Macbeth adalah seorang jendral di bawah pemerintahan raja Skotlandia Duncan I.
Pada suatu hari ia dan temannya Banquo bertemu dengan tiga tukang sihir yang meramalkan bahwa Macbeth bakal menjadi raja suatu hari, dan Banquo walaupun tidak akan menjadi raja tetapi akan memperanakkan raja-raja.
Ketika Macbeth pulang dan memberitakan hal ini kepada istrinya Lady Macbeth, ia segera menyusun rencana untuk membunuh Duncan yang akan berkunjung dan menginap di rumah mereka.
Setelah menjadi raja, Macbeth juga takut bahwa Banquo akan membocorkan rahasia tentang ketiga tukang sihir, dan memerintahkan ia dibunuh juga.
Sementara itu seorang jendral lain yang bernama Macduff menjadi curiga akan tingkah laku Macbeth yang menampakkan gejala-gejala ketakutan dan rasa bersalah.
Ia kemudian bergabung dengan Malcolm dan Donalbain, kedua anak Duncan yang juga merasa curiga.
Perasaan takut Macbeth mendorongnya untuk mencari tukang-tukang sihir itu lagi, dan kali ini mereka meramalkan bahwa Macbeth akan tetap hidup "sampai hutan Great Birnam datang ke bukit Dunsinane". Selain itu, muncul sebuah ramalan bahwa Macbeth tidak akan dibunuh oleh seorang yang dilahirkan dari seorang wanita. Berpikir bahwa ini hal yang mustahil, Macbeth menjadi sombong dan puas akan jawaban ini. Tapi Lady Macbeth akhirnya tidak kuat lagi dan menjadi gila. Terutama ia merasa bahwa ada noda darah di tangannya yang tidak mau hilang walaupun dicuci berkali-kali.
Malcolm dan Macduff pergi ke Inggris dan merencanakan kudeta untuk membunuh Macbeth. Mereka akhirnya menyerang puri Macbeth dengan sekelompok prajurit, sambil membawa pucuk-pucuk pohon dari hutan Great Birnam sebagai samaran (hutan Birnam datang ke bukit Dunsinane).
Macduff berhasil memaksa Macbeth untuk berduel dengannya. Macbeth masih merasa sombong karena berdasarkan ramalan tukang-tukang sihir, ia tidak akan pernah dibunuh oleh "seseorang yang dilahirkan dari seorang wanita".
Tetapi Macduff menjawab bahwa ia "diambil dari rahim ibunya" (dengan operasi caesar). Akhirnya Macduff berhasil memotong kepala Macbeth dan menyerahkan tahta kerajaan kepada Malcolm kakak sulungnya.
***
Aku membaca dengan teliti setiap intrik dan juga kisah yang tertuang dalam buku Shakespeare tersebut. Tidak pernah aku duga, ada buku yang begitu luar biasa sederhana tapi tersimpan banyak intrik tersembunyi!
Hingga jam makan malam berdentang, aku masih mencatat setiap detail yang bisa kudapatkan dengan rapi. Flint masuk kamar dan melihatku yang sedang membaca.
“Kupikir kau ada pertemuan dengan Wester?” tanyanya heran.
Aku menutup buku dengan puas.
“Besok kita akan menikmati makanan aunt Eliza! Alangkah indahnya, aku tidak sabar!” balasku.
Flint terlihat tidak senang aku menanggapi dengan kalimat yang tidak tepat.
“Sudah, Flint! Aku sudah menemui dia siang tadi,” akhirnya aku memberikan jawaban yang ia inginkan.
“Ini berita yang turun hari ini!”
Flint memberikan koran padaku.
Dengan bingung aku menerimanya.
Berita headline di atas memberitakan tentang kemungkinan perang yang akan tercetus.
Asal usul langsung dari kemungkinan perang terletak pada keputusan yang diambil oleh para negarawan dan jenderal selama Krisis 1914, casus belli (adalah frasa bahasa Latin modern yang berarti "Aksi atau insiden yang memicu peperangan". Casus artinya "insiden", dan belli artinya "perang").
Cases belli tersebut adalah karena kasus pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria dan istrinya oleh Gavrilo Princip, seorang Serbia.
Aku mengernyit tidak memahami otak para orang bodoh yang mengakui dirinya adalah seorang negarawan!
“Akan ada wajib perang dan kita akan menjadi kandidat empuk, Bennet!” keluh Flint dengan lemas.
“Seberapa yakin kau tentang berita ini?” tanyaku seraya melempar ke atas meja.
“Aku tidak tahu. Sebaiknya besok kita tanyakan pada ayahku,” balas Flint seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
“Aku baru saja membaca kisah tentang Macbeth, Flint.”
Sahabatku melirik sebentar dan meraih camilan di ujung meja kami.
“Ada yang kau dapatkan?”
“Banyak sekali. Terutama ini ada kaitannya dengan taktik Osirus.”
“Sebaiknya kau membahas dengan Reese. Otakku sangat tumpul, Bennet. Kau tidak akan puas sementara aku akan mengantuk dan tidak paham sedikit pun.”
Aku baru sadar dia benar.
“Lupakan. Aku pikir bisa membahas tentang bagaimana nanti kita akan menghilangkan pengaruh osirus dengan cara yang sama, karena …,”
“Bennet! Please? Kasihanilah otakku ini,” potong Fint dengan wajah mengantuk.
“Sorry. Kita harus makan malam,” ajakku kemudian. Flint baru teringat dan bangun dengan kesal.
“Bahkan makan malam saja aku tidak sanggup!” keluhnya.
“Aku bisa bungkuskan makanan untukmu nanti,” tawarku tanpa menunggu lagi.
“Benarkah?” pekik Flint senang.
“Tentu saja!”
Aku menepuk pundaknya dan segera berlalu.
***
“Flint tidur?!” seru Reese tidak percaya.
“Manusia kurus kering dan tumpul itu tidak pernah melewatkan makan malam! Kamu yakin?” sambung Reese.
“Reese, kau tahu di mana kamar kami, kenapa tidak periksa sendiri?” tanyaku dengan jengkel dan mulai merasa terganggu.
Gadis berambut merah marun itu memberengut dan kesal.
Ed datang tidak lama kemudian dan duduk di sebelah Reese.
“Sudah baca koran hari ini?” tanya Ed dengan tegang,
Aku dan Reese mengangguk dengan lemas.
Suasana makan malam kali ini juga sangat hening dan hanya terdengar sesekali dengung orang sedang bicara berbisik.
“Aku pasti dapat wajib militer. Keluargaku tidak akan sanggup membayar ganti rugi,” keluh Ed mulai putus asa.
“Jangan pikirkan, Ed. Kita bisa atasi hal kecil itu,” tukasku sedikit tidak nyaman dan ingin mengalihkan topik yang kurang kusukai tersebut.
“Aku mencoba menghubungi uncle Cedric tapi tidak pernah bisa. Bisakah kau membantuku?”
“Tentu! Akan kucoba saat Wester tidur nanti,” janji Ed.
Apa yang saat ini sedang kami bicarakan tidak bisa menyangkut di benakku sedikit pun. Aku masih teringat akan ulasan Macbeth yang ingin aku tuntaskan.
“Kau menyimpan sesuatu, Bennet. Katakanlah dan jangan dipendam,” ucap Reese dengan mata menatapku. Dua manik matanya menyelidik dan aku seperti menjadi sasaran interogasi.
“Macbeth!” sahutku.
Mata Ed memutar kesal dan akhirnya angkat tangan.
“Aku menyerah! Kalian akan membahas dunia filsafat yang tidak menggunakan bahasa makhluk bumi!” gerutu Ed.
Aku tersenyum dan menatap Reese kembali.
“Apa yang menarik dari Macbeth? Hanya konspirasi kotor yang mendapatkan karma yang setimpal!”
“Reese, kau sudah baca?!” kini aku baru antusias!
“Apa yang ingin kau ketahui?”
“Dibalik konspirasi yang kau sebutkan tadi, aku juga menemukan intrik yang bisa digunakan untuk menghadapi osirus!”
“Menghadapi osirus?” tanya Reese dengan mata terbeliak.
Aku mengatakan dengan cepat bahwa semua tercatat rapi di jurnalku.
“Bisakah kita ke kamarmu?
Aku membungkus sebagian makan malam untuk Flint sembari mengatakan iya dan puluhan kata lainnya mengenai penemuanku tersebut.