikatannya masih rapi.
Bima sampai melotot.
“Itu asli?!”
Ario cepat menutup tas lagi.
“Jangan keras-keras!”
Dian mulai panik sendiri.
“Ini duit siapa?!”
Mereka saling tatap.
Suasana mendadak tegang.
Di luar gudang suara mesin pabrik masih terdengar samar.
Tapi di dalam…
jantung mereka bertiga lebih berisik dari mesin produksi.
Bima bicara pelan.
“Kita lapor mandor aja.”
Dian langsung refleks memeluk tas.
“Jangan buru-buru.”
“LU MAU APA?”
“Gue cuma mikir realistis.”
Ario menyipitkan mata.
“Realistis apaan?”
“Coba pikir.”
Dian mulai menghitung pakai jari.
“Utang gue lunas.”
“Motor lu aman.”
“Bima bisa hidup tenang.”
Bima langsung menunjuk tas itu.
“Jangan aneh-aneh!”
Belum sempat debat lanjut—
suara langkah kaki terdengar mendekat ke gudang.
Tok.
Tok.
Tok.
Mereka langsung panik.
Ario buru-buru mematikan senter HP.
Dian memeluk tas makin erat.
Pintu gudang perlahan terbuka.
Dan suara seseorang terdengar dari luar.
“Eh… kalian di dalam?”
Tiga orang itu langsung membeku.
Dian bahkan memeluk tas uang itu seperti bantal guling.
Pintu gudang terbuka pelan.
Ternyata yang datang…
Salsa.
“Loh?” Salsa melihat mereka heran. “Kenapa gelap-gelapan?”
Bima langsung salah tingkah.
“E-Eh Bu Salsa…”
Ario buru-buru berdiri paling normal.
“Kami lagi bersihin gudang.”
Salsa masuk beberapa langkah sambil melihat sekitar.
Tatapannya hampir menuju tas hitam di pelukan Dian.
Refleks Dian langsung tiduran di atas tas itu.
“Ngapain lu?!” bisik Ario.
“Kamuflase.”
“Kamuflase pala lu!”
Salsa mengernyit.
“Dian kenapa?”
Dian senyum kaku.
“Saya… capek Bu.”
“Kerja baru lima belas menit.”
“Capek batin.”
Bima langsung batuk menahan panik.
Kalau sampai Salsa lihat isi tas itu, habis sudah.
Salsa mendekat sambil membuka clipboard.
“Saya cuma mau cek data barang lama.”
“Nah bagus Bu,” kata Ario cepat. “Kami juga baru mulai.”
Salsa mengangguk lalu mulai memeriksa rak-rak gudang.
Sementara itu…
Dian pelan-pelan menyeret tas ke belakang badannya seperti pencuri amatir.
Suara resleting tersangkut.
KREK.
Salsa menoleh.
Semua langsung diam.
“Ada suara apa?”
“Perut saya Bu,” jawab Dian cepat.
“Perutmu bunyi resleting?”
“…Lambung saya modern.”
Bima hampir pingsan dengar jawaban itu.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti satu tahun…
akhirnya Salsa selesai memeriksa gudang.
“Saya ke depan dulu. Kalian lanjut kerja.”
“Iya Bu!” jawab mereka bertiga terlalu semangat.
Begitu Salsa pergi dan pintu tertutup—
“HOOOOH!”
Mereka langsung jatuh lemas bersamaan.
Ario cepat mengunci pintu gudang.
“Oke. Sekarang serius.”
Bima masih panik.
“Kita harus lapor.”
Dian langsung geleng keras.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?!”
“Kalau duit ini duit haram gimana?”
“Itu malah harus dilapor!”
“Tapi kalau duit orang penting?”
“YA MAKANYA LAPOR!”
Ario mulai berpikir.
“Tunggu… emang jumlahnya berapa?”
Mereka membuka tas perlahan.
Isinya penuh ikatan uang merah.
Dian menelan ludah.
“Kayaknya…”
Bima ikut melotot.
“…ratusan juta.”
Hening.
Lalu tiba-tiba—
BRAK!
Suara keras dari luar gudang bikin mereka lompat kaget.
Ada seseorang mencoba membuka pintu.
Dan suara pria asing terdengar dingin dari luar.
“Gue tahu tas itu ada di dalam.”
Darah mereka langsung dingin.
Ario refleks memegang gagang sapu seperti senjata.
Bima makin pucat.
Sementara Dian…
masih meluk tas uang.
“LU TURUNIN ITU TAS!” bisik Ario.
“Kalau gue mati, gue mati kaya.”
BRAK!
Pintu gudang digedor lebih keras.
“Buka.”
Suara pria di luar terdengar berat dan tenang.
Justru itu yang bikin ngeri.
Bima berbisik panik.
“Siapa dia?!”
Ario mengintip dari sela rak.
Di luar berdiri dua pria berbadan besar memakai jaket hitam.
Mukanya nggak ada ramah-ramahnya sama sekali.
“Fix bukan sales,” bisik Ario.
Dian mulai gemeter.
“Gimana kalau mereka pemilik duitnya?”
“Ya bagus dong tinggal balikin,” kata Bima.
“Tapi kalau mereka gangster?”
Semua diam.
Itu kemungkinan yang sangat masuk akal.
BRAK!
“GUE HITUNG SAMPAI TIGA!”
Pria di luar mulai marah.
“SATU!”
Dian langsung panik setengah mati.
“Bim! Ario! Putusin cepat!”
“DUA!”
Ario menunjuk ventilasi kecil di belakang gudang.
“Kabur.”
“ITU KECIL!”
“LU KECILIN BADAN!”
“TIGA!”
BRAK!!
Pintu gudang didobrak sampai terbuka setengah.
“LARI WOI!” teriak Ario.
Mereka langsung kalang kabut.
Bima naik duluan ke rak besi buat mencapai ventilasi.
Dian sibuk nyeret tas uang sambil ngos-ngosan.
“TINGGALIN TASNYA!” teriak Bima.
“NGGAK BISA!”
“KENAPA?!”
“UDAH TERLANJUR SAYANG!”
Pria-pria berbaju hitam mulai masuk gudang.
“Berhenti kalian!”
Ario melempar ember cat ke arah mereka.
PRANG!
“WOI MATIIN MEREKA!” teriak salah satu pria.
“ANJIR MEREKA SERIUS!” kata Ario panik.
Bima berhasil keluar lewat ventilasi duluan lalu membantu menarik Ario.
Tapi Dian nyangkut.
“p****t lu kegedean!” teriak Ario.
“INI CELANA KERJA SEMPIT!”
Salah satu pria hampir menangkap kaki Dian—
BRUK!
Untung Bima dan Ario menariknya keras sampai mereka bertiga jatuh ke belakang gudang.
Tas uang masih berhasil dibawa.
“LARI!”
Mereka langsung kabur menembus area belakang pabrik.
Satpam bingung lihat mereka lari sambil bawa tas.
“WOI BERHENTI!”
“NGGAK SEMPAT PAK!”
Di belakang, dua pria berbaju hitam ikut mengejar.
Dan untuk pertama kalinya…
utang, pinjol, dan cicilan motor mereka terasa tidak penting lagi.
Karena sekarang…
mereka dikejar orang berbahaya gara-gara tas penuh uang misterius.