Raga Disiksa

1040 Kata
Masih tetap diam dan tenang untuk masuk dimensi yang berbeda. Semakin jauh dan semakin dalam, semakin masalah terlihat terang. Samana kembali pada kejadian yang telah lalu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Lestari, si hantu gadis cantik. Siapa dalang di balik kematian gadis lugu itu. Sebelum kebakaran terjadi ternyata Lestari mengalami penganiayaan hingga mati. "Samana, lihatlah aku, itu disiksa ...." Ia menunjukkan kepada Samana kejadian di masa lalunya. Mereka berdua menyaksikan kejadian yang sangat memprihatikan. Samana dan arwah dari Lestari, berdiri di depan pohon asam. Lestari memperlihatkan kepada Samana tentang kronologi penyiksaan yang di alaminya. "Iya aku menyaksikan. Tapi, aku sebenarnya tidak tega melihat itu. Kenapa kamu memilih aku. Kenapa tidak yang lain?" "Itu aku dibuat seperti itu. Aku di siksa hingga mati. Aku tidak bisa meminta pertolongan kepada yang lain karena mereka tidak seperti kamu," ucap Lestari. Samana terdiam dan memilih melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Di bawah pohon asam Samana melihat pemandangan yang sangat memilukan. “Ampun … Ibu! Jangan sakiti Lestari, hiiii … hiii,” ucapnya sembari terus menangis merasakan kesakitan. “Diam! Dasar kau anak sialan! Kamu sudah menyusahkan aku, kamu membuat beban ku jadi bertambah. Kamu membuat jatahku berkurang, harta ayahmu tidak menjadi milikku semua. Kok malah jatuh ke kamu, aku tidak terima!" Ibu tiri Lestari membentak sembari melotot tajam. Ibu itu mengambil sebatang kayu, lalu pukulan-pukulan melayang ke punggung Lestari. Gadis itu tak berdaya untuk melawan karena kaki dan tangan terikat. Pukulan yang bertubi-tubi membuat Lestari roboh ke lantai. Semakin gadis itu berteriak dan menangis, maka semakin dirinya akan di siksa. Hantaman paling keras mengenai pelipisnya dan membuat goresan pada alis mengarah ke atasnya. Darah mengucur deras membasahi pipinya. “Sepertinya kamu ini susah mati ya. Sekian lama kami siksa masih saja tetap hidup. Rasakan ini anak sialan, aku benci sekali denganmu. Cuuuuh," ludah dari abangnya Lestari mengenai tubuh cantik itu. "Ampun!" "Kamu pantas menderita!” serang anak laki-laki itu. Dia meludah berkali-kali ke Lestari. Lalu memberikan bogeman mentah ke perut adik tirinya. Laki-laki itu juga menjambak dan menyeret Lestari ke kamar mandi. Dengan bengisnya menghajar dan membenamkan kepala Lestari berkali-kali ke dalam bak mandi. “Uhhh ... uhh! Bang ampun! Sudah susah napas… ini sakit dahda ku … Bang!" "Jangan hentikan," pinta ibu tirinya. "Ibu, sudah ya, tolong hentikan! Lestari tidak tahan, tidak kuat lagi, sakittttt,” ucapnya dengan menangis. Dalam penglihatan mata batin, Samana, memang benar jika melihat Lestari mengalami derita penganiayaan yang hebat. Mereka berdua yang membunuh Lestari. Pelakunya bukan orang lain melainkan ibu tiri dan anak laki-lakinya. Mereka sudah dari dulu melakukan penyiksaan ketika ayah Lestari sudah meninggal dunia. Karena, sakit hati tidak mendapatkan warisan yang sesuai dengan keinginan maka mereka pun membalas dendam untuk menyiksa Lestari dengan sangat sadis hingga membuat nyawanya menghilang. Dalam waktu yang lama si gadis lugu memang sering menjalani hari-harinya dengan penuh siksaan. Di pukuli, di tendang, di jambak, di tusuk besi panas, disirami air bekas cucian piring dan dikasih makan dengan makanan basi. Penyiksaan terakhir di malam itu sengaja dilakukan untuk melenyapkan Lestari dari muka bumi ini. Ibu dan abang tirinya itu berpikir, jikalau hidupnya Lestari ini membahayakan dan menghalangi mereka dalam mendapatkan semua harta warisan ayah Lestari. Karena menjadi ahli waris dari harta bapaknya yang kaya raya, membuat ibu dan abang tirinya naik pitam ingin segera melenyapkan nyawanya seseorang. Samana kembali meneruskan perjalanannya untuk melihat derita Lestari semasa tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. “Rasakan ini …,” tonjokan itu melayang ke wajah gadis cantik itu. “Aaaw, sakit!! Udah, Bang!” rengek Lestari. “Oh, ampun ya,” sahut ibu itu dengan tangan menjambak rambut lurusnya Lestari. “Aduhhhh, sakittttt Bu!” sahut Lestari. “Tutup mulutmu anak sialan! Brengsuekk, bajinguan,” bentak anak laki-laki itu. Ibu itu dibantu anak laki-lakinya dalam melakukan tindakan kejahatan. Mereka melanjutkan aksinya. Anak laki-laki itu mengikat tubuh Lestari di pohon asam lalu menyumpal mulutnya dengan kain kotor. Dengan sangat sadis ibu itu menusuk kedua tangan Lestari menggunakan kawat panas. Tepat ditengah telapak tangan kirinya kawat itu di tancapkan. Lalu di lanjutkan lagi dengan menancapkan ke telapak tangan kanannya. Darah segar keluar dari otot-otot tangannya, mengucur mengalir ke tanah tempat Lestari berpijak. “Aaaaawww … awwwwwww … awwwwwww auurrgg eeggrrhhh ….” Lestari menjerit, menangis kesakitan, meminta pertolongan, namun tak terdengar suaranya oleh siapapun kecuali ibu dan anaknya itu. Itulah yang terjadi waktu dulu dan itu dulu, berbeda dengan saat ini, karena Samana bisa mendengar jeritan, tangisan, dan permintaan tolong dari Lestari. Untuk sesaat Samana, menghela nafasnya dan mengatur emosi kesedihannya, lalu melanjutkan perjalanan menuju dimensi lebih dalam. Ibu dan anaknya itu terlihat sangat kelelahan dan sepertinya kehabisan tenaga. Mereka seperti ingin beristirahat sejenak sebelum akhirnya menghabisi nyawa Lestari. Pembunuhan itu telah di rencanakan dengan sedemikian rapinya. Bahkan sebelum orang tua Lestari meninggal, rencana itu sudah tersusun sangat apik. Samana tidak tega melihat itu tetapi Lestari memintanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. "Kamu jangan berhenti ... lihatlah mereka, ibu dan abang menyiksaku hingga kelelahan. Keadaan ku yang sudah sekarat tapi mereka tak mempunyai belas kasihan," arwah Lestari menunjuk ke dua orang yang menyiksa raganya. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku juga ingin menuntaskan kasus ini,'' jawab Samana. "Tapi biarlah yang tahu kejadian ini kita saja. Kamu tidak usah membuktikan pembunuhan itu. Kamu nanti bisa di sepelekan karena mengungkapkan kejadian yang sulit dibuktikan dengan logika. Orang-orang sudah percaya jika, kami semua mati karena mengalami insiden kebakaran," ucap Lestari. "Ehmmm," Samana mengangguk. "Terima kasih Samana, sekarang lanjutkan perjalananmu." Samana kembali berkontraksi, dia melihat pemandangan menyedihkan. Lestari sekarat di siksa. Sedangkan ibu tiri dan abangnya masih belum tahu jika Lestari akan meninggal. Mereka sangat lelah dan lapar sehingga memilih untuk beristirahat. "Uhhhh, aku capek bu." "Ibu juga!" Sepertinya ibu dan anak itu kelelahan karena mengeluarkan ekstra tenaga dalam menyiksa Lestari. “Ibu aku lapar, ayo kita masuk dan tinggalkan saja anak sialan ini,” ujar anak laki-laki itu. "Apa kita istirahat dulu, ibu juga sudah menahan lapar." "Iya dong, kita butuh makan untuk menyiapkan energi sebelum akhirnya menghabisi nyawanya. Istirahatkan badan Bu." “Iya, Ibu juga sangat lelah,” jawab ibu itu sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Anak dan ibu ini terlihat kompak karena memiliki hati yang kejam. Mereka sudah buta mata hati sehingga bisa melakukan tindakan melenyapkan nyawa seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN