Sekolah berakhir pukul dua belas. Flint berlari menghindariku dengan gelak terurai dari mulutnya. Reese menarik lenganku tiba-tiba dan aku hampir terjengkang.
"Reese!" pekikku.
"Aku dengar dari Ed jika tadi malam kamu melakukan teleportasi!" serunya dengan suara tertahan.
Aku mengerutkan kening dan mengepalkan tangan. Ed dasar!
"Bukan teleportasi, tapi lompatan quantum karena bisa kujelaskan dengan penjelasan ilmiah," tangkisku. Reese masih belum puas akan pengakuanku.
"Aku lapar. Tadi pagi kami bangun terlambat," keluhku.
Reese akhirnya mengikuti dengan wajah masam. Kami memasuki ruang makan dan duduk di kursi makan 'VIP' yang. Aku merasakan perihnya perutku karena tidak terisi sedari pagi. Tanpa banyak kata, aku melahap hidangan makan siang dengan semangat.
Ruang makan sekolah terdiri dari sekitar dua puluh lima meja makan dengan delapan kursi masing-masing.
Entah berapa jumlah murid sekolah ini, tapi sangat sedikit murid wanita.
"Lihat surat kabar hari ini?" tanya Reese mengulurkan surat kabar The Times.
Aku membaca judul:
PEJUANG ATAU PEMBAKANG?
Mataku beralih pada tulisan dibawahnya.
Emily Wilding Davison, lahir di Greenwich, Inggris, 11 Oktober 1872, dan meninggal hari ini di Epsom, Surrey, Inggris, 8 Juni 1913 pada usia 40 tahun. Emily merupakan pejuang hak suara perempuan yang memperjuangkan agar wanita memiliki hak suara setara dengan pria. Dia adalah anggota Persatuan Sosial dan Politik Wanita (Women's Social and Political Union, WSPU) dan pejuang yang militan. Selama hidupnya, dia sudah ditangkap sebanyak sepuluh kali, terlibat gerakan mogok makan sebanyak tujuh kali, dan dihukum dengan disuapi secara paksa sebanyak 49 kali. Dia tewas karena tertabrak kuda milik Raja George V, Anmer, di Epsom Derby 1913 ketika dia berjalan di dalam lintasan selama pertandingan berlangsung.
"Ini pembunuhan," cetusku dengan wajah kesal.
"Aku bersumpah, jika mungkin untukku keluar dan menyuarakan suara atas pembunuhan ini, akan kulakukan," desisnya geram. Aku menghela napas panjang.
Ternyata banyak kerumitan yang terjadi jika terjun ke dunia masyarakat. Hari ini aku sudah mendengar beberapa berita yang kurang menyenangkan. Termasuk beberapa siswa yang dijemput oleh keluarganya karena alasan yang aku belum tahu.
"Aku akan minta ijin untuk keluar sebentar lagi, Bennet, kamu mau ikut?" tanya Flint. Aku mengerutkan wajahku.
"Keluar sekolah?" tanyaku. Flint menaikkan alisnya dengan cepat.
"A-aku nggak tau kalo kita boleh keluar," jawabku ragu.
"Mulai besok dan tiga hari mendatang, semester ini dihentikan untuk sementara. Ada beberapa pertimbangan karena suasana mulai memanas di Eropa," ucap Reese dengan datar dan tanpa ekspresi.
"Mungkin perang akan tercetus," prediksi Flint dengan wajah pucat.
"Pe-perang?" tanyaku. Flint mengangguk.
"Ed sudah dijemput keluarganya tadi pukul sepuluh," cetus Reese dengan wajah mendung.
"s**l, sudah tujuh siswa yang aku ketahui pulang. Tidak mungkin mereka diminta ikut wajib militer. Usia kita belum cukup," ujar Flint tampak khawatir.
"Mungkin keluarga mereka khawatir akan keselamatan anaknya," hiburku.
Flint terdiam dan meletakkan garpunya dengan lesu.
"Reese, apakah Uncle Larry akan jemput kamu pulang?" tanya Flint dengan ragu.
"Jangan cengeng, Flint! Papa tidak akan memaksaku pulang jika aku masih memilih untuk di sini," sahut Reese ketus.
"Jangan bilang kamu minta dijemput Aunt Margie?" tuduh Reese dengan wajah curiga.
"Sembarang!" tangkis Flint malu.
Aku menduga mereka membicarakan tentang keluarga mereka. Senangnya masih bisa mengandalkan seseorang untuk selalu ada saat kita membutuhkan mereka.
"Pengumuman!" seruan keras terdengar dari meja makan para guru. Kami semua menoleh dan suasana yang tadinya berisik menjadi hening. Ruang makan itu mendadak tak terdengar suara apapun.
"Berhubung ada situasi krisis yang terjadi, diharapkan semua yang mendapatkan surat untuk pulang kerumah, harus mengisi formulir penangguhan semester. Bagi yang memilih tetap belajar, akan mengikuti jam belajar yang lebih singkat dari sebelumnya. Jika ada pertanyaan, silahkan kunjungi kantor administrasi sekolah besok pagi."
Pengumuman itu menggemparkan ruang makan. Para siswa kelas tujuh dan delapan terlihat resah.
"Perhatikan!" Kembali suara guru itu bergaung. Semua mendengarkan kembali dengan seksama.
"Bagi siswa kelas sembilan yang telah mendapat ijin keluar, hanya diperbolehkan hari ini saja. Waktu yang diberikan hingga pukul empat sore. Selebihnya, gerbang akan kami kunci. Jika ada yang mencoba melompat, kami akan keluarkan dari sekolah!" Seruan itu menjadi peringatan yang cukup keras. Flint menendang kaki Reese.
"Aku akan keluar dengan Bennet, kamu ikut?" tawarnya. Reese melirikku.
"Pasti menyenangkan bisa melihat London," gumamku. Rasa penasaran dan aroma kebebasan akan sempurna saat aku menginjakkan kaki di luar tanpa kungkungan tembok.
Seseorang menepuk bahuku dan aku menoleh. Ruben mengulurkan kantong kecil berwarna cokelat tua dengan bunyi gemerincing.
"Bekalmu, jika ingin jalan-jalan," ucapnya dengan senyum. Aku menerima dengan rasa heran. Bagaimana dia bisa tahu?
"Ya, terima kasih," jawabku tanpa bertanya lagi.
"Saatnya bersenang-senang, Bennet!" kekeh Flint dengan senang. Aku tertawa gembira dan bangkit berdiri.
"Ayo!"
***
Kami menaiki kereta kuda yang telah Flint sewa untuk mengantar dan menjemput kami. Pada detik terakhir saat Flint ingin menutup pintu kereta, Reese berlari dan menerobos masuk.
"Jangan komentar!" serunya ketus. Aku dan Flint hanya tertawa kecil dan kereta pun berjalan. Kutempelkan wajah pada jendela kaca kereta. Aku betul-betul takjub saat kereta meninggalkan gerbang sekolah.
Jalanan menuju kota Lambeth, Borough London, memang tidak terlalu besar. Seringkali kali berpapasan dengan gerobak yang mengangkut jerami jelai gandum dan hasil kebun. Pemandangan serba hijau dengan pohon rindang berjajar rapi mendominasi. Dahan juga ranting saling bertautan antara sisi kiri dan kanan, membuat teduh dan nyaman.
Pemukiman penduduk juga tertata dengan baik. Rumah dengan tembok batu tampak di sepanjang kami melewati pemukiman batas kota.
Tapi ternyata itu belum apa-apa. Saat kereta kuda kami memasuki pusat kota, aku tercengang. Inikah dunia modern?
Mobil dengan tenaga mesin berlalu lalang. Bangunan kokoh dan megah berlantai lebih dari lima tingkat menjulang.
Ada beberapa pertokoan yang menjual beberapa kebutuhan. Dari toko baju, sepatu juga toko obat lengkap menyediakan pelayanan juga produk yang berkualitas.
Wanita di kota juga jarang yang memakai baju bergaya victorian. Kebanyakan mereka memakai gaun panjang yang menurutku jauh lebih simpel dan menarik.
"Ayo, Bennet!" ajak Flint.
Reese keluar dan memakai topi bulatnya. Aku menyusul dan tertatih keluar. Inikah kota Lambeth? Sangat modern dan megah. Jelas abad ke-19 ini, dunia ternyata maju pesat.
Tidak sedikit pun menyerupai gambaran dari buku sejarah dunia yang k****a dan masih terkesan kuno.
Flint menarik ujung jas panjangku dan memasuki sebuah toko. Reese sudah melesat lebih dulu dan terlihat sibuk memilih barang di depan rak paling ujung yang menampilkan berbagai macam buku.
"Ini toko serba ada Milly. Kamu bisa menemukan apapun yang kamu butuhkan, termasuk minuman penghangat."
Flint mengedipkan mata dan meninggalkan aku di depan meja panjang. Aku berjalan mendekati koleksi jam saku di etalase dekat meja kasir. Pria berkumis tebal di balik meja tersebut mengerutkan kening dan membuka kacamatanya.
"Tuan Cedric?" seru pria itu sembari memandangku. Aku menoleh ke belakang dan ada dua wanita yang sedang membelakangi kami.
"Tuan Cedric, aku Rudy!" seru pria itu kembali dan berjalan mengitari meja, mendekatiku.
"Bu-bukan, salah orang," jawabku dengan gugup.
"Oh ..., maaf. Kupikir kamu Tuan Cedric," balasnya dengan tidak yakin.
"Saya, Penta. Pentagram Bennet," aku mengulurkan tangan padanya.
Pria yang kutaksir berusia sekitar enam puluhan itu terhenyak.
"Ya, Cedric adalah paman saya," ucapku dengan pelan. Genggaman Rudy semakin kuat dan akhirnya memelukku dengan erat.
"Kuharap manusia b******k itu tidak memberimu cerita buruk tentang Tuan Cedric," bisiknya dengan suara sengau. Aku merasakan seperti tersengat listrik.
Rudy melepaskan pelukannya dan menatapku baik-baik. Tinggi kami hampir sama. Rudy lebih tinggi beberapa centi dariku. Sebagai remaja, aku cukup jangkung dan badanku pun tegap berotot. Latihan yang Albert selalu terapkan membuatku terlihat kuat dan bugar.
"Apa maksudmu, Rudy?" tanyaku setengah berbisik. Pria tua itu melemparkan pandangan keluar, kemudian menarik tanganku menuju ke dalam.
Aku mengikuti dengan bingung. Rasa penasaran yang tinggi, mengalahkan penolakan logika yang mendesakku untuk tidak mengikuti.
Rudy membuka pintu kantornya dan menarikku cepat-cepat.
"Apa yang sudah kamu dengar?" tanya Rudy dengan cemas. Tangannya mendorong pintu tertutup kembali.
"Aku tidak mendengar dari orang lain. Aku mendengar kakek Rupert memanggil nama Cedric sebelum dia membunuhnya," jawabku dengan rahang mengeras. Rudy terkesiap.
"Aku tau tentang kemampuanmu. Tapi sadarlah, tidak semua yang terlihat baik adalah sekutumu. Namun yang tampak buruk, belum tentu seterumu," ucap Rudy penuh teka teki.
"Kenapa Cedric membunuh kakek? Itu saja yang ingin aku tahu. Aku tidak perduli tentang hal lain!" seruku mulai keras. Rudy menelan ludah dan terlihat ingin menceritakan sesuatu.
"Jika aku ceritakan, berjanjilah untuk tidak menuduhku sebelum lengkap semua cerita. Setelah itu, cari dan selidiki kebenarannya," pinta Rudy. Hatiku berdebar. Tidak menyangka jika dia mengetahui rahasia besar tentang keluargaku.
"Aku ingin Flint dan Reese dilibatkan," pintaku. Mata Rudy terbeliak.
"Kamu berteman baik dengan mereka?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Apa yang salah?" aku balik bertanya.
"Tidak ada! Margie dan Larry adalah sahabat baik ibumu!" seru Rudy dengan senyum melebar. Aku membuka mulut membulat.
"Aneh sekali semesta mempersatukan kalian kembali," sambung Rudy terkekeh.
"Panggil kedua temanmu, ada baiknya menceritakan ini pada sahabat yang tepat," ungkap Rudy dengan lembut. Aku mengangguk penuh antusias dan keluar ruangan.
Hatiku terus mengaungkan kebingungan. Ini semua di luar dugaan dan rencana. Ternyata aku menemukan lubang plot yang telah sekian lama tersusun dengan baik!