Belum pernah aku melihat seorang perempuan yang berjalan begitu cepat seperti Reese. Kenyataannya, dia adalah wanita pertama yang seumuran denganku yang kukenal.
Emerin lebih tenang walau tetap cekatan dan sigap. Tapi melihat sosok Reese, aku bahkan tidak bisa mempercayai bahwa dia adalah seorang perempuan.
"Cepat sedikit sebelum jam malam!" serunya dari depan tanpa mengendurkan langkah.
Tiba di gedung sebelah kanan, kami naik terus ke lantai dua. Lorong panjang terbentang dan Reese membuka pintu keempat dari barisan pertama.
Aku tidak tahu, apakah diperbolehkan bagi anak lelaki menasuki kamar perempuan. Menurut etika dan pandangan masyarakat yang Ron sampaikan, hal tersebut adalah tabu.
"Kita boleh masuk ke sini?" tanyaku gugup.
"Masuk!" seru Reese dengan tidak sabar.
Setelah kami bertiga masuk. Gadis itu menutup pintu dengan cepat. Bentuk kamarnya sama persis dengan kamar kami. Hanya saja tata letak perabotan yang berbeda.
Reese menempati kamar tersebut tanpa room mate atau teman sekamar. Hanya ada satu ranjang dan sisanya rak buku serta meja berisi tabung-tabung kaca berbentuk panjang, seperti yang kumiliki di lab pribadi kami, pulau Faroe. Ron menyebutnya dengan tabung reaksi.
"Kamu bisa makan di sana sementara aku akan menjelaskan sesuatu dan butuh saran juga pendapatmu," seru Reese dengan cepat.
Walaupun terkesan sembrono, kamar tersebut sangat rapi dan bersih.
"Kamu tinggal sendiri?" tanyaku.
"Orang tuaku membayar lebih untuk privasi ini," jawabnya malas. Reese masih sibuk berjongkok di depan lemari bukunya.
Flint dan Ed duduk dan aku mengambil kursi di sebelah mereka. Reese bangkit berdiri dan berjalan sembari membuka buku jurnalnya yang berisi rumus-rumus yang, jujur, sangat aku kenal dan pahami.
Kesanku tentang Reese? Gadis ini cerdas! Aku akan menyukainya dan rela menjadi sahabatnya jika memungkinkan.
"Jika seseorang, mari kita sebut berhasil, melakukan lompatan waktu ataupun jarak, apakah berarti terori Einstein tentang realitas objektif adalah kekeliruan?" pertanyaan pertama Reese sangat mudah dijawab.
"Jika yang kamu maksud lompatan quantum, maka kamu kurang tepat mengajukan pertanyaan," sahutku. Reese tampak kurang menyukai sanggahanku.
"Kenapa?"
"Teori quantum didasarkan pada ide bahwa semua kemungkinan peristiwa memiliki probabilitas untuk terjadi. Teori quantum memiliki banyak kemungkinan JIKA. Jika kita berhasil merumuskan jumlah quantum atau paket energi dengan komposisi tertentu. Itulah yang menentukan keberhasilan seseorang melampaui jarak dan waktu.
Sedangkan, realitas objektif yang dikemukan oleh Einstein menampilkan OPINI tentang ketidak percayaan dari keberhasilan tersebut, Reese.
Jikalau kita berhasil melompati ruang dan waktu maka realitas objektif tidak akan berlaku," paparku dengan panjang. Reese menampilkan wajah takjub.
"Tunggu ... tunggu ...!" seru Flint yang terdengar jengkel.
"Teori quantum aku penah mendengar, tapi realitas obyektif? Oleh Einstein? Bisa tolong jelaskan?" pinta Flint.
"Faktanya, tiap manusia menjelaskan dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas. Segala sesuatu itu ditetapkan oleh sebuah Energi Terestrial di mana kita tak punya kuasa atasNya. Baik serangga, benda langit, manusia, sayuran, atau debu kosmik, bahkan kita semua, berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu PEMAIN tak nampak."
Aku merangkum dalam bahasa yang mudah mereka mengerti, menurutku.
"Dengan kata lain, sebuah entitas yang sebagian manusia percayai sebagai TUHAN. Di mana Dia tak hanya Mahakuasa dan Mahaada-ada di mana-mana, tapi juga Mahatahu-tahu segalanya, bahkan masa depan.
Dalam beberapa agama, ini artinya Tuhan mengetahui apakah kita akan masuk surga atau neraka, bahkan sebelum kita lahir. Pada esensinya, terdapat “buku takdir” di suatu tempat di surga dengan semua nama kita terdaftar, mencakup tanggal lahir kita, kegagalan dan keberhasilan kita, kesenangan dan kesusahan kita, bahkan tanggal kematian kita, dan apakah kita akan hidup di surga atau dalam kutukan abadi. Tidak ada kehendak bebas," imbuh Reese sembari menatapku.
Aku menghabiskan bekal makan malamku kembali untuk menghindari tatapan Reese yang seperti menuntut jawaban.
"Bennet, kenapa kamu tertarik untuk mengikutiku?" tanya Reese.
"Karena kamu memiliki dua pertanyaan lagi yang akan kujawab. Baru kuberitahu kenapa," jawabku. Kalkun panggang ini sungguh enak.
"Ok, pertanyan kedua. Jika kamu menyebutkan komposisi tepat akan membuat lompatan jarak dan waktu berhasil, rumus apa yang kamu pakai untuk menemukan presisi yang tepat?" tanya Reese dengan mata terpicing.
"Tidak ada rumus. Hanya persyaratan saja," jawabku. Reese mencibirkan mulutnya kesal.
"Kamu mulai mengkhayal. Ayolah, aku bukan mau bermain fantasi," keluh Reese dengan geram.
Gadis ini benar-benar tidak ada keinginan untuk memperlambat ritme pemikirannya!
"Kamu tau bahwa gelombang otak kita ini mengandung energi?" tanyaku. Reese tercengang.
"Teori siapa, Bennet? Aku belum pernah mendengarnya," cetus Reese terkejut.
Baru tersadar bahwa buku hitam milik ibuku adalah hasil dia 'berkelana'.
"Ajan kujelaskan nanti. Tapi, gelombang otak kita menghasilkan elektromagnetik yang pada gelombang tertentu memungkinkan untuk melakukan lompatan tersebut. Waktu dan jarak. Kami menyebutnya: gelombang otak Schumann Resonance."
Selanjutnya aku menjelaskan tentang isi dari semua pengetahuan tembang lompatan tersebut.
Termasuk andil gelombang Schuann resonance dalam menjadi getaran alam semesta pada frekwensi 7.83 Hz mampu menjadi satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi.
Seseorang yang otaknya mampu menghasilkan dan mempertahan frekwensi ini memiliki kemampuan supernatural, seperti ESP, telepati, clairvoyance, dan fenomena psikis lainnya.
Contoh lain pemilik frekuensi otak ini adalah anak istimewa, yaitu anak super cerdas yang biasanya berkemampuan ESP atau Extra Sensory Perception. Anak istimewa ini juga bisa melakukan berbagai hal seperti traveler.
Ketiga remaja itu terpana. Dengan terbata-bata aku juga menjelaskan tentang buku hitam yang berisi tulisan perjalanan ibu dan siapa ibuku. Flint dan Ed membuka mulut semakin lebar.
"Ibumu seorang Jumper ...," desis Reese dengan kaget.
"Traveler!" tukasku.
"Traveler jika dia hanya berpindah tempat. Tapi ibumu melampaui waktu dan jarak. Time traveler sebutannya atau Jumper lebih tepatnya," ralat Reese mempertegas penjelasannya.
"Aku baru tahu ...," ucapku dengan manggut-manggut. Begitu banyak hal yang kami bahas. Akhirnya bermuara pada ibuku.
"Apakah bakat itu yang diturunkan padamu?" tanya Flint penasaran.
"Kenapa kalian bertanya semua hal ini?" tanyaku mendadak merasa mereka sedang menggali sesuatu.
"Karena dirimu kupikir hanyalah mitos yang beredar selama masa kecil kami. Mana ada anak yang kaya raya dan memiliki kekuatan hebat, namun disembunyikan? Apakah betul dirimu berbahaya sekaligus menjadi pelindung manusia?" selidik Flint dengan kritis.
"Dan pertanyaan yang ketiga. Apa kekuatanmu, Bennet?" lanjut gadis berwajah oval tersebut dengan tangan di pinggang.
"Tunggu! Jangan cepat-cepat!" tahan Ed dengan wajah masih kebingungan.
"Diluar semua pembahasan tentang hal yang aneh tadi ...,"
"Itu tidak aneh! Para fisikawan sangat menghargai penemuan tersebut!" tangkis Reese tidak terima.
"Terserah tapi radarku sebagai manusia dengan kecerdasan rata-rata tidak menangkap itu semua!" protes Ed. Reese memberenggut.
"Kulanjutkan, ini pertanyaan tentang Pentagram. Betulkah kamu manusia ajaib seperti Flint bilang?"
Mendengar pertanyaan Ed geli rasanya.
"Semua kekuatanku bisa dijelaskan secara ilmiah, dan menjawab tuntutan jawaban dari Reese juga Flint, aku adalah Pentagram yang hidup dan bernapas. Kekuatanku enam panca indra dan lima elemen bumi, roh, tanah, air, udara, api!"