“When the going gets tough, put one foot in front of the other and just keep going. Don’t give up.” ― Roy T. Bennett, 'The Light in the Heart'
***
"Aku mendapatkan diari Cedric dari Rudy," ucapku saat malam telah larut dan aku tidak bisa tidur. Ruben menoleh dan meraih diari yang tergeletak di meja.
Rumah ini terlalu kecil. Hanya terdapat dua ruangan saja. Kamar tidur yang ranjangnya cukup untuk dua orang dan ruang berkumpul yang merangkap dengan dapur. Ada satu set sofa tua di depan perapian dan meja makan dengan enam kursi. Tungku kecil dengan bahan bakar kayu terletak di sebelah jendela. Tom menjerang air panas dan membuatkan teh hangat untuk kami.
"Kemana Uncle Cedric pergi?" tanyaku pada Ruben yang membaca buku diari milik Cedric.
"Entah, dia tidak menyebutkan apa pun. Hugo dan Wolf sudah menceritakan tentang kecurigaan kami?" tanya Ruben kemudian setelah menjawab tidak tahu keberadaan Cedric.
"Ya, kami tahu itu. Ruben, kenapa tidak kamu ceritakan semuanya padaku sejak awal?"
"Sulit, Bennet. Kamu terperangkap dalam kastil selama bertahun-tahun, seumur hidupmu. Tidak ada gambaran apa pun tentang dua pagan yang harus kamu hadapi."
Aku terdiam membenarkan.
"Menjejali otakmu dengan hal-hal yang terlalu dini untuk kamu ketahui adalah sia-sia. Kini setelah selesai membekali dirimu dengan segala pengetahuan, secara bertahap akan kamu pelajari langkah berikutnya," lanjut Ruben dengan bijak.
"Tom yang memiliki pengalaman dengan Esther lebih banyak akan mudah membimbingmu nanti," cetus Ruben.
"Aku dengar Wolf dan Uncle Cedric juga dekat. Dia pernah mengajarnya sewaktu menjadi guru muda dulu," balasku. Ruben mengangguk.
"Cedric adalah murid emasnya. Dia sangat cerdas dan terampil. Kami berdua adalah kebanggaannya saat itu," kenang Ruben.
"Minumlah supaya hangat."
Tom menyodorkan gelas berisi teh hangat padaku. Reese dan Flint sudah tidur terlelap. Ed masih bertahan dengan kepala setengah mengangguk-angguk menahan kantuk.
"Kita akan bertahan di sini sementara waktu, hingga Larry dan Geoff memberikan berita. Margie dan Eliza juga sedang bertindak," cetus Tom dengan pelan. Hembusan aroma teh yang harum tercium dan menenangkan. Bunga camomile.
"Bagaimana kalian berkomunikasi?" tanyaku.
Tom tertawa pelan dan tampak menyeruput tehnya dengan nikmat.
"Larry dan Geoff pasti mencari keluargaku. Dari merekalah nanti kabar berita akan tersampaikan," jawabnya dengan ringan.
"Apakah betul kalian pergi malam itu karena Osirus mengejar?" tanyaku.
"Aku menerima kabar jika Osirus dalam perjalanan menuju rumah kami di Middlesbrough. Malam itu juga, istri dan juga adik Ed bersama karyawanku pergi sementara aku dan Ed memilih tinggal dan berjanji menyusul mereka. Tapi berhubung ada karyawanku yang mungkin akan membocorkan rencana tersebut, maka aku mengatakan jika kami pergi menuju arah yang berlawanan. Ternyata, belum sempat Osirus datang, siren s****n itu lebih dulu memerangkap kami saat bersembunyi di ruang labirin. Tunel yang orang tuaku ciptakan untuk melarikan diri dulu saat perompak datang," papar Tom menceritakan kejadian sebenarnya.
"Jadi kalian tidak tahu jika Osirus datang dengan kuda kerajaan? Rumahmu berantakan sekali dan kami yakin ada seseorang yang mengeledah sebelum kami," ucapku setengah mengantuk.
"Ya, betul. Tidurlah, Bennet. Besok kita akan melihat kekuatan apakah yang sudah kamu kuasai sejauh ini," perintah Tom terdengar seperti ucapan seorang ayah pada anaknya.
Ruben memberikan senyum hangat dan menganggukkan kepalanya. Aku melangkah ke salah satu sofa panjang dan berbaring. Ed akhirnya sudah tidur mendengkur dengan tubuh setengah duduk. Malam itu aku tidur dengan pikiran lega. Mungkin kehadiran Ruben yang membuatku memiliki perasaan ini.
***
Aroma kopi yang harum membuatku terjaga. Kulihat dengamata setengah mengantuk, Rben sudah menuangkan kopi da duduk di meja makan tak jauh dariku. Ed masih tertidur. Aku bangun dan menyibakkan selimut yang tidak ingat kupakai tadi malam.
Udara dingin berhembus dari jendela yang terbuka dan kulihat Tom sudah berdiri di luar sedang olahraga atau membuat gerakan dengan tangan dan kakinya secara perlahan.
"Wushu sebutannya. Seni bela diri atau Martial Art dari negeri bambu, Cina!" seru Ruben menjelaskan.
"Kenapa dia mencoba mempelajari? Bukankah itu terkesan lambat?" tanyaku.
"Duduklah, kopi?" tawar Ruben dan aku mengangguk.
"Mempelajari Wushu berarti kita juga belajar mengolah pernafasan, memahami anatomi tubuh kita, dan juga mempelajari ramuan atau obat-obatan untuk memperkuat tubuh maupun untuk pengobatan."
Ruben menyorongkan gelas dan aku menyesap sedikit demi sedikit kopi pahit yang terasa menyegarkan pagi itu.
"Itulah sebabnya, Tom paham dan mengerti sewaktu kamu menyembuhkan dirinya tadi malam," lanjut Ruben.
"Apakah dia bisa melakukan penyembuhan diri seperti yang aku lakukan?"
"Tidak secepat dirimu, tapi lebih cepat dari penyembuhan pada umumnya."
"Hebat."
"Ada lima elemen yang Wushu juga pelajari, Penta," cetus Ruben seperti menggiringku menuju sesuatu.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan tanda tertarik. Ruben memang pandai menyampaikan sesuatu. Dalam pelajaran sejarah dunia, dia mengulas seperti bercerita dengan alur yang menarik. Aku tidak pernah bosan.
"Air: melambangkan kehidupan dan kelembutan, karena air memberi makan tumbuhan dan bentuk air sendiri yang selalu sesuai dengan wadahnya.
Kayu: melambangkan tulang dan otot, sebagai energi dari kehidupan yang jika terkena api akan mengakibatkan terbentuknya panas sebagai tenaga (otot).
Api: melambangkan kekuatan dan ketangkasan, memberi nutrisi dari hasil pembakaran yang membuat pembaharuan dalam kemajuan.
Bumi atau tanah: melambangkan pertahanan, memberikan tempat bagi berbagai unsur untuk berkembang.
Logam: melambangkan penggunaan s*****a, mengkombinasikan berbagai unsur yang bermanfaat untuk menguasai berbagai s*****a yang sangat penting bagi wushu."
Ternyata dibalik gerakan yang lembut, ada berbagai hal hebat yang tersembunyi dalam wushu.
"Aku tidak menyangka jika dalam tiap prinsip ilmu terkandung kekuatan. Dalam kekuatan itu sendiri ada kaitan satu sama lain. Contohnya kekuatanku dengan kekuatan dari Wushu ...," balasku mulai paham.
"Tepat sekali! Hubungan internal berbagai unsur dalam wushu sendiri adalah air mendinginkan api, api menempah logam, logam memotong kayu, kayu tumbuh dari bumi, bumi mengontrol air. Jadi, semua unsur ini saling berhubungan satu sama lain."
"Dan hubungan External, di antara elemen tersebut, ada titik garis yang menghubungkan dengan kekuatan yang lain," gumamku. Ruben mengangguk.
"Ayo, kita buktikan!" ajak Ruben berdiri dan menuju keluar. Aku mengikutinya dengan cepat. Begitu tiba di halaman samping tempat Tom sedang melatih diri, Ruben menoleh ke arahku.
"Serang dia dengan salah satu kekuatanmu," pinta Ruben. Aku ragu. Namun karena rasa penasaran, akhirnya aku memilih memunculkan air. Gelembung air yang kuambil dari titik embun berkumpul, dan setelah cukup besar, aku melemparkan pada Tom. Dengan sigap dan cekatan, Tom menangkis dan mengelindingkan gelembung air kembali ke tanah. Gerakannya yang gemulai, hampir seperti menari.
Kemudian aku melesakkan serangan kedua berupa gelombang tanah yang berjalan menuju arahnya. Laksana seringan bulu, tubuh Tom melenting ke atas dan menghindari gelombang tanah yang hampir menguburnya. Aku berdecak kagum.
"Kamu tahu arti dari semua ini?"
"Setiap elemen yang ia kuasai mampu menjadi jurus yang tepat untuk menghindari serangan!" jawabku antusias.
"Kemudian?" tanya Ruben belum puas.
"Kekuatan airku, bisa dikalahkan oleh gerakan wushu elemen air," sahutku makin paham.
"Tidak ada kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Setiap kekuatan yang digunakan untuk keburukan, akan ada kekuatan lain yang sama untuk mengalahkan," lanjutku.
"Brilian! Dan satu lagi yang terpenting, Bennet!" seru Tom dengan terus melanjutkan gerakann wushu-nya. Aku memasang konsentrasi penuh.
"Kekuatan hakikatnya diciptakan untuk mempertahankan diri, bukan menyerang!"
Aku terpaku. Kalimat bijak itu terus tergiang di telingaku sepanjang hari.