Pertemuan kami malam itu sungguh membuat hatiku makin tertekan. Mendadak hujan kembali turun dan Reese terlihat sangat cemas. Flint berkali-kali memohon untuk menghilangkan kesedihan, sementara Ed dan Leane memintaku membuat keputusan segera.
“Kita tidak tahu kapan kekuatan kalian akan muncul. Kita harus menunggu hingga masing-masing mendapat kekuatan dan aku akan memutuskan segera,” jawabku kali ini terdengar putus asa dan jauh dari tegas.
“Bisakah kalian berhenti menekan, Bennet?!” bentak Reese mulai kehabisan kesabaran. Ed dan Leane bungkam.
“Aku akan memutuskan menyelidiki basement tempat Wilson menyembunyikan sesuatu. Siapa tahu dari sana kita dapat petunjuk lainnya,” ucapku sambil melipat buku pelajaran.
Otakku buntu dan tidak ada satu pun rencana tercetus. Wilson adalah pelarian sementara yang paling tepat untuk menghindari kejaran Ed dan Leane.
“Ok, terdengar bagus dan aku tidak sabar ke sana malam ini,” sambut Ed.
“Kamu tidak berusaha menghindar kan?” tanya Leane dengan terus terang. Aku menatap Leane dan menggelengkan kepala.
“Kita tuntaskan dulu satu persatu,” sahutku berbohong.
“Baiklah, kita ketemu malam ini. Setelah makan malam,” ucap Reese sambil memberi isyarat pada Leane untuk bergegas kembali ke asrama wanita.
☆☆☆
Malam itu semua terlihat ingin masuk kamar dengan cepat. Mendekati penghujung tahun 1913, kondisi cuaca sangat tidak menentu. Selain karena ditentukan oleh suasana hatiku, musim dingin ternyata muncul lebih awal.
Kami mengendap-endap mendekati pintu basement. Dengan mudah Ed membuka gembok, hanya sekali pukul.
“Kamu tidak pakai sihir kan, Ed? Wester akan memergoki kita dan tamat semuanya,” bisik Flint dengan cemas.
“Kamu meragukan ototku?” jawab Ed sambil memamerkan lengan besarnya. Flint memutar bola matanya dengan jengkel.
“Lebih terlihat tumpukan lemak daripada otot,” cibirnya dan mendahului masuk. Ed melihat lengannya untuk memastikan penilaian Flint.
“Ed, cepat!” seru Reese sedikit berteriak. Ed sadar dan menyusul kemudian. Leane menyalakan senter dan ruangan itu tampak sedikit lebih terang. Tumpukan peti berisi dokumen tidak terpakai yang terbuka menghiasi sudut. Sarang laba-laba bertebaran dan memenuhi atap yang sangat pendek. Kepalaku dan Flint hampir menyentuh atap. Kami terpaksa sedikit merunduk.
“Tidak ada yang aneh,” gumam Reese dengan cepat menganalisa. Ed yang juga membawa senter menyorot bagian lantai.
“Ada jejak kaki mengarah kesana,” ucapnya dengan jari telunjuk teracung ke bagian lebih dalam.
“Perlukah kita ke sana?” tanya Leane ragu.
“Kepalang tanggung,” tukas Flint dan dia memimpin langkah kami.
Reese meminta kami berhenti dan jarinya menyilang di bibirnya. Kami mendengar orang bercakap-cakap. Ed menunjuk ke atas. Ternyata kami berada di bawah ruang rekreasi para guru dan penjaga asrama. Kami kembali melanjutkan langkah tanpa suara.
Basement itu ternyata mengarah pada terowongan yang cukup panjang. Ada beberapa obor yang terpasang di dinding, namun sangat beresiko jika kami menyalakan saat ini. Setelah berjalan dengan langkah hati-hati selama kurang lebih setengah jam, kami berada di ujung yang tampak seperti labirin gua. Tidak ada lagi dinding kayu dan atapnya berganti dengan batu staklaktit yang terlihat tajam.
“Gua …,” desis Ed kagum. Di tengah labirin tersebut terdapat meja batu yang berupa tumpukan batu warna warni bersinar hangat. Jumlahnya ada empat!
“Kenapa batu itu melambangkan warna elemen kita?” tanya Reese dengan tatapan heran sekaligus bingung.
“Kelihatannya tidak pernah tersentuh selama beberapa dekade. Tebal banget debunya,” tambah Leane. Aku mendekat dan melihat pancaran sinar tersebut makin kuat, tidak lagi redup.
“Bisakah kalian mengambil masing-masing satu?” tanyaku.
“Aku lupa warna unsurku,” keluh Ed. Flint melotot padanya.
“Aku yang paling terakhir, Flint. Otakku melemah jika harus mengingat!” Ed mencoba membela diri.
“Aku benar-benar tidak percaya kamu sebagai companions paling tangguh!” Reese terlihat tidak terima dengan semua kelemahan Ed, malah menjadikan dia yang terkuat.
“Reese, warnamu adalah merah oranye, Leane biru atau hijau, Flint ambil yang hitam atau abu-abu, dan Ed batu warna putih,” sambarku tidak sabar. Masing-masing mengambil batu tersebut dan menimangnya.
“Tidak ada yang aneh,” ucap Flint masih meneliti dengan seksama. Batu tersebut mirip dengan batu pualam. Licin dan halus permukaannya.
“Mungkin ini hanya kebetulan aja. Kita mau cari Wilson malah ketemu sama yang begini,” keluh Ed tertarik dengan warna putih s**u batunya.
“Batuku bergetar!” seru Reese sedikit panik. Sebelum kami mendekat untuk melihat, tiba-tiba tubuh Reese melambung ke atas dan melesat ke atas meja batu kemudian berputar dengan cepat. Reese sontak menjerit ketakutan. Kami terpana dan bingung harus melakukan apa. Dengan cepat, Leane melepaskan selendang aneh yang melingkar di pinggang dan melentingkan ke arah Reese. Namun sungguh di luar dugaan, selendang itu terbakar dan Leane memekik kesal. Tubuh Reese muncul percikan api yang kemudian membakar ujung sepatu dan menjalar ke bagian lain tubuhnya hingga kepala. Temanku semakin panik. Aku dan Ed mulai mengumamkan mantra untuk menyelamatkan Reese. Tampaknya semua sia-sia. Mantra kami mental dengan mudahnya.
“Hentikan semua!” bentak Flint. Kami berhenti dan menatap Flint dengan tidak mengerti.
“Lihat mata Reese!” ucapnya. Kami berpaling padanya dan mata Reese seperti kobaran api yang menyala.
“Dia sedang menerima kekuatannya,” desisku dengan takjub. Reese mulai tenang saat sadar tidak ada panas yang ia rasakan. Begitu selesai, putaran itu melambat dan Reese melayang di udara, serta kembali berdiri dengan tegak. Tubuhnya kembali pulih dan kobaran itu hilang, begitu juga matanya kembali berwarna cokelat.
“Ak-aku tidak merasa panas,” ucap Reese gugup.
“Api itu juga tidak membakar bajumu kok,” sahut Leane dan memeluk Reese dengan erat.
“Kupikir aku akan kehilanganmu,” ucap Leane dengan lega. Reese mengangguk dan mengusap anak rambut di dahi Leane. Tubuhnya yang hanya setinggi kuping Reese, tampak mungil.
“Jangan menangis, Leane! Aku masih mau hidup lebih lama,” jawab Reese tersenyum tipis.
“Aku belum pernah punya teman. Biarpun kamu judes, tapi kamu adalah teman yang terbaik,” ucap Leane dengan tulus. Reese mengedipkan mata dengan lucu.
“Apakah kita juga mengalami seperti Reese?” tanya Flint.
“Apa yang kamu ucapkan sebelum batumu bergetar tadi?” tanyaku.
“Hanya kalimat sederhana. Aku bertanya pada batu itu, rahasia apa yang tersembunyi padamu?” jawab Reese dengan ringan.
“Kurasa itu mantra yang tanpa sengaja terucap,” ujar Ed.
“Kalian siap mencoba?” tantang Flint. Leane masih terlihat ragu sementara Ed mengangguk dengan cepat.
Akhirnya malam itu satu persatu mencoba dan mendapatkan kekuatannya dengan ajaib.
Aku terkagum-kagum dengan cara mereka mendapat kekuatan tersebut. Ed berakhir dengan rambut merahnya berdiri tegak karena hembusan pusaran angin yang keluar dari tubuhnya. Leane muncul dengan basah kuyup dan Flint belepotan dengan tanah.
Leane mencoba membersihkan dengan air yang muncul dari acungan tangannya dan Flint turut basah kuyup. Ed dengan sigap menghembuskan angin dari mulutnya dan mengeringkan baju kedua kawan kami. Dalam sekejap, kami menjadi remaja yang memiliki kekuatan super!
“Bennet, kami sudah siap, kini kamu tidak akan lengah dari penjagaan kami!” seru Ed dengan bangga.
“Yah, kini tinggal menunggu tattooku muncul.”
Semua tersenyum penuh semangat.
“Hei! Apa yang kalian lakukan di situ!” suara Wester berkumandang dan kami lemas seketika. Bayangan akan hukuman menari di atas benakku.