Trapped by Siren

1283 Kata
Aku terus meluncur dalam kepekatan dan akhirnya muncul sinar redup berwarna biru. Tubuhku melewati ujung serta jatuh terduduk. s**l, pantatku tidak cukup tebal untuk tidak merasakan tajamnya batu runcing yang menusuk. Sambil meringis aku mencoba membiasakan diri melihat dalam kegelapan. Tubuhku kaku, menegang dan gemetar. Sosok wanita yang berdiri di depanku terlihat sangat mengerikan dan dari tubuhnyalah warna biru yang redup berasal. Wajahnya tampak kesal. "Kau juga makhluk aneh sepertiku! s**l, kenapa kena umpan hanya satu?!" pekik wanita itu kemudian menendang daguku dengan keras. Aku terjerembab dan merasakan sakit yang luar biasa. Aku belum pernah berkelahi sekalipun dalam hidupku. Tidak pernah mengalami k*******n, bahkan bentakan juga tidak. Saat tersungkur, aku baru menyadari jika Ed dan ayahnya sedang  terkapar tidak berdaya di tanah.  Mulut mereka terbekap kain dan tangan juga kaki terikat. "Flint, datanglah bantu kami!" seru wanita itu menirukan suara Ed kembali. "Si-siapa kau!" seruku dengan geram sekaligus gugup. Wanita berwujud mosnter tersebut berpaling dan tersenyum. Aku melihat dengan jelas giginya yang runcing kecil-kecil. Kaki dan tangannya bersisik serta berselaput, sementara tubuhnya terbalut dengan rumput panjang-panjang. Entah rumput jenis apa, tapi mirip dengan definisi yang sempat k****a. Rumput itu tumbuh dalam laut, sosok mengerikan itu pasti juga makhluk dari sana. "Diam!" bentaknya dengan tidak sabar. Ia kembali memanggil nama Flint dan meminta untuk dibantu. Dengan kesal aku menerjang tubuh wanita itu dan memukul sekuatnya. Tanganku seperti menyentuh sesuatu yang licin dan berlendir saat meninju wajah menjijikkan monster tersebut! Aku terhuyung maju ke depan dan limbung. Wanita itu menendang tubuhku dari belakang dan kepalaku membentur sesuatu yang keras, kemudian semuanya gelap. *** Mataku terbuka namun semuanya tampak buram. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, dan lumayan bisa menjernihkan pandanganku. Flint terbaring di sebelahku dengan mulut terbekap. Aku ingin membuka mulut untuk bertanya, namun ternyata sama. Makhluk s****n itu juga mengikat kain kotor di mulutku. Aku menatap langit-langit gua yang anehnya bisa kulihat jelas, penuh dengan serangga melata. Desisan aneh keluar dari mulut monster itu. Labirin yang tadinya kupikir hanya berupa ruangan buntu, kini tampak terang benderang dengan kedatangan makhluk sejenis yang berenang dari kejauhan mendekati kami. Dari arah sebelah kanan, ternyata terbentang danau dengan langit-langit gua. Aku tidak bisa melihat lebih jauh lagi. Cukup pegal mengangkat kepala selama beberapa saat. Mungkin cara itulah mereka berkomunikasi. Desisan yang mirip dengan bunyi ular terlontar dari masing-masing sosok wanita bertubuh menjijikkan. Mereka berkumpul di pinggir aliran air itu dan sibuk berdesis satu sama lain. Aku mencoba menggali memoriku dan konsentrasi penuh. Makhluk apakah mereka? 'Bennet, Bennet, kamu bisa mendengarku?' suara Ed bergaung di kepalaku. Aku menggeserkan kepala dan melihat Ed yang terbaring di seberang. Dari ujung sepatuku mata Ed berkedip dua kali. 'Ed, kamu yang bicara padaku?' tanyaku menjawab panggilan anehnya. Ini terdengar konyol memang. 'Ya, ini namanya telepati. Hanya aku dan kamu yang bisa' jawab Ed dengan jelas. aku tampak lega dan tidak berpikir gila karena bicara dalam kepalaku sendiri. 'Kamu nggak gila, Bennet. KIta disandera oleh siren' ucap Ed memberitahuku. 'Ternyata makhluk itu siren, dan kamu memang benar-benar penyihir hebat' balasku dengan takjub. 'Aku ingin memberitahumu, tapi belum sempat. Dengar, aku tidak tahu kenapa mereka menyandera kita, tapi yang jelas bukan untuk mereka makan. Jadi bisakah kamu mengeluarkan kekuatan sekarang?' pintanya. 'Aku belum tau sepenuhnya kekuatanku, Ed. Aku bahkan bermaksud melatihnya denganmu' jawabku putus asa. 'Bennet, matamu bersinar dalam gelap seperti kucing! Siren itu mengenalimu sebagai makhluk yang aneh, itu artinya kamu sudah memiliki kekuatan yang siap kamu keluarkan' terang Ed dengan sabar. 'Yang mana?' tanyaku terdengar bloon. 'Bennet, bebaskan dirimu dengan kekuatan api, kemudian serang mereka dengan api yang sama. Siren takut dengan api' info Ed dengan cepat. 'Cepat, Bennet! Waktu kita tidak lama!' desak Ed menjadi tidak sabar. Aku mengumpulkan konsentrasi penuh dan mulai menyalurkan api ke pergelangan tanganku. Sekejap tali itu terbakar. Dengan cepat aku membuka ikatan mulutku dan bangun duduk. Flint menatapku dengan mata melotot, kaget. Reese masih pingsan sepertinya. Matanya terpejam dan tidak bereaksi sedikit pun. Akhirnya, setelah tali yang mengikat kakiku terurai, aku berdiri dan dengan geram juga amarah yang mengelegak. Aku mengacungkan kedua tangan dan semburan api muncul serta memberangus rambut para siren. Monster laut itu memekik panik dan sontak terjun ke dalam air lalu berenang menjauh. Aku mengaungkan raungan yang aku sendiri ngeri mendengar lantangnya seruanku! Kegeramanku membuat timbul keinginan untuk menyandera tubuh monster yang telah menyakiti kami tadi. Ada pertanyaan yang ingin kukorek dari mereka. Gelombang air muncul dan tubuh para siren kembali mundur ke arah kami dengan gelembung air yang memerangkap tubuh mereka. Aku terpana. Baru teringat jika aku bisa mengendalikan elemen bumi, air! Aku biarkan mereka terperangkap tidak berdaya di dalam gelembung ciptaanku, sementara aku berbalik untuk membebaskan semuanya dari ikatan. "Bennet, kamu gila!" pekik Flint dengan histeris namun terdengar kagum. "Kamu berhasil, Bennet!' seru Ed. Entah kenapa aku ingin memeluk dia. Lega rasanya melihat Ed masih hidup dan selamat. "Bennet, aku tidak bisa bernapas," keluh Ed yang memang bertubuh kurus dan lebih pendek dariku dan Flint. Aku melepas pelukanku dan tertawa. "Halo, Tuan dawson," sapaku dengan sopan. Tom, ayah Ed, serta merta memelukku dan menangis sesegukan. "Esther ... lihatlah anakmu sudah besar!" isaknya dengan tersedu. Aku turut terbawa dalam suasana haru ketika dia menyebut nama ibuku. Tom mengusap kedua pipinya. Aku baru sadar jika jalannya agak pincang. "Kakimu terluka?" tanyaku dengan cepat berjongkok untuk memeriksa. "Siren s****n itu menusuk kakiku dengan sisik beracunnya," jawab Tom dengan geram. Aku menyentuh kaki dan cairan hangat terasa di tanganku. Darah. "Reese masih pingsan," seru Flint khawatir. Ed memegang kening Reese, tidak berapa lama Reese menggerakkan kepalanya. "Aduh ...," keluh gadis itu. Aku mengalihkan pandangan saat Reese sudah terlihat baik-baik saja dan berkonsentrasi pada Tom. Aku memejamkan mata dan mencoba hal yang tidak pernah tercetus dalam keterangan mana pun. Salah unsur bumi yang aku kuasai adalah spirit atau roh. Jika berhasil memerintahkan metabolisme tubuh Tom untuk menyembuhkan tubuhnya, maka ayah Ed akan sembuh dalam waktu singkat. Mataku terus terpejam dan aku mencoba fokus memasuki konsentrasi terdalam. "Bennet, tubuhmu bersinar," desis Ed dengan suara bergetar. Aku terus membayangkan tahapan penyembuhan luka yang Hugo pernah ajarkan padaku. Tahap pertama dalam proses penyembuhan luka adalah tahap pembekuan darah. Darah akan menggumpal untuk menutup dan menyembuhkan luka, serta mencegah tubuh kehilangan darah terlalu banyak. Setelah perdarahan berhenti, pembuluh darah akan melebar untuk mengalirkan darah segar ke area tubuh yang terluka. Darah segar dibutuhkan untuk membantu proses penyembuhan luka. Pada tahap inflamasi (peradangan), sel darah putih akan menghancurkan kuman di area luka. Hal ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk mencegah infeksi. Sel darah putih juga memproduksi senyawa kimia yang dapat memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Selanjutnya, sel-sel kulit baru akan tumbuh dan menutup area luka. "Bennet mencoba menyembuhkan lukaku," ucap Tom terdengar senang. Aku menuju tahap proliferatif (pembentukan jaringan baru). Tahap ini merupakan tahap pembentukan jaringan parut setelah luka. Pada tahap ini, kolagen mulai tumbuh di dalam luka. Kolagen merupakan serat protein yang memberikan kekuatan dan tekstur yang elastis pada kulit. Keberadaan kolagen akan mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil atau kapiler terbentuk di luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk. Terakhir aku menyempurnakan tahap pematangan atau penguatan jaringan. Aku membuka mata dan melihat tanganku bersinar terang seperti fosfor. "A-aku sembuh," cetus Tom dengan tergagap. Ed menyorongkan senter dan menyinari  bekas luka yang pulih sepenuhnya. "Itukah salah satu kekuatanmu?" tanya Reese dengan wajah terperanjat. "Elemen spirit atau roh. Ternyata mampu memerintahkan seseorang untuk menyembuhkan tubuh sendiri," Tom yang menjawab pertanyaan Reese. Flint membuka mulutnya dengan ekspresi terperanjat. "Terima kasih, Pentagram," ucap Tom menepuk pundakku. "Sama-sama, Tuan Dawson." "Tom, panggil aku Tom," tukasnya. "Iya, Uncle Tom," ralatku. "Tom, Bennet! Jangan pakai embel-embel konyol itu!" seru Tom sembari membalikkan badan dan berjalan menuju pinggir danau gua. Aku tersenyum kikuk. "Saatnya bertanya pada monster ini!" teriaknya dengan jengkel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN