Benar dugaanku kalau aku kena sanksi.
Aku tidak tau hukuman apa yang akan diberikan nantinya padaku.
Ku dengar dari pengeras suara aku dipanggil ke kantor segera.
Tentu saja para siswa yang berpas pasan denganku mencibirku, mereka begitu tidak suka karena mereka sudah tau tentang statusku seperti apa.
Dengan tergesa dan berdebar aku pun menuju kearah panggilan suara berasal dan itu dari kantor sekolah membuatku sedikit ngos ngosan serta berkeringat.
Sampailah aku ke kantor dan bertemu dengan salah satu staf keamanan memintaku buat masuk dan menemui guru BK.
Sudah tentu aku kebat kebit khawatir karena aku bermasalah.
Namun aku bertemu dengan guru olah raga ku pak Surya.
"Bening,,," sapa pak Sury tersenyum bersahaja kearahku.
Aku mengangguk takjim....
"Ada apa kamu dipanggil guru BK?" tanya beliau sepertinya penasaran atas panggilanku kesini.
Aku hanya tertunduk sedih...
"Maaf pak sa- saya telat ma- suk,,," jawabku terbata, rasanya air mataku menggenang di pelupuk mataku. Buru buru ku usut supaya tidak menetes dan dilihat oleh pak Surya. Karena membuatku malu.
"Sebelumnya apa kamu melakukan kesalahan?"
"Iya pak. Itu ada alasannya kenapa saya melakukannya" jelasku ku tegarkan hatiku.
"Yasudah, nanti saya akan menemanimu"
"Terima kasih pak"
"Itu sudah kewajiban saya membela siswa yang tidak bersalah. Silahkan temui pak Lexi guru BK"
Aku pamit undur diri dari hadapan pak Surya yang masih saja tersenyum ramah.
Kini aku menghadap ke pak Lexi yang aku belum tau wajahnya terlebih orangnya. Setelah berhadapan dengan pak Lexi diruangan tersendiri membuatku mengejutkan dahi melihat perawakan jauh dari persepsi ku.
Ingin rasanya aku tertawa tapi melihat tatapannya yang garang membuat nyaliku menciut dan tertunduk. Aku tidak menyangka bakal berhadapan guru BK yang aneh seumur hidupku dan itu sebagai guru BK.
"Siapa namamu?" tanya beliau sedikit membentak, aku masih tertunduk takut. Suaranya melengking, persis suara wanita. Tawaku hampir meledak kalau tidak mengingat beliau guru BK. Sebisanya ku tahan.
"Lihat kearah saya! Jawab!" serunya tertahan membuatku semakin takut.
"Bening Ria Saputra pak. Maaf,,," ku berani diri menatapnya sekilas. Ada seulas senyum di bibirnya setelah mendengar namaku ku sebut. Emangnya namaku lucu, apa? Gerutu dalam hati. Namanya saja juga aneh gitu, Lexi.
"Kenapa kamu lihat lihat?"
Dasar guru aneh. Tadi disuruh melihat, eh ini marah nggak jelas.
"Maaf, pak"
"Kesalahan apa yang telah kau lakukan? Tujuan apa kau dipanggil kesini"
"Tidak tau pak?"
"Dengar. Kamu tidak mengikuti pelajaran sudah tiga kali. Sebenarnya itu tidak bisa ditoliler lagi. Saya ingin memanggil orang tuamu datang kesini. Nanti akan saya buat suratnya. Itu sebagai peringatan" terangnya dengan suara melengking bahkan membentak.
"Jika kamu melakukan satu kesalahan lagi, beasiswamu bisa dicabut. Camkan itu" ucap pak Lexi memperingatiku bahkan tidak memberiku kesempatan untuk membela diri. Sungguh, aku tidak tau aturan apa ini sebenarnya, memarahi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan hal sebenarnya terjadi.
Aku seperti terpojok, disudut dalam masalah ini. Seakan aku punya kesalahan yang sangat berat.
"Kamu, saya scor tujuh hari..."
Lemas sudah sendiku mendengar pernyataan pak Lexi yang sepihak tanpa mendengar penjelasan ku dulu.
"Hemm,,," ada suara yang datang, yaitu pak Surya.
Terlihat pak Lexi tersenyum ramah padahal tadi sangat garang bahkan tersenyum pun tidak. Sepertinya begitu segan dengan pak Surya. Aku juga heran mengapa pak Surya begitu disegan disekolah ini bahkan banyak yang menyukai termasuk Bu Naura panggilannya Bu Rara.
Bahkan pak Lexi memandang pak Surya begitu kagum tanpa kedip seakan terhipnotis dengan pesonanya. Aku hanya melihatnya sekilas serta tertunduk serta terdiam.
"Maaf pak Lexi. Saya disini menengahi. Bukan bermaksud lancang. Apakah pak Lexi menanyakan dulu alasan apa hingga Bening melakukannya. Apa itu pyur kesalahan yang dilakukannya dengan sengaja atau memang ada hal lain"
"Anda membelanya,,,"
"Tidak. Saya hanya melihat tidak keadilan dalam masalah ini. Wajar jika saya tanya hal itu kepada anda sebagai guru bk. Apa saya salah jika ingin tau hal itu"
"Tidak. Tapi, bukankah sudah jelas jika ada salah satu siswa yang melanggar peraturan maka dikenakan sanksi"
"Apakah ada pembelaan dari siswa yang terkena sanksi? Sungguh naif. Mau jadi apa kedepannya sekolah ini jika ego yang terdepan"
"Pak Surya menyisir saya, tidak becus menangani masalah"
"Itu penilaian saya. Saya tidak suka dengan tidak keadilan yang terjadi"
Debat yang begitu sengit, hatiku berdebar tak menentu sedari tadi dan memilih untuk diam hingga selesai.
Pak Lexi menatapku tidak suka bahkan terlihat membenciku. Kini tatapanku mengarah ke pak Surya, lagi lagi pak Surya tersenyum ramah serta mengangguk.
"Baik-lah" pak Lexi terlihat menyerah dan mungkin mau mendengar penjelasan ku nanti yang ingin ku sampaikan.
Bahkan memintaku untuk menjelaskan sebelum aku benar benar dikasih hukuman yaitu di scor selama tujuh hari padahal tadi aku hampir menangis tapi pak Surya mendadak datang hingga posisiku agak aman kini lebih aman dan itu berkat pak Surya membala.
"Sekarang ceritakan, alasan apa yang membuatmu tidak mengikuti pelajaran selama tiga kali"
Setelah jeda beberapa saat aku hanya menarik nafas dalam, ku hembuskan pelan pelan. Lagi lagi pak Surya tersenyum ramah hal itu membuat pak Lexi terlihat emosi seperti cemburu melihat pak Surya tersenyum ramah padaku.
Aku tidak peduli lalu ku ceritakan semua hal yang ku alami. Entah bagaimana penilaiannya pak Lexi nanti terhadapku setelah mendengar alasanku karena itu hak sebenarnya terjadi.
Lagi dan lagi pak Surya tersenyum sekaligus prihatin dengan apa yang ku alami. Tapi semua keputusan ada ditangan pak Lexi sebagai guru BK. Tapi pak Surya selalu mendukungku hal itu membuat pak Lexi tidak bisa berbuat apa apa untuk memberiku hukuman yang tadi telah ditentukannya.
Aku bisa bernafas lega setelah pak Lexi menarik hukuman terhadapku karena aku tidak melakukan kesalahan dengan ku sengaja.
"Sekarang kembalilah kelasmu" titahnya tersenyum setengah dipaksakan.
Pak Surya mendekat kearah pak Lexi lalu lalu memeluk ala pelukan laki laki didepanku membuat pak Lexi terlihat kikuk padahal senyumnya langsung melebar.
"Permisi pak Lexi, pak Surya. Assalamualaikum,,," pamitku dan berlalu dari ruang BK. Ku lihat wajah pak Lexi bersemu merah tersenyum ramah kearah, terlihat tulus mungkin aku membawa keberuntungan untuk beliau.
"Waalaikum salam" balas pak Surya. Lainnya dengan pak Lexi hanya diam saja, aku tidak tau apa pak Lexi muslim atau nasrani. "Terima kasih kamu bijaksana" Lamat Lamat aku mendengar ulasan pak Surya ketika aku menjauh dari ruang BK.
"Ah, itu demi kamu,,," balas pak Lexi, setelah itu aku tidak mendengar lagi percakapan pak Surya dan pak Lexi. Aku juga tidak memikir apa apa tentang mereka berdua.
Aku melangkah dengan tenang serta berpas pasan dengan guru yang lain, ada yang ramah juga ada yang tidak suka termasuk pak Dwi Setiawan. Berbeda dengan Bu Rara yang begitu ramah bersahaja pada setiap murid.
Sampailah aku kelasku, tanpa istirahat karena waktu istirahatku buat diintrograsi.
"Duduuuhhh,,, kasian banget sih Lo gembel. Enak kan kena marah sama pak Lexi kemayu itu" caci Raya setelah aku masuk sudah dapat hujatan dari cewek binal. Terlihat pakaiannya yang terlihat sexy menampilkan lekuk tubuhnya tubuhnya.
Tidak aku tanggapi, memilih untuk diam dari pada kena bully habis habisan dari mereka.
Tentu saja kelas langsung riuh menyorakiku....
Datanglah Riko bersama Angga seperti dari kantin karena wajah mereka terlihat segar.
Aku sendiri menahan rasa haus karena tidak ada waktu buat ke kantin, tapi aku tahan. Setiap pagi aku usahakan untuk sarapan.
Braaakkkkkkk.....
Mejaku digebrak oleh Riko yang melotot kearahku.
"Gue pikir Lo di scor ternyata Lo masih selamat. Hebat juga Lo gembel. Ilmu apa yang Lo buat hingga Lo bisa bebas. Atau Lo ada dukungan?" sentaknya menatapku dengan melotot.
Tentu saja aku tertunduk tanpa berani menatapnya. Tentu saja aku sudah deg degan karena aku sudah menduga hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Krah bajuku direnggutnya hingga mukaku berhadapan dengan Riko yang nafasnya ngos ngosan menahan geram.
Bug, bug, bug,,,,
Perutku kena tinjunya rasanya sakit banget, bikin perut ku mual, tak terasa air mataku mengalir karena sakit yang ku rasakan. Belum hilang rasa nyeri ku ditambahi lagi membuatku terpojok.
"Kenapa Lo nggak mati aja?" Mengintimidasi ku hingga membuatku tak bisa bergerak. Matanya mendelik didepanku.
Tangan besarnya tepat dileherku hingga membuatku sulit bernafas terlebih lagi melihat sorot matanya yang penuh kebencian kepadaku, nafasnya menderu penuh amarah.
"Alloh Maha Adil. Asal kamu tau, kamu bukan apa apa bagiku" suaraku tertahan menatap sekilas tajam. Walaupun hatiku kecut tapi aku tidak gentar sama sekali atas tindasannya kepadaku. Sekalipun aku melawan, rasanya percuma tapi aku tidak ingin selalu jadi tertindas. Mungkin banyak anak anak yang senasib denganku dan tidak berani ambil tindakan karena beresiko.
Riko makin geram dibuatnya atas sikapku.
Dug, dug,,,,
Kepalan tinjunya mendarat di pipiku dua kali berturut turut menyebabku sedikit pusing. Tentu saja disudut bibirku terasa rasa asin. Darah keluar disela bibirku karena dalam mulutku rasanya ada yang pecah kena tonjok tangan besarnya.
Sekalipun air mataku sudah luruh kali aku tidak akan menyerah, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat sekalipun aku harus mati aku tidak boleh getar.
"Lo berani sama gue. Bawa bawa nama Tuhan. Asal Lo tau gue paling tidak suka dibantah. Apalagi pembangkang kayak Lo. Gue eneg liat muka Lo yang sok polos" bentaknya darah masih saja merembes juga air mataku. Suasana kelas mendadak hening untuk sejenak. Tapi kemudian menjadi riuh.
"Hajar aja Rik"
"Bikin mampus aja tuh bocah songong"
"Cuma jadi s****h"
"Betul"
"Singkirin aja gembel kampung tak tau diri itu"
Caci yang lain jadi provokator untuk Riko hingga luapan emosinya bertambah naik...
Bug, bug,,,
Tinjunya diarahkan ke perutku kembali, padahal tadi sudah kena perutku rasanya makin sakit belum lagi mulutku yang kini nyeri campur perih semuanya aku tahan.
Aku masih bertahan dan berdiri dihadapannya. Aku tidak gentar lagi.
"Itu peringatan dari gue. Lo akan gue buat tidak betah sekolah disini karena ini bukan tempat Lo. Camkan itu gembel kampung. Cuihh,,,!" serunya tertahan sambil meludah dimukaku. Semua ku terima dengan lapang d**a.
Riko meninggalkanku serta duduk di bangkunya dengan tenang seakan tidak terjadi apa apa padanya.
Kini aku hanya bisa duduk lemas dikursi dengan muka lebam serta ada air liur milik Riko.
Aku pun berlalu dari kelas dan keluar untuk membersihkan diri. Ketika diluar aku berpas pasan dengan Bu Rara aku pun ijin pada beliau yang memperlihatkan ku dengan heran.
Aku hanya tertunduk tidak berani memperlihatkan mukaku dihadapan beliau.
"Bu saya permisi mau ketoilet sebentar. Assalamualaikum, Bu" aku pun cepat cepat berlalu dari hadapan beliau sekalipun belum dapat ijin tapi aku yakin kalau Bu Rara akan memakluminya.
"Iya, Bening. Waalaikum salam" Lamat Lamat aku masih mendengar balasannya hingga hariku lega. Aku tak ingin ketahuan oleh Bu Rara jika aku sedang menahan tangisku.
Maka saat aku berada di toilet aku sudah tidak bisa membendung air mataku. Aku sesenggukan di toilet, meratapi kemalangan nasibku.
*Kalian kejam. Aku salah apa sama kamu Riko, Raya. Sedikitpun aku tidak pernah mengusik kalian semua. Tapi kenapa kalian begitu jahat padaku*
Ku basuh mukaku yang tadi diludahi oleh Riko. Pantulan wajahku terlihat jelas disana. Aku menatap wajahku cukup lama hingga aku pun tersenyum. Lalu akupun menyeringai penuh misteri?.
___________
Ku berjalan santai saat pulang sekolah, aku biasa jalan kaki...
Jalan yang sama yang selalu ku lalui. Jalan yang akan jadi saksi bisu perjalanan hidupku. Tersenyum getir dalam perjalanan menuju pulang.
Tadi aku tidak sempat ke kantin walaupun hanya sekedar menghilangkan dahaga.
Kini rasa haus menyergap ku, aku ingin membeli minuman untuk menghilangkan dahagaku.
Tapi, tak ada yang lewat orang yang jualan minuman dingin.
Aku istirahat di pohon yang rindang yang tumbuh subur didekat jalan dan seperti untuk buat nongkrong.
Aku duduk dikursi yang telah disediakan, menikmati hawa sejuk yang kini menderaku.
Ku raba wajahku yang masih terasa nyeri karena tadi dipukul oleh Riko.
Angga seakan tidak peduli dengan keadaanku yang teraniaya. Semua siswa seakan membenciku mendukung tindakan Riko the gank juga Raya.
Sebenarnya, aku sudah menyerah dengan keadaan. Tapi, mengingat perjuangan orang tuaku, ku kuatkan hatiku untuk bertahan.
Lagi lagi air mataku bergulir di pipiku, ku biarkan air mataku terus meremberes sebagai tanda kepedihan yang mendalam dihatiku.
Aku bangkit, berdiri....
"Riko,,,!" gumamku lirih. Berapi api. Hatiku mendadak meluap. Ku kepalkan tinjuku hingga tak terasa aku meninju pohon yang ada didekatmu.
"k*****t kau Riko. b*****t kau Raya" luapan emosiku berapi api. Air mataku terus merembes bagai mata air yang tak habisnya.
Tubuhku merosot tak bertenaga...
Rasa perih juga nyeri menderaku.
Ku lihat tanganku terluka dan berdarah. Aku meringis kesakitan. Menahan kepedihan tapi rasa sakit ini belum seberapa dibandingkan perlakuan Riko dan Raya kepadaku.
Aku tertatih untuk pulang. Kekuatanku sedikit pulih walaupun ku rasakan letih...
______________
Rumah terasa sepi saat ku buka pintu memakai kunci rumah...
Rasa lelah menyerangku, juga lelah hatiku.
Aku pun mandi buru buru karena waktu Dzuhur akan habis.
Beberapa kali ku berucap istighfar karena kelupaan, sebab aku selalu memikirkan kesedihanku yang mendalam.
__________
Sepi...
Itu yang terasa, hingga saat ku lihat jam sudah setengah lima barulah Putri pulang, mengucap salam ketika aku diruang tengah.
Terlihat wajah letihnya, Putri memperhatikanku, dia seperti heran melihat kearahku.
Ku coba untuk tersenyum, rasa nyeri itu masih ada di wajahku. Rasa nyeri di perutku sudah tidak ada lagi.
"Mas Bening kenapa? Mas, kayak bersedih, gitu?. Tadi, mas Angga pamit ke aku belum tau pulangnya kapan" celotehnya. Tidak ku tanggapi, aku memilih untuk diam karena aku tak ingin membahasnya, terlebih mengenai keadaanku saat ini. Memang aku habis menangis, sedih. Bahkan lebih dari itu, tapi aku tidak ingin berbagi kedukaanku pada siapapun itu termasuk Putri bahkan orang tuaku sendiri, sebisanya aku rahasiakan rapat rapat.
Lidahku terasa kelu. Rasa nyeri masih terasa tapi aku tutupi dengan tersenyum.
"Kok sore banget pulangnya pun. Apa ada les tambahan?" tanyaku karena aku tak ingin Putri memperhatikan keadaanku.
"Ya mas, tadi ada les tambahan. Untung tidak matematika. Tapi, tenang aku sudah bilang sama teman temanku buat belajar bareng. Nanti aku kabari ya mas. Ada tipsnya. Lumayan lho. Ternyata perlu benar semuanya. Terima kasih mas Bening atas bantuannya. Teman temanku itu anak orang tajir, cantik cantik nanti mas Bening akan tau dan kenal mereka" celoteh Putri panjang. Tapi aku bersyukur karena akan ada uang buat aku bisa jajan nantinya setelah les temannya Putri. Putri-lah nanti yang akan mengatur waktunya karena setiap sore aku selalu nganggur.
Waktu nganggur ku gunakan buat bebersih sekaligus juga waktu aku untuk belajar. Ku sempatkan buat mengaji Al Qur'an supaya aku membacanya lebih lancar. Siapa tau di sekolah nanti diadakan lomba Tartil Al Qur'an karena selama ini hal itu belum ada. Padahal fasilitas disekolahku sangat komplit sekali.
"Mas Bening sedang menghafal apa?" tanya Putri tiba tiba sudah ada didekatku dengan tatapan heran.
Aku tersenyum lembut kearah Putri sambil ku tutup Al Qur'an yang sebenarnya selalu ku bawa. Mungkin karena adanya Al Qur'an didalam ku sehingga keadaan tasku selalu aman.
"Bukan apa apa Put, aku coba untuk membaca Al Qur'an sambil menghafal juz 'ama" kelasku karena aku membacanya tidak keras keras dan memang aku selalu mencari kesempatan ketika keadaan sepi.
Putri nampak ragu, menatapku sedih, entah apa yang membuat sedih?
"Kamu bisa baca Al Qur'an?" tanyaku, menanyakan apakah Putri bisa baca Al Qur"an karena seorang muslim harus bisa membacanya.
Seketika Putri menggeleng.
Aku cuma menahan nafas, tersenyum lembut kepadanya.
"Mas bisa ajari aku membaca" ucapnya ragu seakan malu karena dia merasa tidak bisa.
Ku anggukan kepalaku, membuat Putri tersenyum bahagia.....
"Beneran mas. Soalnya nanti ada praktek baca Al Qur'an pelajaran Agama" terangnya, wajah Putri terlihat sumringah. Padahal tadi nampak murung.
"Kamu bisa tajwid, Put?" tanyaku ingin tau apa Putri menguasai.
Putri menggeleng lemah, tersenyum getir,,,
"Tidak, cuma sedikit" desahnya berat sambil tertunduk malu.
Aku hanya tersenyum lembut padanya...
"Nanti aku ajari. Kamu punya Iqro', Put?" ku tanya memastikan apakah Putri punya.
Desahku berat ketika Putri lagi lagi menggeleng.
Ini anak kenapa apa apa cuma menggeleng, berkata 'tidak'.
"Selama ini kamu tidak pernah mengaji, Put?"
"Nggak ada yang ngajari mas"
"Kamunya aja yang malas belajar, Put"
Putri cuma mengangguk membenarkan perkataanku. Lagi lagi cuma ku Hela nafas pelan. Aku hanya tersenyum lembut kearahnya.
Aku berlalu dari kamar tengah, menuju kekamar untuk mengambil Iqro'.
Sekembalinya aku menyuruh Putri untuk memakai kerudung, padahal setiap kesekolah selalu memakai kerudung.
Aku mulai mengajarinya, dan memang Putri sedikit kesulitan karena tajwidnya belum paham. Aku selalu memberinya semangat.
Tak terasa magrib pun menjelang, tapi kedua orang tuaku dan juga paman serta bibiku belum juga kembali.
Hingga Angga pun pulang dengan wajah muram.
#bersambung guys....
Kam 17 feb 2022