Kami tertangkap basah oleh Wester di ruang labirin dan terpaksa tidak bisa mengelak saat dia menggiring kami menuju kantornya.
“Apa pun alasannya, kalian telah melanggar jam malam dan harus menerima hukuman, sesuai peraturan!” tugasnya. Aku hanya menunduk tanpa melawan. Reese yang bersiap melontarkan pembelaan akhirnya bungkam.
“Entah apa yang terjadi di bawah sana, tapi sebaiknya kalian tidak melakukan lagi karena tempat itu adalah tempat terlarang!” serunya belum puas melampiasan kekesalannya, karena kami telah melanggar jam malam.
“Hukuman buat kalian adalah tinggal semalaman di menara doa. Golter akan mengantar kalian ke sana! Jangan ada yang berani menggunakan kekuatan apa pun, karena aku akan mendeteksi dengan mudah!" ancamnya.
“Anda tahu bahwa kami mendapatkan kekuatan kami?” tanya Reese kini terlihat lega.
“Aku belum begitu tua dan pikun, Reese! Pastilah aku tahu jika ada kekuatan sihir yang terbuka!” ucap Wester tampak tersinggung.
Golter datang dan memberi isyarat supaya mengikuti dia.
“Selamat atas kekuatan kalian, berjagalah terus!” seru Wester sebelum kami lenyap di balik pintu.
“Nengucapkan selamat, tapi tetap aja menghukum. Ucapan yang aneh dan tidak adil,” gerutu Flint.
Kami terus mengikuti Golter hingga melewati semua gedung dan menuju menara doa yang terletak paling belakang.
Bahkan lokasinya masih di belakang gedung kesenian lagi, menara doa itu tampak suram dan gelap. Golter terus meminta kami naik hingga lantai paling atas.
Tibalah kami di tangga terakhir dan tampak sebuah pintu yang begitu terkuak, terlihat tumpukan kasur busuk yang siap menjadi alas tidur kami malam ini. Tanpa selimut, bayangkan!
Malam ini sangat dingin dan kami harus tidur di kasur tipis tanpa alas kain atau pun penghangat tubuh. Golter menutup pintu dan terdengar kunci berputar. Kami terperangkap di dalam tanpa berdaya.
“Aku tidak tahu jika hukumannya akan sekejam ini,” protes Reese dengan jengkel.
“Ada perapian tapi kayunya tidak ada,” keluh Leane. Aku mengambil satu kasur tipis dan diikuti keempat lainnya. Masih ada tiga kasur lagi, Ed menumpuk kasur untuk Reese dan Leane.
“Kalian akan lebih nyaman,” ujar Ed.
“Ucapan terakhir Wester sangat aneh,” kata Flint sambil membaringkan tubuhnya.
“Ucapan yang mana?” tanyaku sambil menatap langit-langit yang penuh sarang laba-laba.
“Berjagalah terus,” sahut Flint.
“Mungkin supaya kita berdoa, alih-alih tidur,” tanggap Leane.
“Apakah ini hukuman yang wajar?” tanyaku masih merasa kecewa harus tidur dengan bau kasur apak dan lembab.
“Dulu aku pernah dengar mengenai beberapa murid yang dihukum sih. Tapi belum terjadi sejak aku sekolah di sini,” jawab Ed.
“Perutku lapar, seharusnya ini jatahku makan camilan malam,” protes Reese dengan suara mendongkol.
“Sudahlah terima keadaan, Reese,” saran Flint sambil menguap.
“Aku bisa kehilangan otot berhargaku kalo begini,” timpal Ed dengan sedih.
“Astaga, Ed! Sudah berapa kali kukatakan, itu bukan otot, tapi tumpukan lemak. Pernahkah kamu berdiri di depan kaca?” tanya Flint setengah bangun.
“Kamu salah lihat, Flint. Ini adalah hasil latihan dan bukan lemak. Tapi otot, kenapa sulit buat kamu kenali sih?” bantah Ed. Flint mendengus kesal.
“Aku mencium bau tikus,” suara Leane terdengar gelisah.
“Leane, kamu sudah memiliki kekuatan, tapi kenapa masih takut sama tikus?” sindirku. Leane terdengar menggeser kasur dan aku bisa merasakan ketakutannya.
“Bisakah salah satu dari kalian bernyanyi? Aku benci keheningan,” pinta Reese.
“Aku mengantuk, Reese,” jawab Flint sambil menguap dan mulai memejamkan mata.
“Jangan kamu yang nyanyi! Suaramu jelek,” tukas Reese malas.
“Aku bisa bernyanyi tapi dalam bahasa mandarin,” tawar Leane.
“Boleh, asal bukan suara mengerikan dari Flint,” sambut Reese senang.
Leane mulai bersenandung, dan kuakui, suaranya sangat merdu juga menenangkan. Kami terbuai dan rasa kantuk mulai menyerang. Tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku berdiri. Lamat-lamat kudengar suara teriakan dan jeritan dari kejauhan.
“Leane, bisakah kamu diam sebentar?” pintaku.
“Suaranya sangat bagus, Bennet!” bentak Reese terganggu.
“Ada yang menjerit!” bantahku dengan keras. Aku bangkit dan berdiri. Dengan tergesa aku mencoba mencari jendela.
“Astaga siapa yang berteriak?” seru Ed terbangun dari tidurnya. Flint juga membuka mata dan kami saling memandang. Menara doa itu tidak memiliki jendela.
“Hancurkan dinding itu, Bennet,” pinta Flint. Aku mengayunkan kepalan dan seketika dinding batu yang cukup tebal tersebut berlubang. Flint mengintip dan terlihat lututnya gemetar.
“Ge-gedung utama terbakar da-dan semua te-teman kita berlari menuju ke la-lapangan,” desis Flint terdengar gugup dan tergagap. Aku menggeser tubuh Flint dan benar! Semua berlarian, sementara suara tembakan terdengar di mana-mana.
“Apa yang terjadi?” tanya Reese tidak sabar. Aku menyingkir dan berpaling pada Flint dan Ed.
“Osirus menyerang!” ucapku lantang. Kedua temanku membeliakkan mata.
“Semoga mereka selamat,” harap Reese dengan suara gemetar.
“Kita tolong mereka.” Aku langsung bersiap ingin mendobrak pintu. Tiba-tiba terdengar suara Ruben berkumandang di kepalaku.
‘Bennet, pergi dari sini! Jangan membantah atau bersikap sok jagoan!’
Aku memandang Ed yang ternyata juga mendengar.
“Kalian mendengar suara Ruben?” tanyaku. Semua dengan wajah cemas mengangguk. Remang-remang lilin itu cukup memberi gambaran bahwa semua dalam kondisi ketakutan.
“Kita harus pergi dari sini,” ujar Leane.
“Kemana?” tanyaku.
“Jangan ke kastil, di sana pasti sudah mereka jaga dan mungkin kita akan terperangkap,” saran Flint.
“Kita tidak bisa menuju ke lokasi di mana kita biasa datang. Mereka mengejarmu, Bennet,” imbuh Ed.
“Bennet, baca pikiranku. Aku tidak bisa menjelaskan tempat yang kita harus tuju,” pinta Leane sambil memegang tanganku. Suara ledakan terdengar dan kami memekik karena terkejut.
“Usahakan jangan bersuara,” bisik Reese dengan gemetar.
Kami mengangguk dan aku menyentuh lengan Leane serta mulai konsentrasi penuh. Aku melihat bayangan mirip dengan daerah pinggir laut. Semakin lama makin jelas. Itu adalah dermaga!
“Dermaga?” tanyaku. Leane mengangguk. Aku memandang keempat sahabatku.
“Kalian siap berpetualang?” tanyaku dengan kecut. Semua mengiyakan dengan suara bergetar.
“Kita akan pergi.” Aku terdengar tidak yakin. Keinginanku untuk membantu temanku terlalu kuat, tapi peringatan dari Ruben memaksaku untuk pergi secepatnya.
Dengan konsentrasi yang penuh, bayangan dermaga itu muncul dan dengan sekuatnya aku melompat beserta keempat companionku. Kami melesat melewati spektrum warna dan semua berkelebat dengan kecepatan fantastis. Kami terhempas di atas lantai keras dermaga. Bau amis laut tercium dengan tajam. Leane meringis dan memegang sikunya yang terlihat berdarah.
“Maaf,” sesalku yang belum begitu pandai membawa penumpang menempuh jarak yang cukup jauh.
“Tidak apa-apa,” sahut Leane paham. Reese jauh lebih stabil dan terlihat tidak terpengaruh dalam perjalanan kali ini. Mungkin Leane belum terbiasa.
“Kita di mana?” tanyaku.
“Dermaga Royal Albert Dock,” jawab Ed sambil memandang kapal besar yang menjulang di depan kami.
“Kapal dagang milik India,” gumam Flint yang mengenal bentuk kapal tersebut karena sering menemani ayahnya dulu bernegosiasi dengan para pedagang.
“Ayo kita pergi dengan kapal ini,” ajak Leane.
“Kamu sinting, Leane!” tolakku.
“Dari India ke Tibet tidak jauh dengan kekuatan jumper atau traveler yang kamu miliki. Mereka, Thema dan Dalai Lama, menunggumu di Lhasa,” ucap Leane dengan sangat yakin.
Aku meminta pertimbangan ketiga lainnya. Reese mengangguk dan meyakinkan aku ini saatnya.
“Baiklah, kita tempuh perjalanan ini.”
Aku menarik napas kuat-kuat dan akhirnya dengan dibantu kekuatan Ed, kami semua terbang dengan dorongan angin dan masuk ke dalam kapal perdagangan tersebut tanpa diketahui oleh siapa pun. Inikah petualangan sesungguhnya?