Tertangkap
"Beri aku dua kantong gandum ukuran sedang. Ditambah dengan daging segar itu."
"Ini terlalu mahal. Beri aku tiga potong roti itu dan aku akan membayar dengan jumlah yang tadi kau tetapkan. Bagaimana?"
"Apa di sini menjual roti jahe? Aku butuh yang tanpa kulit luarnya."
Suara-suara riuh dari pembeli di pasar Kerajaan Helvantica itu terdengar bersahutan. Pembeli dan penjual terlihat sibuk bernegosiasi untuk mencapai harga yang disepakati atau memilih barang-barang.
Anak-anak kecil berlarian di sekitar ibu atau ayah mereka yang sedang berjualan atau pun membeli barang dagangan. Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sudah mengamati aktifitas mereka dari atas sebuah pohon.
Zam menunggu dengan sabar dari tempatnya. Di kedua tangan terdapat busur dan anak panah yang siap dilesatkan ke arah pasar. Saat kondisi pasar sudah mulai lenggang, Zam mengambil posisi yang pas untuk melepaskan anak panahnya pada sebuah apel segar incaran.
Zam menghitung dalam hati. Pada hitungan ketiga, anak panahnya melesat cepat menancap pada apel merah dan melontarkannya menabrak dinding. Apel itu terpaku di tembok dekat kepala si penjual.
Penjual itu begitu terkejut dengan serangan yang terjadi hingga tubuhnya membeku sesaat. Zam menyeringai dan kembali melesatkan anak panahnya ke arah daging segar yang menggantung. Hal serupa terjadi juga pada daging itu.
"Kita diserang!!! Kita diserang!!! Ormanza datang!!!" teriak si pedagang daging bertubuh tambun setelah tersadar dari keterkejutannya. Kemudian orang-orang yang lainnya juga meneriakkan nama Ormanza.
Pria itu selalu berhasil membuat Zam tertawa dengan tingkahnya yang konyol. Seperti saat ini, pedagang itu berusaha bangkit dari kursinya dengan panik.
Perutnya yang besar membuatnya kesulitan untuk berlari dan malah menabrak keranjang yang ada di toko. Teriakannya yang menggelegar membuat kericuhan di sekelilingnya.
Para wanita mulai berteriak dan berlari. Begitu pula dengan anak-anak yang mulai menangis histeris menambah heboh suasana. Para lelaki tua dan muda sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Zam kembali melesatkan anak panahnya secara cepat dan tepat pada barang sasarannya. Ia berhati-hati agar anak panahnya tidak melukai orang-orang di bawah sana.
Orang-orang yang panik itu saling mendorong hingga ada yang terinjak. Zam turun dari pohon dengan mengenakan topeng peraknya. Kudanya yang sudah menunggu di bawah, langsung berlari ke arah pasar.
Zam mengambil anak panah yang menembus barang-barang dagang itu. Pemuda berambut cerah itu tertawa keras dengan suara yang dibuat menakutkan. Orang-orang menyingkir saat Zam dengan kudanya mendekat ke arah mereka.
Semua barang yang diincar oleh Zam sudah berada di tangannya. Sekarang saatnya ia kembali ke tempat persembunyian di dalam hutan untuk memasak bahan-bahan itu. Zam menarik tali kekang kudanya agar berbelok.
Langkah kaki kuda itu berhenti di depan pintu pasar. Beberapa pengawal kerajaan sudah menunggunya di sana. Zam menyeringai. Ia menarik tali kekang kudanya dengan kuat hingga si kuda meringkik dan memutar arah. Mereka dikejar oleh para pengawal kerajaan yang berlari.
"Bodoh. Untuk apa kuda-kuda kalian jika kalian mengejarku dengan berlari?" teriak Zam pada mereka.
Salah seorang pengawal melompat dari atas atap rumah pedagang tepat ke hadapannya. Zam membawa kudanya berbelok ke kanan, menghindari tebasan pedang yang di arahkan kepadanya. Zam terus memacu kuda putih itu menghindari para pengawal yang mulai mengepung dirinya. Lalu Zam terpojok. Para pengawal itu membentuk lingkaran yang mengelilinginya.
"Kau tidak akan bisa pergi lagi, Pencuri," kata salah seorang pengawal. Lidahnya menjilat bibir bawahnya yang kering dan kecokelatan.
Zam terkekeh, "Tidak hari ini, Tuan-Tuan." Dengan sekali sentakan pada kudanya, kuda putih itu berlari kencang dan melompati pengawal. Zam menoleh ke belakang sambil tertawa penuh kemenangan.
Kepala pengawal yang juga diturunkan untuk menangani kekacauan yang dibuat oleh Zam, menarik tali tambang di tempat penjual perkakas. Kepala pengawal itu dengan santainya menalikan ujungnya pada tiang pancang dan membentangkannya ke sisi yang lain yang ia pegang dengan kuat di ujungnya.
Zam yang masih menyoraki kemenangannya, tidak menyadari jika ada jebakan. Kepala pengawal itu menarik talinya saat kuda Zam mendekat. Pemuda yang tidak siap dengan jebakan itu, terjatuh dari kudanya. Sedangkan kuda putih miliknya tergelincir dan meringkik kesakitan.
"Argh," erang Zam. Kakinya terkilir karena terjatuh dengan keras ke atas tanah.
"Tidak ada waktu lagi untuk bermain petak umpet, Ormanza," kata kepala pengawal itu dengan datar dan dingin.
Zam mendongak dan melirik ke pedang yang terhunus di dekat lehernya. Bergeser sedikit saja, ia yakin pedang tajam berkilau itu akan menggorok lehernya.
Pengawal di belakangnya, berlari menghampiri Zam yang masih tersungkur. "Sudah kukatakan kau tidak akan bisa pergi lagi, Pencuri Licik," ujar pengawal yang tadi menghadangnya.
Napasnya tampak terengah-engah dengan peluh menetes di dahinya. Si kepala pengawal menelengkan kepalanya kepada bawahannya. Kemudian dua orang pengawal menggamit lengan atas Zam dan menariknya agar berdiri.
"Tunggu. Tunggu. Aku bukan Ormanza. Aku... aku hanya orang suruhan Ormanza untuk mengambil barang-barang itu," elak Zam.
Kepala pengawal itu menatapnya tajam. Lalu berkata, "Kau bisa mengatakan itu saat menemui Raja Helva. Kau diberi hak untuk membela diri."
"Tu- Tunggu. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Lepaskan aku." Zam berusaha melepaskan gamitan di kedua lengannya. Namun karena kakinya sedang terluka dan seluruh badannya terasa nyeri, ia tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan.
Zam diseret dengan paksa menuju istana di mana ia akan dijatuhi hukuman. "Sungguh. Aku hanya orang suruhan Ormanza. Kalian pikir Ormanza akan terjun langsung untuk mengambil barang-barang itu? Tentu ia akan menyuruh orang lain untuk mengambilnya. Ia sangat pendiam dan tertutup. Tidak menyukai keramaian. Dia-"
"Kalau begitu kau bisa membawa kami kepadanya setelah persidangan. Untuk saat ini lebih baik kau menutup mulutmu," jawab kepala pengawal berwajah garang itu memutus kata-kata yang akan dilontarkan oleh Zam.
Zam melirik kudanya yang dihampiri oleh salah satu pedagang. Pedagang pria itu melirik sinis ke arah Zam saat ia melewati mereka. Kuda itu tampak kesakitan karena kakinya yang juga terlihat tidak baik-baik saja. Kuda itu meringkik keras merasakan sakit.
"Maafkan aku, Ormanza! Kuharap kau menemukan majikan baru yang akan merawatmu dengan baik. Selamat tinggal!" teriak Zam pada kudanya, Ormanza.
***
Raja Helva XII menatap sosok di depannya yang menggunakan topeng perak. Di depannya anak panah dan busurnya tergeletak di atas lantai marmer istana.
"Jadi, kau yang selama ini menggangu ketenangan di pasar, Ormanza?"
Suara penuh kewibawaan dan terdengar bijaksana itu akhirnya bersuara juga. Zam yang sedari tadi sudah berlutut, berniat bangkit. Tapi lengannya ditahan oleh pengawal yang tadi membawanya.
"Sudah saya katakan, saya bukan Ormanza. Anda salah menangkap pencuri, Yang Mulia," bantah Zam.
Suara besi berdesing karena pedang yang ditarik lepas dari sarungnya terdengar sedetik setelah Zam bersuara. Pedang itu mengkilat di dekat lehernya. Dihunuskan oleh Kalu, si kepala pengawal kerajaan.
"Jaga sikapmu, Ormanza," kata Kalu dingin.
Zam melirik pedang itu. Lalu menelan salivanya kelat. Bergeser sedikit saja, sudah dipastikan lehernya akan tergorok.
"Lalu siapa namamu jika bukan Ormanza, Anak Muda?"
Raja Helva XII kembali mengajukan pertanyaan dengan tenang. Zam menatap kembali sang raja.
"Nama saya Zam, Yang Mulia," jawab Zam akhirnya.
"Lepaskan topengnya," perintah Raja Helva pada Kalu.
Si kepala pengawal itu mengangguk lalu melepaskan dengan kasar topeng perak itu dari wajah Zam. Zam sampai meringis kesakitan. Matanya menatap tajam pada Kalu yang memberikan tatapan dingin dan merendahkan.
"Zam, kau tentu tahu hukum bagi seorang pencuri di kerajaanku," lanjut Raja Helva.
Zam menoleh ke depan. Kepalanya menggeleng sebagai tanggapan atas pernyataan sang raja sebelumnya. Kedua alis Raja Helva naik bersamaan.
Merasa heran sekaligus tertarik.
"Kau tidak tahu?"
Zam kembali menggeleng.
Raja Helva tertawa keras. Suaranya memantul dari dinding di sekelilingnya. Zam menaikan sebelah alisnya.
‘Memang apanya yang lucu?' batin Zam.
"Kau mencuri di tanah yang kupimpin dan kau tidak tahu apa hukuman bagi seorang pencuri yang tertangkap?" tanya Raja Helva sarkas.
"Jika aku tahu apa hukuman bagi seorang pencuri, tentu aku tidak akan mencuri, Yang Mulia," tukas Zam dengan nada tenang tanpa emosi.
Raja Helva berhenti tertawa. Kini seringaian muncul di bibirnya. Tubuhnya condong ke depan saat kembali bersuara.
"Kau seharusnya mencari tahu dulu apa hukum yang berlaku di tanah tempat kau mencuri sebelum bertindak, Anak Muda. Karena bisa jadi hukuman itu sangat mengerikan bagi pemuda sepertimu yang pandai memanah," jelasnya dengan suara berubah sinis dan dingin.
Zam bisa merasakan bulu-bulu halus di tubuhnya meremang saat mendengar ucapan sang raja.
"Memangnya apa hukuman bagi seorang pencuri, Yang Mulia?"
Raja Helva kembali menegakan punggungnya. Lalu ia mengedikan dagu pada Kalu. Kalu mengangguk sekali. Ia menarik tangan Zam yang terikat di depan. Pedangnya di arahkan ke atas tangan Zam.
Pedang itu sudah melayang di udara, siap untuk melakukan tugasnya saat Zam menyadari hukuman baginya. Bagi pencuri lebih tepatnya.
"Tunggu!" sergah Zam panik.
Raja Helva menelengkan kepalanya. "Ada apa, Zam? Bukankah kau ingin tahu seperti apa hukuman di Kerajaan Helvantica?"
Pertanyaan itu diajukan dengan nada lembut yang menggetarkan hati Zam. Zam ingin segera menjawab, tetapi lidahnya terasa kelu.
"Ya- ya. Saya memang ingin mengetahui hukuman yang berlaku di tanah Helvantica. Te- tetapi bukan berarti Anda harus memberitahukannya dengan tindakan langsung seperti ini," ujar Zam dengan nada terbata.
Telat sedetik saja, kedua tangannya akan terpisah dari tubuhnya. Apa jadinya Zam tanpa kedua tangannya?
Raja Helva XII menyipitkan maniknya, tertarik pada sosok Zam. "Lalu harus bagaimana caranya agar kau tahu hukuman itu, Zam?"
"Anda bisa menjelaskan pada saya. Saya orang yang cerdas dan cepat memahami sesuatu. Jadi, Anda tidak perlu mengotori permukaan lantai yang indah ini dengan darah hina saya," ucap Zam cepat.
Jantungnya masih berdetak cepat mengetahui Kalu masih memegang pedang di dekat tangannya yang terikat. Sedangkan sang raja malah terkekeh pelan. Jenis kekehan yang menghina Zam.
Zam tidak peduli. Asalkan ia bisa menyelamatkan kedua tangannya, apapun akan ia lakukan.
"Menarik. Sangat menarik. Tapi kurasa kita memiliki pemikiran yang berbeda, Zam. Aku tidak keberatan untuk mengotori lantai kerajaanku dengan sedikit darah agar hukum tetap berlaku di Helvantica. Bagaimana menurutmu?"
Mata Raja Helva berkilat penuh penilaian melihat Zam yang panik. Mata pemuda itu berputar menatap sekelilingnya saat berpikir. Raja Helva tahu, intimidasinya berhasil. Seperti biasanya.
"Apa Anda menginginkan sesuatu? Saya bisa memenuhinya."
Hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Zam. Setidaknya ia harus bisa bernegosiasi dengan Raja Helva XII yang terkenal akan ketegasan dan kekejiannya. Zam tidak ingin menjadi salah satu korban dari dua sifat dominannya itu.
"Benarkah?"
Raja Helva tersenyum penuh arti. Kelinci kecilnya kali ini lebih mudah dimasukan ke dalam perangkap rupanya.
"Ya. Tentu saja. Tetapi untuk memenuhinya, saya membutuhkan kedua tangan saya," jawab Zam yakin.
Raja Helva berdiri dari singgasananya lalu melangkah mendekat pada Zam yang masih berlutut. Sang raja mengambil busur panah Zam dan mengamatinya dengan jeli.
"Kau pandai memanah, Zam?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Semua bidikan saya tidak pernah ada yang meleset," ucap Zam dengan nada bangga.
Raja Helva menunduk. Lalu berkata, "Aku setuju. Tidak mudah memanah di tengah keramaian dan tepat sasaran."
Zam tersenyum senang. Memanah memang adalah keahliannya.
"Maka dari itu, Yang Mulia, saya membutuhkan kedua tangan saya untuk menjaga keahlian saya."
Raja Helva menganguk setuju. "Baiklah. Kau akan kuampuni kali ini. Tapi dengan satu syarat. Kau harus menjalankan titah dariku tanpa bertanya atau pun membantah."
Jebakan.
Syarat dari Raja Helva adalah sebuah jebakan untuk Zam. Zam tahu apapun titah itu tentu menyangkut nyawanya. Sebuah syarat yang tidak sebanding dengan permintaannya.
Zam terdiam. Kepalanya berpikir cepat mencari pilihan lain yang sekiranya lebih baik. Sayangnya tidak ada. Dia sudah terlanjur mengatakan bahwa ia akan memenuhi semua keinginan raja licik di depannya ini.
Zam menghela napas dari mulutnya. Memang inilah jalan terbaiknya. Jika sang raja memintanya untuk mengorbankan nyawanya, maka ia akan mencari cara untuk menyelamatkan dirinya.
"Baiklah, Yang Mulia. Saya akan melaksanakan titah Anda."
Raja Helva tersenyum puas penuh kemenangan. "Baiklah. Kau bisa melaksanakan titahku besok. Kalu, lepaskan ikatannya," perintahnya.
Kalu mengangguk. Dengan pedang tajamnya, ia memotong tali yang mengikat tangan dan tubuh Zam. Setelah itu, pria paruh baya itu menatap tajam dan sinis pada Zam.
"Kau akan melaksanakannya besok pagi," imbuh Raja Helva.
Zam mengambil busur dan anak panahnya. Lalu berdiri dan membungkuk memberi hormat, bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya tertahan sesaat ketika Raja Helva melanjutkan kalimatnya.
"Dan ingat, Zam. Kau tidak boleh bertanya apapun."