Learning Magic

1279 Kata
Menjalani hari demi hari dengan ketiga sahabatku sangat menyenangkan. Aku memang cukup sulit memposisikan diri untuk ramah pada siswa yang lain. Mungkin antisosial adalah jenis kepribadianku. Liburan yang kami tunggu tiba. Larry dan Eliza sudah menyiapkan penjemputan kami. Orang tua Flint memang cukup mengurus diriku dengan baik. Ruben memeluk aku kuat-kuat. Tadinya dia cukup keberatan, tapi Hugo membelaku dengan mengatakan bahwa aku layak berada di tengah-tengah keluarga normal seperti mereka. “Kunjungi kastil kita di Faroe jika sempat,” bisik Ruben. Aku mengangguk walau tidak paham maksudnya. Kami menuju London bagian utara, rumah kediaman Flint. Reese juga turut serta dan mendapatkan ijin dari Margie, ibunya, untuk menghabiskan masa liburan bersama kami. Ed sudah asyik membicarakan tentang enaknya masakan Eliza, ibu Flint selama perjalanan. Aku memilih tidur walau tidak lelap. Seperti kunjungan sebelumnya, keluarga Flint menyambut kami dengan ramah dan meriah. Hidangan yang beraneka dan pasti nikmat tersaji dari ujung meja hingga ujung berikutnya. Aku tidak lagi bersuara, mulutku dipenuhi makanan. Aku memiliki selera makan yang membaik sejak seminggu terakhir ini. Eliza tidak henti-hentinya menambah makanan ke piringku. Sementara Larry menceritakan tentang kisah kericuhan di perlemen. Tom, ayah Ed, yang juga datang bersama Margie dan Geoff membahas dengan seru. “Kurasa orang yang membela Cedric mulai berani muncul sekarang,” seru Larry dengan bangga. Aku jadi tercuri perhatian pada kalimat tersebut. “Apakah ada pendukung Uncle Cedric?” tanyaku. “Tentu saja ada, Bennet. Suara Cedric yang membela kaum buruh dalam berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak, terutama bagi kaum wanita, kini mendapat respon yang cukup vocal di parlemen,” jawab Geoff dengan wajah merah karena kebanyakan brandi. Aku mengangguk. “Uncle tidak lagi muncul, tapi pendukung malah bermunculan,” gumamku. “Cedric memang misterius. Tapi percayalah, seperti kami mempercayai dia. Cedric memiliki cara tersendiri untuk bergerak dan mendapatkan dukungan,” cetus Tom yang memang sahabat baik pamanku. “Ya, kecuali mengunjungi aku, keponakannya. Dia hilang arah dan tidak pernah sampai,” sindirku sinis. Semua terdiam dan berpura-pura minum untuk mengurangi kecanggungan akibat keketusanku. “Ed, buatlah kembang api seperti waktu itu!” seru adik Flint, Bella. Suasana teralihkan dengan cepat. “Ayo, kita ke halaman,” ajak Ed dengan semangat. Bella yang baru berusia tujuh tahun terlihat membeliakkan matanya tidak percaya jika pemintaannya dipenuhi Ed. “Ayo, Bennet! Jangan melambat!” tarik Reese. “Kembalilah untuk makanan penutup!” seru Eliza. Kami menyerbu keluar dan Ed bersiap dengan tangan teracung ke udara. Satu jentikan jarinya, melentingkan sebuah cahaya dan melesat ke atas kemudian berpijar seperti kembang api. “Wow!” pekik Bella dengan keras. Gadis kecil itu melonjak kegirangan. “Lagi-lagi!” serunya ketagihan. Ed meluncurkan kembali dan langit menjadi terang oleh ledakan pijaran kembang api. “Lebih besar, Ed!” pinta Flint turut menikmati pertunjukan sihir sederhana, menurut Ed. “Giliranmu, Bennet!” Aku tertegun. “A-aku?” “Ya, kamu. Memangnya siapa lagi?” sahut Ed. “Ti-tidak pernah mencoba,” elakku. “Sama seperti kamu memunculkan api di tanganmu.” Ed mengarahkan dengan sabar. Aku mendengarkan dengan seksama. Sambil menarik napas kuat-kuat aku berkonsentrasi sepenuhnya. Kujentikkan tangan dan muncul bulatan sinar putih sebesar kepalan tangan, lebih besar dari milik Ed tadi. Sinar itu melesat ke atas dan kemudian terpecah menjadi pijaran yang sangat besar dan gaungnya sangat keras. Untuk beberapa saat langit terang benderang seperti siang hari. Semua terpaku dan terkesima. Bella membuka mulut dan lupa bereaksi. “Bennet, kurasa cukup sekali,” ujar Ed dengan pucat. “Aku lupa jika kekuatanmu berkali lipat dari kami,” lanjut Ed kecut. Teriakan Eliza yang memanggil kami untuk kembali masuk membubarkan pertunjukan kembang api. *** Pagi-pagi sekali, Tom dan Ed mengajak ke danau dekat dengan rumah. Mereka memintaku untuk melakukan percobaan merubah beberapa benda. Setelah usaha beberapa kali, aku berhasil walau kadang tertukar. Beberapa mantra dalam bahasa yang sangat sulit diucapkan juga mereka ajarkan. Flint tergelak saat melihat aku salah mengucapkan dan berakibat merubah batu menjadi kelinci berbaju, alih-alih menjadi roti. Reese segera menyelamatkan kelinci malang itu. “Bagaimana benda mati itu bisa berubah?” tanyaku ingin tahu. “Sebetulnya tidak ada yang berubah, Bennet. Batu yang berubah tadi hanya bertukar tempat,” terang Tom. “Jadi roti ini berasal dari suatu tempat?” tanyaku Tom mengangguk. “Sihir itu tidak bisa menciptakan, dasarnya hanya menggantikan. Kecuali sihir yang berasal dari energi tubuh kita, baru itu tercipta dari kekuatan dalam,” terang Tom. “Kembang api yang tadi malam, contohnya,” seru Ed menambahkan. Aku mengangguk mengerti. “Jadi prinsipnya kita bisa merubah apa pun, jika itu kita bayangkan dan akan tergantikan sesuai gambaran di kepala?” tanyaku. “Yes. Tepat sekali. Tidak sulit kan?” Aku tersenyum karena mulai menangkap dengan jelas. “Selanjutnya, kamu harus menguasai bagaimana menyerang musuhmu dengan sihir. Sebetulnya tidak perlu, karena kekuatan elemen bumimu sudah lebih dari cukup. Tapi jika menyangkut kamu harus mempengaruhi pikiran seseorang, kurasa kamu perlu,” pungkas Tom. Tangannya bertepuk dan meminta kami istirahat. Larry muncul dengan Geoff. Keduanya siap memancing ikan dan Tom sangat tertarik untuk ikut. Kami duduk di tepi danau sambil menikmati roti lapis berisi ikan salmon asap. Sangat enak sekali. Aku habis tiga tangkup. “Ruben mengatakan sesuatu yang aneh padaku sebelum pergi,” kataku sembari mengambil air limau di botol. “Pesan?” tanya Reese. Aku mengiyakan. “Dia bilang, kalo sempat aku harus mengunjungi Kastil kami yang di Faroe,” ucapku. Flint duduk tegak. “Itu bukan sembarang pesan. Itu amanat!” serunya. “Amanat?” tanya heran. “Buat apa Ruben mengatakan itu tanpa maksud?” sahut Flint. “Mungkin kita harus menemukan sesuatu,” cetus Ed. “Ya, sesuatu yang tidak bisa mereka ambil karena jarak dan waktu. Aku yang bisa karena bisa melakukan lompatan jarak,” sambungku. “Siapkah kalian?” tanyaku. Reese terlihat ragu. “Aku siap,” sambut Flint sambil membereskan keranjang bekal kami dengan cepat. “Kenapa tidak? Kapan lagi kita pergi ke Faroe yang cuman bisa ditempuh melalui perjalanan sebulan dengan kapal,” imbuh Ed. Kami berpegangan. Aku membayangkan halaman kastil dan saat melihat jendela putih mulai tampak, aku melompat sekuatnya beserta ketiganya. Spektrum cahaya pelangi bergerak cepat melewati atau kami yang melewatinya. Detik berikutnya kami terguling di rumput. “Aduh,” keluh Flint sambil memegang kepalanya. Rupanya dia terantuk tubuh patung yang jatuh berserakan. Ed dan Reese bangun dengan terhuyung. Aku sudah menguasai diri lebih dulu. Kastil, tempat aku terkungkung selama empat belas tahun, masih kokoh berdiri. Beberapa patung rubuh, mungkin bekas serangan Osirus. Rumput sekitarnya memanjang dan tidak ada lagi salju. Terlihat kurang terawat dan sepi. Ed dengan terampil mengembalikan semua letak patung dan memulihkan halaman yang berantakan dengan cepat. Rumput terpotong dan ranting tersingkirkan. Aku tergugah dan membantunya menyingkirkan dedaunan kering yang bertebaran. Seketika tempat itu dalam hitungan menit rapi dan tampak apik. “Inikah kerajaanmu, Bennet?” ucap Reese kagum. “Penjara selama empat belas tahun,” ucapku meralat. “Kita akan jadikan ini base camp kita,” cetus Ed. “Kalo kamu tidak keberatan,” pintanya. Aku mengedikkan bahu dengan tak acuh. “Kenapa bisa berantakan tadi?” tanya Flint. “Osirus menyerang kami malam itu. Kami kabur ke Les Chester,” jelasku dengan pahit. Kilasan bayangan masa lalu kembali. “Hallo anak-anak!” Kami menoleh ke arah suara pria yang berat dan agak serak. Berdiri seorang pria tinggi besar dan gagah, yang muncul dari arah samping menuju istal kuda. Rambutnya hitam agak panjang dengan celana hitam dan kemeja putih tergulung hingga ke siku. Ia memakai sepatu boot tinggi dan dua buah pistol tergantung di pinggang. Pria itu sangat tampan dan kulitnya pucat. Tiba-tiba aku teringat akan wajahnya. Matanya yang biru keabu-abuan, mirip denganku! “Oh Tuhan …,” desis Reese pucat. Ed dan Flint terpaku. Tubuhku seketika gemetar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN