delapan

2817 Kata
Terlihat jelas senyum piciknya kala menatapku, Raya.... Dibelakangnya juga ada mobil mewah yang mengikutinya, ku yakin kalau itu mobil cowoknya Riko. Kenapa mereka tidak lelah mengerjai ku. Terlebih kini pakaian putihku kena cat permanen. Air mataku berderai saat ku cuci ... Ketika aku datang rumah nampak lengang, karena belum ada yang pulang sehingga aku bisa menangis bebas mencurahkan perasaanku yang nelangsa. "Ya Alloh, apa kesalahan yang ku buat hingga Engkau memberiku cobaan seperti ini. Apa salah apa aku pada mereka hingga mereka begitu tega memperlakukan ku semena mena" rintihku dalam tangis. Ku biarkan air mataku terus berderai, mungkin dengan ini perasaanku bisa plong. Cukup lama aku menangis hingga membuatku lelah... Noda yang mengenai pakaianku tidak juga hilang padahal aku sudah memberinya pemutih. Ya Alloh! Rintihku dalam hati. Aku mandi dulu karena aku sampai kelupaan buat sembahyang. Rasanya perasaanku kini kembali tenang. Selesai berdoa serta memaafkan perbuatan mereka yang membullyku. Alhamdulillah... Ku ingat kembali pakaianku, aku berusaha menghilangkannya walaupun rasanya percuma saja, seakan cat ini sangat bandel. Hanya 40% saja yang bisa ku hilangkan. Besok aku harus pakai apa? Itu satu satu nya seragam putih yang ku punya, mau meminta ibu, belum tentu ibu ada uang. Uang tabunganku buat beli rasanya sayang karena aku ingin beli hp android yang bagus. Dilema. Kembali air mataku menggenang, hingga tak terasa luruh. Aku harus kuat. Biarlah, aku beli yang baru dari pada aku nanti pakai ini bisa kena marah sama guru lebih baik aku merelakan uang tabunganku buat beli seragam. Dengan nafas sesak dan berat. Ku lupakan hal buruk yang menimpaku, aku berharap besok akan lebih baik. __________ Aku duduk diruang tengah sambil ku nyala kipas angin mode slow sambil belajar membaca buku karena aku tak ingin nilaiku jelek terlebih lagi akan di adakan mid semester juga semester ganjil. Tentu akan banyak tugas ulangan dari setiap mata pelajaran. Makanya aku tidak boleh berleha leha, aku harus giat belajar supaya beasiswa ku tidak dicabut karena prestasiku menurun. Aku tidak ingin hal itu terjadi, selain aku malu pada orang tuaku aku juga kasihan pada beliau beliau yang bekerja keras demi membiayaiku sekolah. Putri datang dengan wajah lelah dan kelihatan capek. Aku tidak tau apa prestasi Putri, apakah dia rangking dikelas atau biasa saja. Karena aku tidak pernah tau Putri itu pintar atau tidak karena setiap hari selalu ada jadwal buat les. "Put, baru pulang" sapaku karena aku tak ingin suasana kaku. "Iya mas, capek banget mana ada pr MTK lagi. Susah susah lagi" rutuknya seakan kesal dengan tugas yang diterimanya. "Mas bisa ajari aku nggak?" tambahnya melihatku dengan senyum manisnya. Aku hanya mengangguk serta membalas senyumnya. "Coba ku lihat" Putri menyodorkan pr-nya padaku, aku pun memeriksa sambil ku perhatikan. Kini, aku baru mengerti dan paham. "Gimana mas Bening, susahkan?" Putri hanya tersenyum kecut. Aku hanya menggeleng serta tersenyum simpul. "Apanya yang susah Put, kalau belajarnya sungguh sungguh semua pelajaran tidak akan susah. Guru pasti sudah menjelaskan ya kan" ralatku karena aku tak ingin Putri tidak semangat dengan pelajarannya. "Tapi, aku sudah mencobanya mas, tapi tetep aja sulit. Mana pr-nya banyak banget, lagi" sungutnya makin kesal. Terlihat patah semangat. Aku hanya tersenyum saja mendengar keluh kesahnya ... Angga datang dengan wajah malas, bahkan duduknya agak menjauh. "Kebiasaan, nggak salam" sindirku. Angga cuma diam saja bahkan membuka bajunya karena tubuhnya keringatan. "Nggak semuanya kamu tidak bisa mengerjakannya Put?" tanyaku, karena menurutku ini soal mudah mudah. "Eleh Put, mas Bening aja suruh ngerjain. Beres" colot Angga, aku mendelik kearahnya dengan tatapan penuh ancaman. Sepertinya Angga mengerti dengan tatapanku. "Maaf!" katanya lirih sambil nyengir kuda. Hal itu membuatku lega, setidaknya Angga tidak membeberkan perihalku disekolah kepada Putri karena ku yakin Putri belum mengetahuinya. "Ah malas mas" keluh Putri ketika soalnya ku kembalikan. "Lha kan aku ajari Put" "Baiklah" Angga sedari tadi cuek, bahkan tidak peduli, lagian Angga juga lemah di pelajaran MTK. Setelah beberapa saat aku mengajarinya Putri nampak tersenyum puas. "Alhamdulillah!" puji syukurnya karena telah selesai mengerjakan pr-nya. "Gimana, Put. Bereskan. Ku bilang juga apa?" kini Angga bersuara sambil cengengesan. "Wah, mas Bening pinter banget. Makasih mas Bening. Nanti kalau ada pr aku minta ajarin mas Bening aja dari pada belajar kelompok. Dapatnya lelah dan capek, ujung ujungnya kayak orang begok" curhatnya seperti mengenang sesuatu. Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Put, kamu tau nggak dimana, disini yang jualan seragam sekolah, baju putih. Aku ingin beli" setelah ada jeda, membuat Putri menatapku heran. Pun dengan Angga juga terlihat heran. "Emang seragam putih mas Bening kenapa?" tanya Putri penasaran. Wajah Angga terlihat pucat, aku tidak tau apa yang terjadi padanya, sepertinya Angga tau sesuatu atau pun menyembunyikan suatu hal dariku. Entahlah?. Ku lirik Angga sekilas sembari ku tarik nafas ringan, kemudian ku lepas perlahan... "Ada apa mas?" Putri makin penasaran karena aku memilih untuk diam sejenak. Aku harus beralasan apa pada Putri?. "He hee,,, nggak ada apa apa Put. Aku ingin ganti aja karena bajuku sudah lama, jadi aku ngerasa nggak enak" balasku beralasan. Aku tau Putri pinter jadi agak berpikir. Angga memilih untuk diam sedari tadi jadi pendengar Budiman. Tapi dari rautnya menyiratkan sesuatu? "Oh, gitu ya. Yaudah nanti biar diantar sama mas Angga. Agak deket dari sini ada toko yang menjual baju baju seragam, komplit, harganya lumayan murah kok" jelas Putri tersenyum lembut, menatap kearah Angga sepertinya meminta pertolongan padanya untuk mengantarkan ku nanti. Ada desahan berat dari Angga seperti enggan. Tapi, sepertinya pasrah serta mengangguk saja. "He he gitu dong mas Angga. Makasih ya. Oiya, mas Bening makasih juga ya telah ngajari aku. Nanti temen temenku ku ajak kesini buat belajar bareng. Atau mas Bening les kami, nanti kami patungan buat mas Bening" "Terserah kamu aja Put" aku tak bisa nyegah rencana Putri belajar bareng temannya dirumah. "Beres, semuanya bisa diatur. Uangnya lumayan lho mas buat jajan. Karena mereka anak anak orang tajir" terangnya memberitahu kalau temanya belajar itu anak orang orang kaya. Aku berangan angan buat nanbung karena aku tak ingin diremehkan. Hal itu sekaligus membuatku geli, ternyata cari uang itu gampang kalau memang ada niatan. Semoga Putri membantuku untuk mencari uang dengan cara halal yaitu les teman teman mereka. _______________ Seusai magrib kami sekeluarga berkumpul... Begitupun ibuku, karena ayahku ada sif malam jadi, beliau tidak bisa pulang. Karena siangnya harus istirahat. Tentu saja aku bermanja manja dengan ibuku karena seharian tidak pulang begitu hari Minggu kemarin. "Nak, perasaan ibu dari kemarin tidak enak. Kamu tidak apa apa kan?" tanya ibu, menanyaiku tentang keadaanku selama dua hari tak bertemu. Sambil mengelus rambutku lembut. Aku hanya tersenyum... Menarik nafas ringan, aku menggeleng lemah. "Ibu nggak usah khawatir. Aku sudah besar, bisa jaga diri. Ibu lihat sendiri keadaanku kan" ku balut resahnya hatiku dengan senyuman, karena aku tau kalau hatiku rasanya perih. Aku tak ingin membuat ibuku sedih terlebih mengkhawatirkan keadaan. Jikapun ibuku tau, apa yang sesungguhnya terjadi. Mungkin ibuku tidak akan tersenyum lembut seperti ini. Derai air matanya mungkin akan habis melihat keadaanku yang sebenarnya terjadi dilingkungan sekolah. "Nak, kenapa ada bekas luka. Apa yang terjadi denganmu?" tanya ibu ku khawatir setelah melihat bekas luka dibibirku yang mulai sembuh. "Oh, ini. Kemarin aku kepikiran ibu, jadi tak sengaja bibirku kegigit. Ini sudah sembuh Bu" jelasku beralasan, karena aku akan menyimpan semua duka ini pada siapapun termasuk kedua orang tuaku. Aku dan ibuku ada diteras depan dikursi panjang, karena tadi didalam aku mengajak ibuku untuk ngobrol diluar saja karena tak enak jika ada paman dan bibiku serta Putri dan Angga yang menatapku. "Oh, kirain kamu kenapa napa, nak. Kamu disekolahnya gimana-?" Mulutku langsung kelu, ku telan ludah, rasanya kering. Aku harus menjelaskannya bagaimana? Selama ini pun keadaanku saat disekolah tidak baik baik saja, aku mendapat perlakuan tidak mengenak terutama dari teman sekelasku. "Alhamdulillah, bu. Temanku baik baik semuanya. Oiya Bu, hari Senin nanti akan di adakan mid semester dan dua Minggu akan diadakan semesteran. Mohon doanya semoga aku mendapat nilai baik" "Amin. Pasti nak, kamu orang tua akan mendoakan untuk yang terbaik buatmu. Agar supaya kamu dapat nilai terbaik. Bila mungkin dapat rangking" "Amin. Terima kasih atas doanya bu. Aku sayang ibu" aku pun bangkit, tak terasa air mataku bergulir tanpa ku rasa. Aku begitu terharu juga ada perasaan sedih yang begitu mendalam, mengingat keadaanku disekolah. "Kenapa kamu menangis nak-?" ibuku tercekat menatapku, terlihat ibuku sangat khawatir. Selama ini aku menutupi keadaanku dihadapan ibuku juga ayahku. Aku membohongi mereka berdua selama ini. Aku menutupi semua masalahku yang terjadi. "Aku terharu Bu. Terlebih dengan perjuangan ibu dan ayah demi untuk membiayaiku sekolah. Aku akan giat belajar. Aku tidak akan mengecewakan ibu dan ayah" sekuat tenaga aku menahan isakku juga air mataku. Walaupun rasanya hatiku pedih dan tercabik pilu. Semuanya ku pendam rapat rapat dalam paling hatiku yang paling dalam. "Bu, aku mau istirahat. Aku sudah ngantuk" pamitku, dibalas dengan anggukan serta senyum tulus dari ibuku serta mengikutiku dibelakangku. ____________ Aku bangun subuh serta ikut berjamaah dimushola dekat rumah. Ku sempatkan untuk belajar hingga nanti waktunya sarapan lalu berangkat ke sekolah. Jam enam ku bangunkan Angga yang masih enak enakan molor, dasar kebo, kebiasaan. Jarang sholat, jika disuruh macam macam alasannya membuatku bingung dan memilih untuk diam. "Ga bangun, Ga. Sudah jam enam lebih tuh" ku sentuh pundaknya serta ku goyangkan untuk membangunkannya. Angga yang cuma memakai kolor ketika tidur cuma menggeliat serta ada yang lain mode morning ketika aku bangunin. Aku hanya melihatnya sekilas. Itu saja membuatku deg degan tak karuan. Hingga aku harus mengatur nafasku yang tak karuan. Aku sadar kalau Angga saudara, aku tidak ada rasa sama sekali. Tapi, kalau tiap pagi hari selalu disuguhi seperti ini aku bisa khilaf. Gemas juga aku dibuatnya saat ku bangunkan Angga responnya biasa saja. "Huhhh,,, masih ngantuk nih, mas" rutuknya masih terpejam matanya. "Ya sudah" aku hanya menyerah karena aku juga kurang srek dengannya terlebih dengan sikapnya akhir akhir ini berubah. Aku pun memakai baju baru yang kemarin sore ku beli bersama Angga, aku juga tidak memberitahu ibuku mengenai ini. Ku rahasiakan saja. Memang cukup miring harganya, semuanya komplit disana. Aku sudah rapi, dan mempersiapkan diri nanti buat berangkat karena aku harus sarapan dulu. Uang yang kemarin dikasih ibuku masih ku simpan tidak aku gunakan sama sekali, aku membeli baju itu dari uang tabunganku sebagian dari pemberian pak Wahyu ketika aku menang lomba lari. Aku pun keluar kamar dengan bersiap membawa tas untuk sarapan pagi bersama. Sudah ada Putri yang terlihat begitu sumringah keluar kamar dan optimis karena prnya kemarin ku bantu, dan Putri janji akan membawa teman temannya untuk belajar disini, serta akan memberi imbalan jika aku mau less mereka. Aku pun menyanggupinya dengan senang hati. "Lho mas Angga mana mas Bening. Ini udah siang nih" tanya Putri sedikit jengkel karena Angga pasti sulit dibanguni bukan kesal terhadapku. Aku hanya mengendikkan bahu... "Sudah ku coba bangunin berkali kali Put, tapi tetep nggak mau bangun" jelasku mengenai apa yang ku lakukan karena Angga sulit dibangunkan, lagian aku juga lagi badmood pada Angga karena sikapnya. Paman terlihat bersungut mau marah, begitupun bibi langsung teriak dipagi hari yang sejuk. "Angga bangun. Kamu mau telat sekolahnya. Ampun bandel banget kamu ya, dibungin sama Bening malah asik molor. Kamu mau jadi bodoh karena nggak sekolah" seru bibi menggema. Aku yakin kalau Angga pasti gugup karena jamnya sudah lewat. Kami makan bersama tanpa Angga, karena telat. Aku dan Putri pamitan buat berangkat duluan. Ku lihat Angga terengah engah keluar kamar belum rapi, aku hanya tersenyum melihatnya yang sedikit berantakan. Tapi, bukanya Angga yang tak punya akal buat ngelabuhi paman dan bibi karena Angga disekolah selalu di traktir temannya. Aku tau itu, tapi aku tak memberitahu hal itu pada siapapun. Angga berlari menyusulku dengan nafas tersendat, coba untuk mengaturnya sambil bersungut. "Ih, mas Bening jahat banget, nggak banguni aku sih" "Heh, kan udah ku banguni, kamunya aja yang males buat bangun. Bahkan dari subuh. Berapa aku banguni kamu, tapi responmu itu kayak apa. Kini malah nyalahin aku lagi. Kamu maunya apa?" Aku agak jengkel dibuatnya. "Mas marah sama aku" "Nggak" "Lha kok emosi gitu" "Ga, nggak ada gunanya. Kamu itu saudaraku. Entah kamu, menganggap ku saudara apa tidak, atau hanya pemanis bibir" Aku pun berlari secepatnya menjauh dari Angga karena aku tak ingin berdebat lagi, karena percuma aku debat dengan Angga karena tanggapannya akan berbeda. Tadi, nafas Angga sudah agak tenang, kini mengejar ku karena aku telat karena resikonya tidak akan diijinin buat masuk ke lingkungan sekolah itu konsekuensinya jika terlambat masuk ke sekolah, sangat disiplin sekali, sekalipun lebih semenit tidak ada toleransi untuk dibukakan gerbangnya oleh securiti. Tapi entah jika orang kaya, apa dapat perlakuan istimewa, karena setahuku baik Riko atau pun Raya tidak pernah terlambat. Bahkan lima menit sebelum masuk sudah berada dilingkungan sekolah. Time-ing begitu tepat. Aku juga tidak tau mengenai keadaan Riko ataupun Raya, sekaya apa orang tua mereka? Aku juga tidak ingin mengetahuinya, aku berharap jika mereka tidak pernah ku temui dalam kehidupanku, baik sekarang maupun nanti, kelak di Akhirat. Berpikir apa aku coba? Aku malah melamun kemana mana hingga tak terasa aku berada didepan gerbang sekolah. Betapa aku shock karena gerbang sudah ditutup padahal jelas-jelas aku belum terlambat, tapi kenapa gerbang ditutup. Ada masalah apa lagi ini?. Angga yang berada dibelakangku juga bingung bahkan tidak sedikit para siswa yang berada diluar gerbang juga keheranan. Ku lihat dibalik gerbang ada Riko yang tersenyum penuh ejekan. Semuanya tentu juga terkejut dibuatnya, bahkan ada yang memaki maki, tapi tak digubris oleh Riko. Dengan senyum licik, Riko menatap kearah luar gerbang... "Jika kalian ingin masuk, maka kalian harus bayar denda sebesar dua ratus ribu. Itu persyaratan dari gue kalau kalian ingin masuk, termasuk Lo Bening!" tunjuknya dengan angkuhnya. Dia pikir ini sekolah punya bapaknya apa? Heran deh aku dengan sikapnya yang arogan, sok kuasa. 'Mati aku, ya Alloh. Bukankah aku sudah dua kali tidak mengikuti pelajaran, jika sampai tiga kali maka aku akan dipanggil guru BK?' rintihku dalam hati, sedangkan yang lain mungkin belum pernah ngelakuin kesalahan sebanyak yang alami. Bagaimana ini, ya Alloh? Satu persatu para siswa membentuk barisan, tentu saja aku cuma menepi, serta ditatap tajam serta sinis oleh Riko bahkan ada Raya disampingnya dengan senyum mengejek. Terlebih seminggu lagi akan di adakan mid semester lagi. Aku makin dibuat dilema terlebih kini siswa yang tadi diluar sebagian sudah masuk. Mereka juga membayar harga yang telah ditentukan bahkan pak satpam pun tidak bisa berbuat apa apa. Aku makin tak mengerti dengan sikap pak satpam yang hanya diam saja tanpa ambil tindakan. Hatiku sudah sedih terlebih aku tidak membawa uang, bahkan Angga tadi disuruh maju tanpa membayar sepeserpun hingga membuat yang lain pada misuh misuh tak jelas kepada Riko. Namun, Riko mana peduli. Padahal diluar tadi kisaran ada anak 50 lebih, aku bisa tau banyak berapa jumlah uang yang didapat oleh Riko the gank. Tinggallah ku sendiri diluar, Riko menatapku sinis.... "Heh, gembel miskin, Lo punya uang nggak buat Banyar, supaya elo bisa masuk" "Kalau gue nggak yakin sih, soalnya muka Lo tuh, rada rada horor gitu. Lo pasti nggak punya uangkan? Lo aja sekolah disini cuma ngandelin beasiswa. Kasian kasian b-g-t" ejek Raya yang kata kata terakhir di ejanya sambil menatapku dengan senyum piciknya. Bagiku dua ratus ribu sangat banyak, dan itu cuma dikasih cuma cuma ke Riko. Tidak, tidak,,,, ini sudah kelewatan. Tapi, apa yang harus ku lakukan? Melawan Riko the gank sama saja menggali kuburan ku sendiri. Angga tak mungkin menolongku, itu sangat bersiko. Angga cari aman. Aku menjelepok didepan gerbang dengan menangis sesenggukan. Tin tin tin..... Suara klakson motor terdengar, aku melihat siapa pengendaranya. Ada senyum ramah bahkan tersenyum lembut, guru olah raga tampan dan gagah. Langsung ku usut air mataku. "Nak Bening, kenapa tidak masuk?" tanya pak Surya menatapku serius. Aku menggeleng lemah. Setelah ku perhatikan gerbang sudah terbuka serta Riko the gank sudah tidak ada, sementara pak satpam berdiri sigap didekat gerbang terbuka sambil tersenyum ramah bahkan padaku, padahal tadi senyum pun tidak. "Mari ikut saya" ajak pak Surya, ketika aku dilanda kebingungan karena jejak buktinya tidak ada. Mereka bermain rapi. Bekas air mataku pasti masih ada membuat pak Surya mendesah lirih. "Terima kasih pak, saya permisi duluan" pamitku tertunduk takjim. Pak satpam tak dapat mencegahku untuk masuk, sepertinya segan sekali dengan pak Surya yang terlihat berwibawa bahkan para siswa tidak berkutik berhadapan dengan beliau. Ada seulas senyum dari pak Surya saat aku pamitan serta mengangguk. Secepatnya aku berlari menuju ke kelasku aku takut jika pintunya ditutup karena terlambat masuk. Benar saja dugaanku kalau pintu sudah tertutup dari dalam. Aku pun mengetuknya berharap agar dibuka pintunya supaya aku ikut belajar. Tetapi tak ada respon dari dalam, sepertinya hari ini aku harus mendapat hukuman. Paling tidak aku dapat teguran keras dari guru BK. Dari luarpun tidak terdengar, lemas sudah tubuhku rasanya karena aku harus menunggu sampai jam istirahat barulah dibuka pintunya. Lagi dan lagi aku menangis sedih karena aku tidak dapat mengikuti pelajaran. Mungkin hal ku takutkan ada benarnya jika aku nanti akan kena tegur keras dari guru BK. Aku sendiri belum mengenalnya. Aku seperti tinggal menunggu di eksekusi??? #bersambung.... Sen 7 feb 2022 ___________ Nb: Maaf jika ceritanya terlalu banyak narasinya, lebay, atau terlalu mendramalisir. Jangan lupa tinggalkan jejak like/vote dan komen sebagai penyemat buat up. Thanks....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN