tujuh

2264 Kata
Keadaanku jauh lebih baik. Luka yang disebabkan karena diserempet mobil milik Riko hingga membuatku terjatuh membuat luka luka sudah agak sembuh. Aku tidak ingin jika nanti orang tuaku tau kalau aku terluka semuanya bisa runyam. Hingga Senin pagi pun mereka tak ada yang datang, aku bisa bernafas lega karena keadaanku. Keadaanku berangsur sembuh dan pulih. Sikap Angga yang terkadang berubah ubah membuatku tak mengerti tapi aku coba untuk bersikap biasa kepadanya. Seperti ketika malam sebelum tidur, aku menceritakan semua kejadian yang ku alami pada Angga. Ada rasa penyesalan saat ku akhiri ceritaku tapi responsnya tak ada sama sekali, tak ada empati secuil pun atas apa yang ku alami. Namun saat aku mulai tidur disaat itu ku rasakan Angga memelukku dengan hangat, aku yang biasa dipeluknya pun merasa nyaman. Terkadang aku dibuat heran dengan sikapnya. Aku pun berangkat sekolah bersamanya dengan naik becak karena masih ku rasakan sedikit nyeri. Bibirku sudah tidak bengkak lagi terlebih lukanya sudah mengering sekali agak nyeri sedikit ketika aku gerakan. Makanya aku memilih untuk diam dari mulai berang hingga sampai ke sekolah. Putri pun masih tidak tau tentang keadaanku yang sesungguhnya karena aku berusaha menghindari kontak dengannya, alasannya yaitu supaya tidak tanya mengenai apa yang ku alami. Karena selama ini Putri juga tidak perduli dengan keadaanku walaupun aku saudaranya mungkin karena kesibukan yang dijalaninya sehingga tidak perduli dengan keadaan sekelilingnya. Putri itu baik dan pengertian, tapi karena jarang interaksi saja jadi belum terbiasa karena terlalu sibuk dengan pelajaran. Keadaan sekolah agak sepi... Saat memasuki kelas aku tidak berani masuk dulu kedalam kelas, takutnya nanti kejadian kemarin menimpaku terulang lagi. Aku nitip ke Angga tasku dimasukan kedalam kelas, aku memilih untuk diluar kelas. Hari ini, akan ada upacara bendera. Semua siswa kumpul dilapangan.... Upacara berjalan dengan lancar. Lagi lagi yang jadi komandan upacara Riko. Aku salut dengannya karena selalu jadi yang pertama serta jadi idola disekolah elite ini. Tapi Raya, pacarnya juga sangat cantik, tak ada satu cewek pun yang berani mendekati Riko karena itu pacarnya. Usai upacara semua siswa bubar dan menuju kearah serta masuk kekelasnya masing masing. Rasa khawatir pasti ada, aku selalu berhati hati jika kejadian tak terduga menimpaku kembali. Sebisanya, aku selalu didekatnya Angga. Aku juga tak tau kejadian apa yang akan menimpaku. "Mas, aku mau ke toilet sebentar" terlihat Angga menahan sesuatu, seperti kebelet pipis padahal aku sudah di ambang pintu. Perasaanku kembali tidak tapi, rasa itu ku tepis. Aku tak ingin menduga jelek. Terlebih Riko dan Raya. Aku memasuk kelas dengan tenang dan hati hati... Syukurlah! Saat didalam aku bisa bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu. Aku juga melihat ada sebagian siswa yang ada didalamnya, mereka menatapku sinis. Aku tidak peduli... Namun tetap perasaanku tidak enak, ada sesuatu yang mengganjal, entah mengapa aku merasakan hal itu. Tapi entah apa? Karena aku tak ingin berburuk sangka, sekalipun banyak kejadian buruk yang menimpaku. "Kamseumpay!" "Jiah, gembel dateng!" "Miskin, kismin!" "Kok ada aroma nggak sedap ya,,," "Ha ha haa!" "s****h,,,,!" teriak mereka berbarengan. Seluruh kelas langsung riuh. Aku hanya bisa tertunduk lesu. Memilih untuk diam. Tapi, aku harus kuat. Akan ku buktikan sekalipun aku miskin tapi, aku bisa berprestasi dan mengalahkan mereka. Ku buat bantalan tanganku, tak ingin melihat sekitar, rasanya aku malas melihat wajah mereka yang mencibirku dan menghinaku. "Ya Alloh" desahku berat. Ku pejamkan mataku rapat. Suasana yang riuh mendadak reda, sunyi. Thookkkk....? Ada sesuatu yang mengenai kepalaku, agak basah, agak lengket, aromanya tidak sedap. Busuk malah. Telur busuk!? Kembali ada sesuatu yang mengenai kepalaku sekitar lima butir saat ku tengadahkan kepalaku yang tadi tertunduk. Ku lihat Riko tersenyum sinis kearahku. Senyum kemenangan atas apa yang ku alami. "Ha ha haaaaaaa,,, duh duh,,, gembel, dasar s****h. Sukurin!" cibirnya penuh ejekan. Matanya melotot kearahku. "Huh huhhhhh,,,," kembali dalam kelas menjadi gaduh karena sedang menyorakiku yang teraniaya. Aku berdiri, inginnya akan membersihkan diriku karena baunya sangat menusuk dan sebagian telah mengenai seragamku. "Oh, Lo marah!" bentak Riko melotot kearahku. "Hajar aja boss!" "Betul tuh" Mereka malah jadi provokasi supaya Riko makin menindasku. "Gue eneg liat mukanya" hardik Raya mendekat kearahku sambil memencet hidungnya karena aroma dariku yang tidak sedap. Cplokkkkk... Satu butir telur busuk mengenai wajahku, padahal niatku akan berlalu tapi dihalangi oleh Riko dengan tawa mengejek. Aku berusaha untuk tenang atas tindakan mereka yang keterlaluan. Ulah mereka sudah arogan dengan apa yang mereka lakukan padaku. Sebisanya aku ingin menjauhi mereka, sedikit lari kecil, ketika melewati Riko, tubuhku oleh karena kakiku tersangkut membuatku tersungkur dilantai. Tanganku yang menahan jatuh serasa nyeri, terkilir membuat meringis menahan sakit yang menderaku. Secepatnya aku bangkit, menatap tajam kearah ke arah Riko yang membuatku jatuh. "Apa? Lo nggak terima? Lemah!" oloknya menyirami sinis. Sebisanya ku tahan air mataku yang menggenang. Pantang bagiku untuk menangis didepan mereka. "Hhhuuuuhhhhhh,,,,!!!" Teriakan seluruh siswa didalam kelas begitu gaduh. Hinaan, cercaan membuat suasana makin ribut. "Hajar Boss!" "Gembel" "s****h, bauk!" "Kismin!" "Kampungan!" "Norak!" Semuanya menyorakiku dengan tawa dan senyum yang mengejek. Setelah berada diluar kelas aku berlari kearah toilet sekolah tanpa ku pedulikan sekelilingku yang memandang ku heran sekaligus jijik ketika aroma dariku menguar membuat mereka langsung mengumpat tidak jelas. "Ya Alloh!" setengah ku pejamkan mataku menuju ke toilet. Disini wcnya khusus. Makanya tidak ada yang bisa bertemu antara cewek sama cowok karena ada sangsi. Tapi, tetap saja bagi siswa yang bandel tetap melanggar peraturan sekolah buat. Sepuas puasnya aku menangis sambil ku pejamkan mataku sembari ku guyur tubuhku yang aromanya tidak sedang. Hingga basah kuyup oleh air. Aku tau jika jam pertama sampai istirahat aku tidak mengikuti pelajaran, jika sampai tiga kali berturut turut maka aku akan kena sangsi dan dipanggil guru BK. Aku semakin sedih jika mengingat hal itu, tanpa apa yang bisa ku lakukan karena tak ada yang membelaku sekalipun itu Angga saudaraku sendiri. Setelah bersih aku pun keluar dari toilet dan rasanya terasa sepi. Tak ada seorangpun disini karena jam pelajaran, dan juga untuk toilet guru juga beda, ada sendiri. Aku memilih untuk datang ke mushola sekolah untuk menenangkan diri, karena hanya itu tempat yang paling tepat buatku. Air mataku masih bercucuran, entah pada siapa aku harus mengadu tentang keluh kesah yang ku alami saat ini. Aku berada diluar mushola karena keadaanku belum kering, masih lembab. Tetap saja keadaan sepi tak ada satupun yang lewat karena disini selain disiplin juga ketat, hanya waktu istirahat saja yang tidak ketat sehingga ada siswa yang melanggar peraturan seperti Riko the gank yang sering ke gudang sekolah melakukan tidak kriminal. Aku hanya duduk termenung, akupun ingat dengan tas sekolahku yang ku tinggal, biasanya aku tidak lupa membawanya. Perasaanku makin kalut serta tidak enak, jika mereka sampai melihat dalam isinya serta merusak barang barangku maka aku tidak bisa bayangkan apa yang ku alami nanti. Kembali air mataku luruh... "Ya Alloh, apa yang harus aku lakukan? Tolonglah hamba-MU" rintihku dalam duka dan tangis serta kepedihan yang kurasakan. Rasanya, waktu yang ku tunggu berjalan melambat, aku malu jikapun aku harus masuk kelas walaupun pakaianku mulai mengering karena terpaan angin. "Kak Bening yang kuat. Kakak harus tegar" ku ingat pesan Rreindra ketika ku menjadi lemah. Ada benarnya pesan Rreindra kalau aku tak boleh menyerah dengan keadaanku. Lebih baik aku menenangkan diri... ______________ Bel masuk telah berbunyi, akupun bergegas untuk masuk ke kelasku kembali untuk mengikuti pelajaran selanjutnya... Keadaan kelas menjadi hening karena jam pelajaran hari ini MTK, aku tidak takut dengan mapel apapun. Aku tau rata rata anak dikelas A ini banyak ketar ketir walaupun mereka murid pilihan rata rata mereka lemah dipelajaran satu ini, karena selain gurunya yang killer juga tidak segan untuk membentak bagi murid yang membuat kesalahan ketika disuruh maju untuk mengisi jawaban yang ditulis oleh sang guru. Suasana seperti horor ... Aku bersikap tenang menghadapi guru yang killer seperti pak Dwi Setiawan. "Tadi kamu kemana, Bening?" tanya pak Dwi melotot kearah dengan garang mirip Riko ketika membullyku. Aku harus menjawab apa pada beliau karena tadi aku dikerjai habis habisan oleh mereka. Air mataku menggenang, tapi hatiku ingin jujur namun pada kenyataannya aku bingung sendiri harus menjawab apa? "Kamu b***k ya. Kamu darimana tadi tidak mengikuti pelajaran saya. Apa kamu merasa sok pinter sehingga tidak mengikuti pelajaran saya. Apa perlu saya laporkan ke guru BK?" serunya tertahan sepertinya menahan luapan emosi tapi ditahan. "Saya tidak akan mengulas pelajaran yang tadi saya ajarkan" tambahnya lagi, emosinya masih standar menatapku tajam. "M-maaf, pak!" ucapku dengan terbata, tanpa terasa air mataku lolos. Aku tidak ingin belas kasihan dari beliau. Untuk jujurpun rasanya aku tidak sanggup karena jika pun aku jujur belum tentu pak Dwi akan mempercayaiku. "Kenapa menangis? Apa kamu kira dengan menangis semua masalah bisa terselesaikan?" tandasnya terlihat emosi, matanya melotot kearahku membuatku tertunduk. "Oke, sebagai hukumannya kamu kerjakan soal halaman 20 sebanyak 20 soal dalam waktu 15 menit, sekarang!" bentak pak Dwi padaku. Tidak banyak bicara aku pun membuka halaman yang disuruh pak Dwi langsung ku buka buku ulangan harianku. Langsung ku kerjakan sambil melihat jam dinding. Tak ada rasa khawatir maupun dag dig dug karena semalam aku juga masih sempat belajari, mempelajari soal yang kini sedang ku kerjakan. Karena aku sudah memperkirakan. "Untuk yang lainnya, kerjakan untuk lima soal" titahnya, tersirat emosi tapi sudah agak mereda. Menatap kearah satu persatu semua murid yang kini sibuk, sedang mengerjakan tugas dari pak Dwi. Menurutku waktu begitu cepat tidak seperti saat aku berada di mushola seakan melambat. Karena saat itu sambil ku urut kakiku yang terkilir dan kini sudah enakan. Jadi kakiku tidak nyeri lagi. Karena selama aku di mushola hanya mijitin kaki yang terkilir. Lamunanku pudar dan kini aku berhadapan dengan kenyataan. Sepuluh menit aku pun telah menyelesaikan tugas dari pak Dwi. Kini, aku baru kepikiran saat tadi aku khawatir pada tasku jika ada yang jail ataupun membuatnya rusak terlebih isi tasku membuatku lega. Akupun maju memberikan tugasku pada pak Dwi yang telah ku selesaikan bahkan tidak sampai pada waktu yang telah ditetapkaj sedangkan yang lainnya tidak ada batasan waktunya. Akupun menyerahkan pada pak Dwi tugasku, ketika aku akan undur diri pak Dwi mencegahku. "Tunggu!" Membuatku terhenti dan berhenti ditempatku, tapi aku agak menyisih karena menghormati beliau sebagai guruku yang memang harus ku hormati walaupun sikapnya sering tak mengenakan. Tapi, itu sebagai pecut buatku supaya aku giat belajar lagi. "Hhhmmmm,,," ada gumaman dari pak Dwi setelah memeriksan hasil tugasku. Ada senyum mengembang dari bibir maronnya. Menatapku dengan bangga. "Darimana kamu belajar. Semuanya benar, Bening" terangnya membuatku lega karena soal yang ku kerjakan tidak ada yang salah. Namun, saat akan ku jawab Riko datang mendekat serta memberikan tugas nya pada pak Dwi. "Pak ini sudah punya saya" ucapnya sambil menyodorkan tugasnya. Respon dari pak Dwi sungguh berbeda dengan respon padaku. Ada senyum merekah ketimbang saat menghadapi ku. Pak Dwi menerimanya dengan senang bahkan tidak memeriksanya bahkan lebih fokus untuk memilih menatap kearah Riko yang sangat dekat. Terlihat begitu mengagumi seperti sekarang kekasih membuatku heran. Aku tidak mengerti dengan sikap pak Dwi menatap kearah Riko membuatku jadi tak enak sendiri. "Pak saya undur diri" pamitku karena aku tidak enak dengan mereka yang lagi ngobrol. Sepertinya Riko terlihat biasa bahkan tak hormat sama sekali, aku bisa melihat hal itu. Pak Dwi hanya mengangguk tanpa menatapku, cuek. Tapi, aku bernafas lega, setidaknya nilaiku tidak jelek. Paling tidak aku mengerjakan tugas sebaik mungkin. Untuk itu aku harus giat belajar karena aku takut jika terjadi hal yang tidak terduga seperti tadi pagi. Aku tau, kalau mereka akan menghancurkanku terlebih lagi nilaiku supaya jadi jeblok/jelek. Selang beberapa saat Riko kembali ketempatnya. Angga cuma diam saja, bahkan tidak berani meminta contoh padaku, padahal aku sendiri merasa kasihan tapi mengingat dia begitu cuek, rasanya aku nggak sanggup untuk ngasih contekan, mendingan aku beritahu supaya Angga mencatatnya, karena wajahnya bingung juga terlihat khawatir karena sebentar lagi pelajaran MTK akan berakhir terlihat Angga menatap jam dinding sambil menarik nafas berat. Yang lain juga pada ngumpul, kasihan sekali Angga karena lima soal masih dijawabnya tiga, keringat mukanya terlihat bisa dipastikan kalau tidak selesai tepat waktu pasti kena hukuman dari pak Dwi. "Mas Bening ajari dong" rajuknya dengan ucapan lembut memohon. Luluh sudah aku rasanya melihat mukanya yang terlihat sendu. Aku sendiri tak tega melihatnya. "Ya udah, kamu tulis, cepat. Tak akan ku ulangi, jadi denger baik baik dan catet" bisikku didekatnya. Tidak butuh waktu lama Angga selesai dan tersenyum lega. Aku memilih untuk diam dan membiarkannya saja. Kemudian maju, dan ku lihat didepan Angga dapat komenan dari pak Dwi yang sedang nyinyir, Bu Rara saja tidak seperti beliau. Sudahlah, yang terpenting aku aman serta mengikuti pelajaran dengan baik. Akhirnya seluruh pelajaran usai, semua siswa berebutan buat keluar kelas. Seluruh siswa berkumpul dilapangan karena akan ada pengumuman penting. Setelah selesai dari lapangan kami pun bubaran dan pulang kerumah masing masing. Tidak perlu aku ceritakan karena isi dari pemberitahuannya membuatku senang sekaligus sedih. Aku tidak tau kemana Angga pergi, karena saat dilapangan aku tidak bersamanya. Sepertinya Angga enggan menemuiku. Rasa sedih pasti ada karena Angga seakan tidak peduli, aku tidak tau apa ada dipikirannya. Pikiranku berkecamuk. Saat aku dalam kekalutan pikiranku ku dengar suara klakson mobil begitu nyaring memekak telinga dipencet berulang. Aku yang berada di trotoar berhenti dan melihat siapa yang mengklakson begitu kencang. Pintu mobil dibuka, nongol wajah Raya tersenyum licik... "Ini hadiah dari gue, buat Lo?" Aku tidak tau apa maksud Raya mengenai hadiah yang akan diberikannya padaku. Secepatnya tangan Raya mengambil sesuatu dari dalam, entah apa itu? Aku masih mematung ditempatku. Kemudian sesuatu dilempar kearahku. Aku terkejut bukan main setelah mengenaiku, terutama pakaianku???? #bersambung guysss... Diingatkan buat tinggalin jejak votenya, makasih... He he he..... _______________ Tolong ya buat readersku yg baca story' ku ini. Kekurangannya apa dalam tulisanku ini. Baik tulisan, plot maupun alur cerita ataupun isi ceritanya. Supaya aku bisa memperbaikinya. Ditunggu komennya ya, juga vote/like supaya lebih semangat lagi terutama buat update secepatnya. Thanks... I love you all, emuachhhh....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN