Ketiganya memandangku dengan mulut membulat. Aku hanya menarik napas kuat-kuat dan, entah, mendadak ada perasaan seperti bisikan yang mendorongku untuk mempercayai mereka sepenuhnya.
Apakah ini yang sering Wolf bicarakan dalam pelajaran ilmu Filsafatnya, bahwa manusia sebagai mahkluk sosial akan selalu mencari komunitas yang membuatnya nyaman berdasarkan intuisi?
"Penta, aku tidak memahami jika seseorang bisa memiliki kekuatan seperti dirimu. Manusia super. Itukah species yang mengalir dalam keluargamu?" tanya Reese dengan wajah penasaran dan sekaligus kesal, karena fakta tentangku saat ini tidak pernah masuk dalam penemuan anehnya.
"Nggak tau, Reese. Aku tidak pernah berpikir kenapa ini jadi menurun di keluargaku. Aku tidak memiliki seseorang untuk berbagi selama ini," sahutku dengan pelan.
Ada sedikit haru yang mencekik leherku. Aku mencoba menekan perasaan sedih yang mendadak menyeruak dan membuat mataku berkaca-kaca. Reese melihatku dan berhenti mengajukan pertanyaan.
Flint dan Ed memilih menunduk, menghindari untuk berkomentar. Lonceng terdengar nyaring dari luar.
"Suara lonceng apa itu?" tanyaku terkejut. Flint dan Ed baru teringat sesuatu.
"Jam malam!" pekik keduanya sambil berdiri dan menuju pintu luar.
"Jam malam?" tanyaku heran, Ed berbalik dan menarik lenganku.
"Cepat, Bennet! Jangan melambat!" jerit Ed kesal.
Reese tertawa kecil melihat kami tunggang langgang keluar. Flint berlari di depan sementara aku dan Ed mengikuti.
Kami menuruni tangga dan tiba-tiba aku mendengar suara pria yang bicara di sidang sekolah tadi. Secara refleks, aku menarik tangan Ed dan Flint, serta menariknya bersembunyi di belakang pilar besar.
Kepala Flint terantuk di pilar dan hampir mengaduh. Untungnya Ed segera membekap mulut Flint. Muncul dari arah tangga, bayangan dua orang yang menuju arah kami bersembunyi. Flint dan Ed memucat.
"Kepala sekolah," bisiknya hampir tanpa suara.
"Mati kita ...," balas Ed. Aku menimbang saat ini. Apakah aku harus membawa mereka melompati jarak dengan kekuatanku? Langkah kedua pria tersebut semakin mendekat. Aku tahu bahan pembicaraan mereka adalah mengenai diriku.
"Pentagram tidak harus sekolah di sini jika menolak memimpin pagan kita. Mungkin mudah menyingkirkan anak itu. Bakat lancang dan kurang ajar terlihat sekali," ucap Wester dengan suara jengkel.
"Jangan terlalu ambil resiko, John. Kita tidak bisa mengusirnya. Sekolah ini miliknya. Ketua pagan sementara adalah Shield, bukan dirimu. Jika Shield masih membutuhkan hartanya, maka dirimu akan bermasalah," tukas pria satunya lagi.
Wester terdengar mengumpat dengan sumpah serapah yang tidak pantas ia ucapkan sebagai kepala sekolah.
Kupingku semakin panas. Aku tidak ingin tertangkap dan menyenangkan hatinya. Dengan keberanian penuh, lengan Ed dan Flint kucengkeram kuat-kuat.
Aku membayangkan kamar dan saat muncul dalam kepala, aku melompat dan menyeret kedua temanku.
Mungkin karena jarak dekat, spektrum warna yang muncul hanya sekilas. Kami bertiga terhempas di karpet kamar.
"Bennet! Apa yang kau lakukan!" pekik Flint dengan pucat.
Ed terbangun tegak dan menatapku yang meringis. Keningku terbentur lutut Ed dengan keras.
"I-Itukah salah satu kekuatanmu?" tanya Ed dengan wajah terkesima.
Aku menyeret tubuhku dan bersandar di pinggiran ranjang.
"Maaf, aku tidak ingin terangkap. Aku ingin sekolah di sini, bersama kalian," ucapku terbata-bata.
"Bennet ... maaf aku tidak menyalahkan kamu. Tapi ...,"
"Kamu hebat!!" potong Ed yang seperti baru menguasai diri. Aku menoleh padanya dan bingung.
"Flint, kita seharusnya merayakan ini!" pekik Ed.
"Kalian tidak marah? Atau takut?" tanyaku.
"Pertanyaan macam apa itu, Bennet? Aku hampir mati ketakutan tadi!" sahut Flint masih setengah menggerutu walaupun tadi sempat meminta maaf. Aku merasa bersalah.
"Tapi, ternyata menyenangkan," sambungnya.
"Kamu menyelamatkan kita dari monster Wester!" seru Flint tidak kalah senang.
Ed tidak perduli dengan Flint, dia segera melemparkan pertanyaan bertubi-tubi padaku. Aku tertawa dan kelegaan menghapuskan kegundahanku.
Malam itu kami menghabiskan waktu hingga larut untuk saling berbagi cerita. Aku merasakan kesenangan dan antusias yang berujung rasa optimis. Kali ini, tiga tahun kesempatan akan kujalani dengan baik.
***
Pagi pukul tujuh kami terbangun. Ed dan Flint menunjukkan seragam yang harus kupakai. Ada lima seragam yang terlipat rapi. Entah siapa yang menyiapkan, tapi setumpuk baju baru juga telah tertata rapi beserta kaos kaki dan perlengkapan sekolah.
"Enak ya jadi anak dari keluarga kaya. Kemarin begitu dirimu tiba, seorang wanita cantik segera menyiapkan segalanya untukmu," cetus Flint sambil membetulkan dasinya.
Aku terdiam. Mungkin bagi mereka menjalani hidup dengan sepuluh pelayan adalah kemewahan. Tapi tidak bagiku. Aku suka dengan kondisiku yang sekarang. Ed meminta kami segera bergegas karena waktu hampir mendekati pukul tujuh tiga puluh.
Kami berjalan bersama siswa lainnya menyusuri lorong asrama menuju gedung sebelah.
Aku dan Flint mencari nama di tiap pintu dan menemukan tertempel di pintu kelas 9-III. Dengan kikuk aku memasuki kelas dan mencari bangku kosong.
Menurut Flint, aku beruntung datang pada saat semester baru dimulai, jika tidak aku harus mengikuti kelas tambahan khusus bagi anak-anak yang tertinggal.
Lonceng berbunyi dan para siswa mendadak bungkam, tidak ada satupun yang berbicara. Semua mengambil sikap duduk tegak dengan tangan di atas meja. Bagiku ini sangat aneh dan ganjil. Mereka begitu patuh hingga terprogram demikian rupa.
Dua orang guru masuk dan senyumku melebar. Ronald Trudy Baker, guru fisika dan kimiaku muncul dengan John Wester.
"Selamat pagi, Anak-anak! Perkenalkan, guru fisika kalian yang baru! Lhusus untuk kelas sembilan. Profesor Ronald Trudy Baker!" seru Wester dengan suara bulat dan tanpa senyum.
"Selamat datang juga untuk murid baru yang juga bergabung disemester ini, Pentagram Bennet. Pewaris tunggal Akademi Les Chester," seru Wester. Entah apa tujuannya. Namun aku merasa dia setengah menyindirku. Beberapa siswa melemparkan lirikan padaku.
Wajahku tetap lurus ke depan tanpa menoleh padanya. Ucapan Wester tadi malam cukup menggoreskan kesan pahit dalam hati.
Pria biadab itu ternyata berusaha menyingkirkan diriku.
Tidak berapa lama dia berlalu dan aku menarik napas lega. Ron menepuk tangan dan meminta kami mengeluarkan buku.
Aku mencari buku yang tadi dengan terburu-buru kumasukkan ke dalam tas. Tidak juga kutemukan. Rasa gelisah mulai menderaku.
Dengan ragu, aku mengangkat tangan ke atas. Sebuah kebiasaan yang kami lakukan dulu. Cara yang guruku terapkan, seakan-akan kami berada di kelas.
"Ya Pen ... maksudku Bennet!" tanggap Ron.
"Bukuku ketinggalan, Prof ...," jawabku kikuk.
Agak risih memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi ingatan tata krama dalam kelas sesungguhnya yang Wolf pernah ajarkan, harus kuterapkan saat ini.
"Ooh ... wow! Hari pertama kesanmu tidak bagus," sahutnya sambil duduk di atas meja.
Aku merasa malu dan gagal. Ron membuka buku, kemudian memandangku.
"Coba buka halaman tujuh puluh lima!" seru Ron.
"Ok, membahas tentang spektrum!" serunya lagi memastikan semua membuka halaman yang benar.
"Baik. Apa hukuman bagi siswa yang lupa membawa buku?" tanya Ron.
Seorang anak mengangkat tangan dan Ron mempersilahkan dia.
"Menjelaskan dengan singkat tentang pembahasan sebelumnya, Prof," jawab siswa tersebut.
Ron mengangguk dan membalik halaman sebelumnya.
"Baik, adil. Tapi untuk Bennet, mungkin perlu kubuat sedikit sulit, ini hari pertama dan dia teledor. Sungguh bukan contoh yang baik untuk seorang keturunan bangsawan dan jutawan," ucap Ron dengan santai.
Aku tidak memahami kenapa Ron harus bersandiwara seperti ini. Sudah jelas-jelas kami berdua menbahas tentang pelajaran ini tiga tahun lalu. Kenapa harus diragukan?
"Bennet, kamu bisa memulainya sekarang untuk menjelaskan tentang definisi awal spektrum," perintahnya dengan tangan memberi isyarat untuk aku maju ke depan.
Aku menelan saliva dan mencoba meredam rasa gugup. Dengan perlahan aku berdiri dan melangkah ke depan.
Aku tidak berani mengangkat muka. Antara rasa malu dan salah tingkah.
"Spektrum adalah sebuah keadaan atau harga yang tidak terbatas hanya pada suatu set harga saja tetapi dapat berubah secara tak terbatas di dalam sebuah kontinum." Aku menghela napas sebentar.
Bukan karena lupa, tapi ingin melihat reaksi teman sekelas. Semua mata tertuju padaku.
"Lanjutkan!" seru Ron.
"Kata ini ber-evolusi dari kata bahasa Latin, spectre, yang berarti hantu, tetapi arti modern sekarang berasal dari penggunaannya dalam ilmu alam."
Satu persatu tercengang. Aku tidak mengerti kenapa.
"Penggunaan pertama kata spektrum dalam ilmu alam adalah di bidang optik untuk menggambarkan pelangi warna dalam cahayatampak ketika cahaya tersebut terdispersi oleh sebuah prisma, dan sejak itu diterapkan sebagai analogi di berbagai bidang lain. Kini istilah itu dipakai juga untuk menggambarkan rentang keadaan atau kelakuan yang luas yang dikelompokkan bersama dan dipelajari di bawah sebuah topik untuk kemudahan diskusi, misalnya 'spektrum opini politik', atau 'spektrum kerja dari sebuah obat', dan sebagainya. Pada penggunaan ini, nilai di dalam sebuah spektrum tidak perlu digambarkan secara tepat sebagai sebuah bilangan sebagaimana dalam bidang optik.
Dalam penggunaan spektrum yang paling modern, terdapat 'tema pemersatu' di antara ekstrem-ekstrem di kedua ujung." Aku mengakhiri dan melirik Ron.
"Ok, ada yang ingin menyanggah atau bertanya?" Ron menebarkan pandangan dan semua menggelengkan kepalanya.
"Ok, pertanyaan dari saya. Penerapan spektrum dalam ilmu fisika, jelaskan!" pinta Ron.
Aku sungguh jengkel padanya, kenapa harus terkesan pamer pada mereka bahwa aku mengetahui jawaban tersebut?
"Istilah spektrum diterapkan sebagai rujukan plot intensitas cahaya sebagai fungsi dari frekuensi atau panjang gelombang. Seperti gelombang suara, sekarang spektrum diterapkan untuk semua sinyal yang dapat diuraikan ke dalam komponen-komponen frekuensi. Sebuah spektrum biasanya adalah plot 2 dimensi dari sekumpulan sinyal, menggambarkan komponen-komponennya dengan ukuran lain. Kadang-kadang, kata spektrum merujuk pada kumpulan sinyal itu sendiri, seperti pada -spektrum cahaya tampak-, yaitu merupakan gelombang elektromagnetik yang dapat dikesani oleh mata manusia."
Ada senyum yang terukir di bibir Ron saat aku menoleh ke arahnya.
"Ok. Cukup, Bennet. Ternyata kamu cukup tidak memalukan sebagai penerus Sir Rupert William Bennet," gurau Ron sambil menepuk pundakku. Semua tertawa dan mulai melemparkan pandangan kagum padaku, yang cukup membuatku risih.
Flint di sebelahku tersenyum jahil dan melemparkan buku ke mejaku. Entah apa tujuannya, tapi baik Flint ataupun Ron cukup membuatku kesal hari itu. Buku itu disembunyikan!
Aku tidak ingin tampil sebagai anak populer karena keluargaku. Aku ingin hidup seperti layaknya anak biasa.
Namun ada sesuatu yang cukup mengiburku. Akhirnya, setelah sekian tahun mendambakan berada di sebuah kelas, hari ini, aku mengurai SPEKTRUM TAKDIRKU sendiri!