Black Book

1199 Kata
Pagi sudah menjelang mungkin. Tadi malam sedikit sekali yang bisa kudapatkan tentang kekacauan ini. Tukang masak menyajikan menu sederhana yang tidak masalah bagiku. Namun sulit menikmati santapan pada situasi begini. Kami tidak bisa melihat matahari sedikit pun. Untunglah ada jam saku yang membantuku melihat waktu saat ini. Pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku menyimpan kembali dan melirik ke seluruh ruangan. Rasa gerah yang menyerang membuatku melepas jas panjang. Rasanya sangat nyaman tanpa terbungkus kain tersebut. Aku melangkah mendekati meja panjang dan tersenyum kikuk pada para pelayan, yang aku tahu bukan pelayan sesungguhnya. "Tuan Bennet, apakah ...," "Berhentilah berpura-pura, Emerin! Kita sudah saling mengetahui semuanya," tukasku cepat. Aku sendiri agak sungkan menyandang gelar Tuan Muda. "Maaf, aku hanya menjalankan tugas," jawab Emerin lirih. Aku mencoba tersenyum, tapi mulutku terlalu kaku. Yakin saat ini yang muncul adalah seringai menyebalkan. "Marilah kita saling mengenal. Kalian sangat jarang berbicara padaku," pintaku dengan suara berusaha ramah. Emerin tersenyum. "Akan kubantu perkenalkan mereka kembali?" tawar Emerin. Aku mengangguk senang. "Basil adalah tukang masak kita, Rex tukang istal yang menguasai ilmu menjinakkan kuda, dan itu Remmy yang sering membersihkan atap rumah dari berdebu. Ingat Don? Dia bertugas menjaga kebun, sangat pandai mengayunkan pedang. Tony yang menjaga semua kondisi gedung dan pagar. Kemudian Scape petugas ruang makan membantu Basil. Lalu June dan July, si kembar yang cekatan membersihkan seluruh ruangan. Dan aku, Emerin yang mengurusi sebuah kebutuhanmu bersama Hugo." "Aku akan berusaha mengingat," ucapku sungguh-sungguh. Emerin tersenyum senang. "Sampai kapan kita di sini?" tanyaku. Emerin melirik ke arah Hugo dan Albert yang masih berkutat dengan mesin telegraf. "Sudah semalaman kita di bunker. Bagaimana dengan ketiga guruku?" sambungku terdengar tidak sabar. "Kami hanya manusia biasa yang diselamatkan oleh Tuan Rupert, kakek buyutmu, Penta. Kami mengabdi dengan baik dan berusaha belajar untuk bertahan hidup. Tidak ada satu pun pengetahuan tentang hal lain," jawab Emerin dengan lesu. Aku mengeluarkan buku yang Hugo berikan tadi malam. "Sebaiknya kamu mulai membaca buku itu. Mungkin semua pertanyaan akan terjawab," bisik Emerin. Aku mengangguk dan membuka buku dengan hati-hati.  Hampir keseluruhan isi buku adalah tentang awal pagan Fratrem didirikan. Aku sama sekali tidak tertarik untuk membaca organisasi yang menurutku tidak perlu hingga sedetail dan semisterius itu. Selanjutnya muncul tentang perkembangan ibuku selama mengandung. Aku membaca sekilas dan memahami bahwa penuh dengan perjuangan. Terutama saat kakek dan nenek meninggal. Dengan tidak sabar, aku membuka lembar demi lembar dan akhirnya menemukan sebuah gambar berbentuk bintang beserta penjelasannya.  Aku konsentrasi penuh pada mata dan pikiran. Mencoba memahami isi dari tulisan tersebut. Tulisan tangan itu berbeda dari sebelumnya. *Crone Winlow, bersama istrinya Rose, mengunjungi Mesir tahun 1898. Pada saat Rose di Kairo, wanita itu mengalami kesurupan. Dia menyampaikan rentetan pesan kepada Crone: Pada tanggal sembilan, bulan kesembilan, tahun 1899, anak Osiris, Horus, akan reinkarnasi melalui seorang bayi yang akan lahir dari seorang perawan. Pertanda akan terlihat melalui lambang pentagram yang terukir di perut ibunya.* Aku menarik napas dengan gugup. Hatiku berdebar penuh rasa penasaran. Aku membalik halaman berikutnya. *09-09-1899 adalah tanggal, bulan dan tahun lahir yang penuh unsur sembilan. Albert mencoba mengurai rahasia di balik tahun tersebut dan menemukan sesuatu yang mencengangkan. Setelah dijumlahkan dan dibagi dengan angka sembilan, hasil akhir adalah enam. Wolf mengurai artinya. Angka enam mewakili jumlah panca indera. Bayi yang lahir nanti diramalkan akan menguasai keenam panca indera terbaik dan pentagram melambangkan lima elemen bumi yang bisa membuka gerbang dunia Osiris menjadi kekuatannya.* "Kamu sudah paham?" tanya Albert tiba-tiba berada di sebelahku. Keringat dingin mengucur di punggungku. "Su-sudah," jawabku ragu. "Kelahiranmu adalah andil Osiris yang ingin mengumpulkan kekuatan mengumpulkan pengikut dari dunia hidup. Dia membuat Esther mengandung kembali Horus, putranya yang ia kirimkan ke dalam rahim ibumu," ucap Albert menjelaskan lebih detail. "Apakah ini berarti aku adalah Horus?" tanyaku penuh selidik. "Entah, Bennet. Horus adalah salah satu dewa paling penting dalam agama Mesir Kuno, ia dipuja sejak kurun pra-dinasti hingga masa Yunani dan Romawi. Horus dipuja sebagai dewa langit, dewa perang, dan dewa pelindung. Sepertinya aneh jika Osiris memutuskan melahirkan Horus kembali. Karena Horus melambangkan Hidup dan Osiris mewakili Kematian," ucap Albert dengan wajah termenung. Aku mulai memahami sekarang. Bahwa Osiris menitipkan benih reinkarnasi Horus pada Esther, ibuku, untuk tujuan kejayaannya nanti. "Sepertinya aneh dan tidak masuk akal. Aku, anak yang tidak pernah mengalami keajaiban, kecuali kemarin, memiliki kekuatan yang demikian besar, masih sulit terbayang," cetusku tanpa bermaksud tidak mempercayai ucapan Albert. "Secara logika memang sulit. Tapi dunia ini tidak hanya tentang yang terlihat. Banyak misteri yang kita tidak bisa jelaskan," tukas Albert. Aku ingin menyelesaikan membaca buku, namun masih ada ganjalan. "Al, tentang menyelamatkan kalian. Bagaimana aku melakukannya?" tanyaku. Albert menoleh dan menghela napas. "Hugo akan menjelaskan dengan lebih detail. Sebagai dokter ia bisa memahami emosi dan pikiranmu," jawab Albert seraya bangkit ketika mesin telegraf kembali mengeluarkan bunyi. Pria berambut coklat gelap, ikal sebahu itu terlihat lelah. Tubuhnya tegap dan setinggi Ruben. Aku yakin Albert merupakan guru matematika paling tampan. Pastinya Ruben yang paling menarik walaupun wajahnya selalu sedih. Mereka berdua adalah pria panutanku. Aku ingin hebat seperti keduanya. Hugo berjalan menghampiriku dengan piring berisi sarapan. Sup kacang bersaus kental dan sosis buatan Basil. Sarapan darurat hanya mengandalkan bahan sederhana. Tapi aku sangat menyukainya. "Penta, aku siap menjelaskan padamu tentang cara traveler menjelajah tempat dan waktu," ujar Hugo sembari meletakkan garpunya. Kumis putihnya yang melintang terlihat kotor oleh saus berwarna cokelat. "Time traveler akan mengandalkan keinginan terbesarnya untuk berpindah tempat melalui lompatan quantum," Hugo menjelaskan dengan bahasa yang ilmiah. "Lompatan quantum?" aku tahu apa itu quantum, sejumlah entitas atau wujud dari sifat fisika. Tapi melompatinya? "Lompatan quantum adalah sebuah teori tunggal yang pada prinsipnya mampu menggambarkan semua petunjuk keberhasilan time traveler mencapai tujuannya. Dan kunci dari semua itu adalah dengan pikiran bahagia" jawab Hugo menjawab pertanyaanku. "Lalu?" "Teori quantum didasarkan pada ide bahwa semua kemungkinan peristiwa memiliki probabilitas atau kemungkinan untuk terjadi, tak peduli seberapa fantastik atau pandirnya peristiwa itu.  Begini, bayangkan dalam pikiranmu, sebuah celah kecil yang akhirnya membesar. Sebuah pintu yang tidak sulit untuk kamu lampaui demi mencapai tujuanmu. Pergi dan bawa kami semua," sambung Hugo. Aku merasakan kepalaku berdenyut. "Aku belum bisa membayangkan," keluhku. "Seharusnya ada latihan. Tapi kami tidak sempat melakukan itu padamu. Kondisi ini di luar rencana," jawab Hugo sedikit kesal akan situasi yang serba tidak pasti seperti saat ini. "Dalam sandiwara quantum, para pelaku memiliki kebebasan melakukan kemauan mereka sendiri. Menundukkan waktu dan proses. Hanya ada segelintir yang memiliki kemampuan sepertimu. Setahuku, dua yang kukenal dan masih hidup. Dirimu dan Cedric," ungkapnya. Aku tertegun. Orang yang membunuh kakek buyutku adalah lawan yang tangguh? "Cedric, pamanku sendiri," kataku dengan nada getir. "Ya. Aku hampir tidak percaya saat engkau menceritakan suara yang kau dengar sewaktu pingsan. Misteri pembunuh kakekmu akhirnya bisa terungkap ...," kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Hugo meneguk habis jus jeruknya. "Rasanya parah jus ini. Aku berharap kita bisa kembali ke atas. Jus dari simpanan tidak segar," protes Hugo meleletkan lidahnya. Aku tahu jika dia ingin mengalihkan kesedihannya. "Hugo, jika aku melatih diri sendiri, mungkinkah?" tanyaku. Hugo menatapku dengan ragu. "Entahlah, Nak. Aku khawatir jika kamu tersesat tanpa kita dan tidak bisa kembali lagi," jawabnya. "Karena aku pemurung dan memiliki emosi yang labil," sambungku melengkapi keraguannya. Hugo mendesah dengan prihatin. Teka teki satu persatu terkuak. Namun menyambung pada misteri berikutnya. Sampai kapan aku bisa mengurai kusutnya benang hidupku? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN