Beyond the Willingness

1041 Kata
Wester jelas-jelas menunjukkan sikap yang jauh berbeda dari yang aku ketahui selama ini. Rupanya, beban dari Shield selama ini menyudutkan Wester menjadi pribadi yang tidak sama. Antara ingin melindungi dan juga menjaga prinsip pribadinya adalah dua hal yang sangat berbeda. Kini, tanpa beban atau tuntutan tanggung jawab dari Fratrem, Wester jauh lebih manusiawi. “Tinggal satu tahun lagi masa sekolah kita dan semuanya akan berakhir masa remaja kita,” ucap Flint seraya menggendong tas ranselnya di pundak. Aku tersenyum mendengar komentar yang cukup terdengar khawatir. “Orang tuaku menginginkan kita berkumpul akhir pekan ini. Setelah petualangan kita, sepertinya tidak pantas jika sama sekali belum kembali ke rumah,” ungkap Flint kemudian. Pemakaman Leane baru seminggu lalu. Masih terbayang dengan jelas, bagaimana orang tua Leane dengan tegar dan ikhlas menerima dan melepas kepergian putri tunggalnya. Ada raut kebahagiaan saat aku menyampaikan mengenai kalung berliontin giok hijau tersebut pada mereka. Aku masih belum menyukai sepenuhnya menjadi pusat perhatian hingga detik ini. Meskipun secara fisik aku jauh lebih dewasa, usiaku baru menginjak lima belas tahun. Tidak bisa aku bayangkan menerima penghormatan yang diberikan pada orang yang jauh lebih tua, bahkan pantas aku hormati dari pada penghormatan yang mereka berikan padaku. Tapi tetap saja. Bentuk perhatian itu masih selalu aku terima. “Bennet, kepala sekolah memanggilmu!” teriak Alvin, adik kelas kami yang baru saja bergabung sebulan lalu. “Thanks, Al!” ucapku segera bergegas menuju kantor Wester. Alvin melonjak kegirangan dan tampak gembira ketika aku memanggil namanya. “Jangan lupa kita berkumpul nanti malam!” seru Reese sebelum berlari lebih dulu dariku. Aku tidak sempat membalas dan masuk ke ruangan Wester. “Bennet!” sambut Wester masih sibuk menanda tangani sesuatu di dokumen yang Ms. Anna sodorkan. “Sebelum Ms. Efraim pergi, bisakah memberi pelajaran khusus pada Bennet mengenai surat menyurat tata keluarga bangsawan?” pinta Wester pada Ms. Anna. “Tentu, bisa akhir pekan ini atau?” “Jangan! Akhir pekan ini aku harus mengunjungi Uncle Larry dan keluarga lainnya,” tukasku. “Uncle Cedric mungkin juga akan mengunjungiku,” sambungku kembali. “Katakan jika sudah ada waktu. Sebetulnya kapan saja, kamu bisa menemuiku,” timpal Ms. Anna dengan senyum manis. Aku mengangguk dan wanita itu berlalu. Wester memintaku untuk duduk bersamanya di sofa ujung. Aku mengikuti dan dengan cepat duduk. Sebenarnya tidak sabar mengetahui apa maksud panggilannya hari ini. “Cedric mendapatkan penghapusan tuduhan,” cetusnya seraya mengangsurkan dokumen kepadaku. Selembar kertas dengan stemple polisi kerajaan tersebut tampak resmi dan belum terbuka. “Bukalah,” pinta Wester. “Ini surat untuk uncle Cedric. Perlukah aku membukanya?” tanyaku  ragu. “Itu surat untuk keluarga Bennet dan tentu saja kau berhak membukanya!” Aku membaca kembali nama yang dituju dan Wester benar, ini adalah surat untuk keluarga Bennet. Dengan hati-hati, aku merobak simpul dan mematahkan segelnya. Mataku menelusuri dengan teliti tiap kata yang dituliskan dengan begitu rapi dan indah. Surat pembebasan Cedric Millenia Bennet. Hidungku mendadak terasa mampat karena desakan tangis yang mengharu biru perasaanku. “Dia akan bebas …,” desisku dengan tidak percaya. “Ya. Dan aku ingin dirimu menghilangkan semua anggapan buruk mengenai ketidak sukaanku pada Tuan Muda Bennet. Satu-satunya yang tidak aku sukai adalah karena dia pembakang dan selalu berusaha lari dari kelas!” Aku tersenyum simpul dan mengangguk. “Dia sudah menceritakan semuanya,” ucapku dengan mengerling padanya. “Wester, apakah ini berarti Osirus tidak akan memburuku lagi?” “Dari mana ide itu muncul? Bennet, kita saat ini mungkin diberi keleluasaan untuk istirahat sejenak! Sesungguhnya, Osirus tidak akan pernah berhenti sekalipun generasi mereka sudah berakhir.” Aku mengangguk dan menghela napas. Wester benar. “Pernah membaca tentang karya Shakespeare?” “Yang mana?” “Macbeth?” Aku mengangguk. “Bisa kau ceritakan sekelumit?” Aku merangkum kata yang paling tepat mengungkap semuanya. “Tragedi ini menceritakan tentang ambisi yang berubah menjadi kejahatan. Seorang jenderal yang mengkhianati rajanya, sahabatnya, bahkan jiwanya sendiri. "Fair is foul, and foul is fair" adalah inti dari Macbeth. Kisah ini mengisahkan pahlawan-panglima Macbeth dan istrinya yang berambisi menjadi raja dan ratu Skotlandia. Mereka mengira bahwa satu-satunya jalan menuju tahta raja adalah melalui pedang. Tetapi niat jahat memiliki rencana sendiri untuk menampakkan jati dirinya.” “Nah! Kalimatmu yang terakhir. Itu sangat menarik!” Aku tersadar dan memahami apa yang Wester maksud. “Dalam hidup, ada sesuatu yang kita hindari sekuat tenaga, tapi tidak bisa luput darinya. Namun, jika jalan tersebut bukan arah yang ditentukan untuk kita lalui, maka itu tidak akan terjadi. Ramalan bisa saja tercetus dari kutukan, dan itu bisa dipatahkan dengan ketekunan doa. Akan tetapi jika ucapan dan kepercayaan itu terlontar karena kesombongan, maka kisah dari Macbeth akan menimpa siapa pun itu. Karena niat jahat memiliki rencana sendiri untuk menampakkan jati dirinya.” Aku menyerap dengan baik kata demi kata yang terucap dari Wester dan kini berdiskusi dengannya, sama menyenangkan seperti menghabiskan waktu dengan Wolf, guru filsafatku! “Jadi, pelajaran apa yang bisa kau petik hari ini, Bennet?” tanya Wester padaku. Otakku berpikir keras untuk menciptakan satu rangkaian kalimat tepat. “Di luar semua hal yang terjadi di hidup kita, hal yang paling menentukan dan bisa mengubah segalanya adalah keinginan yang kuat!” Senyum lebar Wester terukir. “Cukup hari ini. Besok kita akan membahas hal yang lebih bermanfaat lagi.” Aku berpamitan dan mengulang kembali kumpulan ilmu baru yang baru kudapatkan dari Wester dalam hati. Rupanya esensi pokok dari setiap hal yang kita hadapi adalah satu. Keinginan untuk membuat solusi menjadi nyata! “Bennet!” Ed berlari mendekat dan mengatakan mengenai semua rencana yang akan kita lakukan selama libur khusus untuk kami di akhir pekan. “Aku tahu, Ed! Reese sudah mengatakan padaku. Minta Tom untuk menyiapkan kapal, kita akan berlibur ke kastilku di London!” tanggapku masih melangkah dengan cepat menuju ke perpustakaan. “Apa?!” pekik Ed tidak percaya dengan yang ia dengar. Aku tersenyum lebar dan mengangguk. Sahabatku berlari menjauh untuk mengabarkan berita barusan pada Reese dan Flint. Sementara itu, aku terus menuju rak buku di kumpulan buku sastra. Dengan cepat dan sigap, aku berhasil menemukan yang kucari. MACBETH BY SHAKESPEARE. Kali ini, aku akan mengupas habis semua hal tentang kisah buku ini dan mugkin akan kupahami sedikit cara bermain dengan gaya Osirus. Terkadang, menghadapi musuh licik, haruslah dengan kelicikan yang sama!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN