2. Lelaki Asing

1359 Kata
"Elmira, apa yang kamu lakukan?" teriak Theo, sambil melepaskan diri dari Fiona. Mira melihat ke arah mereka dengan kilatan penuh amarah. Dia menggenggam erat pisau di tangan kanannya. Melihat Mira membawa benda tajam, Fiona mulai merasa gentar sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia berseru, "Hati-hati dia memabawa pisau!" Nyali Theo sedikit ciut ketika melihat istrinya membawa senjata tajam dengan wajah yang merah padam. Mira masih terpaku melihat kepanikan kedua manusia di hadapannya.  "Mira, lepaskan pisau itu dan kembali ke kamarmu, ayo kita bicara!" bujuk Theo. "Tidak, sebelum aku menghabisi kalian sekarang," geram Mira. "Berpikirlah dengan jernih! Perbuatanmu akan mengantarkanmu ke dalam penjara." Theo mencoba memperingatkan sambil melangkah maju mendekati istrinya untuk membujuknya. "Itu akan lebih baik, daripada harus menyaksikan kegilaan kalian, kau ingin bersamanya bukan? Baiklah akan kuhabisi kalian bersama," balas Mira, dengan suara bergetar.  Tiba-tiba suara Adzan magrib terdengar berkumandang di sekitar, beberapa detik kemudian Mira tersadar dengan apa yang akan dilakukannya. Iya, dia masih mempunyai Tuhan sebagai sandarannya.  "Untuk apa menyia-nyiakan hidupmu untuk manusia seperti mereka." Sebuah suara seolah berbisik di batin Mira.  "Mira ... Elmira?" tanya Theo, yang melihat Mira terdiam. Mira menatap Theo dan Fiona secara bergantian, "Dasar manusia sampah!" umpatnya. Rupanya Nyali dalam diri Mira tak sebesar rasa sakitnya, ia berbalik meninggalkan kamar itu menuju kamarnya dengan membanting pintu.   Dia menjatuhkan pisau di genggamannya, kemudian manangis sambil merunduk. Entah apa yang sedang dilakukan Theo saat itu, mungkin melanjutkan kembali pergumulannya dengan wanita jalang itu. Seolah tidak mempedulikan perasaan istrinya yang sedang hancur. Mira memutuskan keluar rumah untuk menenangkan pikirannya. Dia membawa beberapa stel baju di tasnya. Tujuannya ke mana, dia sendiri tidak tahu. Dia tidak ingin pergi ke rumah paman dan bibinya. Mira berjalan dengan langkah gontai, sambil menangis terisak. Beberapa pasang mata yang melintas sempat melihat ke arahnya, akan tetapi dia tidak mempedulikan hal itu. Hanya tangisanlah yang bisa membuat sedikit meredam rasa sakit yang ia miliki saat ini. Di tempat lain. Seorang pemuda tampan berjalan mondar-mandir sedari tadi di depan sebuah bandara. Alis tebalnya makin mengerut ketika melihat jam di tangannya. Kentara sekali dia tengah menunggu seseorang. Dia mencoba memanggil seseorang melalui ponselnya, akan tetapi orang yang dia hubungi tidak menjawab panggilannya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya. Pengemudi itu keluar dari mobil sambil tergopoh-gopoh meminta maaf, karena membuat pemuda itu menunggu lama. "Maaf Tuan, tadi jalanan macet. Itu biasa terjadi di jam-jam kerja usai," ucap orang itu. "Ya sudah, cepat!" balas lelaki itu, sambil masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sopir itu. Sang sopir lalu memasukan sebuah koper ke dalam bagasi, lalu setelahnya ia kembali mengambil alih kemudi. Erick Ivander Garett, adalah nama pemuda tampan dengan fisik sempurna yang duduk di dalam mobil itu. Seorang pengusaha kaya yang masih melajang di usianya yang kini menginjak 31 tahun. Sebenarnya dia hampir mengakhiri masa lajangnya dua tahun yang lalu, akan tetapi sebuah pengkhiantan mantan tunangannya membuat rencana itu gagal dan mengakibatkan ia mengambil keputusan untuk tidak akan pernah menikah. Tidak, dia tidak membenci wanita, dia bahkan masih sering bermain-main dengan mereka. Dengan segala pesona dan kekayaan yang ia miliki, tidak sulit baginya untuk mendapatkan seorang wanita dalam sekejap. Namun, kepercayaannya memandang sebuah komitmen membuat ia mengambil langkah untuk tidak akan terikat dengan suatu hubungan.  "Antarkan aku ke hotel saja!" pinta Erick. "Loh tidak ke rumah Tuan? Nyonya sudah menunggumu, apa yang harus saya katakan padanya nanti?" tanya sopir itu. "Bilang saja, besok aku akan menemuinya!" jawab Erick, dengan enteng. Erick tahu, selain sambutan hangat yang akan diterimanya dari sang ibu. Berbagai pertanyaan dan desakan untuk segera manikah pasti sudah disiapkan juga untuk menyambutnya. Karena itulah saat ini, ia ingin menghindari itu. Perjalanan Amsterdam ke Jakarta yang membutuhkan waktu 14 jam sudah cukup membuatnya lelah.  "Wah bakal kena omel Nyonya nih," celetuk sopir itu sambil menggaruk-garuk kepalanya. Erick diam saja tampak tidak peduli.  Tiba-tiba mobil itu berhenti mendadak hingga membuat tubuh Erick sedikit terpental. "Ada apa?" tanya Erick, terlonjak kaget. "Itu ...." tunjuk sopir itu, tanpa melanjutkan ucapannya. Mereka melihat seorang wanita berdiri di depan mobil. Mira tersentak kaget ketika sebuah mobil hampir menghantamnya, dia memicingkan mata karena silau dari cahaya lampu mobil. Perlahan pandangannya mulai mengabur, rasa pusing di kepalanya semakin menjadi sedetik kemudian dia terjatuh tidak sadarkan diri. "Yah malah ambruk!" seru sopirnya Erick. "Ck ... cepat bereskan dia!" decak Erick dengan kesal. Sopir itu keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan Mira yang tergeletak di jalan. Setelah itu, dia kembali melapor kepada Erick. "Dia pingsan Tuan." "Kamu yakin dia tidak sedang pura-pura pingsan?" tanya Erick, sedikit curiga.  "Yakin Tuan, wajahnya pucat," jawab Sopir itu. Erick kemudian turun dari mobil untuk melihat langsung, dia memeriksa denyut nadi Mira. Memang benar yang dikatakan oleh sopirnya, wanita di hadapannya itu tampak pucat dengan beberapa lebam di wajahnya. Erick mengangkat tubuh Mira dan membawanya ke dalam mobil. "Kita ke rumah sakit Tuan?" tanya sopir, sebelum melajukan mobilnya. "Tidak, kita lanjutkan saja menuju hotel," tolak Erick. Sopir itu tidak membantah meskipun sedikit bingung dengan tujuan Tuannya. Sepanjang perjalanan, Erick terus memandang wajah Elmira, lelaki itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu sebelumnya. Dia yakin wanita itu sedang ada dalam suatu masalah. Luka di sudut bibir dan beberapa lebam di wajah menjadi bukti, jika wanita itu baru saja mendapatkan kekerasan fisik. Setelah sampai di hotel yang ia tuju, Erick kembali membopong Mira dalam dekapannya. "Pulanglah, tapi jangan katakan hal ini pada ibuku," titah Erick, kepada sopirnya.  Erick berlalu begitu saja, tanpa menunggu jawaban sopirnya yang masih terheran-heran dengan sikap tuannya. Seorang resepsionis menyerahkan kunci kamar kepada Erick dengan tatapan sama herannya seperti sopir tadi. Melihat seorang wanita dengan luka dan lebam dalam dekapannya, mungkin membuat orang berpikiran buruk kepada Erick. Ketika di dalam lift, Mira bisa mencium aroma maskulin menyergap hidungnya. Dia bisa mendengar degupan suara jantung di samping telinganya. Dia bisa merasakan tubuhnya saat ini tengah dibopong seorang laki-laki, tetapi ia tidak mampu berontak. Untuk sekedar membuka matanya saja masih teralu sulit. Kini, tubuh Mira sudah terbaring di atas kasur empuk. Dia bisa merasakan seseorang yang membawanya itu masih berada di sampingnya. Perlahan ia mencoba membuka matanya, sebuah lampu kamar yang tergantung di atasnya adalah benda yang pertama kali ia lihat. Mira mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Perasaan sedih kembali menggelayuti hatinya, ketika bayangan suaminya tengah bercinta dengan Fiona di dalam rumahnya sendiri. Bukan hanya itu, kembali dia teringat berbagai pukulan, tamparan dan tendangan suami yang begitu murka kepadanya.  Bulir bening mulai meleleh di kedua sudut matanya, "Kenapa aku tidak mati saja," lirihnya. Dia teringat sebuah mobil hampir menabraknya, sesaat sebelum tidak sadarkan diri. Erick masih memperhatikan Mira ditepi ranjang. Dugaannya benar, wanita itu sedang dalam masalah. Bukan hanya lebam di wajahnya, di tangan dan kakinya pun terdapat memar. Tanpa sadar tangannya mengulur untuk mengusap air mata wanita itu. Namun, sejurus kemudian Erick menarik tangannya kembali. Mengapa dia harus peduli dengan wanita asing itu?  "Kau sudah sadar?" tanya Erick, sambil bangkit dari tepi ranjang. Mira melirik ke arah samping kirinya, dia lupa jika ada seorang lelaki di kamar itu. Dengan perlahan ia bangkit, dan berusaha untuk berdiri. "Maafkan aku, aku harus pergi!" ucap Mira perlahan, tetapi tiba-tiba ia merasa seisi ruangan itu terasa berputar. Oh tidak, ia harus menjatuhkan dirinya di atas kasur daripada harus mencium kerasnya lantai kamar hotel.  "Berbaringlah! Aku akan memesan makanan untukmu," ucap Erick. Tidak lama kemudian pintu kamar diketuk, seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesan Erick. Mira menatap makanan itu dengan sebuah sendok di tangannya, satu suapan sudah masuk ke dalam mulut. Dia memang sangat lapar tetapi makanan itu begitu sulit melewati kerongkongannya, serasa ada batu besar menghimpit dadanya. "Makanlah dengan benar! Untuk menangis pun kau butuh tenaga," ujar Erick. Lelaki itu berkata tanpa melihat ke arah Mira yang tengah memandangnya. Perlahan Erick membuka kancing kemeja yang membungkus tubuhnya. Mira langsung menundukan pandangannya, ketika tubuh atletis dengan d**a bidang dan otot-otot yang terbentuk sempurna itu terpampang di depan matanya. "Kau tidak usah malu memandangku seperti itu." Erick berkata sambil menyunggingkan senyum, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Wajah Mira merona seketika dadanya berdebar tidak karuan, bisa-bisanya di saat seperti ini hasrat itu timbul hanya karena melihat lelaki setengah telanjang di hadapannya. Apakah karena sudah begitu lama, dia tidak mendapatkan sentuhan dari suaminya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN