Aku masih bisa membayangkan raut dan pekik bahagia dari pelayan juga guruku. Rasanya sangat membanggakan melihat mereka memekik girang ketika aku berhasil membuat keajaiban.
Emerin, wanita muda yang berusia, kuperkirakan, sekitar dua puluh lima tahun, tampak manis dengan untaian bunga di rambut pirangnya. Aku tahu jika Albert menaruh hati padanya, sayang sekali Emerin kurang memperlihatkan minat atas perhatian Albert.
"Ini permulaan yang bagus, Bennet. Kami bangga sekali atas pengendalian kekuatanmu. Mungkin engkau terpilih karena alasan ini. Kuat, berbakat dan tangguh," puji Albert sembari menuang wine merah ke gelas kristal.
Ia mengulurkan masing-masing, termasuk aku, dan mengajak bersulang.
"Kamu yakin aku boleh minum ini?" tanyaku ragu.
"Kamu sudah cukup umur, aku mulai mengenal alkohol usia sepuluh tahun," tukas Albert dengan mimik geli.
"Wolf dan Ron belum juga kembali," cetus Ruben sambil berdiri di depan jendela mengamati arah pintu gerbang. Hugo menarik jam sakunya.
"Sudah empat jam lebih," hitung Hugo mulai terlihat resah.
Dalam hati aku mulai khawatir. Mungkinkah ada kendala?
"Penta, bisakah dirimu mendengar keberadaan mereka?" tanya Hugo terdengar sekaligus ingin mengujiku.
"Entah, gemuruh ombak pun bisa kudengar. Semua membuatku pusing," keluhku.
Ruben memberi isyarat untuk Hugo memeriksa. Dokter tua itu mengangguk dan mendekatiku.
"Pupilmu membesar, apakah kamu takut? Khawatir atau cemas?" tanya Hugo dengan cermat. Aku ingin menjawab tidak, namun Hugo benar.
"Hanya sedikit cemas," jawabku akhirnya mengambang. Hugo menepuk pipiku.
"Cokelat panas akan menenangkan dirimu," cetus Hugo. Aku tersenyum setuju.
Tidak lama kemudian, empat cangkir cokelat panas tersedia. Ruben menghirup buih busa cokelat yang mengumpul di atas. Entah bagaimana tukang masak kami membuatnya, tapi cokelat hangat kami selalu istimewa. Buih yang menggumpul di atas dan taburan marshmelow kecil menjadi pelengkap minuman favoritku ini.
"Maaf, tapi Ron juga Wolf terlalu lama pergi. Ini sudah hampir lima jam. Aku akan menyusul mereka," pamit Ruben seiring tegukan terakhir minuman cokelatnya.
"Al, kuatkan perlindungan hingga level tiga," pinta Ruben sambil mendekatiku sementara Albert melesat pergi tanpa bertanya.
"Penta, firasatku tidak baik. Jika terjadi sesuatu dengan sistem perlindungan, selamatkan semua yang ada di sini. Termasuk pelayanmu, mengerti?" tanya Ruben setengah membungkuk untuk menyamai tinggiku yang hanya sebahunya. Aku menggangguk gugup walau bingung.
"A-apa yang terjadi?" tanyaku kembali. Ada sedikit sesal karena tidak bertanya lebih lanjut.
"Kau akan memahami saat itu terjadi, Hugo akan menjelaskan!" teriaknya sambil berlari meninggalkan ruangan. Aku menatap Hugo yang segera memintaku mengikutinya.
Kami berjalan menuju arah basement, tempat penyimpanan anggur dan minuman keras. Jarang dan hampir tidak pernah aku mengunjungi ruang tersebut.
Pikiranku tambah kacau sangat melihat lampu yang belum pernah menyala sebelumnya di sepanjang koridor berkedip merah.
Para pelayan mengikuti kami dari dari belakang. Tukang masak, yang aku lupa namanya, masih mengenakan celemek.
Emerin masih belum melepas tudung putihnya yang menandakan ia baru saja dari kebun. Kami menuruni tangga basement dan pintu masuk kayu berlapis besi terbanting keras lalu terkunci di belakangku. Hugo terus memimpin dan berjalan masuk melewati drum penyimpanan anggur. Aku merasakan ketegangan mereka.
"Ki-kita mau ke mana?" tanyaku panik.
"Ikuti saja Hugo," bisik Emerin dengan pelan.
Di ujung lorong, kami berbelok dan melewati rak penyimpanan whisky. Hugo tiba-tiba berhenti dan dibantu beberapa pelayan, mendorong rak, yang ajaibnya bergeser tanpa rubuh.
Pelayan yang kuketahui bertugas di istal kuda menyingkap karpet lusuh dan tampak di lantai pintu dari besi.
Hugo memukul tiga kali dengan jeda, tidak berapa lama pintu besi itu bergeser ke samping dan tampak sebuah tangga menurun yang cukup curam dan kecil. Tubuh Hugo yang lumayan gempal masuk dengan susah payah.
"Hati-hati, licin," ucap Hugo.
Aku menyusul dengan kikuk dan gemetar. Bau apak lumut menyerbu hidungku. Aku melangkah dengan hati-hati. Emerin di belakang terus mengingatkan untuk berhati-hati.
Saat mencapai anak tangga terakhir, baru kusadari kami berada di sebuah ruang yang mungkin sudah lama dipersiapkan. Entah untuk tujuan apa.
"Selamat datang di bunker perlindungan!" seru Albert menyambut kami. Aku tidak menjawabnya. Diriku terlalu takjub akan keberadaan ruang di bawah tanah ini.
Dinding ruangan itu terbuat dari besi. Berbagai peralatan tehnologi dengan layar kaca yang aku tidak ketahui apa namanya berjajar di sisi kiri bersama meja yang dipenuhi tumpukan buku. Sementara sebelah kanan berjajar tempat tidur tingkat dan tiga buah lemari.
Tempat makan dengan meja panjang juga lengkap berada di sebelah kanan. Ruangan itu terlalu luas. Bahkan aku menduga ada kamar mandi dan juga dapur yang berada di balik lemari besar tersebut.
"Bingung?" tanya Albert. Aku menggangguk dengan sikap lebih tenang.
"Duduklah di sini, Penta," pinta Hugo.
Aku mengikuti ajakannya dan duduk di meja dengan tumpukan buku. Semua pelayan memilih duduk di meja makan panjang.
"Ruangan ini berbentuk huruf L. Ruangan utama adalah di mana kita duduk saat ini dan di sebelah adalah tempat kita membersihkan diri. Rupert, buyutmu, membangun ini empat puluh tahun lalu. Albert menyempurnakan dengan berbagai tehnologi tercanggih saat ini," papar Hugo dengan jelas.
"Alasan kenapa kita berada di sini karena situasi darurat. Kami tidak pernah menyangka ini akan terjadi, dan oleh karena itu, saat yang tepat memberimu ini," Hugo menyerahkan sebuah buku yang bersampul hitam tebal.
"Tenangkan diri, simpan baik-baik. Kamu baca saja nanti," pesan Hugo kembali. Aku mencoba mengatur napas.
"Darurat ...," ucapku mengulang kata Hugo tadi. "Apakah Ron dan Wolf dalam bahaya?" tanyaku.
"Sulit mengatakan. Ruben sedang mencari tahu," jawab Hugo.
Albert memanggil Hugo untuk menunjukkan kertas yang muncul dari mesin kotak mirip dengan mesin tik otomatis di ujung kerangka mesin besar. Rasa penasaran mendesakku untuk mendekat.
"Bennet, kamu tahu tentang ini?" tanya Albert saat melihatku muncul. Deretan titik dan garis tertulis di kertas.
"Mesin ketik?" jawabku.
"Ya, hampir mirip. Tapi ini jauh lebih canggih lagi. Tahun ini kami berhasil mendapat alat komunikasi terbaik abad ke-19," terang Albert dengan bangga. Aku berdecak kagum.
"Kami menyebutnya Telegraf," sebut Hugo setelah selesai mengartikan titik dan garis yang mirip sandi morse.
"Telegraf? Aneh ...," sahutku.
"Telegraf merupakan sebuah mesin atau alat yang menggunakan teknologi telegrafi untuk mengirim dan menerima pesan dari jarak jauh, agak sulit menggunakannya, tapi tehnologi adalah komunikasi tercepat yang pintar," sambung Hugo dengan sigap meminta semua pelayan mendekat. Aku berbalik dan menunggu Hugo bicara.
"Kawan semua, ada dugaan kedatangan patroli polisi adalah karena mencurigai keberadaan kita. Di sini saudara kita di kota Faroe mengirim pesan, kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Untuk sementara, persiapkan diri kalian dengan baik, karena Osirus sudah menyusupi kepolisian. Ramalan tentang kemunculan Pentagram akan terjadi tepat tahun ini. 1913 bulan ke 12," pungkas Hugo.
Aku menelan salivaku dengan cemas. Sudah kuduga ini akan bermuara pada situasi memburuk. Perutku terasa tidak enak. Kecemasan dan gelisah berlebihan sering membuatku tidak nyaman dan menyerang metabolisme tubuhku.
"Penta, perlindungan sudah mencapai level tertinggi, jika pagan Osirus berhasil menembus pertahanan, maka tugasmu menyelamatkan kami dari tempat ini!" seru Hugo kini berpaling padaku. Aku membuka mulut dengan bingung. Menyelamatkan mereka? Bagaimana caranya?