Jika ku ingat kemaren sore aku hanya bisa tersenyum. Betapa tidak Putri yang selama ini ku kenal selalu memakai kerudung, begitu islami tapi belum bisa ngaji sama sekali. Padahal mushola dekat. Kan bisa minta salah satu ustad disitu buat ngajari ngaji, atau nggak private deh. Aku malu karena udah gede. Lagian, anak jaman sekarang udah merasa remaja dikit mau ngaji katanya malu. Heran. Padahal tolak ukur untuk menuntut ilmu agama itu dari ayunan hingga ke liang lahat. Itu sih yang aku dengar.
Untung Putri anaknya cepat nyantolan, jadi untuk hari ini aku rasa cukup. Selanjutnya biar Putri ngelancarin buat baca iqro'nya. Ku rasa Putri akan giat belajar karena ingin ikutan lomba juz 'ama yang di adakan disekolahnya. Lah, ini tajwidnya aja masih belum bener. Tapi, aku akan berusaha untuk mengajarinya.
Karena aku dengar sekolahku juga akan di adakan lomba yang sama dan hadiahnya cukup lumayan.
Seperti biasanya Angga selalu cuek cuek gitu, aku sudah nggak heran.
Kini, baru ku tau kebiasaan Angga yang memang jarang pulang ke rumah karena selalu sepi. Kadang aku merasa kasihan sama Putri yang sering sendirian. Kalau aku lebih senang, karena belajarku tidak terganggu.
"Dari mana kamu seharian nggak pulang Ga?" tanyaku kemudian karena dari tadi Angga hanya diam seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.
Angga nampak menghela nafas dalam...
"Dari rumah temen mas, Mabar" jelasnya singkat. Aku juga tidak menanyakan dirumah siapa. Karena Angga temannya banyak. Mungkin salah satu dari teman satu ganknya.
Aku memilih untuk diam karena tidak ada yang perlu diobrolkan lagi.
"Tadi ada turnamen game ml, tapi team kita kalah. Nggak dapat juara apa apa" keluhnya sedih.
Aku saja disibukan dengan mengajari Putri ilmu tajwid serta iqro" karena akan ada perlombaan baca Alquran disekolahnya.
"Andai saja ID RAHASIA itu online, mungkin team kita nggak akan kalah telak. Tadi Riko urung uringan sama kita kita" terangnya dengan pikirannya seperti menerawang kejadian yang di alaminya, mengenang kejadian yang dilewatinya.
Sedari tadi aku hanya diam menyimak. Toh, aku bukan bagian dari mereka. Dan juga mereka juga tidak akan tau ID RAHASIA itu siapa sesungguh orang yang dibaliknya. Andai Angga tau mungkin tidak akan percaya. Mungkin saja akan ku rahasiakan selamanya dari mereka. Aku melamun.
"Mas mikir apa?" tanya Angga karena sedari tadi aku cuma diam bahkan melamun.
"Nggak ada Ga" balasku menutupi apa yang ku tau.
"Mas pinter maen game ml, kenapa nggak ikut maen tadi. Bahkan aku perlihatkan pertandingannya sama Riko dkk, mereka salut sama kamu. Tapi mereka jaim, gitu untuk mengakuinya. Bahkan ada yang nantang by one mas. Gimana mas?" terangnya lagi. Toh, aku juga nggak peduli. Lagian, aku main game online cuma untuk bersenang senang aja kok.
"Nanti dapat skin bagus lho. Skin Legend. Please mau ya, nanti akinya buat aku kalau menang"
"Kalau kalah gimana?" Kataku kurang yakin, apakah nantinya jika aku by one dengan mereka akan bisa menang. Kalau dilihat dari skill mereka aku rasa bisa mengalah mereka.
"Ya nggak lah. Secara mas Bening maennya lho kayak pemain pro player"
"Kamu bisa aja, Ga. Nggak lah. Tapi, liat gimana nanti. Aku pikirkan tawaran kamu. Soalnya ada yang harus aku kerjakan"
Syukurlah percakapanku kali ini hangat.
Sudah ku tunaikan tugasku, kini aku bisa tenang, tenang untuk tidur tanpa beban.
Ku lihat Angga begitu sibuk memperhatikan hpnya, ada yang menarik perhatiannya.
"Hah, ini ada Id Rahasia, tapi...?" ungkapnya bergumam. Aku juga terkejut jika ada id ml yang mirip punyaku. Tapi, tak apa, toh mereka cuma ingin meniru dan berteman dengan Riko the gank.
Tadinya aku kawatir kalau id itu milikiku yang telah dibajaknya. Tapi setelah melihatnya sendiri aku bisa menarik nafas lega. Tidak mungkin id mlku bisa dibajak orang sekalipun itu orangnya Riko sendiri karena semuanya ku kunci.
"Mainkan ya mas, tadi sudah chat Riko buat by one sama kamu. Please... Ya" mohonnya. Ini semua demi hubunganku dengan Angga yang sering renggang, siapa tau dengan aku memenangkan by one ini sikap Angga makin berubah. Semoga....
"Ok, mana,,," balasku tak sabar.
"Bentar, belom di macth. Ya udah,,, nih" diserahkannya hpnya padaku yang menurutku mantap. Terlebih hpnya sangat smooth.
"Ayo mas, hajar Riko" ucap Angga antusias tak sabaran, berharap aku bisa memenangkan pertandingan dengan Riko.
"Lah kok pake Hero cewek mas? Biasanya pake yang bawa panah itu" ingat Angga khawatir.
"Nggak apa apa Ga, lagi op Hero cewek ini"
"Bisa kalah mas, liat tuh, Riko pake Hero yang bisa ngebor, aku nggak yakin kamu bisa menang, mas?" Keluhnya seperti patah semangat. Aku yang main aja biasa kok. Heran. Ini yang main siapa? Yang akan kalah atau menang siapa, lesu gitu.
"Kamu ngeremehin aku, Ga? Kalau aku menang kamu mau kasih apa?" Tantangku karena Angga meremehkan aku main game online satu ini. "Kamu aja nggak sanggup naktrir aku seminggu. Kamu udah lupa kan kamu pernah janji" ingatku membuat Angga malu. Sudahlah. Yang penting Angga senang dan dapat skin legend yang diinginkannya.
Untuk menit awal mungki aku kalah point, pihak lawan pun belum juga menyerangku, mungkin nyari stack sebanyak banyaknya. Setelah level heroku udah lima ku beranikan diri untuk memancingnya, karena merasa ini saatnya buat membantainya. Karena aku tak ingin bermain lama sekalipun heroku di late game damagenya besar tapi aku takut kalau Riko sering lock aku bisa mati kutu.
"Fist blood!" untukku saat ku intai hero Riko sedang buff. Tentu saja Riko misuh misuh tak jelas serta mengancam ku. Tentu saja pointku bertambah dan semakin di atas. Bahkan kini turet misinya sudah ku hancurkan dua.
Terlihat Angga tersenyum puas kalau aku akan menang dari Riko.
"Wah, kamu memang hebat mas Bening" pujinya mengakui kebolehan atas permainanku, padahal dari tadi cuma malas liatnya bahkan tak semangat tapi setelah mendengar kill pertama siapa yang mendapatkannya mukanya langsung cerah, aku hanya diam saja dan fokus dalam permainan.
"Awas kau ya. Jika stacku sudah. Aku bantai ganti" ancamnya penuh emosi. Aku tidak takut dengan ancamanya karena aku punya penangkal heronya membuatku tenang.
"Silahkan. Dengan senang hati aku nunggu. Tapi, sebelum itu terjadi turetmu udah tumbang karena nunggu stuckmu cukup" tapi itu ku ucapkan saja tanpa ku berani membalas chatnya.
Hingga aku telah sampai turet yang ketiga, Riko ngelock Hero. Aku menunggu sejenak hingga saat dekat aku Flicker hingga tidak kena. Setelah itu ku serang habis habisan hingga koid. Aku tersenyum puas.
Hingga ucapan terakhir berbunyi....
Tak ku sia siakan kesempatan yang ada sehingga ku selesaikan permainanku dengan Riko
"Curang, curang,,,"
Tak ku hiraukan hujatan serta umpatannya yang penting aku menang telak hingga membuat Riko tak punya nyali.
"Untung cuma dua kill, kalau Hero favoritku udah ku bantai serta permalukan lebih dari ini" gumamku, entah didengar oleh Angga atau tidak aku juga tidak peduli.
"Yey,,, dapat skin legend!" serunya girang sambil memelukku padahal keringatan.
"Makasih mas"
Lebaynya kumat, ku berikan hpnya karena aku akan istirahat, kalaupun mau nerusin maen biar diterusin. Aku juga tidak akan nagih janjinya, apa yang telah dijanjikan oleh Angga karena aku selalu jadi korban janji.
"Terserah-lah"
"Kok gitu" desahnya berat. "Jutek amat mas" terlihat wajahnya sewot.
Hingga mataku terpejam Angga masih memelukku hangat, aku seperti orang yang sangat berjasa besar dalam hidupnya.
_____________
Seperti biasa aku bangun saat terdengar ku Mandang adzan. Selalu yang ku lakukan mencuci bajuku yang kotor terkadang milik Angga tak ku cicilan terkadang juga ku jemur sekalian. Aku sadar disini aku hidupnya masih ikut pamanku, sekalipun terkadang sikap Angga itu nyebelin. Ku jemur disamping rumah saat pulang sekolah aku mengambilnya juga melipatnya, jika ada waktu senggang atau saat libur aku selangkan waktu untuk nyetrika.
Terkadang aku sempatkan buat nyapu lantai sebelum sarapan jika dirumah sepi atau Putri lagi sibuk banget.
Nasi yang masak sore kemarin masih banyak, sayur sudah dihangatkan juga ada daging ayam.
Seperti biasanya aku berusaha membangunkan Angga masih enak enakan molor nggak butuh sekolah. Istilahnya Bangkong, heran padahal dari subuh sudah ku bangun tapi malas. Aku sama Putri sudah selesai sarapan Angga tak kunjung bangun.
"Tuh, kebiasaan mas Angga pasti enak enakan molor" rutuknya uring uringan, pasti sangat kesal dengan kelakuan kakaknya.
"Siram aja mas Bening pake air comberan" imbuhnya memprovokasi, jengkel.
"Put, nggak baik. Sudahlah, coba aku bangunin dulu" ucapku meredam emosi Putri berlalu dan menuju kearah kamar.
"Masyaalloh Angga bangun, ini sudah siang. kamu mau sekolah apa nggak. Liat sekarang jam berapa?" teriakku keras karena Angga masih molor enak enakan.
"Huh,,, mas biasa aja keles" Angga langsung bangun mengerjakan matanya. Karena Angga selalu toples dengan kulitnya yang mengkilap. Terlebih bawahnya yang menonjol.
Aku pun berlalu sambil berpesan...
"Aku tidak akan membangunkanmu lagi" seruku dari luar kamar setelah ku tutup rapat.
"Gimana mas, udah bangun belum?" Tanya Putri memastikan.
"Sudah. Tapi nggak tau tidur lagi apa nggak" balasku cuma mengendikkan bahuku. Mengambil tas dan berangkat bareng Putri. Aku memilih untuk jalan kaki, tadi sedikit berlari. Putri sudah menyetop angkot lalu naik. Masih sempat melambai kearahku. Ku balas dengan anggukan dan senyuman.
Dengan tergesa aku berjalan menuju ke sekolah....
Tentu saja aku tak ingin terlambat kesekolah terlebih jika aku mengalami hal yang seperti kemarin.
Pak Surya begitu baik padaku, selalu menolongku dalam kesulitan.
Tidak terjadi apa apa, aku bernafas lega ketika memasuki gerbang sekolah, mungkin Riko the gank harus berpikir ulang jika melakukan seperti hal kemarin karena aku sedang berpas pasan dengan pak Surya yang tersenyum cool kearahku.
Ku balas dengan anggukan.
Tergesa aku masuk kedalam menuju kearah kelasnya yang jaraknya cukup lumayan, padahal aku sudah terbiasa tapi tetap saja jaraknya membuatku ekstra bernafas.
Saat memasuki kelas aku terkejut sekali dikelilingi oleh siswa satu kelasku, ada Raya yang tersenyum sinis juga Riko the gank yang sedang mencekik ku dan aku sendiri tidak tau apa penyebabnya.
"Tiap hari makin ngelunjak aja Lo anak kismin songong. Dasar gembel!" bentaknya dengan mata melotot tidak suka kearahku. Tentu sangat mudah dilakukannya terlebih tubuhku ikut naik karena tingginya tubuh Riko.
Tanganku berusaha menggapai tangan Riko yang mencekik ku walaupun belum kencang, bermaksud melepaskan diri karena aku sulit untuk bernafas.
Tangan Riko begitu kokoh dan kuat aku hanya mengapainya lemah. Aku mencakarnya sebisanya karena hanya itu yang bisa ku lakukan tanpa aku berani berucap. Hal itu tak menimbulkan luka berarti tapi hal yang ku lakukan membuat Raya pacarnya Riko naik pitam.
"Rik, tangan Lo tergores" nada suaranya terlihat khawatir menyebabkannya geram mendekatiku.
Srett....
Srett....
Srett.....
Kuku Raya sukses mencakar tanganku, rasanya perih sekali.
"Akhhhh,,," jeritku tertahan, rasanya perih sekali, membuatku meringis menahan nyeri sekaligus perih. Cekikan dileherku tak jua dilepaskan oleh Riko sekalipun aku telah dicakar oleh pacarnya.
"Rasakan balasanku. Siapa suruh nyakitin pacar gue" senyumnya penuh kemenangan. Tersenyum licik kearahku.
Air mataku sudah tak bisa ku kontrol lagi. Rasa nyeri dan perih ku rasakan tapi lebih perih dan sakit didalam hatiku.
"Dasar cowok lemah!" hardiknya.
Duk, Duk,,,
Kepalaku dibenturkan ketembok dua kali menyebabkan rasa pening hingga membuatku makin lemah.
"Lepas-kan a- ku,,,,!" teriakku histeris.
Tanpa sadar Riko melepaskan cekikannya hingga tanpa sadara aku terjatuh kebawah, tak berdaya.
Sambil meringis aku menahan nyeri dan perih di tubuhku aku berusaha bangkit berdiri.
Ciihhhh...
"Huhh,,,,"
Sorak seluruh kelas, namun mendadak hening....
Air mataku terus bercucuran, karena kesedihan yang ku rasakan terlebih perih ditangani akibat cakaran Raya masih nampak merah membekas karena berdarah.
"Kenapa ribut ribut?" Bu Rara datang disaat kurang tepat tapi aku masih selamat.
Aku yang sudah menangis hanya terdiam meringis.
Yang lainnya hanya diam membisu tak berani bersuara. Menatap kearah Bu Rara dengan rasa takut.
Bu Rara datang mendekatiku, melihat luka ditanganku yang berdarah.
Tentu saja keringat membanjiri seluruh tubuhku karena tadi aku dicekik Riko tanpa sebab.
"Siapa yang melakukan ini? Ayo ngaku!" Bentak Bu Rara garang. Aku tidak pernah melihat Bu Rara seemosi ini ternyata sungguh menakutkan.
"Raya, kamu melakukan semua ini. Jujur!" Seru Bu Rara dengan nafas memburu seperti emosinya meluap.
"Kamu tidak punya mulut, Raya!" Tambahnya dengan tatapan tajam. Raya tentu saja menunduk takut.
"Oohh,,, kalian mau bermain main sama ibu. Oke,,, sebagai konsekuensinya saya tidak menaikan kalian semua!" Sentak Bu Rara.
"Gimana nih?"
"Gue nggak mau, klo gue nggak baik kelas"
"Ini semua gara gara-"
"Riko siapa yang melakukannya?" Tanya Bu Rara masih bersabar karena Bu Rara belum ingin menanyaiku mungkin ingin kejujuran dari yang lain.
Aku sudah meringis menahan nyeri sedari tadi, ditambah rasa pening dikepala akibat dibenturkan oleh Riko.
"Baik kalau kalian tetap diam. Sebagia hukumannya, kalian satu kelas ibu hukum sampai pelajaran sekolah usai!" Titahnya penuh luapan emosi. Karena semuanya memilih untuk bungkam.
Ibu Rara seperti mengirim suatu pesan melalui SMS sambil tersenyum.
Sesaat kemudian datang pak Surya sambil membawa tongkat scurity dan scurity.
"Pak Surya tolong awasi anak anak buat dihukum dilapangan. Sampai mereka ada yang ngaku. Biar kulit mereka terbakar sinar matahari biar gosong!" Geram Bu Rara mereka masih diam bertahan.
"Siap Bu Rara" jawab Pak Surya sambil tersenyum lalu menatap siswa dengan garang. Terakhir menatapku dengan rasa iba.
Entah mengapa, aku merasa kalau pak Surya itu menaruh perhatian padaku. Namun, perasaan itu ku tepis. Aku tak ingin menaruh harapan pada seseorang terlebih pak Surya guruku orang yang patut ku hormati bukan ku kagumi. Mungkin, beliaulah nantinya satu satu nya orang yang benar benar berjasa dalam hidupku.
_______________
Sebagai tindak hukuman yang diberikan seluruh siswa dipotong kukunya yang memiliki kuku panjang bahkan dihimbau mereka setiap tiga hari sekali harus memotong kuku kuku mereka. Itu bentuk dari hukuman itupun berlaku untuk seluruh kelas tanpa terkecuali.
____________
Tanganku sudah diperban, tadi bawa kerumah sakit diantar oleh salah satu guru yang aku tidak kenal siapa namanya.
Aku juga diantar pulang, karena hari ini kelasku libur dari pelajaran hingga siang itu karena tindak kriminal yang dilakukan oleh Raya kepadaku bukan hanya Raya, Riko juga andil dalam p**********n terhadapku.
Diantara para siswa aku juga melihat Angga yang hanya diam tanpa membelaku padahal semalam dia ku menangkan dalam bermain game melawan Riko.
Kini aku sendirian dirumah, karena masih pagi.
Yang ku lakukan hanya melihat hp karena tak ada yang bisa ku lakukan dirumah jika sepi seperti ini. Tak ada siapapun.
Yah, aku kangen seseorang yang pernah jadi sahabatku Rreindra...
Aku tak tau bagaimana kabarnya dan juga keadaannya sekarang.
Ku cari kontaknya dan aku pun menghubunginya...
Setelah memberi salam baru kami ngobrol...
"Gimana kabarnya Rre?"
*Alhamdulillah baik kak Bening. Kak Bening gimana kabarnya?*
"B, baik Rre" ucapku berbohong.
*Ah kak Bening jangan bohong ya. Keadaan kakak itu lagi nggak baik ya* sudah ku duga kalau Rreindra pasti tak bisa ku bohongi.
*Cerita kak. Apa yang terjadi?"
(Aku pun cerita mengenai keadaanku selama Rreindra pindah)
*Ya Alloh kak, mengapa mereka semua jahat sama kakak* suara terdengar prihatin tapi tak bisa berbuat apa apa buat menolongku.
*Kakak yang sabar ya. Pasti semua ada hikmahnya*
"Amin! Makasih Rre. Jaga diri baik baik. Jangan lupa selalu kasih kabar ya"
*Iya kak. Tapi hp kak Bening lho jarang aktif*
"Hpku darurat Rre. Aku harus ngirit batre" jelasku.
*Beli yang baru kak*
"Nanti kalau ada rejeki. Ini masih nabung"
*Ditunggu ya kak*
"Oke. Sudah ya Rre, salam buat keluargamu"
*Iya kak Bening. Makasih juga*
Ku akhiri mengucap salam dan dibalas Rreidra yang sepertinya keadaannya cukup baik. Tidak sepertiku yang selalu mendapat perlakuan kurang baik dari teman teman sekelasku.
____________
Selama tiga hari aku tidak bertemu kedua orang tuaku, alasannya sibuk dan mereka tidak tau keadaanku.
Sekalipun bibiku sering pulang tapi tidak pernah mengetahui keadaanku.
Sengaja aku menyembunyikan dari bibiku ataupun pamanku hingga keadaanku pulih kembali.
Hingga pada suatu saat aku mendapat pesan....
Karena hampir tiga hari aku tidak mendapat gangguan dari siapapun, aku merasa tenang dan aman.
Tapi, saat aku akan pulang aku di ajak oleh Angga ke gudang sekolah tanpa aku menaruh rasa curiga?
Aku hanya mengiyakan saja serta mengikuti kemauannya....
#bersambung guysss....
Sen 28 feb 2022
Sekali lagi terima kasih yang masih selalu setia mengikuti ceritaku hingga saat ini.
Mungkin tidak bagus atau terlalu melakonlis atau apalah. Tapi gpp... Berarti bisa sejauh ini setia jadi pembaca Budiman suatu kehormatan bagiku berarti ceritaku masih layak untuk dibaca ...
Sekali lagi terima kasih...
Jangan lupa like/votenya ya...
Makasih!
Nb; mungkin dari readers ada yg bertanya tanya kenapa capternya aku bikin lima-1-6 itu karena masalahnya utama terutama ada di chapter itu, walaupun nantinya juga masih ada problem tapi itu untuk pokoknya ada disitu. Supaya kalian tidak penasaran.
Silahkan untuk tanya klo ada pertanyaan?
______
Sebetulnya chapter 6 udah selesai ku tulis bahkan sampai chapter 17 tapi karena plot ceritanya diawal kurang greget jadi aku bikin lebih banyak problem supaya lebih mengena.
Selamat membaca!