Ponselku berdering. Mataku masih terpejam enggan untuk mengangkat ponsel. Dengan mata yang masih terpejam aku menggerayangi sekelilingku. Butuh waktu beberapa menit untuk mendapatkan ponselku yang entah berada di sebelah mana. Akhirnya dengan berat hati samar-samar aku memcari ponsel. Ponselku berada di bawah tubuhku pantas saja menemukannya cukup sulit. Setelah ponsel di tangan, tanpa melihat layar ponsel aku mengangkatnya. “Halo,” dengan suara parau yang sangat-sangat malas.
“Kamu masih tidur? Ya ampun ini sudah jam 6 pagi, calon istri yang baik harus bangun pagi-pagi. Ayo cepat bangun!” Suara calon mertuaku membuat mataku menyala cepat. Suaranya seperti gemuruh artesis. Aku bangkit seketika seperti hantu di film horor.
“I-iya, Mah.” jawabku panik.
“Jangan iya saja, ayo bangun! Setelah mandi kamu masak untuk Vino. Mamah akan menyuruh Vino ke kantor jam 10 pagi. Usahakan jam 9 kamu sudah di sana.” Tanpa mendengar jawabanku, telepon dimatikan.
Aku merasa calon mertuaku itu lebih seram daripada nenek sihir yang memberikan apel beracun pada putri salju. Dia menyuruhku seenaknya saja. Dia pikir aku ini sudah menjadi istri Vino. Aku, kan, masih menjadi calon istri belum menjadi istri sahnya. Belum menikah saja diperlakukan seperti ini apalagi nanti kalau sudah menikah. Argh!
Dengan langkah terseret-seret aku menuju kamar mandi. “Mam sudah di pasar. Bagaimana aku masak?” gumamku pada diri sendiri.
***
Aku memasang earphone ke telinga. Lagu Agnez Mo berjudul Coke Bottle membuatku bergerak dan bergaya layaknya Agnez Mo. Aku pun mengikuti gerakan tangan Agnez Mo di video klip Coke Bottle. Duduk di kursi milik Vino sangat nyaman dan kursi kantor ini juga sangat empuk. Aku membalikkan kursi ke arah jendela. Menikmati pemandangan dari jendela di pagi hari. Rasanya menyejukkan melihat banyak tanaman hijau yang memenuhi belakang pekarangan kantor.
Seseorang menepuk bahuku. Aku membalikan kursi dan juga badanku.
“Aaahh!” Teriakku histeris secara bersamaan dengan seseorang yang menepuk bahuku itu. Dengan gerakan kasar aku mencomot eraphone di telingaku.
“Vino!” Pekikku.
“Kenapa berteriak, aku tidak menjambret tasmu, kan?” Ia berkata begitu tenang. Orang ini apa hidupnya terlalu santai ya, baru saja dia berteriak histeris, lalu suara dan wajahnya berubah tenang secepat kilat.
“Jangan duduk di situ, ayo pindah!” Aku menuruti perkataannya. Ini kali kedua aku duduk di sofa yang empuk dan begitu mewah. Sofa kantor semewah ini?
“Masak apa?” tanya Vino menyusulku duduk di sofa.
“Nasi goreng ala chef Gita, hehehe.” kataku dengan tawa bangga. Vino membuka kotak bekal nasi dan menyendoknya.
“Ayo makan!” Katanya sambil mengangkat sendok tepat di depan mulutku.
Pupilku melebar. “Nasi goreng itu, kan, untukmu.” jawabku dengan ekspresi bingung.
“Barangkali ada racunnya, setidaknya, yang mati kamu duluan.” Vino berkata tanpa dosa dan tanpa berpikir terlebih dahulu. Untuk apa aku meracuninya? Ibu dan anak sama-sama menyusahkan!
Aku membuka mulutku dan mengunyah nasi goreng itu perlahan. “Aku tidak akan meracunimu. Aku ini orang baik hati, sopan dan rajin menabung.” Aku membela diriku sendiri dengan mulut yang masih mengunyah nasi goreng. Kemudian Vino menyendok nasi goreng dan melahapnya.
“Ini nasi goreng apa nasi minyak sih!” Komentarnya terdengar pedas di telingaku.
“Minyak yang aku tuang kelebihan, itu di luar kendaliku. Mamahmu saja yang menyuruhku masak mendadak. Kalau tidak mendadak aku, kan, bisa mempersiapkan menu nasi goreng dengan lebih baik.”
“Aku sampai tidak sempat sarapan gara-gara sisa nasi kemarin aku goreng untukmu.” lanjutku dengan mimik wajah kesal. Aku merasa tidak dihargai sebagai pembuat sarapan.
“Nih, kamu makan saja.” Ia menyodorkan kotak bekal.
“Ah, tidak. Untukmu saja. Aku tidak enak memakannya. Biar aku yang sarapan di luar. Kamu makan saja.” Balasku. Memakan masakan yang kubuat untuk orang lain sama saja dengan mengambil barang orang lain.
“Oke,” ujarnya melanjutkan aktivitas makan.
“Hari ini, Mamah menyuruh kita untuk melakukan fitting baju pengantin.”
Dengan mata berbinar cerah aku bertanya, “Apa gaunnya dari desainer terkenal Se Indonesia?” Aku mengerjap-ngerjap manja.
“Bukan. Desainernya tidak terkenal. Entah dia masih hidup atau sudah meninggal. Aku dengar gaunnya sudah sangat tua. Hihihi.” Vino terkekeh puas. Aku menelan kekecewaan. Wajahku mengekspresikan pertanyaan, ‘masa sih?’.
“Kamu kan pemilik PH Movie Billionaire masa gaun pengantin yang aku kenakan gaun tua.” Aku memasang tampang masam.
Ckleek... suara pintu terbuka.
Dengan senyum lebar khas Roy, ia memasuki ruangan tanpa permisi.
“Mau sarapan, Bos?” tanyanya dengan kilatan mata yang memandang kotak bekal yang isinya sudah nyaris tidak ada. Hanya minyak yang tersisa. Vino lapar apa rakus sih?
“Tidak usah. Aku sudah makan nasi goreng buatan Gita.”
“Ah, romantisnya...” Wajah Roy terlihat berbinar-binar layaknya melihat adegan romantis di serial drama. Bukankah seorang pria yang berkata seperti itu aneh?
“Romantis apanya? Ini nasi minyak Roy bukan nasi goreng. Coba kamu lihat sisa minyaknya. Banyak, kan?” Vino mengangkat sebelah tangannya yang memegang kotak bekal dan menyodorkannya pada Roy. Roy memandangku aneh.
“Kenapa sih?! Aku, kan, tidak sengaja menumpahkan minyak secara berlebihan. Jangan terlalu dilebihkanlah, biasa saja. Kamu juga menghabiskan nasinya, kan?!” kataku berapi-api karena emosi.
“Sudahlah, aku pergi saja.” Aku mengambil tas anyaman dengan pita berwarna biru di bagian sampingnya dan melangkah menuju pintu.
“Ya ampun masalah seperti ini saja marah.” kata Vino ketika tanganku menyentuh tangkai pintu. Aku berhenti sejenak.
“Hei, jangan marah begitu. Ayo kita duduk lagi.” Roy memegang lenganku hendak menarikku. Aku masih membeku.
“Mamah nanti marah, lho, sekarang kita akan fitting baju. Sebaiknya kamu redam dulu emosi yang tidak jelas itu.”
Aku membalikkan badan seraya berkata. “Kamu tidak menghargai hasil kerja kerasku. Dengan susah payah aku membuat nasi goreng sampai tanganku terkena minyak. Bahkan aku tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Kamu hanya mencelaku dan—“
BRAKK!!
Aku meringis kesakitan. Aku dan Roy terjatuh ketika seseorang membuka pintu. Vino hanya menatap dengan keterkejutan. Dan seseorang yang membuka pintu tanpa permisi itu berdiri kaku, seperti kebingungan akan melakukan apa. Roy bangun tanpa rengekan kesakitan, ia menarik lenganku yang masih meringis kesakitan.
“Ma’af, aku tidak tahu kalau—”
“Kamu itu tuli ya? Apa kamu tidak mendengar ada suaraku di dalam ruangan, hah?!” Aku memotong ucapannya dengan nada tinggi. Dengan cepat Vino mendekat ke arah kami.
“Gita, tidak baik marah-marah. Kita duduk dulu yuk.” Ajak Roy lembut. Roy sama sekali tidak terlihat marah. Vino terlihat kikuk. Kemana wajahnya yang selalu terlihat tenang itu?
“Iya Git, lebih baik kamu duduk dulu saja,” imbuh Vino akhirnya. Aku meliriknya sebal. “Ini awalnya karena kamu!” teriakku kesal. Vino melirik ke arah Roy dan matanya seolah berbicara, ‘bawa Gita pergi dari ruangan, Roy.’ Roy menarik lenganku dan dengan nada lembut ia berkata, “Ikut aku, ada sesuatu yang akan aku perlihatkan.”
“Sesuatu?” Aku mengerutkan dahi.
“Iya, ayo!” Tanpa pikir panjang aku menuruti Roy untuk keluar dari ruangan Vino. Sekilas aku melirik Vino dan gadis itu secara bergantian dengan tatapan yang tajam bercampur kesal.
***
Sejenak aku menarik napas dengan bodoh. Dengan tatapan kosong dan membiarkan Coffe Latte menguapkan asapnya begitu saja. “Jangan cemberut seperti itu. Minum Coffe Latte-mu nanti dingin.” Roy meraih cangkir dan menyesap Coffe Latte-nya.
“Kenapa kamu membawaku pergi saat ada gadis itu? Bodohnya aku percaya kalau ada sesuatu yang akan kamu perlihatkan.” Kataku dengan pilu. Pilu karena merasa terbodohi.
“Jangan bicara seperti itu. Aku hanya ingin menenangkanmu yang marah-marah terus.” Roy menjulurkan lehernya, “Apa kamu lagi PMS?” tanyanya berbisik. Lalu menarik kepalanya di posisi semula.
“Tidak.” kataku dengan dahi berkerut. Vino pernah bertanya hal semacam ini dan Roy adalah yang kedua menanyakan hal yang menurutku sensitif untuk dibahas dengan makhluk yang bernama laki-laki. Apa wanita yang suka marah-marah itu identik dengan PMS?
Wajah gadis yang membuatku terjatuh itu hinggap di kepalaku. Sepertinya wajahnya tidak asing. Otakku memang lamban untuk mengingat wajah seseorang. Bukan hanya wajah, kadang aku juga sulit menghapal jalan. Aku memejamkan mata dan mencoba mengingatnya. Gadis itu... ah ya, aku pernah melihatnya ketika sampai di kantor Vino.
“Gadis itu siapa, sih?”
“Oh, Katrina?” sahutnya datar. “Ya. Gadis yang membuka pintu tanpa permisi itu namanya Katrina.” Aku mengangguk-nganggukkan kepala.
“Dia itu bekerja sebagai apa?” tanyaku lagi mulai terstimulasi akan rasa penasaran tentang Katrina.
“Hahaha...” Roy tertawa menggelegar. Pandanganku bertaburan, mencoba mendeteksi berapa banyak pengunjung yang mendengar tawa Roy dan menatap ke arah kami. Dan ternyata mereka semua menatap kami dengan tatapan yang seolah berbicara, ‘berisik!’.
“Apa kamu tidak punya tv ya? Dia itu aktris terkenal.” Ponsel Roy berdering. Ia mengangkat ponselnya dan bergumam, “Vino.”
“Ada apa, Vin? Apa Katrina pingsan?!”
***
Halo, jangan lupa tap love ya ^^
IG@FINISAH
WATTPAD @FINISAH
THANK YOU :)