dua belas

1434 Kata
#pov Riko Tubuh gue terasa letih karena habis b******a dengan Raya pacar gue, sangat menguras energi. Raya memang luar biasa, sudah cantik, mulus serta seksi. Gue sangat mencintainya... Hupfff,,,, Terlintas bayangan Bening yang terikat tak berdaya dikursi, sehabis gue siksa. Rasanya gue puas telah menyiksanya. Biar dia tahu rasa... Gue ingin membuat gembel miskin itu tidak betah sekolah bersama gue, untuk itu gue terpaksa melakukan itu pada dia. Gue sangat benci sekali dengan anak miskin itu, kenapa dia lebih pinter dari gue? Seharusnya tak ada yang boleh pinter dari gue. "Ini rumah sepi amat, kayak kuburan. Pada kemana ini orangnya. Para pembantu pasti sudah pada pulang" gerutu gue karena tak ada siapapun dirumah. Gue pun masuk ke kamar gue dan melepaskan semua pakaian gue sambil tertawa bangga. Gue amati tubuh gue yang perfec, pasti semua cewek suka melihat tubuh gue ini, terlebih melihat k****l gue yang sempurna, juga besar, rasanya lecet karena habis b******a dengan pacar gue Raya, sambil gue tersenyum puas. Sambil memandangi k****l gue sambil gue elus lembut dengan bangga. Rasanya gue ingin nge-s*x dan b******u lagi dengan Raya, tak terasa kini milik gue berdiri lagi sambil gue koncok pelan hingga membuat gue fly. Oouugghhhhh.....! Dalam keadaan b***l, gue tak peduli dengan keadaan gue ini karena rumah gue sepi... "Sebaiknya gue mandi dulu, setelah itu makan karena tenaga gue terkuras habis" gue masuk ke kamar mandi. _____________ Selesai makan malam sendirian, dan sangat membosankan, gue kembali ke kamar gue,,, Gue pun rebahan di bad gue yang cukup lumayan serta sangat nyaman buat tidur... Gue biarkan tubuh gue t*******g karena tidak ada siapa pun yang berani memasukinya kecuali dapat izin dari gue... Banyak yang iri dengan tubuh atletis gue termasuk gembel dari kampung itu? Kenapa gue malah mikir tentang anak miskin itu? Apa yang terjadi dengan dia? Persetan! Apa peduli gue? Tapi, kalau terjadi apa apa dengannya gue bisa kena hukum. Biarin, lebih baik gue tidur, rasanya letih. Buat besok aja gue akan memberinya pelajaran pada gembel miskin yang sok pintar itu. Liat aja besok!?. __________ Tatapan mata Riko menerawang jauh.... Dengan tersenyum puas penuh kelicikan terpancar... Perlahan matanya pun terpejam.... ______________ Gue terkejut saat gue buka mata gue, gue berada di suatu tempat yang asing bagi gue, yang keadaannya temaram serta terasa mencekam seperti di film horor yang sering gue tonton, gue sampai ngeri sendiri. Gue merasa seperti diberada disebuah ruangan yang tak begitu luas, hanya berupa dinding saja berbentuk kotak. Dindingnya tampak kusam, plafonnya juga usang. Gue edarkan pandangan gue keseluruh ruangan yang tak begitu luas kisaran dua ratus meteran, keadaan gue tetap sama hanya saja gue bertelanjang d**a, sepertinya gue berada di alam mimpi. Mimpi yang aneh, terasa nyata?. Namun, ketika gue mencari jalan keluar, karena gue ingin keluar dari tempat yang asing dan aneh ini, gue masih berjalan berkeliling ditempat ini, serta berputar putar saja sampai beberapa kali, tapi tetap tidak ada jalan keluar sepertinya tempat ini sebuah penjara. Itu yang gue rasakan... Gue belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, membuat nyali gue kecut, padahal tidak ada siapa siapa hanya gue seorang diri yang jalan mondar mandir cari jalan keluar. Padahal selama ini ini tidak ada hal yang membuat gue setakut ini, bahkan dalam mimpi sekalipun. "Hey Riko, bagaimana kabarmu?" sapa sebuah suara khas mengagetkan gue. Gue sangat mengenal suaranya. Gue menatapnya tak percaya, pakaian yang dipakainya masih sama, tampak lusuh. Wajahnya terlihat berbeda, sangat misterius, sekaligus mengerikan bagai seorang pembunuh berdarah dingin, namun sikapnya tetap sama, kalem. "A- apa yang Lo lakuin disini,,?" "Menemui kamu Riko, membuat perhitungan sama kamu!" "Ja- jangan main main Lo. Gue bunuh Lo Bening, anj#ng, bangs#t Lo!" gue sudah emosi karena sikapnya seperti mengejek serta meremehkan gue. "Hesh, hesshhh,,,Kalau kamu bisa, lakukan Riko,,," senyumnya mengejek gue. Ini suatu penghinaan bagi gue, ternyata setelah gue lihat sosoknya ternyata Bening gembel miskin orang yang sangat gue benci. Sekalipun dalam mimpi tetap gue membencinya, gue akan membunuhnya. Tangan gue sudah gue buka dan buru buru akan mencekiknya karena gue sudah emosi sekali. Namun, hal lain terjadi, gue tak bisa menyentuhnya, hal itu membuat gue heran sekaligus terkejut bukan main, bagaimana ini terjadi?. Gue seperti menyentuh angin. Kosong. Hal itu membuat gue terkejut bukan main. Gue seperti mencekik angin kosong. "Kenapa Riko? Kamu ingin membunuhku, ayo lakukan Riko, ha ha ha,,," tawanya penuh ejekan karena apa yang gue lakukan hanya sia sia saja. Keringat muncul dari tubuh gue yang Shirtless. Gue merasa ini pertanda tidak buruk. Kembali gue berusaha untuk mencekiknya, tetap saja usaha gue ke dia sia sia, tidak membuahkan hasil bahkan gue tidak bisa menyentuhnya sama sekali, dia bagai bayangan. "Duh, kasihan kamu Riko, he he,,," ejeknya karena apa yang gue lakukan sia sia saja. "Sss- siapa Lo,,,?" Mau apa Lo sebenarnya? Lepaskan gue dari tempat ini Bening, k*****t, b*****t. Anj#ng Lo Bening...!" teriak gue sejadinya hingga suara gue mengendap saja. Bening tampak mengejek gue, tersenyum penuh kemenangan sama saat gue menyiksanya. "Kau sudah lupa Riko, hah. Kenapa kamu begitu ketakutan Riko? Bukankah kamu kuat? Kamu gak takut pada siapapun, terlebih aku. Bukakah kamu benci sekali padaku Riko. Apa salahku padamu Riko, hah,,,?" bentaknya pada gue, membuat gue mengkerut takut, gue benar benar ketakutan kali ini, biasanya gue akan melawannya siapapun itu bahkan setan atau iblis sekalipun tapi Bening tidak bisa gue sentuh. Ini aneh?. Tangannya telah sampai di leher gue akan mencekik gue, karena gue rasakan tiba tiba sudah mendekati gue hingga membuat gue tak bisa melawannya. Gue berharap ini akan berakhir dan gue bisa bangun... Bahkan Bening tampak menyerangai pada gue, matanya merah, melotot kearah gue.... Namun, setelah gue tunggu agak lama tidak terjadi sesuatu apa pun gue, gue bisa bernafas lega, cekikannya cuma sesaat. Akan tetapi, gue merasakan hal yang berbeda, gue merasakan tubuh gue tak bisa bergerak. Tubuh gue telah diikat dikursi padahal di awal aku tidak melihatnya tau tau sudah kursi dan kini gue sudah duduk terikat sama persis yang gue lakukan sama Bening di gudang. Gue tidak bisa bergerak sama sekali... "Tolong lepas gue dari sini Bening. Gue mohon,,," ucap gue memelas karena gue sudah tidak berdaya. "Tidak semudah itu Riko. Kau telah menghina ku dengan semena mena. Kau sadar itu, Riko?" tangannya telah mencekik leher gue. Rasanya sakit sekali, gue sampai megap megap dibuatnya karena kehabisan nafas, nyawa gue rasanya mau melayang. Bagaimana bisa, ini kan mimpi? Bening melepaskan cekikannya hingga gue lega sambil menyeringai... "Maafkan gue Bening! Gue mohon, maaf gue. Gue menyesal telah melakukan semua itu pada Lo" "Cihh,,," decihnya, rasa maaf dan penyesalan gue tidak ada artinya buat dia. Karena gue telah di ikatnya disebuah kursi p********n. Gue tak tau bagaimana caranya bisa lepas dari tempat ini?. "Gue mohon lepaskan gue Bening,,," ucap gue lirih dengan air mata yang bercucuran karena gue sudah tak berdaya sama sekali, leher gue terasa sakit akibat cekikannya tadi. "Tidak Riko. Aku akan balas perbuatanmu, sesuai dengan apa yang telah kau lakukan padaku. Aku bisa saja membunuh mu saat ini juga. Tapi tidak,,, Aku akan membuatmu menderita dulu, setelah itu giliran wanita jalangmu itu, Raya,,,!" ancamnya serta berbisik dengan seringai yang mengidikan. Lemas sudah sendi tubuh gue mendengarnya terlebih gue tak bisa berbuat apa apa, terlebih disini, tak banyak yang bisa ku lakukan terlebih untuk menolong pacar gue yang dalam bahaya terlebih memperingatinya kalau sedang dalam bahaya dari ancaman Bening. Gue saja tidak bisa selamat dari sini karena tak mungkin bisa meloloskan diri dari mimpi yang aneh ini. Plak, Plak, Plak,,, Tamparannya bertubi tubi mendera wajah gue, dan itu rasanya sangat sakit sekali, padahal kalau biasanya gue biasa saja tapi disini terasa berbeda. Namun, gue hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Bening pada gue. "Sebenarnya, aku ingin membunuh saat ini, tapi aku kasihan pada orang tuamu Riko, mereka pasti akan gila mendadak karena anaknya mati tanpa sebab. Ha ha ha,,,," tawanya cukup membuat bulu kuduk gue merinding, bahkan di film horor saja belum ada bandingannya dari apa yang gue alami saat ini. Raya sedang dalam ancaman maut, gue tak bisa memperingatinya, menyelamatkan diri dari sini saja gue tak bisa. Ya Tuhan, tolonglah aku! Entah mengapa gue ingat Tuhan disaat nyawa gue terancam. "Ha ha ha,,, tak akan ada yang akan menolongmu ditempat ini Riko. Kamu akan disini dalam waktu yang ku tentukan. Tak ada yang bisa membebaskanmu dari sini kecuali aku. Kau jahat Riko. Kau telah main main sama aku. Kau tanggung resikonya, sekarang. Ha ha ha,,,, Selamat tinggal Riko,,," suara tawanya menggema di seluruh ruangan yang menurut gue tertutup. Satu gamparan kuat mendera wajah gue dan hal itu menyebabkan gue pusing, dunia terasa gelap. Gue berharap setelah ini akan berubah, serta berakhir. Gue berharap hal itu terjadi, semoga....?!. Pov Riko end. #bersambung gays,,,, Jm 24 september 2021.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN