Aku menelungkupkan tubuhku di tempat tidur, sementara kepala setengah menatap lantai. Tanganku memainkan ujung karpet yang benangnya terlepas.
"Salju dan badainya mereda," cetus Reese tampak lega.
"Lain kali, kalau mau bertemu sama orang lain, pastikan kita bertiga tahu dan kelima pelindungmu juga," tegas Reese dengan marah.
Flint yang duduk di meja belajar kami tampak bersalah. Reese masih mengeluarkan kata-kata penuh omelan yang tidak terputus.
“Bisakah kalian diam sejenak? Aku butuh berpikir,” pintaku. Reese berhenti dan menunggu. Dengan enggan aku beringsut duduk.
“Hugo pernah mengatakan jika Ruben satu-satunya orang yang tahu rencana Rupert padaku. Aku masih belum punya kesempatan itu. Di luar semua rencana dunia untukku, aku pengen dengar apa sebenarnya yang Rupert inginkan terhadap hidupku,” ucapku dengan beberapa kali helaan napas dan intonasi yang cepat.
“Kamu mau tahu untuk apa?” tanya Reese. “Karena apa pun yang terjadi, Bennet, kamu harus hidup dan bertahan!” lanjut Reese dengan tegas.
“Aku juga pengen terus bernapas, Reese. Tapi mungkin ada sesuatu yang kita bisa pergunakan untuk menghindari tugas gila yang Ms. Anna ungkapkan!” cetusku dengan cepat lagi. Adrenalin di kepala memicu lidahku untuk melontarkan kalimat dengan tidak sabar.
“Maksudmu, menghindar untuk tidak melenyapkan Dalai Thubten?” tanya Flint ingin mempertegas. Aku mengangguk namun akhirnya tidak yakin kembali.
“Aaaaah! Semua buntu!” teriakku dan menghempaskan diri di bantal dengan raut putus asa.
“Semester ini masih panjang, kita harus bertahan dulu hingga usai, baru bergerak. Jika kamu merencanakan untuk bepergian, dengan mudah akan tertangkap dan masuk dalam asuhan dinas sosial. Itu aja masih lebih bagus, yang ada kamu dipaksa untuk menjadi tentara dan ikut perang!” rungut Reese.
“Seperti Kendall, teman kita yang kabur,” timpal Flint. Aku terdiam semua memasuki otakku tanpa bisa kuurai satu persatu!
***
Entah karena lelah dan juga kalut, aku tertidur cukup lama rupanya. Flint mengoncang tubuhku seiring bunyi bel yang berdentang nyaring.
“Makan malam sebentar lagi, mandi dan segera bersiap. Ruben dan kelima gurumu ingin bicara katanya,” cetus Flint. Aku mengusap mata dengan punggung tangan dan mengangguk. Setengah hati kuseret langkah dan menuju kamar mandi umum yang tidak jauh. Ada beberapa anak yang juga baru bangun dan dengan tergesa mandi. Kucuran air hangat dari pancuran menguyur tubuh dan tubuhku seketika terasa segar.
“Pentagram?” tanya seorang siswa yang sedang mandi di sebelah. Tempat mandi umum siswa itu panjang dan terbuka dengan shower berjejer sekitar lima belas. Aku sedikit risih awalnya mandi bersama-sama dengan mereka. Tetapi setelah hampir satu bulan di sini akhirnya terbiasa.
“Ya,” jawabku sambil menggosok rambut tak acuh. Pertanyaan yang selalu aku dapatkan tiap berjumpa dengan siswa.
“Aku Morgan, ayahku adalah pengawal kakekmu Mr. George Willy Bennet yang terbunuh malam itu,” cetus Morgan dengan raut sedih. Aku terhenyak dan menoleh.
“Maaf,” ucapku turut bersimpati.
“Tidak apa-apa. Buyutmu Mr. Rupert sudah mengganti uang yang fantastis. Kini Ibuku bisa memulai bisnis toko bukunya dengan lebih baik,” tukas Morgan tanpa beban. Aku heran dengan perubahan wajah Morgan yang cepat.
“Aku duluan,” pamitku tidak ingin berlama-lama dengan Morgan.
Morgan tersenyum dan mengangguk ramah. Dalam perjalanan menuju kamar aku terus berpikir. Mungkin aku harus mencatat satu persatu informasi yang aku harus ketahui. Terkungkung selama empat belas tahun adalah buruk! Terutama jika semua sejarah keluarga menjadi selubung yang tebal dan membuatku menjadi manusia yang tidak mengerti asal usul diriku sendiri.
Setelah selesai berpakaian, kami menuju ruang makan. Flint melangkah dengan wajah berkerut dan serius. Aku terkadang geli dengan penampilannya. Flint dengan muka ramahnya tidak cocok bertampang serius. Walaupun gerutuan tidak pernah berhenti darinya.
Reese melambaikan tangan dari meja VIP kami. Ya, meja yang hanya berpenghuni tiga orang, minus Ed, hanya karena kami dianggap kumpulan orang aneh.
Sejumlah makanan terhidang dan seketika perutku bunyi nyaring. Paha ayam kalkun dan domba panggang itu sangat menggoda untuk segera disantap. Tanpa membuang waktu kami menyerbu dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
“Wester terus melihat ke arah kita,” bisik Reese dengan pelan. Aku masih menghabiskan potongan pie daging yang sangat lezat tanpa memperdulikan ucapan Reese.
“Pasti dia sudah tidak sabar untuk Bennet menetapkan keputusannya,” timpal Flint.
‘John Wester tidak akan menyentuhmu selama kelima gurumu masih ada. Hugo dan Ruben terutama. Wester itu pengecut! Gagah hanya berlindung di balik sihirnya yang sepele dan dia tidak berbakat sama sekali!’ aku tertegun, suara Ed?
Reese yang selalu memperhatikan aku menendang kaki.
“Ed baru saja mengirimkan telepati padaku,” ucapku dengan wajah menolah kanan kiri.
“Te-telepati?” tanya Flint berwajah bingung.
“Ed tidak ada di sini Bennet,” cetus Reese cepat. Aku masih mengedarkan pandangan kesekeliling dan melihat hanya siswa biasa. Tidak ada Ed!
“Kirimkan telepati kembali,” pinta Reese.
“Bagaimana?” tanyaku seperti orang bodoh. Wajah gadis itu tampak putus asa.
“Mungkin dia tadi menyelinap dan akhirnya pergi,” hiburku pada mereka. Aku sendiri sangat kecewa.
“Dia seharusnya ada di sini bersama dengan kita, mengajariku berbagai hal. Sekarang aku harus meraba semuanya sendiri dan baik Ruben dan Ron terlalu sibuk untuk menuntunku,” cibirku kecewa.
“Sudahlah, kita akan cari cara nanti,” tepuk Flint. Makan malam usai. Ruben memberi isyarat supaya aku mengikutinya.
Reese dan Flint memberikan tatapan penuh dukungan saat aku menoleh. Ruben tidak membawaku ke aula. Kami menuju kamarnya yang lumayan cukup luas dan besar. Di sana ternyata sudah hadir keempat guruku yang lain.
“Duduk, Bennet. Kamu makin kurus dan pucat,” sapa Hugo menepuk pundak. Aku mengangguk dengan kikuk.
“Ok, berdasarkan pembicaraan kemarin yang sangat kurang menyenangkan itu, kami memutuskan untuk menghadirkan teman yang memang sangat kamu butuhkan,” Ruben membuka pembicaraan malam itu.
“Aku sudah memiliki Flint dan Reese,” tukasku dengan malas.
“Penta, ketahuilah. Aku dan Ron tidak akan ada setiap waktu bersamamu. Terlalu banyak hal yang harus kami urusi. Kemampuanmu tidak berkembang dan ini sangat mengancam karena kamu tidak akan menyelamatkan diri dengan menimbulkan huru hara melalui kekuatan pentagrammu,” sanggah Ruben. Aku masih belum paham arah jalan pembicaraan mereka.
“Kami harus menahan Osirus juga Fratrem untuk mendapatkanmu. Osirus mungkin jauh lebih mudah karena ada Fratrem yang siap badan untuk melindungi dirimu. Tapi Fratrem? Kami butuh taktik lebih untuk mencari alasan yang kuat mengelak dari tanggung jawabmu menerima tugas memimpin.” Ron kali ini mengeluarkan suaranya.
“Aku mengerti. Terima kasih telah berjuang keras untukku,” ucapku kecut. Albert tersenyum dan menepuk tanganku yang tertumpang di meja.
“Ini kebanggaan kami, Bennet. Mereka terlalu gengsi untuk mengakui itu,” sahut Albert mengedipkan matanya. Wolf tertawa kecil.
“Baik, Bennet sekarang tajamkan pandanganmu pada kursi itu,” pinta Ron. Aku dengan bingung mengikutinya. Kursi yang dimaksud adalah sofa lusuh berwarna hijau tua. Aku menatap sofa tersebut. Lambat laun sofa itu bergerak, aku terkejut dan hampir terjengkang ke belakang.
Sofa itu kini makin memanjang dan berubah bentuk. Kemudian muncul rambut berwarna merah dan seutuhnya, muncul sosok Edmund!
“Ed!” pekikku tertahan.
“Ron seorang alkemis yang bisa merubah benda dan bentuk, Ed sudah beberapa hari bersama dengan kita. Tapi karena butuh perdebatan sengit untuk meyakinkan Wester menerima Ed kembali, baru hari ini kami berhasil.”
Aku tidak mempedulikan penjelasan Albert, dengan gembira aku memeluk Ed sekuat tenaga.
“Aku tidak berhalusinasi 'kan?” tanyaku pada Ed. Temanku yang satu itu tertawa.
“Tidak, tapi kamu masih terlalu bloon untuk menjawab telepatiku. Padahal waktu di gua kamu bisa,” ledek Ed dengan senang.
“Telepati? Kamu bisa telepati, Bennet?” tanya Ron heran.
“Ya, Ed berbicara dalam kepalaku sewaktu kami terjebak dengan Siren yang dikirim Uncle Cedric,” jawabku dengan senang. Ed merangkulku.
“Saatnya bangun dan mengambil kendali penuh atas dirimu, Bennet! Kamu terlalu lemah!” goda Ed tanpa ampun. Aku tertawa.
“Sombong sekali kamu,” balasku sambil meninju perutnya.
“Ternyata banyak sekali potensimu, Bennet. Edmund, tugasmu menempa Bennet menjadi pahlawan,” puji Albert sekaligus memberi perintah pada Ed.
“Dengan senang hati, Mr. Cooper,” sahut Ed dengan sopan.
“Mengenai Cedric. Kami kehilangan jejak dia lagi,” seru Ruben membuyarkan kegembiraan kami. Aku menoleh dan menatap Ruben yang tampak resah.
“Kita akan mencari lagi,” janji Ron merangkul Ruben. Guru sejarahku mengangguk dan manggut-manggut.
“Kembalilah ke kamar kalian, waktu sudah malam,” ucap Hugo dengan cepat setelah jam sakunya menunjukkan pukul sepuluh.
“Bennet,” panggil Ron sebelum kami mencapai pintu.
“Simpan pertanyaanmu, dan kirimkan melalui telepati untuk latihan,” pintanya. Aku mengangguk dan tersenyum. Ed menarik tanganku dan kami berlomba berlari menuju kamar.