The Other Pentagram

1233 Kata
Ms. Anna menepati janjinya jam empat sore di perpustakaan. Dengan senyum ceria, guru itu mempersilahkan kami duduk. Tumpukan beberapa buku terbitan era ke-15 hingga 18 yang pernah k****a dulu tampak terbuka dengan beberapa halaman yang familiar. "Ok. Sebagai guru, aku paham jika kalian ingin mencari tahu arti beberapa simbol penting." Ms. Anna masih membuka beberapa lembar buku keluaran terbaru. "Tapi sebagai manusia yang membenci keberadaan pagan s****n itu, aku juga dengan senang hati mengungkap semua yang aku ketahui, Pentagram Bennet," lanjut Ms. Anna dengan wajah penuh teka teki. "Ka-kami tidak tahu jika Ms. Anna memiliki pandangan seperti itu," balas Flint gugup. "Emerson, sudahi basa basi kalian! Cukup cerdik cara kalian menjebakku dengan pertanyaan mengenai simbol. Tapi sangat disayangkan, kalian terlalu ceroboh dan bernafsu dalam melemparkan pertanyaan. Berlatihlah lebih pintar, supaya musuh kalian tidak bisa menebak dengan kata-kata!" ucap Ms. Anna berubah menjadi tajam.  "Si-siapa kamu sebenarnya?" tanyaku. Wanita yang notabene adalah guru kami ini menoleh dan menatap wajahku dengan lekat dan tidak berkedip. Matanya yang kehijauan tampak indah dengan bulu mata lentik. "Sahabat Milly." ucapnya singkat. Seketika aku merasakan tengkukku meremang dan berdiri. "Uncle Cedric ...," gumamku tanpa sadar. "Sebaiknya jangan sebut nama itu di depan Wester jika ingin hidupmu tenang dan tidak dicurigai," saran wanita itu dengan ketus. "Maaf. Maksudku, sahabat Milly," ralatku. Ms. Anna melirikku dengan senyum. "Kita ketahui dulu tentang arti Pentagram seutuhnya. Baru kuungkap sesuatu yang kelima gurumu tidak pernah berani katakan sedikit pun padamu, Bennet," cetusnya dengan nada setengah geram. Aku terpaku. Ada rahasia lagi? Ms. Anna mulai menjabarkan satu persatu. Berawal dari arti pentagram. Simbol dengan bentuk bintang itu melambangkan lima elemen bumi. Roh, tanah, udara, air dan api. Kelima elemen tersebut mampu membuat keseimbangan bumi menjadi lebih teratur dan terkoordinasi dengan baik. Elemen dari pentagram dipergunakan sebagai dasar ilmu yang diterapkan oleh para Dalai Lama dari Tibet dalam ilmu penguasaan diri. Mereka memiliki pasukan atau klan yang hampir rata-rata menguasai satu unsur tersebut dengan baik. Berikutnya Ms. Anna mengungkapkan tentang siapa saja manusia yang memiliki unsur pentagram di dunia ini. Ada tiga orang. Dalai Lama ke-13, Thubten Gyatso. Kemudian perempuan biasa dari Mesir yang bernama Thema, artinya ratu, usianya kini seumuran denganku. Yang terakhir adalah diriku sendiri. "Jadi aku tidak sendiri? Inikah rahasia yang dimaksud tadi, Ms. Anna?" tanyaku dengan cepat dan tidak sabar. Wanita itu mengangguk. "Dalai Lama Thubten sudah berada dalam kekuasaan Osirus beserta dengan Thema, gadis yang malang itu. Tinggal dirimu sebagai pelengkap," jawabnya. "Apa yang terjadi jika aku memilih bunuh diri?" tanyaku dengan getir. Entah kenapa pikiran itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Baik Ms. Anna maupun Flint terkejut. "Jangan konyol, Bennet!" bentak Flint berang. Aku berpaling padanya. "Hidupku menjadi sumber petaka dan perebutan kekuasaan. Tidak ada gunanya aku hidup!" balasku dengan kecut. "Bennet, Dalai Lama mungkin tidak akan mempengaruhi bumi jika dia mati, hanya kekosongan akhlak dan manusia semakin b***t. Tapi dirimu dan Thema harus tetap hidup! Kalian adalah pasangan yang harus saling menyeimbangkan. Akan terjadi bencana alam dan kerusakan bumi jika salah satu dari kalian mati!" seru Ms. Anna dengan keras. Suaranya bergema dan memenuhi ruang perpustakaan. Aku berharap hanya kami bertiga saat itu. Jika ada yang mendengar, habislah kami! "Tanyakan ini pada Ruben untuk mempertegas pernyataanku. Aku hanya menyampaikan hal yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab mereka" Ms. Anna tampak ingin membuka semuanya yang dia ketahui. "Apalagi? Apakah ada rahasia yang harus kuketahui?" tanyaku. Ms. Anna menelan air liurnya dengan gelisah dan cemas. Ada keraguan yang tampak pada wajahnya. Mulutnya terbuka namun tidak ada kalimat yang meluncur. "Apa yang kamu tunggu Anna, ungkapkan semua supaya lengkap kelancanganmu melangkahi kami semua!" suara Ruben mengelegar, dan kami menoleh dengan gugup. Ruben muncul bersama Ron dan juga ketiga guruku yang lain. Ron tampak tidak suka dan bibirnya mengkerut menahan amarah. Flint hampir terjengkang dari duduknya jika tidak segera kupegang kursinya. "Aku tidak lancang! Aku hanya menuntaskan yang sehrusnya kalian lakukan sedari dulu!" seru Ms, Anna sambil berdiri. "Karena apa? Untuk menyelamatkan Israelmu? Itukah tujuanmu? Bangsa Israel seharusnya sudah menerima kutukan, karena kalian bukan lagi menjadi bangsa yang terpilih! Kesombongan kalian memuncak sebab menjadi bangsa pilihan Allah!" rutuk Ruben dengan murka. "Jangan hanya salahkan kami! Palestina juga ikut andil!" pekik wanita itu tidak terima. "Oh ya? Seandainya saja Israel mau berbagi, tidak akan ada pertumpahan darah!" tukas Albert yang sedari tadi diam. "Cukup!" teriakku dengan lantang. "Cukup! Kumohon hentikan semua ini! Aku yang akan menghadapi kematian, bukan kalian. Jadi katakan sekarang rahasia apa yang harus aku ketahui, supaya bisa memutuskan apakah layak untuk terus hidup!" hardikku dengan garang. "Pentagram, belum waktunya sekarang kamu mengetahui semuanya. Semua ada masa dan waktu yang telah ditetapkan! Bukan hanya sekedar membuka mulut dan mengungkapkan semuanya tanpa menimbang dan berpikir cerdas!" jawab Ruben sembari menyindir Ms. Anna. "Waktuku adalah sekarang, Ruben. Tidak ada lagi besok atau nanti," desakku dengan sinis. "Aku akan katakan jika kau berjanji untuk memperjuangkan hidupmu sendiri, seperti kami menyelamatkan dirimu bertahun-tahun dan meninggalkan hidup kami pribadi!" tantang Ron. Matanya tampak kecewa dan terluka saat aku mengatakan ingin mengakhiri hidupku. "Kami sudah meninggalkan semuanya demi dirimu. Tidak pedulikan hal lain selain membuatmu terus bernapas. Jika kamu memilih untuk mati, sia-sia pengorbanan semua orang yng rela mati untukmu, termasuk Cedric yang harus kehilangan kebebasan hidupnya." Mata Ron tampak berduka. Aku yang semula berdiri menjadi goyah. Dengan lunglai aku terduduk. Membayangkan Cedric, pamanku, membuatku lemah. Hugo menenangkan semuanya dan meminta untuk duduk. "Kita semua sudah tiba pada masa Pentagram harus mengetahui semuanya. Aku setuju dengan Anna. Tapi jangan sekalipun kau pergunakan Bennet demi kepentingan bangsamu sendiri, Anna Rivka Efraim!" seru Hugo dengan suara beratnya. Ms. Anna merundukkan kepalanya dengan geram. "Silahkan beritahu dan kami mengijinkan," lanjut Hugo dengan penuh wibawa. Ms. Anna meletakkan tangannya di meja. Kedua jemarinya bertaut dan bibirnya bersiap meluncurkan kalimat. Aku merasakan tangan Flint mencengkeram pundakku kuat-kuat. "Pentagram, kamu memiliki tugas awal untuk menyelamatkan Thema. Kemudian, bunuh Dalai Lama dan ambil kekuatannya. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu, tidak juga Osiris dan Horus. Kamu akan mengembalikan keseimbangan dunia menjadi bebas perang dan kekejian," ucapnya dengan terbata-bata. Mulutku hanya membentuk bulatan dan tidak mampu merespon ataupun menanggapi kalimat tersebut. Suasana hening sesaat. Hanya suara tawa para siswa dari kejauhan. "Pentagram, sanggupkah kamu melakukan itu?" tanya Hugo. Aku terdiam membeku. Tubuhku mematung. Hanya Flint yang masih kurasakan keberadaannya karena dia mencengkeram pundakku hingga terasa sakit.  "Terima kasih, Anna. Kita sudah dapat jawaban tanpa mendengar ucapan Bennet," timpal Hugo. Wanita itu tampak gelisah dan mulai resah. "Pahamilah, remaja semuda dia belum saatnya memegang s*****a dan menjadi mesin pembunuh. Sekarang kau tahu kenapa alasan kami menyimpan semua ini?" tanya Hugo dengan nada sinis. "Aku sudah menjadi pembantai sejak dini ...," desis Ms. Anna dengan rahang mengeras. "Jangan samakan dirimu dengan Bennet. Aku pun bangsa Israel sepertimu. Tapi kutanggalkan semuanya, demi mengutamakan tujuan yang lebih besar," tangkis Ruben. Ms. Anna terdiam namun matanya melirikku. "Aku harus pergi ...," pamitku sambil berdiri diikuti Flint yang tergesa mengikutiku. Seketika aku merasa kalut. Di luar mulai muncul derai salju dan petir yang menyambar. Aku marah, aku berduka dan aku TAKUT! "Terima kasih, Anna. Kau membuat semuanya berantakan!" Terdengar Ruben berseru sekaligus mengebrak meja. Aku tidak peduli. Setengah berlari menuruni tangga perpustakaan dengan pikiran kalut. Reese muncul dari bawah dengan wajah bingung. Seketika aku ingin menumpahkan tangisku. Gadis itu sontak merengkuh dan memelukku, disusul oleh Flint. "Tenang, Bennet. Tenangkan dirimu ..., ssssshhhh, tenang, ada kami," peluk Reese. Aku menangis tanpa rasa malu di pundaknya. Flint terus memelukku dari belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN