Knowing Myself

1213 Kata
Kami kembali dari kastil sudah hampir gelap. Larry dan Tom mendapat cerita dari kami dan sangat bersemangat mendengarkan cerita detailnya. "Sekolah akan dimulai seminggu lagi, banyak siswa yang akhirnya memutuskan tidak kembali. Tapi sebaiknya kalian terus melanjutkan hingga lulus. Tidak baik hanya duduk di rumah tanpa berbuat banyak," saran Larry dengan tegas. "Kurasa sekolah adalah tempat teraman bagi kalian daripada harus mengikuti wajib militer dan bersiap untuk perang," cetus Tom, ayah Ed. "Sudahlah, mari kita nikmati makan malam tanpa cerita menyedihkan. Masakanku akan terasa hambar nantinya!" protes Eliza, ibu Flint, menyudahi pembicaraan kami. Sesudah makan malam, kami memilih untuk berbincang-bincang di teras. Sementara Larry dan Tom juga Eliza membicarakan tentang kondisi politik, kami berempat duduk di bawah berbagi cerita mengenai, John Wester, kepala sekolah kami. "Tahukah kamu jika John Wester bukan berasal dari keluarga bangsawan? Dia hanya anak panti asuhan yang sangat berprestasi dan pintar kemudian dapat beasiswa penuh dari keluargamu?" cetus Reese dengan wajah kesal. Aku cukup kaget saat mendengarnya. “A-aku tidak tahu menahu tentang itu. Lagipula Albert yang mengurus semua keuangan keluarga Bennet selama ini,” sahutku. Pikiranku menjadi jengkel. Pria tua itu masih tega bersikap kasar dan bergosip ingin menyingkirkan diriku dari sekolah. “Sebelum Albert, ada ayahnya, Harry, yang mengurusi kekayaaan keluargamu, Bennet. Aku jadi heran, berapa kekayaan keluargamu? Mengingat kamu memiliki lima kastil mewah yang semuanya masih terawat dengan baik, dan juga dua pulau yang berada dalam kepemilikan keluarga Bennet,” timpal Ed sambil menggelengkan kepalanya. “Aku hingga detik ini tidak tahu apa pun tentang kekayaan. Sejarah keluargaku hanya sekelumit yang aku ketahui. Ternyata menjadi kaya sangatlah penting di dunia nyata,” gumamku setengah merenung. “Apakah keluarga Albert selalu menjadi akuntan keluargaku, Uncle?” tanyaku kemudian sambil berpaling pada Larry. Ayah Flint berpaling dan mengangguk. “Ya, berawal dari kakek mereka, Rudolf, yang menjadi Bankir bank, kemudian direkrut oleh Rupert menjadi akuntan pribadi yang menangani kekayaan mereka. Berlanjut kemudian ke Harry dan kemudian Albert. Oh Bennet, engkau tidak akan bisa membayangkan betapa kekayaan keluargamu tidak akan habis hingga abad ke 100 nanti. Terlalu berlimpah!" jawab Larry. Aku hanya diam. Aku tidak tertarik pada kekayaan keluargaku, tapi pada Albert. Dia pria yang sangat cerdas dan aku sangat menyukainya. Karena biarpun tegas, baik Ruben maupun pamanku, Cedric, mengatakan Albert orang yang bisa kupercaya untuk menjaga semua kekayaan dan juga jiwaku. “Kami pernah bangkrut dan Cedric dengan kemurahan hatinya mengirimkan Ruben untuk memberi bantuan pada keluargaku. Semua karena pesan Esther sahabat kami yang menginginkan Cedric mengurus hidup kami sampai kapan pun,” ucap Eliza dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca. Larry meneguk gelas brandi-nya dalam menyembunyikan haru. “Hancur rasanya hatiku setiap mengenang Esther. Hidup ini tidaklah sama lagi tanpa dia,” keluh Tom dengan suara sengau menahan isak. “Esther seharusnya tidak perlu meninggal jika Rupert tidak keras kepala mengejar kemuliaan yang bodoh!” umpat Larry kini terlihat emosional dan mengumpat dengan geram. Aku menunduk. Tidak ada buku diari Ibuku yang bisa aku baca untuk mengenal dirinya lebih baik. “Anak-anak, sudah malam. Saatnya tidur!” seru Eliza tidak ingin kami larut dalam kesedihan. Kami beranjak dari teras dan menuju kamar. Kami memutuskan untuk tidur di kamar Flint yang cukup luas. Reese menarik selimut dan dalam posisi miring menatapku yang berbaring di sebelahnya. “Bennet, kau bisa melakukan time travel dan mengunjungi ibumu. Beranikah kamu melakukan itu?” tanya Reese. Aku menelan air liurku dengan gelisah. “Pernah dan selalu terpikir, tapi aku tidak berani melakukan itu Reese. Apa yang akan kulakukan saat bertemu dengannya?” jawabku. Air mataku berkumpul di ujung kelopak mata. Untungnya malam itu gelap, Reese tidak melihat jika mataku mulai merebak. “Maafkan aku, Bennet. Tapi jika kamu butuh teman, kami ada untukmu selalu,” bisik Reese dengan lembut dan mengenggam tanganku dengan kuat. Aku menoleh dan mengiyakan dengan lirih. “Kamu tidak sendiri, Bennet,” timpal Flint. “Selalu ada kami,” imbuh Ed. Aku menjadi terharu dan keinginanku untuk tegar menjadi makin kuat. Sebelum terlelap, aku berikrar untuk selalu melindungi mereka selama aku hidup. *** Pagi hari, kami bermain di danau lagi menemani Larry dan Tom memancing. Air danau sangat segar dan kami berenang menghabiskan hari yang sangat panas. “Kalian tahu jika ada teman kita yang kabur karena dipaksa orang tuanya ikut wajib militer?” seru Reese. “Darimana kamu tahu?” tanya Ed heran. “Waktu sarapan tadi, Uncle Larry membicarakan dengan Uncle Tom,” jawab Reese. “Kasihan sekali mereka. Kemana mereka pergi?” tanyaku menjadi penasaran. Reese menyelam dan muncul kembali, rambut tebalnya yang cokelat dan di ikat tinggi tampak tahan air. “Tidak tahu,” sahutnya dengan lesu. “Aku akan mengunjungi Rudy sebelum kembali ke sekolah,” cetusku. “Untuk apa?” tanya Flint. “Bertanya tentang John Wester,” sahutku dengan rahang mengeras. “Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ed heran. “Jika memang dia terbukti licik berusaha menyingkirkan aku, maka aku akan meminta Hugo memecat dia menjadi kepala sekolah. Les Chester adalah milik keluargaku, aku bisa memecat orang yang korup dan mencoba membunuhku,” jawabku dengan geram. “Astaga, kamu berani melakukan itu?!” tanya Ed. “Kenapa tidak? Aku bosan mendengar orang lambat bergerak untuk menyingkirkan manusia licik hanya karena tidak enak atau sungkan,” ungkapku dengan sinis. “Seharusnya kamu bilang dengan kelima gurumu terlebih dulu,” saran Reese dengan ragu. “Kenapa kamu tiba-tiba membela John Wester, Reese? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika dia dibantu oleh keluargaku? Tapi dia tega melemparkan kalimat ingin menyingkirkan aku! Tanya Ed dan Flint malam itu yang juga mendengar!” seruku hilang kendali. Gemuruh awan petir menyambar di angkasa. “Bennet! Kontrol dirimu, Papa dan Unlce Tom masih di tengah danau, jika terjadi badai bagaimana nasib mereka?!” bentak Flint. Aku menarik napas dan memukul permukaan danau. Airnya bergolak membentuk gelombang besar dan Reese menjerit kaget. “Maaf!” teriakku tidak sadar jika kekuatanku begitu besar. Ed segera mengumamkan mantranya dan mengangkat tubuhku dan melempar ke darat. Kemudian Ed mengulurkan tangannya ke arah Reese dan Flint yang terseret gelombang dan mengangkat mereka secara ajaib serta mendaratkan keduanya dengan selamat. Ed berenang dengan santai ke tepian dan naik. “Sangat ceroboh, Bennet!” ucap Ed dengan jengkel. Reese dan Flint masih terbatuk-batuk. “Apakah kamu berusaha membunuh kami, Bennet?” pekik Reese. Flint masih terbatuk dan mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuhnya. Aku tertegun. Tubuhku mematung dan tidak menyangka ini akan menjadi buruk. “Maafkan aku!” aku berlari dan memeluk Reese juga Flint sekaligus. “Aku janji tidak mengulangi,” sesalku dengan rasa bersalah menggunung. Ed menghela napas dan meminta kami mengeringkan tubuh lalu bergegas menyantap bekal. Aku masih menggigil. Bukan karena kedinginan tapi karena tidak menyangka jika kekuatanku makin lama semakin besar. “Kamu hebat sekali, Ed. Kami sangat salut padamu,” puji Reese. Ed memberikan cengiran lucunya. “Aku memang baru remaja, tapi Papa mengatakan tahapan sihirku sudah mencapai level dewasa,” pamer Ed. “Sudahlah, Bennet. Makanlah sebelum perut kamu kram. Nanti sakit,” Flint mengulurkan sandwich padaku. Dengan ragu aku menerimanya. “Serius, Bennet. Kamu harus mengendalikan kekuatanmu. Jika tidak, kamu akan melukai orang yang tidak bersalah,” ucap Reese sambil mengunyah makan siangnya. “Ya, aku tahu,” jawabku. “Kita belajar pengendalian diri lagi,” balas Ed. Aku mengangguk dengan cepat. Ya, ini harus!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN