Kejam

1281 Kata
Mereka berdua asyik menikmati makanan dan menyantap hidangan dengan lahap. Tidak merasakan jijik ketika tangannya yang ada beberapa noda darah dari luka Lestari. Mungkin terlanjur sangat lapar jadi tidak memikirkan untuk mencuci tangan. Sedangkan di luar di tengah malam yang gelap gulita ditambah hujan deras mereka tega meninggalkan Lestari yang masih terikat di bawah pohon asam. Tubuhnya terlihat memerah agak kehitaman bekas pukul-pukulan yang kemarin. Raganya terkulai lemah penuh darah di tangan dan pelipisnya. Darah itu mengalir membasahi pipi dan lehernya. “Ayah … Bunda …! Sini, tolongin! Aku pingin pulang. Lestari sudah tidak kuat lagi Bu. Ya Tuhan ...." Dalam keadaan sekarat, Lestari sempat memanggil orang tuanya yang sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Ia menyebut kata Tuhan di akhir pecat patinya. Itulah suara terakhirnya Lestari di masa hidupnya. Ia di usianya yang baru delapan belas tahun harus meninggal dunia. Nyawanya melayang di tangan ibu dan abang tirinya, di bawah pohon asam itu. Kematiannya belum diketahui oleh ibu dan abang tirinya yang masih keenakan menikmati makanan. "Samana, jangan berhenti dulu, aku ingin menunjukkan kepada mu," Lestari menunjuk ke dua orang yang terlihat bersiap-siap untuk membunuhnya. "Ibu ayo kita habisi dia sekarang juga. Aku sudah lelah menyiksanya, waktuku untuk bersenang-senang jadi terbuang karena harus mengurus anak sialan itu. Aku pingin dia cepat mati, besok dan seminggu kedepan, aku pingin jalan-jalan dan liburan bareng teman-teman ku. Jadi kita habisi sekarang saja. Biar Ibu juga bisa piknik dan menikmati harta mereka," ucap anaknya. "Kamu benar, sebaiknya kita habisi saja dia. Ibu besok juga mau ke kota dan belanja sepuasnya." "Bu, kalo dia sudah mati kita bisa pergi dengan tenang. Coba kalau kita meninggalkan di rumah sendirian. Takutnya dia kabur dan meminta pertolongan, Ibu khawatir jika ada yang mengetahui perbuatan kita." "Aduh, gimana ini." "Kita binasakan saja dan kubur dia yang dalam di bawah pohon asam itu. Nanti kalau ada tetangga yang tanya di mana Lestari, kita jawab saja dia ke jawa tinggal sama neneknya. Bagaimana Bu ... bagus kan rencana anakmu ini." "Kamu memang pintar, Ibu bangga punya anak laki-laki yang berani. Kamu memang bisa di andalkan." "Tapi ... ada tapinya," sahut anaknya. "Halah ... Ibu sudah paham meskipun kamu belum mengatakan. Fulus kan ...." "Iyess hoee ...." Anaknya tertawa dan memeluk ibunya dengan kencang. "Sudah-sudah, beresin dulu kerjaannya baru mikirin fulus. Ayokkkk!" ajaknya. Dia melangkahkan kakinya menuju ke tempat Lestari di ikat. "Siap bos! Kita matikan Lestari," sahut anaknya. Setelah hujan reda, ibu dan abangnya Anjana keluar dengan membawa cangkul dan garpu. Mereka menghampiri pohon asam tepat dimana Lestari berada. Sepertinya ibu dan anak laki-lakinya ini sudah yakin ingin menghabisi Anjana malam ini juga. Mereka sudah menyiapkan rencana untuk menyiksa dan menguburkan Lestari hidup-hidup. “Anjana, hoe ... bangun! Heh, bangunan!!” teriak anak laki-laki itu. “Heh jangan molor aja, bangun!” teriak ibu itu. “Bangun! Jangan pura-pura tertidur,” ujar laki-laki itu. “Oh, pasti kamu lagi pura-pura pingsan kan,” sambung ibu itu sembari menarik rambut Lestari. Ibu dan anak laki-lakinya mengira jikalau Lestari sedang pingsan atau pura-pura tertidur agar tak lagi disiksa. Mereka pun terus berteriak untuk membangunkannya. Namun, tak ada sahutan dan tak ada gerakan sebagai tanda-tanda kehidupan dari Lestari. Akhirnya mereka sadar dan tertawa ketika melihat Lestari yang ternyata tidak tidur melainkan sudah tidak bernapas. “Gak ada napasnya, hahahahaa,” ujar anak laki-laki itu. Dua jarinya didekatkan ke hidung Lestari. “Oh, iya. Hahahahaa, baguslah kalau anak sial ini mampus,” sambung ibu itu. Ibunya juga melakukan hal yang sama, menaruh dua jarinya ke bawah lubang hidung Lestari, dilanjutkan menjambak rambutnya dan mendongakkan kepalanya Lestari. “Cepetan! Bu, kita kubur anak sial ini,” ujar anak laki-laki itu. Lalu keduanya kini mulai menggali lubang di bawah pohon asam. Mereka mencangkul tanah yang empuk habis tersirami air hujan. Dengan tergesa-gesa mereka melepaskan tubuh Lestari dari pohon asam, lalu menendangnya ke dalam lubang yang sudah mereka gali dan siapkan. Di bawah sana terlihat Lestari dengan posisi tengkurap dengan kedua telapak tangannya yang terbuka, terbenggang kaku karena di tancapkan kawat. Lestari pun di kubur dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Itulah pungkasnya penyaksian Samana di masa lalunya Anjana Kayshila Lestari. Dalam perjalanan yang memilukan ini, Samana benar-benar tidak tega melihat Lestari dalam derita di dunia dan alamnya sekarang ini. Dia belum bisa menemukan jalan terang dan itu membuat ruhnya tersesat antara alam dunia dan alam astral. Untuk menuju ke alam kesempurnaan Lestari masih belum bisa. “Lestari, aku ingin kamu bisa memaafkan ibu dan abang mu. Itu akan mempermudah jalanmu untuk pulang,” pinta Samana. “Ehmmm,” jawab Lestari pelan disertai anggukan.” “Sudahi sakit hatimu ya." Pinta Samana kepada Lestari. "Iya." Kini Samana kembali membuka matanya. Lalu beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sesaat kemudian Samana kembali ke kamarnya dan meraih sesuatu di tumpukan buku-buku yang berada di meja sebelah tempat tidurnya. Samana membaca Yasin serta beberapa doa-doa lainnya dan meniatkan itu untuk Lestari. Benar saja Samana bisa tersenyum lega menyaksikan apa yang ada di hadapannya.Lestari itu pun bisa tersenyum kembali. Ini benar-benar pengalaman spiritual yang luar biasa bagi seorang perempuan muda seperti Samana. Bahkan hal seperti ini saja tidak diketahui oleh orang lain. Samana tidak ingin memamerkan kelebihan yang dimilikinya. Mengatakan kepada orang lain justru akan membuat dirinya jadi bahan tertawaan. Samana tahu, bocah ingusan seperti dia biasa diremehkan orang sekitar. Bahkan banyak orang yang datang ke rumah Samana untuk meminta pertolongan. Justru orang yang datang di pikir sebagai teman laki-lakinya yang sedang mengapeli Samana. Lebih parahnya lagi, beberapa orang yang tidak tahu jika Samana seorang spiritualis. Sebagian tetangga membuat gosip dan mengatakan jika Samana seleranya tinggi, hanya orang yang kaya dan bermobil yang bisa berteman dengannya. Buruknya lagi ada yang suka menggunjing jika Samana, suka gonta ganti yang mengapeli. Itulah pikiran sempit warga yang tidak percaya jika Samana adalah Mother Of Healing. Ibu penyembuh jiwa yang terluka menembus raga. "Lihatlah sekarang kamu sudah terbebas dari ikatan dendam dan sakit hatimu. Jadi ikatan di ragamu sudah aku lepaskan, itu adalah bagian dari rasa tidak tenangan arwah mu. Lihatlah belenggu kawat yang menancap di tanganmu sudah tidak ada lagi." "Iya. Terima kasih Samana." Lestari menundukkan kepalanya di depan Samana. "Baiklah kamu bisa berada di alam ku dan alam mu. Mulai detik ini aku mengizinkan dirimu untuk bisa berkomunikasi dengan ku. Datanglah jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Aku akan mendengarkan." "Ehmmm," jawabnya dengan mengangguk. "Mulai saat ini aku akan memanggil kamu jika aku ingin mengobrol dengan mu, Lestari," ucap Samana. "Iya Samana,"jawab Lestari. Sejak malam itu tangan Anjana Kayshila Lestari sudah tidak terbenggang kaku. Kawat yang tertanam di kedua telapak tangannya sudah tidak lagi membelenggu dan menyiksa tubuhnya. Dan berakhirlah tugas Samana untuk menolong dan membebaskan Lestari. Samana kini menjadi teman Lestari. Mereka sering berkomunikasi dan Lestari juga mau melindungi Samana ketika Samana dalam bahaya. Tidak ada salahnya berteman dengan siapa saja selama teman itu tidak memberikan pengaruh negatif terhadap diri kita. Berteman untuk kebaikan tanpa saling menyakiti dan menjatuhkan. Terkadang Samana merasakan jika berteman dengan sosok Lestari itu lebih positif, tulus dan jujur, ketimbang berteman dengan beberapa teman manusia yang ternyata kejam dan hanya ingin memanfaatkan dirinya. Teman yang datang ketika membutuhkan pertolongan. Setelah keinginannya terpenuhi maka akan bisa menjauh. Apa lagi ketika dirinya mengalami situasi yang susah, maka sebagian dari mereka pergi seolah tidak kenal dengan Samana. Benar-benar teman yang toxic. Teman yang memikirkan dirinya sendiri. Teman yang hanya mau enaknya saja. Pasti orang-orang dengan model seperti itu akan kesulitan untuk mempertahankan hubungan pertemanan. Itulah keegoisan tentang pertemanan. Itulah pemanfaatan terhadap pertemanan. Itulah sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan. Datang dengan baik dan jaga hubungan pertemanan dengan baik pula. Tidak seharusnya manusia yang memiliki otak untuk berpikir justru malah terlihat payah dan kalah dengan seekor binatang yang memiliki kesetiaan dan bisa menjaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN