Rasanya seluruh tulangku berhenti bekerja menopang tubuh. Sekuat tenaga aku tidak kehilangan akal saat melihat sosok pamanku, Cedric.
“Pentagram Bennet, kenapa diam? Kemarilah!” serunya dengan mata yang ramah. Aku serta merta berlari dan menghambur dalam pelukannya. Seketika aku tergugu. Cengengkah aku?
“Akhirnya kita bertemu …,” bisiknya disertai pelukan erat.
Ini di luar semua rencana kami. Tidak pernah menyangka jika kami seberuntung ini, aku terutama.
“Kemanakah Uncle selama ini?” tanyaku ketika kami akhirnya duduk di ruang makan dan menikmati teh hangat juga kue buatan Basil. Ya! Basil dan Emerin ternyata adalah orang yang menjadi pengikut setia pamanku selama ini.
“Mengejar kebenaran. Itu sulit sekali, Nak. Menimbang banyak lompatan yang harus aku lakukan dan sangat menguras energi. Belum lagi lari dari kejaran polisi di seluruh negeri tercinta kita, Britania Raya,” sahut uncle Cedric sembari mengaduk tehnya. Aku duduk di sebelahnya dan mengagumi betapa pamanku adalah pria yang tampan dan gagah. Aku ingin seperti dia.
“Banyak sekali yang harus kamu ketahui juga, tapi yang jelas tidak bisa semuanya sekaligus. Aku telah menyiapkan sebuah buku yang akan menjelaskan segalanya, namun bersabarlah. Semua belum lengkap. Akan kuberikan padamu saat kau siap untuk menempuh petualanganmu yang panjang nanti,” ungkap pamanku sembari menyeruput tehnya dengan nikmat.
“Mr. Bennet, apakah petualangan yang pernah kami dengar tentang menyelamatkan Thema dan mendapatkan kekuatan dari Dalai Lama tua itu?” tanya Flint. Paman Cedric tertawa.
“Kamu memang teliti dan cermat seperti Larry, Flint!” seru paman Cedric dengan senyum terkembang.
“Wah Mr. Bennet tahu namaku?” balas Flint bangga.
“Tentu saja! Aku adalah ayah baptismu! Apakah Eliza tidak pernah mengatakan padamu?” tanya pamanku dengan kening berkerut. Flint meringis dan menggeleng.
“Ibuku tidak pernah cerita,” sahut Flint. Sahabatku itu akhirnya memajukan bibirnya dengan kesal. Aku dan Reese tersenyum geli. Jika Flint tahu sedari awal, pasti dia sudah pamer sejak dulu.
“Bagaimana kondisi Osirus dan Fratrem saat ini? Apakah aku akan aman?” tanyaku masih ingin tahu lebih jauh dan mendengar langsung. Paman Cedric mengangguk dengan cepat.
“Osirus masih terbuai karena mengira mereka memiliki waktu selama dua tahun sebelum engkau berusia tujuh belas tahun. Tapi percayalah, kekuatanmu bisa muncul kapan saja, seiring kamu mengasah diri. Pada saat tanda pentagram muncul sepenuhnya di tubuhmu, maka itulah puncak kekuatanmu,” papar paman dengan suara yang jelas dan berhati-hati. Jelas sekali dia seorang pemikir dan sangat menimbang setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Ada pertanyaan yang tidak pernah bisa aku dapatkan dari siapapun juga, Paman,” ucapku kemudian. Paman Cedric mengangkat telapak tangan untuk memberiku isyarat supaya menyampaikan padanya.
“Kenapa aku harus membunuh Dalai Lama dan menyelamatkan Thema. Apa tujuan dari semua itu?” tanyaku dengan jelas. Pria itu menghabiskan tegukan terakhir dan meletakkan cangkir dengan hati-hati.
“Pertama, kalian adalah ketiga pentagram yang ada di bumi ini, yang masih ada pada abad ke 19. Itu tidak seharusnya terjadi. Pentagram dilahirkan hanya SATU untuk tujuan menyeimbangkan bumi dan hidupnya haruslah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kini, setelah semakin banyak ilmuwan dan filsafat yang mengetahui keberadaannya, mereka pun meneliti. Obeservasi mereka justru menemukan kenyataan, bahwa pentagram ternyata tidak perlu melakukan hal tersebut. Mereka masih bisa hidup sebagai orang normal seperti manusia lainnya, bahkan berkeluarga. Tetapi, seorang pentagram tidak bisa menggunakan kekuatan untuk organisasi tertentu. Itulah alasan kenapa seorang pentagram harus selalu berpindah dulunya.
Entah kenapa, Thema dan dirimu lahir di saat Dalai Lama masih hidup sebagai pentagram. Dunia akan banyak kekacauan dan keseimbangan akan hancur. Peperangan, kelaparan, wabah dan masih banyak lagi.
Tercetuslah sebuah gagasan untuk meniadakan kedua lainnya dan hanya mempertahankan satu. Dirimu yang memiliki sembilan unsur adalah pentagram yang terkuat. Sementara Thema memiliki satu unsur saja dan Dalai Lama adalah tujuh. Mereka harus tunduk dan engkau yang akan memimpin serta hidup."
Penjelasan pamanku sangat jelas walaupun panjang lebar. Reese seperti biasa mencatat semua detail dari cerita tersebut.
“Tapi, kenapa tidak ada yang menyebutkan jika Thema juga perlu dimusnahkan?” tanya Ed.
“Karena unsurnya satu dan Bennet Sembilan, menjadikan mereka bersatu maka hasilnya angka sempurna, sepuluh. Thema adalah pelengkap hidupmu nantinya, suka ataupun tidak,” jawab pamanku dengan wajah menggoda. Aku tidak menghiraukan itu.
“Bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak mau membunuh mereka?” tanyaku lagi.
“Kekacauan akan terus berlangsung, suka ataupun tidak, jika ada dua pentagram kuat yang muncul, maka salah satunya akan berfungsi sebagai Yin dan satunya lagi sebagai …”
“Yang. Yin Yang, konsep filosofi baik dan buruk dari negeri timur Tiongkok,” sambar Reese.
“Cerdas Reese!” puji paman Cedric dengan senang.
“Apakah benar aku sebagai pengendali alam? Dan bagaimana menjelaskan keberadaan kami sebagai pentagram bisa menpengaruhi keseimbangan dunia?” tanyaku lagi makin kritis. Sejenak pamanku terdiam dan berpikir.
“Begini, pengendali alam? Tidak. Alam sudah ada yang mengatur sendiri beserta dengan semua mahkluk ajaib penjaga, yang Tuhan ciptakan. Tapi kamu bisa mengendalikannya, dan segala emosi yang dalam dirimu bisa mempengaruhinya, Kenapa? Karena energi dalam tubuhmu yang terlalu besar, Bennet,” papar Paman Cedric. Aku mulai paham.
“Seluruh benda, zat baik bernyawa ataupun tidak, pasti memiliki energi. Energi tersebutlah yang menjadikan penentu dirimu dan kaum pentagram bisa menjadi penyeimbang dunia. Dasarnya kalian memiliki energi positif, dan itu bisa menetralkan hal-hal negative yang ada di muka bumi. JIKA, ada satu saja. TAPI, jika ada lebih dari satu? Kacau! Bentrokan energi yang begitu besar mampu menjadi gelombang yang memutar balik dan menghasilkan energi negative.
Apa yang terjadi jika volume air yang besar hanya ditampung pada gelas atau cengkir sekecil ini? Tumpah. Apa yang terjadi jika dua tembakan besar saling beradu? Mental balik. Itulah kondisi saat ini.”
Kulihat Ed dan Flint pun mulai memahami semua cerita dibalik rentetan ramalan yang mengerikan tersebut.
“Ternyata memang seperti itu kondisinya, tugas Bennet tidak lagi mudah dan simpel,” gumam Ed dengan termenung.
“Beruntung sekali kamu terlahir sebagai keturunan time traveler, Nak. Jika tidak maka ini akan menjadi perjuangan yang luar biasa berat karena harus menempuh jarak yang begitu jauh dan melelahkan. Hebatnya lagi, kamu tidak terlihat capek walaupun baru saja membawa ketiga temanmu. Aku? Hanya membawa diriku saja akan menghabiskan energiku selama satu hari penuh,” ungkap pamanku kembali setengah mengeluh. Aku tersenyum bangga atas pujiannya.
“Baiklah, cukup dulu sampai di sini, kita akan lanjut cerita di lain waktu. Paman rasa kalian harus kembali sebelum orang tua kalian mencari,” nasehatnya sambil menepuk pundakku dan mencengkeramnya dengan hangat.
“Dua pertanyaan lagi,” pintaku. Paman Cedric tertawa.
“Astaga, kamu mirip sekali denganku! Esther akan memakiku habis-habis jika bertemu di alam kematian nanti. Dia pasti menuduhku mempengaruhi dirimu,” kekeh paman disertai mata berkaca-kaca. Aku tersenyum getir dan menunduk.
“Aku turut menyesal Paman karena harus kehilangan ibu."
Cedric meremas tanganku dengan lembut.
"Apa pertanyaanmu?"
Dengan tidak yakin, aku mulai melontarkan kalimat. "Pertanyaan pertama, apakah Ruben tahu? Karena dia mengatakan untuk kemari dengan bahasa penuh teka teki, dan yang kedua, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Itulah dua pertanyaan pungkasku sebelum berpisah.
“Ruben adalah seorang sorcerer. Tanpa kuminta, dia biasanya sudah tahu ramalan ke depan lebih dulu. Jadi ya, dia tahu karena kemampuannya sebagai sorcerer. Jawaban kedua, bersekolah sebaik mungkin karena itu perlu untuk mengisi otakmu. Jika tiba waktunya kamu harus mulai berkelana, semua akan terjadi tanpa rencana dan bergulir begitu saja.”
Aku mengangguk puas atas semua jawaban tersebut.
Kami berpelukan kembali dan pamanku menangkupkan kedua tangannya pada wajahku.
“Aku sangat mencintai adikku, Esther. Sayang, kehilangan dirinya begitu cepat. Tapi begitu melihatmu, aku mendapatkan dia kembali,” ucapnya terbata-bata.
“Jangan khawatir akan masa depanmu, karena Albert, gurumu, yang mengurus semua kekayaan keluarga kita sangatlah jujur dan dedikasinya besar. Kelima guru itu yang akan menjadi pelindungmu hingga engkau siap.”
Aku kembali memeluk erat dirinya. Rasanya aku seperti mengenal paman selama bertahun-tahun. Bau tubuhnya yang khas, aroma kayu manis, melekat di hidungku. Kami meninggalkan kastil dan lambaian terakhir dari paman Cedric menjadi pemompa semangatku untuk terus hidup dan berjuang demi keberlangsungan keluarga Bennet.