Magen David Adom

1120 Kata
"Knowledge is power. Power to do evil or power to do good. Power itself is not evil. So knowledge itself is not evil." By Veronica Roth. *** Latihan kami teruskan dalam dua hari terakhir. Hari ini, kami juga berlatih hingga senja. Matahari mulai redup dan kami duduk di pinggir laut memandang indahnya sinar kemerahan pada garis horison. "Aku berharap saat ini berada di sini. Tidak ada tempat lain seindah pulau ini," ucap Ruben terdengar bersyukur dan penuh harapan. Tom tertawa kecil. "Momen matahari tenggelam di pantai, memang selalu menguak kerinduan pada seseorang," timpalnya setuju. Reese tersenyum dan melirikku dengan ekspresi geli saat mendengar dua pria itu saling bermelankolis. Ed dan Flint masih bermain air dan berkejaran seperti anak kecil. "Bennet, semua sudah menjadi lebih baik. Kalian harus kembali ke Lambeth segera. Libur musim panas akan segera berakhir," seru Ruben pada kami. "Bagaimana dengan Uncle Cedric? Dia belum kembali," balasku keberatan. "Dia akan menemuimu pada waktu yang tepat. Bersabarlah," sahut Tom menenangkan diriku. Ada sedikit kecewa karena sudah sejauh ini kami berkelana, tapi masih gagal bertemu dengan Cedric. Aku hanya membisu dengan wajah kesal. Reese menepuk pundakku dan mengajak menyusul Flint juga Ed. *** Kembali ke Les Chester tidak lagi menjadi kegembiraanku. Tapi aku tidak ada pilihan yang lain. Bulan Agustus tinggal seminggu lagi dan ujian pertengahan semester mungkin hanya menghitung hari. "Jangan berinteraksi dengan siapa pun, kecuali kami. Aku masih mencari tahu siapa penyusup yang menjadi mata-mata Osirus," pesan Ruben dengan tegas. Ed bahkan tidak bisa kembali karena sangat berbahaya jika memang benar ada penyusup Osirus di sekolah kami. Ed akan menjadi sandera yang mudah untuk mereka bekuk. Tidak ada semangat ketika memasuki kelas pagi ini. Ruben tidak memberi kesempatan untukku bertemu dengan Ron dan Albert. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Ron sebagai seorang Alkemis. "Selamat pagi!" seru Ms. Anna, guru tata bahasa yang akan mengajarkan bagaimana cara menggunakan telegram. Aku sudah menguasai dengan baik. Wolf telah memberikan pelajaran itu sebelumnya. Satu jam berlalu dan aku hanya konsentrasi pada guru wanita yang masih muda dan terlihat cerdas itu. Rambut hitamnya di potong pendek hingga sekuping, dan bajunya sangat modern karena hanya sepanjang lutut. Stoking yang dipakainya terlihat serasi dengan baju berlipat rapi warna biru tua yang ia kenakan. Gayanya yang aktif membuat kalungnya berayun seiring langkah kakinya yang mondar mandir. Mendadak aku terkesima saat melihat liontin yang ia kenakan. Mirip dengan lambang bintang yang terlukis di kertas papirus milik Rupert. Kami baru saja memecahkan teka teki tersebut, namun tidak tahu arti lambang yang disebut dengan pentagram itu. "Baiklah, sekian dulu pelajaran hari ini. Sampai jumpa minggu depan!" pungkas Ms. Anna dengan ramah. Para siswa berhamburan keluar dengan tidak sabar. Aku ingin bertanya tentang maksud lambang itu, tapi apa alasan yang tepat untuk basa basi? "Ms. Anna, saya sangat tertarik sekali dengan sandi morse yang tadi," seru Flint mendahului bertanya. Aku memasang kuping baik-baik dan mencari celah terbaik. "Wah,  Emerson. Tidak kusangka kamu tertarik," sambutnya senang. "Ya, jika tidak keberatan bolehkan bertanya sedikit mengenai beberapa hal?" lanjut Flint dengan antusias. Aku masih bersabar. "Ya, tentu. Duduklah. Apa yang ingin kamu tanyakan." Ms. Anna kembali duduk dan mempersilahkan Flint untuk bertanya. Temanku yang sedikit sulit diprediksi itu menoleh. "Bennet, apakah kamu ingin bergabung? Kudengar kamu sangat mahir mengenai telegram," ucapnya dengan kedipan mata penuh dengan isyarat. Aku menjadi heran. Apakah Flint juga ingin bertanya hal yang sama? "Ah eh, jika tidak keberatan," sahutku gugup. Ms. Anna makin gembira. "Ayolah, Bennet. Jarang sekali yang ingin tahu tentang ilmu ini. Padahal sangat penting jika ingin menjadi pegawai pemerintah," ajaknya. Aku tidak membuang waktu dan menyeret bangku untuk bergabung. Awalnya Flint bertanya tentang hal yang menyangkut morse. Kemudian berlanjut dengan kode khusus dariku. Ms. Anna menjelaskan dengan terperinci dan detail. "Bagaimana dengan simbol? Atau lambang? Apakah termasuk dalam kode morse yang memiliki arti tersembunyi?" tanyaku. Ms. Anna terlihat berpikir sejenak. "Mungkin hampir sama. Tapi simbol bukan kode yang memuat satu persatu arti. Simbol diwujudkan dalam gambar, bentuk, gerakan, atau benda yang mewakili suatu gagasan. Jadi simbol atau lambang itu satu kesatuan untuk mencerminkan sesuatu dengan nilai tersendiri dari hal yang diwakilinya," papar Ms. Anna dengan jelas. "Sangat aneh memang jika kita melihat karakter keseluruhan organisasi melalui sebuah simbol, terkadang ada yang salah interpretasi," lanjutnya. "Maksudnya? Ada contoh?" tanya Flint. Ms. Anna mencari-cari contoh dalam buku. "Bagaimana dengan liontin Ms. Anna? Itu seperti lambang Pentagram yang erat dengan sebutan untuk pemuja setan," sambar Flint. Aku melirik ke arah sahabatku dengan kagum. Dia melihat dan memiliki pikiran yang sama denganku! Ms. Anna tertawa. "Sangat cerdas, Emerson!" puji Ms. Anna dengan ceria. "Tapi ini bukan Pentagram, ini Heksagram. Kami menyebutnya dengan Bintang Daud atau Perisai Daud. Ini adalah lambang yang sudah sangat lumrah digunakan sebagai tanda jati diri Yahudi dan agama Yahudi. Lambang ini adalah sebuah heksagram, gabungan dua gambar segitiga sama sisi." "Wow, kami baru tahu," desis Flint dengan takjub.  "Sebenarnya, lambang Bintang Daud pertama kali digunakan oleh orang Yahudi, ketika para pengikut Kabalah atau aliran kebatinan Yahudi mengambil gambar Mohor Sulaiman dari khazanah sastra Arab Abad Pertengahan untuk digunakan sebagai azimat pelindung diri. Jadi ini adalah simbol perlindungan, bukan setan," papar Ms. Anna dengan bangga. "Sangat jauh dari yang selama ini kami dengar," ucap Flint. Wanita itu mengangguk dengan lesu. "Percayalah, ini adalah lambang kemuliaan yang sangat mengagungkan kekuatan Tuhan," ucapnya dengan sungguh-sungguh. "Maukah Ms. Anna menjelaskan sedikit lagi?" pintaku. Guru tata bahasa itu mulai bertutur dengan penghayatan penuh. "Bintang Daud melambangkan angka tujuh: yaitu, keenam ujungnya ditambah dengan pusatnya. Tertulis dalam teks Yahudi tertua yang menyebutkannya tentang Eshkol Ha-Kofer oleh seorang Karait bernama Judah Hadassi, dari abad ke-12M: *Tujuh nama malaikat mendahuli mezuzah: Mikail, Gabriel, dll. Dan kiranya Tetragrammaton melindungi engkau! Demikian pula dengan tanda ini, yang disebut 'Perisai Daud', diletakkan di samping nama masing-masing malaikat.* Angka tujuh memang mempunyai makna keagamaan dalam Yudaisme. Misalnya, enam hari Penciptaan ditambah dengan istirahat pada hari ketujuh, enam hari kerja ditambah Sabat. Contoh kedua, ketujuh Roh Allah, serta Menorah di Bait Suci kuno, yang ketujuh lampu minyaknya diletakkan di atas ketujuh cabangnya. Dan seterusnya. Kenapa berbentuk dua segitiga bertumpuk yang memiliki dua sudut ke atas dan bawah? Bintang Daud membentuk dua dari tiga huruf dalam nama Daud. Dalam ejaan Ibrani -דוד-, kata ini hanya mengandung tiga huruf, dua di antaranya adalah 'D' atau 'Dalet', dalam bahasa Ibrani. Huruf ini ditulis dalam bentuk yang sangat mirip dengan segitiga, serupa dengan huruf Yunani Delta 'Δ'. Lambang ini menjadi sebuah perisai keluarga yang dibentuk dengan membalikkan dan menyandingkan dua huruf yang paling penting dalam nama ini." Aku mencatat semuanya dengan cermat. Ms. Anna tampak sudah ingin berlalu. "Dengar, temui aku sore ini diperpustakaan jika ingin bertanya lebih lanjut lagi, ok? Jam empat jangan lupa," pesannya dan dengan senyum manis berpamitan meninggalkan kami berdua. "Flint." "Hmm." "Terima kasih." "Sama-sama, Bennet." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN