Suku Silk

1618 Kata
Zam benar-benar mematuhi perintah raja. Bukan karena memang ingin menurutinya, melainkan karena tatapan Kalu yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik Zam. Seolah andai ia melanggar peraturan Raja Helva, kepala pengawal itu sudah siap memotong tangannya kapanpun. Zam tidak bertanya apapun pada siapapun. Ketika ia bertemu dengan Pangeran Baylord, yang mana ia baru pertama kali melihatnya, keluar dari dalam istana dan memberikan pesan saat berkumpul, Zam tetap diam. Sekalipun orang-orang sibuk berbisik, ia mengunci rapat mulutnya. Pangeran Baylord di depan sana tengah menyampaikan sesuatu. Satu hal yang bisa ia tangkap dari pewaris tahta Kerajaan Helvantica itu, bahwa tempat yang akan mereka kunjungi memiliki sebuah masalah. “Kita akan tahu masalah apa yang terjadi di sana saat kita tiba. Aku harap kalian mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang terjadi nantinya," kata Pangeran Baylord. Tegas, berwibawa, dan datar. Begitu yang ditangkap telinga Zam. "Yah, sepertinya dia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang terjadi", gumam Zam bermonolog. Setelah selesai, Pangeran Baylord naik ke atas kudanya dan mulai keluar pintu gerbang. Rombongan sang pangeran, termasuk Zam, mengekor di belakangnya seperti anak ayam. Mereka menaiki kuda masing-masing. Tidak ada satupun wanita di antara mereka. Zam menatap orang-orang di sekelilingnya. "Apa menariknya pergi dalam perjalanan jauh tanpa kehadiran seorang wanita?" kata Zam pada Ormanza. Kuda itu baru dikembalikan kepada dirinya setelah menyetujui persyaratan Raja Helva. Ormanza meringkik seolah kuda putih itu mengerti dan menyetujui ucapan Zam. Saat itulah, di antara ringkikan kuda dan suara tapalnya, Zam mendengar sindiran dari Kalu. Kuda mereka berjalan sejajar. Aku tidak tahu bahwa ada penduduk Kerajaan Helvantica yang demikian bodohnya sampai tidak tahu peraturan negaranya sendiri," sarkas Kalu. Pria paruh baya itu mengucapkannya dengan nada dingin tanpa sekalipun menoleh pada Zam. Zam diam mengabaikan. Ia tidak boleh terpancing oleh ucapan Kalu. Badannya masih remuk karena kejadian kemarin. Belum bisa melawan dengan tenaga penuh seandainya harus berduel dengan pria itu. "Tapi aku rasa kau memang tidak perlu tahu hukum negara Kerajaan Helvantica. Karena yang perlu kau tahu adalah jadwal patroli pengawal kerajaan agar kau tidak tertangkap lagi seperti kemarin. Itu pun ... kalau kedua tanganmu masih utuh," imbuh Kalu dengan seringaian menyebalkan. Setelah mengatakan hal itu, Kalu menarik kekang kudanya dan kuda hitam yang ditungganginya bergerak menyusul tepat di belakang Pangeran Baylord. Rahang Zam mengeras. Dalam hatinya mengumpati Kalu habis-habisan sampai saat mereka tiba di negara tujuan. Negara itu terlihat indah dengan banyaknya pohon-pohon tinggi menjulang. Dari jauh Zam sudah tertarik dengan salah satu pohon yang berada paling dekat dengan perbatasan istana. Tempat strategis untuk melihat pemandangan langit. Pangeran Baylord disambut hangat oleh pengawal istana. Mereka membungkuk hormat lalu membukakan pintu gerbang agar pangeran dan rombongannya bisa masuk dengan leluasa. Zam yang tertinggal di belakang rombongan, memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Dalam hatinya berkata, "Ah, pasti sang raja mengirimku ke sini bukan untuk pergi bersenang-senang bersama Pangeran Baylord. Ia pasti sengaja mengusirku secara halus dari Kerajaan Helvantica.” Pikiran itu datang bukan tanpa sebab. Negeri ini sangat jauh dari Kerajaan Helvantica. Pohon-pohonnya rimbun. Istananya dikelilingi oleh bukit dan gunung serta hutan. Negeri ini sebenarnya lebih mirip seperti negeri pengasingan. Zam tersenyum senang. Jika ini memang negeri pengasingan untuk dirinya, bukankah ia harus mengenal seluk beluk kerajaan ini? Senyum Zam semakin merekah tatkala sebuah pemikiran mampir di otak cerdasnya. ‘Karena aku adalah seorang pendatang, tentu tidak akan ada yang mencurigai diriku saat mencuri. Mereka tidak akan mengenali siapa pencurinya saat aku mengenakan topengku,’ batin Zam. Zam akhirnya memisahkan diri dari rombongan. Atas inisiatifnya sendiri, ia bermaksud mengelilingi pasar terlebih dahulu. Tempat yang akan menjadi ladang pencahariannya nanti. Saat memasuki gerbang pasar, dahi Zam berkerut dalam. Aktifitas di pasar ini sama seperti di pasar Helvantica. Barang dagangnya pun hampir serupa. Tapi ada yang berbeda. Para penjualnya memiliki bagian tubuh yang tidak utuh! Ada yang hanya memiliki satu tangan, satu kaki, atau bahkan ada yang tidak memiliki keduanya. Untuk kasus yang terakhir, penjual itu tampak menarik tubuhnya sendiri untuk mendekat ke barang dagang lalu mengambilnya dengan menggunakan mulutnya sebelum diserahkan pada pembeli tanpa terlihat kesusahan. Para pembelinya pun memiliki kekurangan yang tak jauh berbeda dengan pedagang. Mereka semua seperti sudah terbiasa berinteraksi dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Zam turun dari atas punggung Ormanza. Menarik tali kekangnya sembari menyusuri pasar. Tidak ada yang memperhatikan kehadiran Zam, sampai salah seorang pemuda mengalihkan perhatiannya dari barang dagangannya. Pemuda itu menatap terpana pada Zam. Zam yang melihatnya mengikuti arah pandang si pemuda itu. Kepalanya menoleh berkeliling. Namun tidak menemukan siapapun di dekatnya yang mungkin tengah ditatap pemuda tersebut. Saat kembali menatap ke depan, Zam terlonjak kaget. Pemuda itu tahu-tahu sudah ada di depannya dengan berlutut dan kedua tangan menangkup di depan. "Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Zam. Pemuda itu tidak menjawab. Saat Zam kembali mengedarkan pandangan, perlahan tapi pasti orang-orang yang ada di sana ikut berlutut seperti si pemuda. "Hei. Apa yang kalian lakukan?" tanya Zam dengan menahan risih. Ia sudah seperti patung sesembahan. Karena tidak ada yang menjawab, dengan kasar ia menarik pemuda di dekatnya. "Apa yang sedang terjadi di sini?" geram Zam. Pemuda itu mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum saat melihat manik emas Zam. "Kami sedang menyembahmu, Silk," jawabnya. "Silk? Apa itu Silk?" tanya Zam. Kedua matanya menyipit penuh perhitungan pada mata biru terang si pemuda. "Silk adalah sebutan bagi mereka yang memiliki mata emas. Dan kau memiliki mata itu," jawabnya. Melihat Zam tidak mengerti, pemuda itu pun kembali menjelaskan dengan lebih detail. "Di Kerajaan Zhuro, orang-orang Silk memiliki tingkat tertinggi setelah raja dan keturunannya. Kami percaya bahwa Silk adalah perantara para dewa bagi kami," tuturnya halus. Zam mengerjap. Info macam apa yang baru saja ia terima ini? Perantara dewa? Yang benar saja. Jika ia adalah seorang perantara dewa, ia tidak perlu bersusah payah mencuri di pasar Kerajaan Helvantica. Zam akan dengan senang hati mencuri makanan di kerajaan para dewa di atas langit sana. "Dan karena kau adalah salah satu keturunan dari Silk yang berasal dari luar Kerajaan Zhuro, kehadiranmu membawa pertanda baik bagi Tanah Putih ini. Kaulah yang akan membebaskan kami dari hantu kabut." Zam masih tidak bisa mempercayai kata-kata pemuda yang usianya ia perkirakan lima tahun lebih muda darinya itu. Tangannya terangkat ke udara dan meremas pelan pundaknya. "Siapa namamu?" "Arro, Tuan." Zam berdecak. Aneh rasanya ada yang memanggil dengan sebutan ‘Tuan’ setelah kemarin ada yang memanggilnya sebagai pencuri. "Jangan panggil aku 'Tuan'. Aku tidak setua itu untuk dipanggil tuan. Kau bisa memanggilku Zam. Ini kudaku. Ormanza," kata Zam memperkenalkan diri. Matanya menatap berkeliling. Dan saat seluruh penjual dan pembeli masih berada di posisinya, Zam pun meminta mereka untuk kembali beraktifitas seperti sebelumnya. Mereka menurut tanpa membantah. Semua kembali riuh seperti sebelumnya. "Arro, ada beberapa hal yang mungkin perlu kau jelaskan lebih rinci." Arro mengangguk. Pemuda itu dengan cepat berlari ke dagangannya. Meminta para pembelinya untuk berpindah ke penjual di sebelahnya yang tidak memiliki tangan kiri. Lalu Arro menutup tokonya dan menghampiri Zam kembali. "Saya akan menemanimu untuk berkeliling sambil menjelaskan lagi," ajaknya dengan nada riang gembira. "Apa kau tidak rugi menutup tokomu saat sedang ramai seperti itu?" Arro menggeleng mantap. "Saya akan lebih rugi lagi kalau tidak menemanimu berjalan-jalan, Zam," balasnya. Zam mendesah. Saat ini yang ia inginkan hanya mengetahui detail dari penjelasan Arro. Termasuk apa yang terjadi dengan para penduduknya. "Kau baru saja tiba ke sini. Apa kau bersama rombongan Pangeran Baylord?" ujar Arro saat mereka kembali berjalan. "Ya. Aku diutus untuk menemani Pangeran Baylord atas perintah Raja Helva XII." "Ah. Raja yang terkenal dengan kecerdasan dan ketegasannya. Aku sangat mengaguminya." Mata Arro berbinar saat mengucapkannya. Berbanding terbalik dengan Zam yang mendecih dalam hati. Tegas apanya? Ia mengerikan. Cerdas apanya? Ia licik. "Lalu apa kau tahu mengapa Pangeran Baylord harus datang ke sini?" "Kau berada dalam rombongannya dan kau tidak tahu alasannya?" Zam menggeleng pelan. Arro menggaruk dahinya lalu mengedikan bahu. "Memang sebagai rakyat sangat pantang menanyakan perintah dari seorang raja. Aku tidak tahu atas alasan apa kalian datang kemari. Tapi aku rasa aku bisa menebaknya.” Arro menunjuk salah satu pedagang yang tidak memiliki kaki kiri. Ia tampak tersenyum ramah pada pembelinya saat memotong daging. "Kau bisa lihat pedagang itu? Dia tidak memiliki sebelah kakinya. Kau juga bisa melihat hal serupa pada pedagang maupun pembeli lainnya. Mereka semua memiliki tubuh yang tidak utuh." Zam mengangguk. "Apa sesuatu terjaadi pada mereka? Seperti wabah penyakit misalnya?" Arro menggeleng. Lalu menjawab, "Ini semua karena hantu kabut." "Hantu kabut?" beo Zam. "Ya. Hantu kabut. Saat kabut datang menyelimuti tanah ini, maka akan ada korban. Akan ada anggota tubuh penduduk yang hilang." Zam bergidik ngeri. Tapi ia tidak begitu saja mempercayainya. "Lalu apa hubungannya dengan kedatanganku yang kau bilang tadi membawa pertanda baik?" Zam sengaja mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa suasana hatinya berubah tidak nyaman saat mendengar penjelasan Arro. Arro berhenti berjalan lalu menoleh pada Zam. "Karena menurut ramalan jaman dulu dari salah satu tetua, hantu kabut hanya bisa dikalahkan oleh seorang suku Silk dari luar Kerajaan Zhuro. Dan itu berarti kau, Zam." Mata Zam membeliak. Dirinya? Bagaimana bisa dia menghadapi hantu seorang diri? Baru mendengarnya saja ia sudah merasa tidak nyaman. Apalagi harus menghadapinya. Arro menjelaskan dengan detail dan perlahan pada Zam. Untuk mengalihkan rasa tidak nyamannya, Zam meminta minuman pada Arro. Saat akan membayarnya dengan sisa kepingan uang yang ia punya di kantongnya, Arro menolak. "Kau adalah pembawa tanda baik. Tidak sopan rasanya jika aku meminta imbalan padamu," ucap Arro. Zam yang merasa bahagia mendapatkan minuman gratis pun akhirnya memanfaatkan kebaikan Arro. Arro dengan senang hati menuruti permintaan Zam. Begitu pula pedagang lainnya. Termasuk Deryl. Pemuda yang berbadan tinggi besar itu juga memenuhi apa yang diminta oleh Zam meski dengan wajah memberengut. Peduli setan. Zam menikmatinya. Selama semua orang melayaninya bak raja, Zam tidak keberatan melihat wajah masam Deryl. Saat itulah Zam memutuskan bahwa ia tidak perlu lagi mencuri. Sebab semua yang ia inginkan akan segera dipenuhi oleh penduduk Kerajaan Zhuro.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN