Not Alone

1273 Kata
Kehadiran Ed mampu menciptakan keceriaan pada Reese dan Flint. Pembawaan Ed yang ceria dan selalu bersemangat membuat semuanya merasakan optimis. Tiga hari melewati masa sekolah jauh lebih menyenangkan dibandingkan hari-hari sebelumnya.  Ujian pertengahan semester dengan mudah kami lewati. Bagiku, soal-soal ujian itu terlalu mudah. Bukan menganggap sepele, tapi menjalani pendidikan di rumah selama empat belas tahun, membuatku melahap apa pun yang kelima guruku berikan. Rasa kesepian dan tidak ada hiburan ataupun kegiatan lain, menjadikan belajar dan membaca adalah pelampiasan terbaik. Hari ini adalah terakhir kami menjalani ujian. Beberapa nilai sudah terpajang di papan pengumuman depan kantor guru. Para siswa berebut melihat hasil nilai mereka dengan tidak sabar. Reese mendatangi kami yang lebih sabar menunggu di bangku koridor. Wajahnya menekuk. “Aku tahu jika tata bahasa bukan keahlianku. Hanya gara-gara nilai itu, aku mendapatkan nilai C,” keluhnya dengan muram. Ed dan Flint melirikku dan memberi isyarat untuk melihat hasil nilai kami. “Pergilah, aku memilih tidak melihatnya,” sahutku enggan. Kedua temanku melesat menuju papan pengumuman. “Aku sudah melihat nilaimu Bennet. Semua A+, kamu memang jenius,” cetus Reese dengan malas. “Ah sudahlah, semua nilai itu tidak berpengaruh semuanya pada hidup kita nanti,” tukasku sekalian menghibur Reese yang tampak kesal. Flint dan Ed kembali dengan cengiran di wajah. “Ed mendapatkan nilai B untuk semuanya, dan aku jauh lebih baik. A untuk sejarah,” pamer Flint. Ed tidak terlihat menanggung beban sedikit pun. “Kita akan berlibur lagi setelah ini. Hanya selama tiga hari sih, tapi lumayan untuk Bennet berlatih dengan maksimal tanpa di ganggu tugas sekolah,” ucap Ed dengan semangat. Sekilas aku melihat Morgan lewat. “Tahukah kalian siswa yang bernama Morgan itu?” tanyaku menunjuk dengan dagu. Reese menoleh dan melihat tanpa berminat. “Ya, dia anak yang selalu memamerkan aksi pahlawan mendiang ayahnya yang menjadi pengawal kakekmu,” jawab Ed dengan ringan. “Sepertinya aku pernah hampir memukul dia dulu,” gumam Flint. “Memukul?” Aku dan Ed hampir bersamaan melontarkan pertanyaan itu. “Dia sangat sombong sekali. Ayahku pernah dia hina sebagai politikus korup,” ucap Flint dengan kesal. “b******k. Atas dasar apa?” tanyaku dengan penasaran. Larry adalah orang yang paling baik dan jujur yang pernah kau kenal. Tom mengatakan semuanya padaku. “Paman dia yang mirip perempuan itu meminta jabatan di Kerajaan, tapi ayahku tidak memberinya. Dia tidak berbakat dalam hal apa pun kecuali bersolek,” papar Flint sekaligus mencibir. Aku tergelak. Reese juga akhirnya menyunggingkan senyum geli. Ed memegang perutnya dengan ekspresi tawa yang membuat wajahnya semerah warna rambutnya. “Sudahlah. Ayo, ada sesuatu yang aku pendam sudah lama untuk Bennet. Rasanya tidak sabar menyimpan berita ini terlalu lama,” ajak Ed masih berusaha menghentikan tawa dan gelitik humor yang dia rasakan. “Kamu menyimpan rahasia dariku? Kenapa bisa kamu tidak mengatakan selama ini?” tuntutku. Ed menarik bajuku untuk mengikutinya dengan buru-buru. “Kontrol suaramu, Bennet. Tidak di sini,” tahannya. Kami bertiga segera meluncur menuju kamar. *** Aku hanya mencoba untuk bersabar dengan teka teki Ed yang semakin membuat penasaran. Tidak perlu menekan atau mendesak, karena Reese sudah melakukan itu untukku. “Ok-ok, aku akan mengatakan sekarang,” ucap Ed sambil mengayunkan kedua telapaknya pada Reese pertanda untuk bersabar. “Licorice?” tawar Flint. Aku mengambil permen itu untuk meringankan kecemasan. “Pada waktu aku terpisah dari kalian, ayah mengajak menemui kumpulan yang dikenal dengan The White. Mereka adalah kumpulan penyihir aliran putih yang memang bertujuan bersatu untuk tujuan mulia. Dari merekalah aku mendengar tentang ramalan mengenai dirimu,” Ed menuang wine merah yang Flint siapkan untuk kami. Sekali teguk, cairan merah itu lenyap masuk tenggorokannya. “Aku tau jika kalian telah bicara dengan Ms. Anna yang menyatakan tentang tugas yang mesti kamu emban, Bennet. Tidak perduli seberapa keras kelima guru pendampingmu melarang, atau kamu sendiri berusaha menghindari ini, tapi kamu akan menghadapinya. Cepat atau lambat,” sambung Ed dengan mata terbuka penuh dan wajah serius. “Maksudmu merebut kekuatan Dalai Lama itu dan menjadi Pentagram terkuat?” tanyaku. Ed mengangguk. “Karena kamu harus menyelamatkan Thema. Gadis Pentagram kedua yang akan menjadi pelengkapmu saat tanda atau tattoo pentagram muncul di tubuhmu,” jawab Ed. “Ed, kenapa Dalai Lama itu harus aku musnahkan? Tidak bisakah hanya mengambil kekuatannya dan membiarkan dia hidup?” tanyaku. Ed tampak berpikir. “Bisakah itu, Ed?” tanya Reese mengulangi pertanyaanku. “Aku tidak tahu. Tapi semua ramalan itu tidak mutlak harus terjadi seperti undang-undang hukum. Pasti ada beberapa detail yang tidak disampaikan atau ditulis. Kita akan cari tahu.” Jawaban dari Ed sangat melegakan dan membuatku lebih nyaman mencerna diskusi kami malam ini. “Tapi, Bennet, ada pertanyaan yang harus kamu jawab,” ucap Ed kembali. “Ya?” “Di luar semua harapan, ekspektasi dan dan rencana. Jika kamu sudah menguasai semua kekuatan sihirmu, apakah kamu akan memenuhi tugas itu?” tanya Ed. Aku terdiam. Reese ingin sekali mewakili diriku tapi Flint menyenggol lengannya dan mengisyaratkan untuk bungkam. Beberapa detik otakku berpikir dan menimbang dengan cepat. “Ya. Aku akan menyelamatkan gadis itu,” jawabku. Ed terlihat ingin menyanggah. “Katamu tidak ada ketentuan mutlak dalam ramalan kan? Jadi kau memilih menyelamatkan Thema terlebih dulu, baru akan diskusikan dengannya. Mungkin dia tahu yang aku dan kamu tidak,” sambarku cepat. Ed manggut-manggut dengan mata menatapku tajam. “Kamu terlihat lebih percaya diri, Bennet,” puji Ed. “Kalian berdua sudah gila. Membahas sesuatu sendiri tanpa kehadiran kelima guru Bennet,” tukas Reese jengkel. “Mereka terlalu lamban dan penuh dengan taktik tidak berguna, Reese!” seru Ed. “Maaf, Bennet. Tapi itu yang aku rasakan. Bahkan ayahku juga setuju,” ucap Ed tampak bersalah. “Kelima guru Bennet tidak salah.” Kini Flint yang mengambil suara. “Butuh lima tahun buat ayahku dan Uncle Tom meyakinkan Hugo dan Ruben bahwa Cedric tidak bersalah. Rahasia pembunuh Rupert sudah diketahui oleh polisi. Itu tidak lagi rahasia. Yang menjadi teka teki adalah kenapa? Mereka memiliki dua informasi yang salah. Pertama cerita Rupert mengenai melindungi Bennet dari Osirus. Padahal itu adalah sebuah usaha untuk menyimpan Bennet supaya siap untuk ditumbalkan. Kedua, informasi dari orang tua kami. Kelimanya menjadi bingung. Hingga detik terakhir mereka tidak membuka rahasia di mana persembunyian kalian kecuali pada Shield,” papar Flint dengan jelas dan tegas. “Sekarang dengan berita simpang siur yang makin tidak jelas, pasti mereka mencoba memperkuat dengan bukti-bukti akurat yang sedang dikumpulkan. Aku tidak menyalahkan mereka. Jika kamu mati, Bennet, dua pagan akan bertempur dan mencari tumbal berikutnya. Sementara itu terjadi, mungkin peperangan akan berkibar dan merajalela,” lanjut Flint dengan berapi-api. “Kenapa nasibku begitu buruk?” keluhku dengan lunglai. Ketiganya membisu dan tidak melontarkan kalimat sepatah kata pun. “Bennet, anggap ini adalah fase terbaru dalam hidupmu. Mau tidak mau, kamu harus menegarkan hati dan berani mengambil semua resiko. Tapi yang terpenting, jangan biarkan mereka menentukan nasibmu,” ungkap Ed dengan sungguh-sungguh. “Ya, nasibmu di tangan Tuhan dan kamu yang akan mengikuti jalan takdirnya,” tanggap Reese. “Kami akan bersamamu, Bennet. Selalu dan selamanya,” janji Flint. Aku mengangguk dan merasakan kehangatan yang asing tapi rasanya menyenangkan. “Aku tidak sendiri ….” Mataku merebak. Aku sangat malu, akhir-akhir ini sangat cengeng dan terbawa emosi. “Tidak akan kubiarkan kamu sendiri,” sahut Reese. Ed dan Flint saling melempar pandangan dan mengangguk. “Jangan lupakan kami, Bennet. Persahabatan orang tua kita akan terus berlanjut hingga anak cucu nanti.” Kalimat terakhir dari Ed cukup menohok dan membuyarkan pertahananku. Flint merangkul dan kami tertawa sambil menangis bersama. Dalam kondisi yatim piatu, sebatang kara dan tidak memiliki siapa pun, kecuali paman yang tidak jelas ada di mana, aku menemukan keluarga baru. Para sahabatku!    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN