Hidden Island

1117 Kata
"Nourine! Jangan menyangkal lagi! Atau Pentagram akan membuat tubuhmu tidak bersirip dan berekor!" ancam Tom dengan s***s. "Katakan sekarang, siapa yang menyuruhmu menyerang kami?!" tanya Tom menuntut jawaban. Siren berambut kebiruan itu menyeringai dan tampak tidak takut pada ancaman Tom. Aku maju dan tanganku membuat gerakan seperti meremas. Monster laut yang bernama Nourine itu memekik seperti suara peluit aneh. Aku belum pernah mendengar peluit dengan nada seperti itu. "Astaga! Suaranya mirip lumba-lumba yang sekarat!" keluh Ed dengan kesal. "Nah, kamu bisa merasakan bahwa ancamanku bukan sembarangan!" pekik Tom dengan wajah senang. Nourine memandangku dengan mata memerah. "Seseorang yang berdarah sama dengannya meminta kami menemukan kalian dan membawa padanya! Kami tidak bermaksud membunuh kalian, bodoh!" jawab Nourine dengan garang. Tom terhenyak sementara aku belum tahu apa maksud ucapannya. "Tapi kamu menyakiti kami!" pekik Ed tidak begitu saja mempercayai ucapan Nourine. "Kalian pikir kami akan berlembut ria seperti ras duyung yang terlalu memuja lelaki?" sahutnya ketus dan menghina penghuni laut yang mereka sebut dengan ras duyung. "Di mana Cedric?" tanya Tom dengan suara bergetar. "Pulau tak jauh dari sini," jawabnya dengan cepat. Raut jengkel masih tampak di wajahnya. "Cedric? Dia menyuruh kalian?" teriakku dengan tidak percaya. Nourine mengangkat wajahnya dengan angkuh. "Ya!" Aku merasakan dadaku berdegub kencang. Inikah saatnya aku bertemu dengan pamanku? "Bawa kami sekarang!" pintaku. Nourine membuang muka dan mengiyakan dengan jengkel. Reese mencengkeram tanganku dengan cepat. "Bennet, kamu mempercayai dia?" tanyanya dengan cemas. Raut ragu dan tidak percaya terlihat dengan jelas. "Kita tidak akan tahu jika tetap diam di sini, Reese," sambar Flint yang terlihat siap mengikutiku. "Aku harus mengambil kesempatan sekecil apa pun. Menemukan Cedric adalah kesempatanku mengetahui apa yang harus aku lakukan dengan pasti. Bukan hanya petunjuk abu-abu yang selama ini aku terima," jawabku menegaskan keputusan bulatku. Reese masih tampak belum yakin. Tapi Tom dan Ed yang sudah menungguku untuk bergabung akhirnya membuat Reese tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Aku menciptakan gelembung yang berisi udara. Tom dan Ed melangkah masuk disusul dengan Flint. Aku mengulurkan tanganku pada Reese dan mengandengnya masuk ke dalam gelembung satunya. Setelah melepaskan para siren dari perangkap gelembung, kami bergulir mengikuti arah mereka berenang ke luar. Saat ke luar dari gua tersebut, hari sudah gelap dan pekat. Bahkan bintang pun tdak terlihat. Aku yang akhirnya terbiasa menggunakan kekuatan, membuat tubuhku bersinar. Dengan sedikit cahaya, kami bisa memantau arah siren tersebut berenang dari sembulan ekor yang sesekali muncul di permukaan. Entah tepatnya berapa lama, akhirnya dari kejauhan tampak pulau kecil yang mirip dengan tonjolan batu besar di tengah lautan. Nourine terus berenang hingga ke tepi, kemudian dengan ajaib, ekor wanita itu berubah menjdi dua buah kaki jenjang yang bersisik menapaki pantai. Aku mengulirkan gelembung hingga ke pasir dan akhirnya gelembung itu pecah. "Bennet, kamu membuat bajuku basah," protes Reese tampak kedinginan. "Maaf, aku perlu mencari cara yang lebih baik lagi," sahutku tidak enak. "Ayo, jangan buang waktu!" ajak Tom yang melihat Nourine sudah melangkah jauh. Kami bergegas mengikuti dengan cepat. Setelah mendaki lereng yang penuh dengan pasir, kami tiba di atas dan melihat rumah kecil terbuat dari batu. Ada pendaran cahaya lampu di sana. Tom setengah berlari menerobos ilalang yang setinggi d**a. Kami mengikuti dari belakang dan saat tiba di depan rumah tersebut, Nourine menggedor pintu dengan kencang. Jantungku rasanya seperti berpacu dengan cepat. Aku merasakan lutut gemetar dan tidak mampu lagi menahan rasa gelisah dan cemas akan pertemuan ini. Seseorang membuka pintu dan aku terkejut karena melihat Ruben di sana! *** Kami duduk di depan perapian yang hampir meredup. Udara dingin di pulau kecil ini cukup mengigit kulit. Reese sibuk mengeringkan bajunya yang basah sementara ranselnya tertinggal di rumah Ed. "Tidak ada Uncle Cedric dan dirimu di sini. Teka teki apalagi ini?" cetusku tidak senang. Ruben mengusap wajahnya dengan gusar. Tom duduk di seberangku dan menikmati anggur murahan dengan santai. Flint dan Ed masih saling bertukar cerita di tempat duduk dekat perapian. "Cedric harus pergi mendadak dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi," sahut Ruben ingin menjelaskan. "Lagipula, kami tidak tahu jika kamu, Flint dan Reese akan ikut datang. Kami pikir yang harus kami selamatkan hanyalah Tom dari orang suruhan Osirus,"  ucap Ruben membela diri. "Jadi selama ini kamu sudah tahu di mana Uncle Cedric?" tanyaku. "Baru setelah aku, Ron dan Albert mengunjungi rumahmu di London. Sebelumnya kami tidak tahu. Ternyata Cedric menjadikan basement kalian sebagai tempat persembunyian dan melakukan lompatan ke pulau ini jika ada yang mengeledah rumah kalian," papar Ruben. "Osirus dibalik semua ini," gumam Tom. "Ada tapak kaki kuda berlambang BR di halaman rumahmu, Tom. Flint melihatnya," ucapku. Wajah Ruben dan Tom terkejut. "Britain Raya? Kamu yakin?" tanya Tom. "Kami berdua yang melihatnya," seru Flint dari belakang. Tom yang memunggungi Flint menoleh. "Apakah tapalnya ...," "Bulat?" potong Flint. Tom mengangguk. "Ya, bulat penuh," jawab Flint. "Osirus sudah memasuki kerajaan, s**l!" umpat Ruben dengan wajah geram. "Kenapa mereka mencari Tom?" tanyaku kembali. Ruben tidak langsung menjawab, matanya melirik Tom yang termenung dengan mata berkilat. "Aku bukan dari kelas bangsawan ataupun borjuis. Keberhasilanku dalam hidup karena kerja keras pendahuluku. Menjadi keluarga yang menyimpan rahasia sebagai penyihir cukup mudah. Tapi menyembunyikan identitas sebagai pembuat s*****a terbaik, itu jauh lebih sulit," ucap Tom dengan pelan. Aku tidak bisa menduga arah pembicaraan Tom yang belum bisa aku tangkap. "Osirus mengejarku untuk membuatkan s*****a yang akan memusnahkan dirimu nanti." Suasana hening, Flint dan Reese terlihat terpana dengan kalimat Tom. "Maksudmu, s*****a yang akan melengkapi ramalanku sebagai pembuka gerbang Osirus?" Pertanyaanku tidak membuat Ruben dan Tom mengangguk. Keduanya tidak menyangka jika kami mengetahui ini. "Kami menyimpan kotak yang Ruben kirimkan ke Hugo. Semua sudah kami pecahkan. Jika Osirus sudah mengetahui ramalan tersebut, kira patut mencurigai Hugo karena hanya ada kami saat itu," ucapku setengah tidak terima ketika itu benar. Hugo tidak mungkin mengkhianati kami! "Bukan Hugo, tapi mungkin seseorang yang menyortir surat keluar yang ditujukan untuk rumahmu atau yang keluar dari Les Chester!" tangkis Ruben. "Tidak ada tempat aman lagi. Bahkan Les Chester telah disusupi Osirus," keluh Reese tampak mulai cemas. "Ruben, aku ingin kepastian. Siapakah yang telah mengetahui tentang ramalanku," tanyaku. "Tidak ada, Bennet. Tom mengetahui ini juga karena Osirus menyatakan padanya! Mungkin surat yang Hugo kirimkan padaku, tidak sampai dan mereka curi," jawab Ruben. "Aku tidak ingin kembali ke Les Chester." "Jangan konyol, keberadaanmu di bawah naungan Fratrem adalah yang terbaik! Kamu harus berada disana, atau berakhir seperti Tom dan Cedric!" pekik Ruben yang bernada kesal dengan keputusan sembaranganku. "Tapi Osirus sudah masuk ke sana!" "Kita tidak tahu itu dengan pasti, Penta. Mungkin saja bagian surat menyurat. Osirus bisa menyabotase hal terkecil sekali pun." Aku bungkam. Tidak lagi pertanyaan yang ingin kulemparkan pada mereka saat ini. Terlalu banyak kerumitan dan tiap orang terlihat mencurigakan. Kenyataannya, jika ramalan yang berhasil kami pecahkan telah bocor, maka kami harus bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN