enam

2705 Kata
Sabtu siang ketika usai pelajaran, Rreindra menumuiku dan pamitan padaku dengan muka sedih begitu dalam membuatku tak tega, tapi aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Terlebih Rreindra akan pindah sekolah serta mengikuti orang tuanya yang pindah tugas, hal itu tentu saja membuatku ikut merasa bersedih karena aku akan kehilangan orang yang baik padaku. Kami berada dipinggir lapangan yang begitu luas, memandang rumput hijau di lapangan yang begitu luas, duduk dibawah pohon rindang yang ada kursi panjangnya. "Kak Bening, sengaja aku mengajak kakak kesini supaya kita bisa ngobrol bebas" ada jeda sejenak. Ditariknya nafas dalam dalam hal itu membuatku ikut menahannya juga. "Sebenarnya aku ingin pamitan sama kak Bening karena kemaren kemaren aku lihat kakak sibuk. Aku juga sibuk... Kak Bening, maaf ya karena kita berteman cuma sebentar... Sebenarnya aku tidak ingin pindah, karena aku merasa berat meninggalkan sekolah ini. Aku merasa cocok disini, tapi apa dayaku aku harus ikut ortuku dipindahkan tugas" ku lihat air mata Rreindra mengalir, lalu diusapnya karena tak ingin memperlihatkan kesedihannya dihadapanku. Tapi aku memakluminya aku pun merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rreindra. "Kamu nggak perlu minta Rre, justru aku merasa beruntung punya sahabat sepertimu. Karena kamu bisa menerimaku apa adanya... Kamu tidak memandang statusku sebagai orang miskin... Aku salut padamu karena kamu orangnya tidak memandang notabe orang yang jadi temanmu" tak terasa aku pun memeluknya dan menitikan air mataku. Terlalu lebay. Tapi, mengingat apa yang terjadi serta ku alami selama ini, aku merasa kalau aku disekolah elite ini sendirian. Walaupun aku punya saudara sepupu seperti Angga tapi seakan dia tidak pernah ada. Itulah yang ku sesalkan. "Kenapa kakak menangis, apa yang membuat kak Bening sesedih ini?" tanya Rreindra menatapku haru walaupun ada kesedihan yang mendalam ku lihat dimatanya. "Aku harus kehilangan orang yang baik sama aku. Aku belum tentu bisa menemukan orang sepertimu lagi Rre" terangku, atas kesedihan yang ku rasakan, tak bisa ku tutupi dihadapannya. "Aku yakin kak, suatu saat nanti akan ada orang baik, bahkan sayang sama kak Bening kok" balasnya menyakikanku. Entah apa maksud dari ucapan Rreindra kalau suatu saat nanti akan ada seseorang yang menyayangiku dengan setulus hati. Sekarang saja tak ada satu orang pun yang bersikap baik padaku, yang ada Bullyan, hinaan, cercaan dan lainnya, rasanya mustahil jika suatu saat nanti akan ada orang yang tulus padaku. Siapa orang itu? Pikiranku tidak sampai kearah situ, seakan buntu. Aku masih merenung? "Entahlah Rre,,,?" keluhku dengan menghempaskan nafas. "Aku sendiri sudah tidak tahan. Jika tidak karena orang tuaku, mungkin aku akan berhenti sekolah dan pulang ke kampung halamanku. Aku merasa lebih damai disana" imbuhku sambil mengenang keadaan desaku yang ku tinggalkan. Entah sekarang bagaimana keadaannya, juga teman teman serta sahabatku disana. "Sabar ya kak. Semua pasti berlalu. Ortu kak Bening ingin kakak jadi orang sukses. Kalau kakak menyerah itu sama halnya kak Bening membiarkan orang orang itu menang. Apa kak Bening tidak kasihan dengan ortu kakak yang bekerja keras untuk membiayai kak Bening sekolah" jelasnya, memperingatiku. Rasanya, ucapan Rreindra ada benarnya. Aku tak boleh nyerah. Aku harus tetap tegar dan kuat dari semua hal buruk yang menderaku. Kasihan kedua orang tuaku yang mencari nafkah demi untuk membiayaiku sekolah kalau aku sekolah tidak sungguh sungguh malah mengecewakan mereka. "Terima kasih Rrei atas motivasinya. Insyaallah aku akan kuat dengan semua cobaan yang menderaku. Aku tidak akan menyerah. Aku yakin suatu saat mereka akan sadar juga" "Nah gitu dong kak Bening semangat. Aku seneng liat kak Bening senyum gitu, manis,,," "Ih, kamu apaan Rrei, lawong kakak cowok. Ngawur kamu. Kamu tuh yang manis, ngegemesin" "Ihh, nggak lah kak. Masa aku manis sih,,,?" "Beneran Rrei" ledekku lagi. Rreidra malah tertawa senang. "Yaudah kak, yuk ke kantin, biar aku yang traktir kak Bening untuk terakhir kalinya" "Kamu nggak sedih kan Rrei?" "Nggak lah kak" "Yaudah, semangat. Yuk" Kamipun menuju ke kantin bersama. Namun aku merasakan seperti ada yang mengawasi ku, entah siapa itu? Tapi, semua perasaan itu aku tepis dan membiarkan saja, toh tidak ada untungnya buatku. Aku yakin kalau Rreindra tidak menyadari hal itu, karena wajahnya terlihat bahagia. Aku sembunyikan rasa tak enak itu dihadapannya. "Lha, tumben sepi..." gumamku ambigu. "Kak, inikan bukan jam pelajaran kak" balas Rrei seperti mendengarku. "Maaf Rrei, aku kelupaan?" tanyaku sambil menatapnya sejenak. Rreindra hanya tersenyum simpul makin menambahnya manis. Membuatku ikut tersenyum. "Kak Bening kenapa?" Ku jawab dengan gelengan kepala. Takutnya nanti Rreindra marah padaku jadi ku sembunyikan saja. "Ah kak Bening nggak asik" Rreindra pura pura sewot, rasanya hariku terhibur dengan kehadirannya. "Lupakan saja Rrei" "Kakak, ngakulah" "Bukan apa apa Rrei" kekehku, takutnya kalau aku jujur Rreindra akan marah padaku. "Maaf Rrei, tadi aku cuma berpikir kalau kamu senyum, itu malah membuat kamu terlihat manis. Maaf ya Rrei, itu yang jadi pikiranku. Makanya aku takut kamu tersinggung atau marah padaku, kalau aku mengatakan jujur" ulasku mengatakan apa yang ada di pikiranku. "Kak Bening juga manis kok" aku-nya, aku sendiri tak pernah menilai diri sendiri karena penilaian orang lain itu biasanya banyak benarnya. "Sudahlah Rrei, aku nggak mau bahas Masalah itu. Mau manis atau nggak, tetep aku seorang cowok. Punya pistol" aku-ku tak ingin mendebatkan siapa yang manis disini. Karena itu sudut pandang Rrei padaku, entah kalau yang lain. Menurutku mereka menganggap ku s****h. Karena mereka begitu membenciku. Rreindra pergi, mungkin pesan sesuatu? Kami duduk berhadapan saling diam, dalam pikiran masing masing, hingga pesenan yang diminta Rreindra datang. Mie ayam bakso hingga aromanya tercium. "Kak dimakan,,," setelah diam lama menjeda. Aku sedikit gagap seakan baru tersadar dari lamunanku. Setelah itu es jeruk datang diantar Bu kantin. "Terima kasih Bu" ucap Rreindra, hanya dibalas senyum sumringah dari Bu kantin dan berlalu pergi. "Kak Bening kenapa diam?" tanya Rrei membuatku tersadar. Ku akui kalau akhir akhir ini aku sering merenung, mungkin karena selalu dapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman teman sekelasku. Bukan hanya itu saja bahkan semua siswa yang ku temui seakan mencibirku, rasanya disini aku tidak ada tempat lagi buat orang miskin seperti ku. Tanpa sadar ku Hela nafas berat. Sungguh miris sekali keadaanku disini. Mau mengadu, mengadu pada siapa? Aku ingin semuanya baik baik saja, bahkan di awal pun aku sudah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan. "Nah, ngelamun lagi kak. Kak Bening cerita saja kalau ada problem?" "Nggak kok Rrei, bukan apa apa,,," terlihat Rrei mulai menyantap makanannya. Rasanya aku tidak berselera. Tapi, mengingat kebaikannya, aku tak tega. Akupun mulai menikmati mie ayam bakso pesanannya. Lebih baik makan dulu, memilih untuk diam,,,, _______________ Setelah pertemuanku dengan Rreindra kami pun berpisah, aku memilih untuk jalan kaki. Tadi, ku sempatkan untuk sembahyang dulu biar tenang. Aku tidak tau tentang Rrei, ketika ku ajak dia menolak dengan halus, aku hanya tersenyum lembut kearahnya. Inilah perpisahan ku dengan Rreindra, aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Entah suatu saat nanti, dia begitu baik padaku. Karena hanya dia teman terbaikku disini... Ku langkah kaki ditepi trotoar sambil merenung, aku tidak fokus pada jalan ku karena pikiran terlalu larut, entah mengembara kemana? Tin, tin, tinnnn.... Aku terkejut dengar suara klakson yang begitu nyaring, tanpa ku sadari aku berada dipinggir jalan. Entah sejak kapan aku sudah berada dijalanan... Naas bagiku, tubuhku terserempet mobil, hingga aku terpental,,,, Kepala terantuk pinggiran trotoar, rasanya nyeri luar biasa. Aku masih tersadar,,, Ku rasakan ada yang merembes, aku tau kalau itu darah yang keluar... "Aawww,,, hesshhh,,," ringisku saat ku pegang kepalaku yang berdenyut sakit. Mobil itu berhenti didekatku, aku yang terduduk sambil ku pegangi kepala ku berdarah serta berdenyut nyeri. Pintu mobil dibuka, bisa ku lihat siapa orang yang baru keluar dari dalamnya. Riko bersama pacarnya yang sedang bergandengan, memperlihatkan kemesraan mereka didepanku, dengan tatapan tajam serta senyuman mengejek kearahku. "Cuiiihhh,,, Dasar s****h!" kata Raya meludah didepanku. "Kenapa Lo nggak mati aja" ucap Riko dengan tatapan tajamnya، dengan seringai disenyumnya. Aku hanya bisa tertunduk dipinggir jalan sambil menahan rasa sakit yang menderaku. Ku coba untuk menahan air mataku tapi tetap tak bisa ku tahan membuat pertahanan ku runtuh didepan mereka yang tengah asik menatapku dalam derita. "Ha ha,,, lihat sayang, si gembel miskin ini lagi mewek. Ckckckkkk,,, kasian kasian. Gue eneg liat mukanya yang sok polos itu sayang. Ingin gue mencakarnya hingga hancur" cerca Raya terlihat senang menatapku dalam kesengsaraan. "Tunggu sayang,,,!?" Raya yang tadi akan mendekatiku urungkan niatnya. Kini, yang mendekat kearahku Riko, maju lebih dekat. Jongkok didepanku sambil tersenyum sinis, dengan tatapan membunuh. "Sebenarnya gue kasihan pada Lo. Tapi, karena gue benci setengah mati sama Lo, gue nggak punya pilihan lain. Ini harus gue lakuin ke Lo supaya Lo ngerti, klo peringatan gue tuh nggak main main" sambil tersenyum miring, Riko... "Cuihhh!" Meludahi mukaku. Hilang sudah rasanya harga diriku diinjak oleh mereka. Salahku apa hingga mereka begitu dendam padaku?. Bug! Bug! Bug! Tiga tinju Riko berturut turut menghatam wajahku hingga ku rasakan dunia menjadi gelap gulita. Aku antara sadar dan tidak, tapi aku masih mendengar dengan jelas ucapan mereka sebelum semuanya tidak ku dengar lagi ... "Sayang, liat yang Lo lakuin, dia bisa mati, kita bisa dipenjara sayang,,," pekik Raya ketakutan. "Tenang sayang, nggak akan mati. Aman. Palingan cuma oingsan, kok" "Sayang, gue takut" "Hush,,, tenang ya, oke" Setelah itu dunia benar benar gelap gulita... ___________ Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, dan ketika aku sadar, aku masih ditempatku semula, tak ada yang menolongku, tak ada yang peduli padaku... Aku merasa, kalau aku ini memang s****h! Kenapa di Jakarta ini tidak ada yang peduli pada nasibku. Aku bangkit dengan menahan rasa sakit, badanku terasa remuk. Hari sudah beranjak sore mungkin kisaran jam 16:00... Padahal ada kendaraan yang lalu lalang... Dengan tertatih aku pun pulang dengan menahan rasa sakit yang mendera mukaku juga kepalaku... Bibirku terasa perih, mungkin bibirku ada yang pecah. Tapi, perih hatiku tak terperikan... Kembali air mataku bergulir tak terasa... Rasanya cukup lama aku berjalan, terasa berkilo kilo meter jarak yang ku tempuh itupun sambil bercucuran air mataku. Haruskah aku mengadu pada orang tuaku mengenai apa yang ku alami? Tidak! Aku tidak ingin orang tuaku tau. Biarlah ini akan jadi rahasiaku saja, disekolah dimana selalu mendapat p**********n. _______________ Suasana rumah terasa lengang, sepertinya tidak ada yang pulang hari ini... Kunci rumah diletakan ditempat biasanya, hingga aku pun bisa masuk. Aku pun mencuci pakaian serta membersihkan luka lukaku. Walaupun rasanya perih sekali. Aku mencoba untuk menahannya sekuat tenaga. Selesai mandi aku pun sembahyang dulu sambil ku tahan rasa nyeri yang menderaku. Setelah itu baru ku obati, yaitu dengan mengompres luka lukaku supaya tidak memar. Aku takut ibuku maupun ayahku tau apa yang terjadi pada diriku hari ini. Untuk besok libur jadi aku sedikit lega... Aku pun membuka tasku yang ada di lemari. Aku mengambil hpku yang butut, tidak layak untuk dipakai. Tapi, ini satu satunya benda berharga dalam hidupku. Angga saja tidak pernah tau sama sekali jika aku punya hp. Aku juga melarang ibuku untuk merahasiakannya. Karena ketika aku akan kesini, satu bulan sebelumnya aku pernah vc dengan Angga, disaat itulah muncul ide kalau hpku rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Jadi aku.meminta Angga untuk menghubungi nomor ibuku saja karena itu jalan satu satunya yang terbaik. Hingga sampai saat ini Angga tidak tau kalau hpku sebenarnya tidak rusak. Makanya, ketika pertama kali aku masuk ke kamarnya dan Angga akan membawa tasku buru buru ku cegah serta ku sembunyikan dan disitu juga ada suatu rahasia dan tak satu pun yang tau. Ku mendapat pesan SMS dari ibuku kalau malam ini tidak pulang karena bossnya pergi. Ada rasa sedih juga senangnya. Sedihnya karena tidak bertemu ibuku, senangnya ibu tidak melihatku yang sedang terluka. Ibuku juga menanyakan keadaanku, aku pun langsung meresponnya kalau keadaanku baik baik. Walaupun ibuku sepertinya merasakan apa yang terjadi padaku. Maafkan aku ibu, ayah! Tak terasa air mataku bergulir. Begitu getir ku rasakan dalam hidupku. Bahkan sampai magribku tak ada yang pulang hingga isya' barulah ku dengar ketokan pintu dan salam dari Putri yang baru saja pulang. Untung tadi aku masih berberes rumah karena agak berantakan. "Mas Bening,,," seru Putri di ruang tengah. "Iya Put, ada apa?" jawabku dari dalam kamar. "Oh, kirain rumah sepi. Mas Angga ada,,,?" "Belum pulang Put. Tadi juga nggak pamit sama aku waktu disekolah" "Ah, mas Angga kebiasaan lamanya kumat. Kamu sudah makan mas Bening?" "Sudah Put, tadi" "O, ya sudah" tak terdengar lagi suara Putri, mungkin kekamar nya dan bebersih karena seharian belajar, mungkin ikut ekstrakurikuler atau les tambahan. Entahlah, aku tidak tau kegiatan Putri disekolahnya. Cukup lama ada jeda, aku masih asik didalam kamar saja,,, Aku tak ingin Putri tau mengenai luka lukaku... "Mas Bening, tadi ibu bilang kalau pakde Sam bude nggak pulang. Mama suruh memberitahu ke kamu" suara Putri terdengar lagi setelah tadi menjeda cukup lama. Menggema diruang tengah. "Iya Put. Aku tau, tadi ibuku juga- SMS aku" ucapku melihat keadaan Terlebih, aku hampir keceplosan. Untung kata yang terakhir ku ucapkan dengan lirih sehingga tak begitu kedengaran. Mudah mudahan Putri tidak mendengar kalimat tetakhirku. "Lha mas kok tau, darimana-?" "Duga aja Put" potongku dengan cepat karena aku tak ingin dicurigai. Putri tidak membahas lagi, aku jadi lega dan tak berani keluar. Mudah mudahan besok lukaku lekas membaik dan semoga Putri tidak mengetahuinya hingga aku sembuh. Mungkin butuh waktu tiga sampai tujuh hari baru pulih. Bagaimana aku menyembunyikan luka ini pada mereka? Apa yang harus ku lakukan?. Ya Alloh tolong hamba-MU. Sungguh aku dilema. Aku tau kalau Angga itu tau apa yang terjadi denganku, karena Angga berada dibelakang semua kejadian yang ku alami. Namun, aku tidak punya rasa sakit pada saudaraku itu karena aku tau kalau Angga itu hanya dimanfaatkan oleh Riko the gank. Entah berapa jumlah anggota ganknya Riko itu, siapa Riko itu sebenarnya, hingga sikapnya semena mena bahkan arogan terhadap yang lainnya, terlebih terhadap anak yang notabenya MISKIN sepertiku. Aku tidak tau pasti siapa lagi dari anak anak miskin yang lainnya yang jadi bully-an mereka disekolah elite ini. Yang penting untuk malam ini aku bisa beristirahat dengan tenang, begitupun untuk besok karena hari Minggu aku bisa istirahat dengan puas. ______________ Kembali rumah terasa sepi ketika aku bangun subuh ketika ku dengar adzan... Rasanya aku tak bisa memejamkan mata lagi, karena memang sudah kebiasaan ku. Lukaku rasanya sudah agak mendingan, nyeri yang kurasakan juga tidak terlalu, aku malas malasan untuk keluar dari kamar. Ku lihat hpku ada notif SMS, itu dari ibuku yang memberikan kabar dalam keadaannya baik baik begitupun ayahku yang kini sedang istirahat. Ibuku juga menanyakan keadaanku,,, Aku balas kalau keadaanku juga baik baik saja, tapi ibuku seperti tidak percaya karena merasa kalau keadaanku tidak dalam keadaan baik baik saja, tapi aku berusaha untuk menyakinkannya. Padahal hatiku rasanya, begitu perih. Aku harus tegar menghadapi semua kejadian yang menderaku. Tak terasa hatiku sedih, tak terasa pula air mataku bergulir perlahan deras. Aku begitu larut dalam kesedihan. "Mas Bening kenapa menangis?" tanpa ku sadari Angga berada didekatku, menatapku agak curiga. Aku sangat kaget dengan kehadiran Angga yang tiba tiba. Karena aku begitu larut dalam lamunanku yang panjang tanpa menyadari kehadiran Angga didekatku. Entah sejak kapan Angga telah datang, karena rumah ini terasa begitu sepi. "Kapan kamu datangnya, Ga?" tanyaku memastikan. Buru buru ku hapus air mataku yang bergulir dengan punggung tanganku. Berusaha untuk tegar dihadapan Angga sambil ku berusaha untuk tersenyum walaupun sedikit ku paksakan. Aku tau kalau mataku pasti agak sembab, karena dari kemarin aku selalu menangis. Untung aku tidak berlaku sembrono, aku sudah menyembunyikan hpku supaya Angga tidak mengetahuinya. Aku juga telah mengecamnya hingga full karena setelah dapat SMS dari ibuku dan juga notif nomor baru dari Rreindra , ku save, aku pun langsung meng-non-aktifkan hpku. Angga terlihat biasa saja, menghela nafas ringan didepanku bahkan terlihat cuek sekalipun ada perhatian. Seperti empati dengan keadaanku ketika aku sedang bersedih. Aku pun rasanya tak ingin mengatakan tentang keadaanku yang tidak dalam keadaan baik. Karena aku tau kalau Angga pasti telah tau sebelum ini terjadi. Ku Hela nafas berat, perlahan. "Inikan kamarku mas, jadi nggak perlu mengetuk pintu" terangnya. "Se- enggaknya beri salam Ga, itu adap ketika kita masuk rumah ataupun masuk kamar, sekalipun tidak ada orangnya" jelasku. "Iya mas, maaf!" Hanya ucapan maaf yang dikatakan dengan sikap cuek. Kini, Angga nampak menatapku dengan seksama seakan kaget melihat kearah. "Mas kenapa?" tanya Angga seakan tidak tau apa yang terjadi padaku. Benarkah Angga memang tidak tau sama sekali apa yang ku alami. Ku tatap penuh keheranan??? Mulut Angga terlihat mau mengucap, namun diurungkan seperti ragu... #bersambung guys... Di ingatkan untuk like/votenya biar semangat buat nulis dan lanjutin cerita abal Abal ini..... Komen ya jangan pelit buat tinggalkan jejak. Sampai ketemu lagi... RB 2 feb 2022
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN