Saving Ed

1125 Kata
~Sahabat yang sejati, laksana simpanan gandum untuk musim kemarau. Berharga dan bisa diandalkan~ *** Pagi itu kami bertiga, aku, Flint dan Reese menuju tempat pemancingan yang dekat dengan rumah. Larry membawa kami saat membeli ikan segar untuk makan malam nanti. Ini pertama kalinya juga aku naik mobil beroda empat. Mesin ini sangat aneh dan canggih, meskipun aku lebih memilih kereta kuda karena suara mesin mobil sangat berisik sekali. Lokasi pemancingan itu sangat luas dengan delapan kolam ikan buatan terbentang di hadapan kami. Dikelilingi dengan pohon mahoni dan pinus besar, pemancingan tersebut cocok untuk tempat wisata juga. Begitu teduh dan nyaman. Larry memilih sepuluh ikan kakap merah segar dan menenteng untuk kami bawa ke mobil. "Tuan Emerson, sudahkah mendengar tentang kabar terakhir tuan Dawson sahabatmu?"seru Barry, pemilik pemancingan dengan lantang. Ayah Flint menoleh dan mengerutkan keningnya. "Aku tahu jika dia membawa keluarganya ke Middlesbrough," sahut Larry dengan yakin. Barry terkejut dan tidak menduga jika Larry tidak mengetahui kabar terakhir. Dengan langkah tergopoh-gopoh, pria berperut bundar dan tinggi besar itu mendekati kami. Sepatu bootnya yang terlihat berat, terseret seiring ayunan tubuhnya. "Tuan Dawson mungkin sedang dalam pengejaran kembali. Entah apa penyebabnya, tapi seluruh keluarganya kini juga pindah dari Middlesbrough," ungkap Barry denga raut cemas. Larry hampir menjatuhkan ikan yang terbungkus dalam plastik berisi air. "Ka-kamu yakin tentang kabar ini, Barry?" tanya ayah Flint dengan gugup. Barry mengusap peluh yang mengalir di keningnya. "Adik kandungku adalah karyawan setia keluarga Dawson, dia kembali kemarin malam dan menangis. Semua terpaksa pergi malam-malam dan hanya Ed yang mengikuti ayahnya pergi, berlainan tujuan," jawab Barry dengan lirih. Larry terlihat panik namun berusaha menguasai diri. Setelah mengucapkan terima kasih, dengan tergesa kami diminta masuk ke mobil segera. Begitu tiba di rumah, Larry berteriak pada istrinya, Eliza, dan menceritakan semuanya dengan cepat. Sekilas memang berantakan susunan kalimatnya, namun ibu Flint menangkap dengan baik. "Aunt Eliza, sampaikan pada ayah dan Ibu untuk tidak mencariku," cetus Reese segera berjalan keluar dari ruang tengah tersebut. "Reese kamu mau kemana?" tanyaku. "Mencari Ed dan ayahnya! Kamu pikir kali ini aku akan diam saja?" pekik Reese membalas ucapanku. Eliza dan Larry terlihat bingung dan bimbang. '"Aku akan bersiap," sambut Flint dengan cekatan melesat ke atas dan menyiapkan diri untuk perjalanan tersebut. "Uncle Larry, Aunt Eliza, kenapa membiarkan mereka pergi?" tanyaku bingung. "Kenapa tidak, Bennet? Kami juga masih remaja dulu waktu mencari tahu tentang kehamilan Esther," jawab Larry tidak terlihat keberatan. Eliza pun tampak tidak terkejut. "Apakah menurut kalian, aku juga harus ikut? Tanpa persetujuan kelima guruku?" tanyaku meminta pertimbangan keduanya. Aku terdengar seperti pengecut. Eliza mendekatiku dan mengangguk. Tangannya mengelus pipiku dan tersenyum hangat. "Pergilah. Ini akan menjadi petualangan hebat untuk remaja seperti kalian. Uncle Larry dan Uncle Geoff akan mengurus keluarga Dawson yang lainnya. Margie dan aku akan memastikan kalian tidak ada yang mengikuti," ucapnya dengan yakin dan mantap. Larry mengangguk setuju. "Pergilah, Bennet!" seru Larry mendukung penuh. Reese muncul dengan ransel di punggungnya. Flint menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan siap dengan baju juga sepatu boot tinggi. "Bennet, jangan melambat, cepat sedikit!" desak Reese tidak sabar. Akhirnya dengan penuh antusias, aku berlari ke kamar dan menganti baju juga meraih tas sekolahku. Semua buku aku keluarkan dan menjejalkan baju juga buku dari Rudy serta kelima guruku. Petualangan ini sangat mendebarkan! *** Atas kesepakatan kami, aku menggunakan kekuatanku untuk mencapai Middlesbrough dalam waktu singkat. Begitu tiba, Flint menggelengkan kepalanya dan terlihat terhuyung. "Pusing sekali kepalaku," keluhnya. Reese mengatur napas dan memegang dadanya. "Mual," timpal Reese juga tampak tidak nyaman dengan lompatan kali ini. "Maaf, aku panik tadi," sesalku. Mungkin lompatan yang tergesa dan dalam keadaan gugup membuat perjalanan tidak nyaman. "Sudah sore, kita di mana?" ucap Reese berdiri menebarkan pandangan. Kami berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari susunan kayu gelondong. Rumah itu tepat di pinggir danau kecil. "Mungkin ini kediaman Dawson," gumam Flint. "Kenapa rumah ini yang kita tuju?" tanyaku heran. Larry tadi menunjukkan foto rumah ini dan memintaku melompat kesini. "Mungkin ada petunjuk yang bisa kita temukan," ajak Reese dengan cepat melangkah masuk dan melewati pagar. Rumah tersebut tidak terkunci. Mungkin keluarga Dawson meninggalkan tempat ini dengan tergesa. Kondisi dalam rumah sangat berantakan. "Ada yang mengeledah sebelum kita!" seru Flint dari luar. Aku melonggokkan kepala dan Flint tampak berjongkok sembari memandang tanah. Dengan penasaran, aku mendekatinya. "Dari jejak ini, sepertinya kuda kerajaan," cetus Flint memperlihatkan bekas tapak kuda yang besar dengan bentuk tapal bulat dan cetakan inisial BR yang tidak tertalu jelas. "Guys, sini deh!" panggil Reese setengah berteriak. Aku dan Flint masuk dan mencari arah suara Reese. Gadis itu berdiri di depan lemari yang terbuka dan menunjuk ke arah dalam. "Ada sesuatu yang bergerak, tapi aku nggak tau apa," ucapnya dengan sedikit gugup. Flint dengan berani menyibak baju dan mencoba mencari yang Reese maksud. "Kosong, nggak ada apa-apa," ujar Flint masih memeriksa lemari besar tersebut. Aku berdiri dan mempertajam pendengaran juga mataku. Ada sesuatu di bawah lemari tersebut. Akhirnya aku mendekati Flint dan membantunya memeriksa tiap sudut. Tanganku mengetuk dasar lemari dan bunyi bergaung terdengar di bawahnya. Dengan mudah aku mendobrak kayu tebal tersebut, namun Reese memekik ngeri. "Gila! Kamu kuat banget!" seru Flint takjub. Aku juga baru tersadar. Tanganku tidak terluka sedikit pun. "I-iya, aneh. Baru ini aku coba," sahutku kikuk. Mata Reese membulat dan dengan cepat dia memeriksa telapak tanganku. "Bennet, kekuatan apalagi yang kamu punya?" tanya Reese terpana karena tidak menemukan goresan sekecil apa pun. "Nggak tau, Reese. Ini baru pertama kali," jawabku keki. "Ada rongga di bawah lemari," Flint menarik kayu lebih lebar lagi dan tampak rongga yang menuju bawah. Bentuknya seperti seluncuran, bukan tangga. "Haruskah kita masuk?" tanya Reese cemas. Ada bau apak lumut menyeruak dari lubang tersebut. Belum lagi gelap dan pengap. "Kita nggak tau apa yang kita temui di sana," balas Flint ragu. "Flint ...!" lamat-lamat kami mendengar seseorang memanggil nama Flint. "Ed ...," desis Reese. "Ed! Kaukah itu?" teriak Flint menanggapi. "Ya! Tolong kami!" suara itu terdengar kembali. "Berapa dalam Ed?" tanyaku. "Bennet? Kaukah itu?" tanya suara di bawah. "Ya, kami di sini!" jawabku. "E-entahlah, sekitar sepuluh meter!" seru Ed dari bawah. "Kami akan melempar tali, Ed!" seru Flint. "Tidak bisa, Ayahku terluka!" seru Ed terdengar cemas. "Aku akan turun ke bawah," ucapku pada Flint dan Reese. Flint tampak mengeluarkan tali dari ranselnya. "Ikat ini pada tubuhmu," perintah Flint. Aku mengikat dengan cepat dan Reese membantu mencarikan senter untukku. "Tidak perlu, Reese. Mataku cukup terang dalam kegelapan," tolakku. Reese tampak ragu. "Percayalah," ucapku. Setelah siap, aku menarik napas dan meluncur dengan sedikit tersendat ke dalam lubang berlumut. Lubang itu ternyata berkelok dan sempit. Hanya bisa memuat satu tubuh saja. Beberapa kali aku terbentur di kepala. Bau apak berganti dengan bau anyir yang sangat tajam. Perutku mual seketika. Tapi demi menyelamatkan Ed yang terjebak di bawah, aku terus menahan dan membiarkan tubuhku meluncur menuju ujung lubang!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN